Hamil

2231 Kata
Siang itu, udara terasa sangat panas dan membakar. Shena yang sedang mengangkut s**u ke gudang merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Tubuhnya juga terasa sangat lemas padahal tidak biasanya ia seperti ini. Saat menyentuh dahi dengan tangannya pun ia merasa tubuhnya tidak panas. Dengan langkah yang semakin melambat, Shena berusaha mencapai gudang dengan dua ember berisi s**u di masing-masing tangannya. Namun, baru saja ia hendak mencapai pintu, ia merasa pandangannya mendadak gelap hingga akhirnya ia jatuh terhuyung dan pingsan. Pak Diman yang melihatnya langsung mendatanginya. Bukan untuk melihat keadaannya, melainkan menyelamatkan s**u yang belum semuanya tumpah ke tanah. Setelah ia menyelamatkan s**u ke dalam gudang, ia pun mendekati Shena yang masih pingsan. Ia menepuk pipi Shena berkali-kali namun Shena tidak sadarkan diri juga. Mira yang melihat Shena pingsan langsung menghampirinya dengan panik. "Pak, ayo kita bawa dia ke rumah Dewi," ujarnya. "Tidak, biarkan saja dia sampai sadar sendiri. Dan kau, kenapa tidak bekerja?" "Ini sudah jam istirahat, aku bebas melakukan apapun. Dan aku akan membawanya ke rumah Dewi." Mira pun memanggil teman-temannya yang lain untuk membantu membawa Shena ke rumah Dewi. Namun, mereka enggan membantu karena sudah sangat lapar. Mira tidak kehilangan akal. Ia lantas berlari ke rumah Dewi dan memberi tahu bahwa Shena pingsan. Dewi dan suaminya langsung menjemput Shena dan membawanya ke rumah dengan gerobak dorong. "Mira, makanlah makan siangmu, percayakan dia padaku," ujar Dewi. "Ba-baik." Mira hanya bisa menurut karena ia tahu Dewi tidak ingin ia kelaparan jika tidak mengambil jatah makan siang tepat waktu. Di tengah jalan, Dewi bertemu dengan Pak Hanif yang sedang berkeliling desa. "Darimana, Mira?" tanya Pak Hanif dengan senyuman ramahnya. "Dari rumah Dewi, Pak." "Siapa yang sakit? Suamimu?" 'Jika dia yang sakit, aku lebih baik membiarkannya sampai mati,' batin Mira. "Shena pingsan, Pak." Mendengar hal itu, Pak Hanif yang terlihat panik langsung pergi ke rumah Dewi. Sesampainya di sana, ia melihat Dewi sedang memegang-megang perut Shena dengan sentuhan-sentuhan yang sangat pelan dan terkesan hati-hati. "Dewi, apa yang terjadi padanya?" tanya Pak Hanif saat sudah memasuki rumah Dewi. "Sepertinya dia hamil, Pak." "Apa? Hamil?" Terlihat jelas raut wajah terkejut sekaligus kecewa dari wajah Pak Hanif. "Ya, apa Bapak sudah tahu, bahwa sebelumnya dia sudah menikah?" "Saya tahu, tapi saya kira mereka sudah berpisah." "Sepertinya suaminya pun tidak tahu kalau istrinya hamil." "Dia dibuang oleh suaminya, tentu saja suaminya tidak tahu." "Kalau begitu, saya mohon, Pak, bebas tugaskanlah dia dari pekerjaan b***k di desa ini. Saya akan menanggung semua kebutuhan hidupnya." "Sepertinya kau lupa bahwa karena sayalah kau bisa terbebas dari kejaran polisi. Dan karena sayalah kau bisa menjadi orang yang dihormati di sini." "Ahhh, aduh, sakit sekali." Shena terbangun dari pingsannya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Melihat Pak Hanif ada di sana, Shena sedikit menjauhkan dirinya dari p****************g yang sudah kadaluarsa itu. "Dewi, kenapa aku di sini?" tanya Shena pada Dewi. "Kau pingsan, karena hamil." "Apa? Hamil?" Shena terkejut dengan apa yang Dewi katakan. Rupanya, siang yang ia lalui bersama Rafael membuahkan hasil. Bahkan Rafael pun tidak mengetahui bahwa sekarang Shena sedang mengandung anaknya. "Ya, pusing dan lemas yang kau rasakan adalah efek dari kehamilanmu." "Kalau kau sudah sadar, sebaiknya kau kembali ke peternakan," ucap Pak Hanif dengan raut wajah tidak suka. "Pak, Shena sedang hamil. Jika semua wanita hamil di sini dipaksa bekerja, desa ini tidak akan punya penerus." "Saya tidak peduli. Tuannya sudah menyerahkan dirinya pada saya. Jadi, dia harus bekerja selama hidupnya." "Tapi, bukankah Bapak pernah berkata jika saya ingin mendapatkan makanan, maka saya harus bekerja. Jika saya bekerja untuk makanan, maka saya ingin berhenti saja. Saya akan bekerja pada Dewi," ucap Shena pelan. "Tidak, saya tidak peduli. Kau harus tetap bekerja sampai sisa hidupmu. Tidak peduli kau hamil atau sakit, kau harus tetap bekerja. Jika kau tidak mau, maka saya akan mendatangkan polisi agar menangkap mereka!" ancam Pak Hanif. Shena terkejut mendengar ancaman Pak Hanif. Mau tidak mau, ia pun setuju untuk tetap bekerja di tengah kondisinya yang sedang hamil. Setelah mengatakan hal itu, Pak Hanif pun kembali ke rumah. Ia akan pergi ke pelabuhan untuk mencari anaknya yang sudah dua hari tidak pulang dari mengambil racun. Dewi memberikan Shena makan siang dan juga air. "Maafkan aku, aku tidak bisa membantu mu." Dewi menunduk sedih. "Tidak apa-apa," ucap Shena sambil tersenyum sedikit. "Mulai sekarang, kau harus makan siang dan makan malam di sini. Aku akan memberikanmu makanan yang bergizi. Kau sedang hamil, jangan menolak, karena ini demi anakmu." "Baik." Shena hanya bisa mengangguk lemah. Namun, matanya melihat sesuatu yang tidak asing di bawah meja yang kebetulan sedang ia lihat. "Dewi, bukankah itu mirip seperti botol racun?" tanya Shena sambil menunjuk botol di bawah meja. "Oh, iya, tapi sudah habis." "Aku bisa melihat warna berbeda pada atas dan bawah botol. Artinya, botol itu masih ada isinya." "Harusnya aku tidak mencari alasan saat berbicara dengan orang cerdas seperti mu. Sebenarnya aku hanya ingin berhenti menyuntikkan racun di buah-buahan yang baru tumbuh. Jadi, racun yang habis hanya alasanku saja. Aku juga tidak terlalu suka melihat anak Pak Hanif terus-menerus membuat onar di sini, jadi, biarlah dia pergi barang sehari saja." "Oh, dan aku juga mau tanya, aku melihat sebuah tumbuhan bunga berwarna ungu di dalam rumah Pak Hanif. Bunga apa itu? Kenapa ditanam di dalam rumah?" "Itu bunga yang langka, namun tangkainya beracun. Dia ada di dalam rumah agar tidak dicuri karena harganya yang mahal." "Oh, aku tahu." Shena sadar akan sesuatu. "Kau sudah mengerti betapa kejamnya dia." "Semoga misi kita berhasil. Kalau begitu, aku harus kembali bekerja, terima kasih atas makanannya." Shena pun segera pamit pergi ke peternakan. Di sana, ia mengatakan pada Pak Diman bahwa dirinya sedang hamil. Namun, itu tidak berlaku di sana. Pak Diman tidak akan mau tahu tentang kondisi para pekerja. Yang ia tahu, semua pekerjaan harus selesai bagaimana pun kondisi pekerjanya. Shena hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia pun melanjutkan pekerjaannya. ***** "Wulan!" panggil Meira yang merupakan bibi Shena. "Iya, Nyonya." Wulan menghampiri Meira yang sedang duduk nyaman di sofa rumah mewahnya. "Katakan padaku, emm bagaimana kabar Shena di sana?" tanya Meira dengan setengah berbisik. "Dia, umm." Wulan terlihat ragu. Shena sudah mengatakan bahwa ia tidak boleh mengatakan hal-hal yang aneh tentangnya. "Dia baik-baik saja dan betah di sana. Katanya dia tidak memerlukan bantuan siapapun." "Apa seperti itu? Apa dia sudah punya teman di sana?" "Temannya adalah saya, Nyonya. Dia, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun karena katanya semua yang bertemu dengannya akan berhadapan dengan Tuan Rafael." Mendengar kata Rafael, Meira tampak sangat takut. Ia pun langsung menyuruh Wulan pergi. "Aku merasa sangat kesepian sejak mereka pergi. Ah, Jane, kenapa kau tidak mau pulang dari luar negeri? Apa kau sangat betah di sana sehingga tidak merindukan ibumu?" Meira tampak sangat sedih. Ia menatap foto Jane yang ada di dalam ponselnya. Gadis cantik yang sangat baik dan ramah. Disukai semua orang yang berkenalan dengannya. Mungkin itu juga yang membuat Rafael sangat tertarik dengannya. *** Pada keesokan harinya, Shena yang sedang dalam perjalanan menuju tempatnya sarapan, terkejut melihat semua orang tampak berlari dengan wajah panik menuju rumah Pak Hanif. "Apa berita itu benar?" tanya seorang wanita pada temannya. "Benar, katanya, dia meninggal karena keracunan tapi tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya. Dia ditemukan di semak-semak sekitar pelabuhan." Shena terkejut mendengar ucapan dua wanita itu. Apakah yang mereka maksud adalah anaknya Pak Hanif yang tempo hari pernah hampir memperkosanya? Ia ingin sekali melihatnya, namun waktu yang ia punya tidak akan cukup. Ia pun memutuskan untuk tetap sarapan, lalu pergi ke peternakan untuk memerah s**u sapi. "Shena, kau kenapa kemarin?" tanya Mira yang mendekati Shena yang baru saja sampai. "Aku pingsan karena,,,,,hamil." "Hah? Hamil? Kau hamil? Tapi, bukankah kau tidak punya,,,,,," "Sebelum ke sini, aku sudah menikah." "Apa tidak apa-apa kau tetap bekerja? Ku dengar kau juga bekerja pada Dewi, kenapa tidak melepaskan pekerjaan ini saja?" "Seandainya aku bisa, tapi Pak Hanif melarang ku karena itu sudah peraturannya yang tidak bisa diganggu gugat." "Tega sekali dia, mungkin putranya yang meninggal juga karena karma. Dia sudah membuat semua penduduk menderita, jadi, anak laki-laki satu-satunya yang menjadi pewarisnya nanti ditemukan meninggal karena dibunuh." Mira menatap tajam ke sembarang arah. Tampak raut wajah penuh dendam menghiasi wajahnya saat ini. Bisa jadi, Mira adalah salah satu korban dari anak Pak Hanif yang terkenal suka memperkosa para wanita. "Apa pembunuhnya sudah ditemukan?" tanya Shena. "Belum, katanya, tidak ada jejak dari si pembunuh. Bahkan cangkir atau tetesan air bekas racun pun tidak ada. Aneh sekali, bagaimana ini bisa terjadi?" Shena hanya diam mendengarkan. Dari keterangan Mira, ia sudah tahu bagaimana cara si pembunuh memberikan racun pada anak Pak Hanif yang baru ia ketahui bernama Hasan. Namun, ia tidak mau memberitahu orang-orang. Biarlah Pak Hanif merasakan duka yang mendalam kehilangan anaknya tanpa bisa mengadili pembunuhnya. Agar ia merasakan betapa menderitanya penduduk di desa ini karena ketidakadilan yang selama ini ia berlakukan. "Shena, hei, kenapa melamun?" Mira membuyarkan lamunan Shena. "Aku hanya berpikir, jika nanti Pak Hanif sudah meninggal, siapa yang akan menggantikannya. Anak lelaki satu-satunya sudah meninggal, sedangkan anaknya yang satu lagi adalah perempuan yang masih berusia lima belas tahun." "Kalau itu sudah ada peraturannya. Jika kedua desa tidak punya anak laki-laki ataupun saudara laki-laki, maka penduduk bebas menentukan siapa ketua desa selanjutnya. Dan bisa jadi suami Dewi yang akan menjabat nantinya karena dia adalah orang kedua yang dihormati di desa ini." "Oh, jadi begitu. Ya sudah, untuk apa kita membahas hal itu. Lebih baik kita kerja saja. Lihat, Pak Diman sudah datang, kita harus cepat," ucap Shena. Mereka pun segera melakukan pekerjaannya hari itu. Shena yang fisiknya sedang lemah karena keadaannya yang hamil bekerja sangat lamban. Ia gampang sekali kelelahan dan mengantuk, mungkin itu bawaan bayi. Hingga saat sore menjelang, ia juga belum menyiapkan pekerjaannya. "Shena, sini aku bantu," ucap Mira yang langsung mendekati Shena dan membantunya memerah s**u. "Terima kasih." Untuk kali ini, Shena tidak menolak bantuan Mira karena ia memang sangat membutuhkannya. Namun, baru beberapa menit Mira membantu, Pak Diman datang dan menegurnya untuk tidak membantu pekerjaan Shena. "Tapi kenapa, Pak, pekerjaan saya sudah selesai, dan saya ingin membatu Shena." "Tidak bisa, kemarin Pak Hanif baru membuat peraturan dimana para pekerja di peternakan bekerja dengan tenaganya sendiri dan tidak boleh dibantu ataupun membantu pekerjaan orang lain. Jika melanggar, maka akan dikenai sanksi hukum cambuk." Pak Diman menjelaskan. "Apa? Peraturan macam apa itu? Kenapa,,,,," "Baik, Pak, maaf." Shena menengahi perdebatan yang akan terjadi antara Mira dan Pak Diman jika salah satu tidak mau mengalah. Ia cukup mengerti bahwa Pak Hanif sengaja melakukan hal ini karena sangat kecewa padanya. Ia juga meyakini Pak Hanif ingin agar kandungannya kenapa-kenapa. Setelah Pak Diman pergi, Shena pun melanjutkan pekerjaannya. "Pulanglah, Mira, jangan sampai kau terkana hukuman karena aku." Shena mengingatkan. "Tidak, setidaknya, biarkan aku menemani mu di sini supaya kau tidak bosan." Shena hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat teman satu-satunya di peternakan yang peduli padanya ini mempunyai sifat keras kepala, sama seperti Jane sepupunya. Ah, kini ia jadi sangat merindukan Jane. Kira-kira, apa yang Jane lakukan sekarang? Apa dia sudah pulang dari pelariannya? Begitu pikir Shena. Namun, tak berselang lama, suami Mira datang dengan wajah yang sangat marah. "Kemana saja kau? Kenapa tidak pulang? Tetangga kita memintamu untuk mencucikan bajunya, kau harus segera pulang, dasar pemalas!" Tangan Shena mengepal keras saat mendengar kalimat suami Mira. 'Pemalas katanya? Jika Mira pemalas, lalu dia ini apa? Dasar sampah masyarakat, menjijikkan dan tidak berguna!' batin Shena dengan hati yang teramat dongkol. "Shena, aku pulang dulu, jagalah dirimu." Mira langsung bergegas mendatangi suaminya. Selama mereka berjalan, suami Mira terlihat menunjuk kepala Mira dan memukul-mukul belakang kepalanya berkali-kali. Hati Shena kian terbakar karenanya. Suami yang harusnya bekerja malah enak-enakan di rumah. Mendapat pelayanan istrinya tanpa perlu susah-susah bekerja. Bahkan kini seakan semua yang dilakukan Mira kurang di matanya, Mira terlihat selalu salah. "Aku bersumpah, jika aku sudah boleh keluar dari desa ini, aku akan membuat seluruh dunia mengetahui tentang kebiadaban di desa ini." Shena mengepal erat kedua tangannya. Tanpa terasa, hari berganti malam. Tepat pukul delapan malam, akhirnya Shena menyelesaikan pekerjaannya. Rasa lelah kini menyelimuti dirinya. Ia berjalan dengan sangat pelan menuju rumah Dewi untuk mendapatkan makanan yang bergizi. "Shena, darimana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Dewi dengan perasaan cemas. "Aku terlalu lemah, jadi aku membutuhkan waktu yang lebih lama." "Kenapa? Apa tidak ada yang membantumu?" "Tidak diperbolehkan, itu peraturan baru dari Pak Hanif." "Dia memang selalu bersikap sesukanya, entah kapan kekejamannya akan berakhir." Dewi mengeram kesal. "Bagaimana dengan Hasan? Maksud ku, siapa yang menemukan dan membawanya ke sini?" "Karena dia tidak pulang, tengah malam tadi Pak Hanif meminta suamiku mengantarnya ke pelabuhan untuk mencari Hasan. Namun, di sana, Hasan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Jika diperkirakan, Hasan meninggal sekitar enam dengan keadaan baju dan celana yang terbuka." "Apa? Jadi dugaanku benar? Dia diracuni lewat sentuhan bibir ke objek beracun. Dan objek itu adalah d**a seorang wanita? Dia menghisapnya kemudian racun tersalurkan lewat indera perasaannya." Shena berpendapat. "Kau benar, jadi, pembunuhnya adalah seorang wanita. Tapi siapa? Apa mungkin Wulan?" Dewi terlihat menerka-nerka. "Tidak mungkin, Wulan adalah gadis yang penakut, mana mungkin dia menunjukkan dirinya di hadapan Hasan sedangkan dia sudah diklaim meninggal." "Kau benar, pasti orang lain yang mempunyai dendam padanya." "Tapi, siapapun pembunuhnya, ku harap kau jangan mengatakan tentang teori kita pada Pak Hanif, biar saja dia tidak menemukan pembunuh anaknya agar dia dapat merasakan bagaimana hidup dengan ketidakadilan seumur hidupnya." Dewi mengangguk menyetujui ucapan Shena. Mereka sepakat, untuk menjadikan hal itu sebagai rahasia mereka berdua. Biarlah Pak Hanif merasakan bagaimana pedihnya hidup tanpa adanya keadilan tentang kematian anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN