Rencana

1115 Kata
Tepat di hari yang ditentukan. Rencana Shena pun berjalan sesuai yang ia inginkan. Sore ini, Wulan yang kemarin ia minta untuk memakan buah beracun akhirnya tiba di rumah Dewi. Ia sudah meminta Dewi untuk mengikuti rencananya ini. Meski awalnya Dewi tidak mau kerena berisiko, namun, Shena akhirnya berhasil membujuknya. Saat ini, Dewi sedang memeriksa Wulan. "Dia tidak bisa dirawat di sini, racunnya sudah menyebar kemana-mana, sebaiknya dia dibawa ke kota saja," ujar Dewi. "Tapi biayanya akan sangat mahal," protes ayah Wulan. "Kita tidak punya pilihan lain. Kalau tidak, dia akan mati! Lihat, dia sudah sangat pucat." "Tidak, bahkan biaya berobat ke kota lebih besar dari harga jualnya. Biarkan saja dia mati di sini. Jangan bawa mayatnya ke rumahku. Buang saja di sungai perbatasan desa!" "Tapi dia anakmu, harusnya kau yang mengurus pemakamannya." "Tidak, lebih baik aku pergi saja. Aku tidak mau repot!" Ayah Wulan langsung pergi begitu saja meninggalkan anaknya yang masih diam sambil menutup matanya. Setelah kepergian sang ayah, Dewi langsung meminumkan Wulan obat herbal yang sudah ia buat dengan Shena. "Bagaimana kau bisa se-bodoh ini? Aku menyuruhmu memakan buah satu gigit, tapi kau memakan semuanya." Shena menatap Wulan dengan kesal. Jika saja ia tidak memaksa Wulan memuntahkan buah yang ia makan tadi, pasti Wulan akan sekarat. "Maaf, buahnya sangat enak, aku sampai lupa kalau itu beracun." "Kau bahkan tidak perlu mengunyah dan menelannya. Indera perasa mu saja sudah pasti bisa menyalurkan racun ke tubuhmu." "Maaf." "Ya sudah, sekarang kau istirahat, nanti malam, suami ku akan mengantarmu sampai ke pelabuhan." Suami Dewi adalah orang yang diperbolehkan memakai sepeda motor untuk keperluan mencari bahan-bahan obat. Ia biasa menggunakan gerobak tambahan untuk mengangkut obat-obatan yang terdiri dari tumbuhan. Dengan begitu, ia bisa menyeludupkan Wulan di dalam drum yang biasa dipakai untuk meletakkan tumbuhan yang perlu air agar tetap segar setelah menempuh perjalanan jauh. Dan tepat sesuai rencana, Wulan akhirnya berhasil keluar dari desa. Ia naik ke kapal yang akan mengangkutnya ke luar kota dengan bekal uang yang telah ia curi dari ayahnya yang tentunya ayahnya tidak akan menyadari kalau dia yang mencuri karena ayahnya tidak pernah menghitung jumlah semua uangnya. Di dalam kapal, Wulan masih membaca alamat yang diberikan Shena. "Kenapa mereka takut Shena datang ke sana, sementara dia adalah keponakan mereka sendiri?" gumam Wulan. Sementara itu, Dewi dan Shena masih fokus meracik obat bersama pria tua yang tempo hari pernah ditolong Shena. Namanya Bandi. Tentu saja, saat rencana dijalankan, Bandi sedang berada di salah satu rumah yang merupakan rumah peristirahatan bagi pasien Dewi yang sedang masa pemulihan. "Aku sangat senang, di desa ini ada yang peduli tentang kemanusiaan," ucap Dewi. "Aku terlalu muak melihat penindasan terhadap wanita dan orang lemah. Sungguh tidak manusiawi." "Aku kira hanya aku dan suamiku yang keberatan tentang peraturan di desa ini, ternyata kau juga." "Peraturan bodoh seperti itu sebaiknya dihapus saja daripada meresahkan masyarakat khususnya perempuan. Di sini tidak ada Surau, sekolah yang layak, atau tempat berguna lainnya. Bagaimana pemikiran mereka bisa maju jika pendidikan ilmu dan agama saja tidak ada di sini." "Maklum saja, ini desa terpencil." Harun datang dan menanggapi. "Bagaimana kalian bisa ada di tempat seperti ini. Kalian sangat dicari di kota. Semua obat racikan kalian bisa memulihkan seseorang lebih cepat dari pada obat kimia yang ada di kota." "Jika kami bisa, tentu kami akan keluar dari sini. Percayalah, dulu aku adalah tabib terkenal di kotaku. Tapi satu malam yang kelam membuat kami diburu polisi karena disangka membunuh salah satu anggotanya. Padahal kami bermaksud menolong, tapi pelaku sebenarnya membuat kami seakan telah membunuhnya dengan racun." "Apa kalian masih aman ketika mencari tumbuhan di perbatasan desa dan pelabuhan?" "Tidak ada yang mengenali kami, itu sudah lima tahun yang lalu. Meski sudah dilupakan, tidak menutup kemungkinan kami akan diburu lagi jika ada yang mengenali kami." "Aku mengerti, kalian hanya ingin melindungi diri kalian. Tapi tidak bisa dipungkiri, kedatangan kalian di desa ini membuat semua orang yang sakit mempunyai harapan untuk sembuh. Pemikiran kalian juga sama denganku. Seharusnya Harun bisa menjadi ketua desa daripada Pak Hanif yang membuat peraturan tidak masuk akal ini." "Tidak, dia tidak akan digantikan kecuali dia sudah tiada dan seluruh penduduk memilih Harun. Tapi dia punya anak laki-laki yang akan menggantikan posisinya." "Maksud kalian anaknya yang suka memperkosa para gadis?" tanya Shena sambil membulatkan matanya. "Aku yakin kau sudah bertemu dengannya dan mengalami apa yang pernah aku alami. Hanya saja, mungkin kau selamat, sedangkan aku tidak." Dewi menunduk mengingat masa kelam saat ia baru datang ke desa itu dengan Harun. Saat Harun sedang keluar, disitulah anak Pak Hanif melakukan aksi kejinya pada Dewi. Namun, Pak Hanif malah membiarkannya begitu saja, bahkan meminta maaf pun tidak, hanya menyalahkan Dewi kenapa tidak ikut suaminya keluar rumah pada malam hari. Harun mengusap pundak Dewi untuk menguatkannya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuka luka masa lalu." "Tidak apa-apa, itu sudah lama sekali." "Oh ya, kenapa waktu kau lewat dari depan rumahku, aku melihatmu berkali-kali menoleh ke arahku? Apa yang kau pikirkan?" tanya Shena. "Aku hanya baru pertama melihat mu." "Kau bohong, aku bisa melihat tatapan dengan penuh rasa penasaran." "Aku mendengar dari ketua desa bahwa kau berasal dari kota. Tentu saja orang seperti mu sangat dibutuhkan di desa ini untuk mendongkrak keadilan." "Tapi aku orang yang sama sekali tidak terlihat di kota. Di kota aku juga budak." "Aku bisa melihat kau adalah orang yang cerdas. Kau bahkan memperbaiki rumah mu seorang diri dengan peralatan seadanya padahal itu adalah rumah yang sudah sangat tua. Kau tahu bagaimana caranya menyesuaikan diri dengan keadaan." "Lalu, apa rencana mu untuk desa ini?" tanya Shena. "Mari kita bersama-sama memberikan edukasi pada setiap pasien wanita yang datang ke sini, perlahan namun pasti, mereka juga akan memperoleh keberanian untuk menentang ketidakadilan yang ada di desa ini." "Baik, mari kita bekerja sama menentang penindasan di desa ini." Shena menjabat tangan Dewi dan mereka pun tersenyum. ***** Pagi menjelang, akhirnya Wulan sampai di kota. Ia pun mencari keberadaan paman dan bibi Shena di kota tersebut dengan sisa uangnya. Dan benar dugaan Shena, ketika Wulan bertemu dengan paman dan bibi Shena, mereka langsung menerima Wulan bekerja sebagai pelayan karena ancaman Shena yang akan kembali jika Wulan tidak diterima. Wulan dapat tersenyum lega. Selain ia tidak perlu menikah dengan pria tua, ia juga bisa menikmati hidup yang mudah dan serba canggih di kota meski harus banyak belajar dari pelayan lainnya. "Shena, terima kasih, kau adalah penolong hidupku, aku tidak akan pernah melupakan jasamu, aku berharap bisa membalas kebaikan mu suatu hari nanti." Wulan menyeka sudut matanya sambil menatap luar jendela kamarnya yang sedang diterpa hujan. Biasanya saat hujan begini, ia akan sangat repot mempersiapkan ember dimana-mana karena atap yang bocor. Tapi sekarang, ia hanya perlu duduk di atas ranjang empuk dan bagus dan tidak perlu takut disiksa dan dipaksa bekerja oleh ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN