Bab 6 - Awal Penyelidikan

957 Kata
Alden tiba di unit apartemennya setelah dipaksa Puri untuk mengantar Aira pulang. Ia tidak tahu bahwa Aira akan pulang ke rumah orang tuanya, ia berpikir bahwa Aira akan menjadi tetangga tetapnya. Baru saja ia akan berbaring di tempat tidur, bel berbunyi dan memaksanya untuk berjalan lagi ke arah pintu. “Ciki!” katanya pada diri sendiri yang hampir melupakan hewan piaraan kesayangannya tersebut. “Maaf sudah merepotkan,” ucap Alden pada seorang pria petugas kebersihan yang seringkali membantunya dalam merawat Ciki jika ia sedang pergi ke luar. “Kau tidak perlu sungkan. Bayimu itu sudah kuberi makan.” Pria berusia sekitar empat puluhan itu melirik ke dalam unit apartemen Alden sambil bertanya, “Gadis kemarin tidak sedang bersamamu?” “Siapa yang kau maksud?" Alden berpikir sejenak kemudian meneruskan kalimatnya, "Oh, kalau yang kau maksud adalah gadis yang menerobos masuk ke dalam apartemenku, dia adalah penghuni unit di depan. Tapi dia sedang tidak ada di unit-nya saat ini.” Alden berusaha menjelaskan dan membaca pikiran pria itu yang ia kenal sebagai Mr.Orion. “Oh begitu. Jadi dia penghuni baru?” tanya Mr.Orion padanya berusaha memastikan. “Ya. Kau mungkin akan mengenalnya nanti ... atau tidak, entahlah.” Alden berusaha memberikan jawaban meskipun ia sendiri tidak yakin apakah Aira akan menetap di sini atau akan tinggal di rumah orang tuanya. “Baiklah, terima kasih sudah menjaga Ciki,” kata Alden berusaha menutup percakapan, ia tidak suka berbasa-basi. Ia memberikan sedikit uang tip kepada petugas kebersihan itu. Petugas itu menerimanya dengan cengiran lebar penuh keramah-tamahan. “Oh ya. Ciki bukan bayi. Dia sudah dewasa sepertiku,” gurau Alden sebelum petugas tadi pergi. “Oh baiklah. Jaga Ciki baik-baik atau aku akan menikahkannya dengan burung betina,” gurau Mr.Orion yang disambut dengan tawa Alden secara bersamaan. Alden segera menutup pintu dan meletakkan Ciki dalam sangkarnya. Ia akhirnya bisa berbaring di tempat tidurnya dan berpikir tentang percakapannya dengan Mr.Orion tadi. Aira bisa jadi akan tinggal menetap di sini. Wanita itu sedikit gila dengan keadaan amnesianya saat ini, pikirnya. Alden membayangkan kejadian di acara fashion show tadi. Ia ingin tidur, tapi bayangan Aira terus terbesit ketika ia memejamkan mata. Alden mengambil tumpukkan kertas naskah novel yang Aira berikan sebelum Alden meninggalkan rumah orang tuanya. ‘Apa yang harus kulakukan dengan naskah ini? Berkali-kali aku membacanya tetap saja ...,' batin Alden yang tiba-tiba terhenti ketika melihat sebuah kalimat dalam salah satu kembar kertas naskah tersebut. Aku memiringkan kepalaku, melihatnya masih di sana. Sedikit saja, kuharap kau menoleh ke arahku. Alden membaca kalimat tersebut dan menyimpulkan suatu hal. Pria yang Aira cintai adalah teman sekelas Aira di kampus. *** Hari yang dinanti Aira akhirnya tiba, usahanya untuk membujuk Alden agar mau menerima kasusnya ternyata tidak sia-sia. Sejak kemarin, Alden tidak memberitahunya sedikit pun apa yang ia rencanakan untuk menyelidiki kasusnya. Sindy sudah mengabari bahwa ia sakit dan tidak dapat hadir di kelas hari ini. Rasanya seperti pergi ke tempat asing. Ya, memang asing tanpa Sindy bersamanya. Terlebih bagi seseorang yang amnesia sepertinya. Aira memasuki kelas dan menuju kursi yang biasa ia duduki. Namun, kali ini ada seseorang yang duduk di sana. “Maaf, ini tempat dudukku.” Aira menepuk pundak seorang pria yang sedang duduk di kursinya menghadap jendela membelakanginya. Pria itu menoleh dan membuat Aira terkejut. “Alden!” teriak Aira terkejut. “Ya, ini aku. Kau bukan melihat hantu,” ujar Alden dengan nada apatis seperti biasanya. “Hari ini aku akan menyamar menjadi mahasiswa di kelasmu.” “Untuk apa?” tanya Aira merasa heran. “Bukankah aku sudah bilang akan menyelidiki kasusmu? Setelah aku membaca ulang naskah yang kau berikan kemarin, aku berpikir bahwa pria misterius yang ada di novelmu itu adalah orang yang sering kau lihat ketika berada di dalam kelas.” Sebelum Aira bertanya lebih lanjut tentang rencananya, Alden menarik lengan Aira yang masih berdiri untuk segera duduk di sebelahnya. Ia menunjuk seorang dosen yang masuk dengan gerakan kepala sambil menaikkan alisnya. Aira akhirnya duduk di kursi sebelah Alden yang biasa Sindy duduki, ia kembali mencium aroma kopi dari tubuh Alden. Aira merasa dia tidak akan pernah terbiasa dengan wangi tersebut. Ia tidak bisa fokus, Alden terlalu dekat. Ia pikir tidak ada bedanya jika wanita atau pria yang akan duduk di sebelahnya. Berbeda dengan Sindy, Aira merasakan sesuatu yang lain. Kelas akhirnya selesai, Alden masih di sana. Aira kemudian membalikkan badan dan menatapnya sambil mengatakan, “Kau sudah menemukannya?” Alden masih tidak menjawabnya. Alden melihat seorang pria dengan rambut pirang dan mata biru yang terus menoleh ke arah mereka. “Pria itu terus melihat ke arahmu sejak tadi. Mungkin dia adalah pria yang kau cari.” Aira mencari ke mana arah Alden melihat, ia menemukan sosok pria yang Alden maksud. Namun, begitu ia menatap balik pria itu, dia malah membuang muka dan beranjak pergi ke luar kelas. Alden mendorong lengan Aira sedikit, memberikan gesture tangan seolah menyuruh Aira untuk mengejar pria tadi. “Aku harus mengikutinya?” tanya Aira. “Tentu saja, kau mau aku yang menanyakan langsung?” jawab Alden dengan pertanyaan balik. “Tidak! Biar aku saja.” Aira mengambil tas nya dan segera pergi ke luar, berharap pria tadi belum terlalu jauh. Aira sudah berada di luar kelas. Melihat sekeliling dan tidak mendapatkan orang yang ia cari, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. “Aira Smith, bisa bicara sebentar?” Aira melihat pria yang ia cari tadi kini ada di hadapannya. ‘Ia benar-benar tampan seperti aktor film,’ batin Aira meskipun tidak tahu aktor mana yang ia maksud. “Ya. Kau siapa?” tanya Aira berpura-pura lugu. “Aku Taylor Wood. Bisakah aku bicara denganmu?” “Tentu.” Aira tidak menyangka bahwa tidak terlalu sulit untuk mengajak targetnya berbicara. ‘Dewi fortuna sedang berpihak padaku,’ pikir Aira meniru ucapan Puri beberapa hari lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN