Pernyataan

1229 Kata
Satu bulan telah berlalu. Sore itu, Shena baru saja pulang dari bekerja. Ia melintasi jalan yang berbeda kali ini. Ia melewati jalan daerah belakang desa dengan satu tujuan, yaitu meneliti buah beracun yang menurutnya tidak memiliki ciri khas buah beracun karena rasanya yang membuat orang kecanduan ingin makan terus. Ia curiga bahwa ada orang yang sengaja menanam buah itu dan menyuntikkan zat berbahaya agar mengurangi populasi penduduk saat ini. Ia memetik satu buah yang menyerupai buah pir. Ia mencium aroma buah yang memang sangat mengundang selera itu. Ia lantas menyimpan buah itu di dalam tas keresek berwarna hitam. Ia akan menyerahkannya pada Dewi agar diteliti. Karena ia yakin Dewi pasti mengetahui tentang buah itu. Ia segera meninggalkan tempat itu setelah memastikan tidak ada yang melihatnya. Ketika ia melintasi rumah ketua desa, tiba-tiba saja ketua desa memanggil dan menghampirinya. "Ada apa, Pak?" tanya Shena pada Pak Hanif. "Ada yang ingin saya sampaikan, mari ikut saya ke dalam rumah." Shena tampak sangat ragu, apalagi ia masih ingat kejadian tempo hari saat anak Pak Hanif mencoba memperkosa dirinya. "Jangan khawatir, anak saya sedang pergi ke pelabuhan," ucap Pak Hanif. 'Pelabuhan? Untuk apa?' batin Shena. "Mari, silakan masuk," tawar Hanif lagi. Shena segera mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah ketua desa. Rumah itu adalah rumah yang paling bagus di desa itu. Berlantai marmer, dan terdapat lampu petromax yang akan menerangi ketika malam tiba. Kursi di dalam rumah itu juga terbuat dari kayu jati yang terukir sangat indah dan nyaman untuk diduduki. "Maaf, Pak, apa yang ingin Bapak sampaikan," ucap Shena. "Sebenarnya, saya ingin melamar dirimu." Shena terkejut mendengar ucapan Pak Hanif. "Maaf, Pak, kalau Bapak melamar saya untuk anak Bapak, saya tidak bisa, karena saya sudah,,," "Bukan untuk anak saya, tapi untuk saya sendiri." "Apa? Bukankah Bapak sudah punya istri?" Shena mengernyitkan dahinya. "Istri saya sudah tua dan sakit-sakitan, sehingga saya butuh istri yang muda dan cantik seperti dirimu." Pak Hanif mencoba memegang tangan Shena, namun Shena langsung menghindar bersama jarak duduknya yang semakin menjauh. "Jangan takut, begitu kau menjadi istri saya, maka kau akan saya bebaskan dari pekerjaan apapun. Kau hanya perlu menikmati kehidupan yang enak di sini. Tugasmu adalah melayani saya, itu saja." "Maaf, Pak, tadi saya belum menyelesaikan omongan saya. Sebenarnya, sebelum datang ke sini, saya sudah menikah. Dan status saya sekarang adalah istri orang." Shena menegaskan. Pak Hanif terdiam beberapa saat. Ia melihat tatapan kejujuran dari Shena. "Kalau memang benar kau sudah menikah, lalu kenapa kau bisa dibuang ke sini oleh majikanmu?" tanya Pak Hanif yang masih belum terima dengan pernyataan Shena. "Dia bukan majikan saya. Tuan Rafael Smith adalah suami saya. Beliau membuang saya ke sini sebagai hukuman karena melakukan kesalahan padanya. Tapi, setelah hukuman saya selesai, beliau akan menjemput saya. Di kota besar, tidak ada yang berani melawan Tuan Rafael." Shena mencoba menggertak, menakut-nakuti Pak Hanif supaya mundur dari niatnya. "Saya tidak peduli, meski kau istri orang lain, selama kau di sini, saya berhak melakukan apa saja pada penduduk saya termasuk mendapatkan mu meski tanpa ikatan apapun." Kali ini, Pak Hanif mencoba memegang tangan Shena dengan cukup kuat hingga Shena tidak mampu melepaskannya. "Pak, tolong lepaskan!" "Tidak, kau harus menjadi milik saya!" Pak Hanif menarik Shena ke dalam pangkuannya. Ia pun mencoba mencium Shena yang terus menerus berteriak dan memalingkan wajah sejauh mungkin dari kumis tebal Pak Hanif. "Lepaskan! Tolooooong!" Shena berteriak sekencang-kencangnya berharap orang yang lalu lalang akan mendengarnya. Tapi apa daya, tidak ada yang berani masuk, atau bahkan menoleh ke rumahnya. Shena masih berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Hanif. Hingga tiba-tiba, sebuah gagang cangkul mendarat tepat di kepala Hanif hingga ia mengaduh kesakitan. Hal itu digunakan Shena untuk melepaskan diri dari Hanif. Saat dilihat, ternyata yang memukul Pak Hanif adalah istrinya sendiri yang bernama Bu Marni. "Apa yang kau lakukan!" Pak Hanif menatap istrinya dengan tatapan yang sangat tajam. "Kau, pergilah dari sini, jangan datang ke rumah ini lagi karena ke depannya, aku mungkin tidak bisa menolong mu." Mendengar ucapan Marni, Shena langsung pergi dari rumah itu. Namun sebelum pergi, ia melihat sesuatu yang tak asing tergeletak di sudut ruangan rumah itu. "Kenapa kau harus ikut campur?" tanya Pak Hanif setelah kepergian Shena. "Sudahi semua ini. Aku lelah melihat mu bersikap semena-mena pada semua orang di desa ini. Ayahmu memberikanmu amanah, tapi kau malah menyalahgunakannya. Apa kau kira itu yang diinginkan ayahmu? Desa yang tadinya makmur dan sejahtera berubah jadi neraka sejak kau menjadi pemimpin. Apa kau tidak sadar akan hal itu?" Marni menatap Pak Hanif dengan mata berkaca-kaca. "Diam kau wanita penyakitan! Umurmu mungkin tinggal hitungan bulan, namun kau semakin berani padaku!" "Aku tidak peduli jika aku mati sekarang. Memang itu yang aku inginkan agar aku tidak perlu melihat kekejaman yang kau lakukan di sini. Bahkan untuk tanah makam saja kau mematok harga yang sangat tinggi. Bahkan kau membiarkan orang meninggal di pinggir jalan sampai tubuhnya menjadi tulang belulang." "Diam kau wanita peyot! Aku akan mencari wanita muda yang lain untuk menjadi istriku. Masa berlaku mu sudah habis, kau sudah tidak berguna lagi!" Pak Hanif meninggalkan istrinya dengan perasaan yang teramat dongkol. Ia memilih untuk keluar dan mencari angin segar untuk ia hirup, sekaligus memantau Shena yang kini telah menjadi incarannya. ***** "Shena, kau kenapa?" tanya Dewi saat mendapati Shena yang sudah acak-acakan seperti habis diserang sesuatu. "Pak Hanif hampir memperkosa ku. Dia memaksaku menjadi istrinya." "Ini minum dulu." Dewi menyerahkan segelas air pada Shena yang langsung meminum habis air itu tanpa sisa. "Bagaimana bisa? Apa dia sudah gila? Dan bagaimana kau bisa bebas?" "Istrinya yang menolongku. Sudahlah, lupakan saja, aku tidak ingin membicarakannya. Sekarang katakan, apa kau tahu tentang buah ini?" Shena mengeluarkan buah yang tadi ia ambil di kebun. "Kenapa kau mengambil buah beracun ini? Apa kau sudah bosan hidup?" Dewi mengernyitkan dahinya saat melihat buah di tangan Shena. "Aku ingin tahu tentang buah ini? Apa ini sengaja ditanam atau ada suntikan racun di sini?" Dewi terdiam sejenak. Ia tampak kebingungan menjawab pertanyaan dari Shena. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" "Untuk apa buah beracun di tanam di tengah kebun? Maksud ku, jika anak-anak mengambil dan memakannya tentu mereka akan,,,,, tunggu! Tadi aku sempat melihat buah di bagian bawah seperti baru diambil. Tapi di sini tidak ada pasien, apa aku benar? Buah bagian atas disuntikkan racun?" Shena menatap dengan serius. "Benar, buah itu telah diracuni, dan aku yang telah menyuntikkan dengan bahan kimia berbahaya. Hari ini racun itu sudah habis, jadi anak Pak Hanif mengambilnya di pelabuhan. Racun itu dapat membantu mengurangi populasi penduduk di sini. Apalagi para orang tua yang sudah tidak berguna dan sendirian, buah itu akan mereka makan jika rasa lapar menerpa. Dan jika mereka ketahuan mengambil buah bagian bawah, maka mereka akan mendapatkan hukuman." Shena terkejut mendengar pernyataan Dewi. "Kenapa kau tega melakukannya?" tanya Shena dengan tatapan heran. "Karena aku disuruh. Jika aku tidak mau, maka Pak Hanif akan melaporkan ku ke polisi dan aku akan mendekam di penjara bersama suamiku." Shena menghela nafas panjang. "Apa kau bisa menghentikannya?" Menatap dengan penuh permohonan. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin masuk penjara." "Kau bisa, kau pasti bisa. Kita akan bersama-sama memberantas kekejaman di desa ini." Shena meyakinkan. Dewi akhirnya mengangguk setuju dan itu membuat Shena dapat tersenyum lega. Di sisi lain, anak Pak Hanif yang sedang menunggu racun di pelabuhan tiba-tiba saja pergi saat melihat seorang wanita cantik sedang duduk sendirian dengan pakaian seksi. Ia pun menghampiri wanita itu dan mengajaknya ke tempat sepi untuk melancarkan aksinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN