Tamu Dadakan

1154 Kata

Keesokan harinya, Rafael dan Mark pun bergegas ke rumah Brama dan Meira setelah Rafael selesai bekerja. Sebagai CEO, ia tentu harus memikirkan perusahaan juga. Saat ini, Meira dan Brama hanya bisa saling pandang dengan wajah tegang melihat Rafael di depan mata mereka. Rafael hanya menatap mereka dengan serius. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya saat ini, namun, suasana terasa menegangkan bagi Meira dan Brama saat ini. Bagaimana tidak? Orang yang paling tidak ingin mereka temui ada di hadapan mereka, apalagi dengan wajah seperti itu. "Maaf, Tuan, ada yang,,,bisa kami bantu?" tanya Meira memecah keheningan. Jika ia terus membiarkan suasana canggung seperti itu, maka adegan saling pandang akan berlangsung hingga berjam-jam. "Apakah lima tahun yang lalu Shena mengirimkan t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN