Hidup yang Semakin Berat

2036 Kata
Hari-hari berat pun dilalui Shena sejak saat itu. Ia harus tetap melakukan pekerjaannya meski itu memakan waktu yang cukup lama. Karena sedang hamil, ia jadi gampang lelah dan pekerjaannya menjadi lamban. Waktu pulang yang harusnya sore hari, kini menjadi malam hari. Bahkan Mira pun tidak dapat membantunya karena dilarang oleh Pak Diman. Alhasil, ia tidak bisa membantu pekerjaan Dewi di rumahnya. Dewi hanya bisa membantu Shena dengan memberikan makanan bergizi serta ramuan yang bagus untuk kandungannya. Terlebih lagi, setelah anak Pak Hanif meninggal, ia kerap membuat peraturan-peraturan baru yang kian mencekik warga. Salah satunya, ia membatasi pekerja dengan usia. Setiap orang yang usianya udah mencapai 60 tahun, maka tidak layak bekerja meskipun ia adalah b***k yang hanya digaji dengan makanan. Perlu diingat, orang-orang yang bekerja di desa itu, rata-rata adalah orang-orang dengan segudang masalah di kota atau daerah tempat tinggal mereka dulu. Ada yang buronan, bekas pengedar narkoba, pengutang yang dikejar rentenir, dan orang yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan orang-orang yang sudah punya usaha serta lahan di desa itu, adalah mereka yang merupakan orang-orang asli desa itu termasuk Pak Hanif sekeluarga. Dan daerah terpencil dengan segala keterbatasan di sana "Terima kasih, Dewi." Shena meletakkan gelas berisi ramuan penguat kandungan yang sudah habis tak bersisa. "Bagaimana perkejaan mu hari ini? Kenapa kau pulang terlambat. Hari ini kau lebih lama dua puluh menit dari kemarin," ucap Dewi. "Aku mendapat tugas tambahan dari Pak Diman untuk membersihkan beberapa sapi yang baru melahirkan." "Bukankah itu sudah ada tugasnya masing-masing?" "Ya, tapi Pak Diman berkata bahwa itu adalah aturan dari Pak Hanif yang harus aku jalani." "Semakin lama, Pak Hanif semakin meresahkan saja. Dia pasti ingin membuat kandungan mu dalam bahaya." Dewi memasang wajah masamnya. "Sudahlah, tidak apa-apa, mungkin memang seperti hidup yang harus aku lalui." "Sekarang makanlah, dan minum ini." Dewi memberikan makanan pada Shena, tak lupa ada beberapa buah yang ia petik sebelum disuntikkan racun agar bisa Shena konsumsi. Setelah Shena selesai makan, Dewi pun mengantarkannya pulang. Namun, di tengah jalan, mereka berpas-pasan dengan Pak Hanif yang sedang membawa bungkusan plastik berwarna hitam. "Selamat malam, Pak," sapa Dewi diikuti senyuman dari Shena. "Mau kemana?" tanya Pak Hanif. "Saya mau mengantar Shena, Pak." "Kenapa harus diantar? Dia punya kaki." "Dia sedang hamil, dia butuh bantuan." "Mulai sekarang, kau tidak boleh menolongnya. Memberi makan, obat atau jasa seperti ini!" "Tapi, Pak..." "Tidak ada tapi-tapian. Jika kau melanggar, maka kau akan saya laporkan ke polisi!" "Dewi, dengarkan ucapannya, jangan membantuku, aku tidak ingin kau menderita karena hal ini." Shena melepaskan tangan Dewi yang masih memegangi pergelangan tangannya. "Aku pergi dulu," ucap Shena sambil melangkah menuju rumahnya dengan penerangan seadanya dari obor di setiap rumah warga. "Kenapa Bapak sangat kejam pada Shena? Dia sedang hamil. Apa karena Bapak ditolak olehnya?" tanya Dewi dengan tatapan kesalnya. "Tutup mulutmu! Kau tidak berhak mengatakan itu pada saya!" "Jika Bapak begini terus, tidak menutup kemungkinan ada yang akan mencelakai Bapak. Hasan yang selalu menjadi tameng Bapak sudah tidak ada!" "Tidak akan ada yang berani macam-macam pada saya! Bagaimanapun juga, saya adalah ketua di desa ini! Jika kau ingin hidup tenang, setidaknya berhenti mengurusi hidup orang!" "Saya hanya mengingatkan saja, Pak." "Saya tidak butuh nasihat mu!" Pak Hanif melangkah pergi meninggalkan Shena. Tanpa diduga, seseorang tengah mengintip dari balik semak-semak. Dewi yang merasa kesal, langsung kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, ia terus menggerutu akan sikap Pak Hanif yang sesukanya dan tidak mau mendengar nasihatnya. "Dewi!" panggil seorang pria tua. "Ada apa, Pak?" tanya Dewi dengan wajah heran. Hal itu karena pria tua itu terlihat berlumuran darah di bagian pelipisnya. "Ayo ke rumah ku, akan aku obati." "Tidak, saya hanya ingin bertanya, apa yang kau bicarakan pada Pak Hanif?" tanya pria tua itu. "Tidak ada, Pak, kenapa?" "Dia baru saja memukuli saya karena saya tidak sengaja batuk saat beliau lewat. Sepertinya, kejiwaannya mulai terganggu karena ditinggal mati anaknya sebulan yang lalu. Tadi saja saya melihat dia membawa bungkusan plastik yang ternyata berisi baju baru untuk Hasan." Dewi terkejut mendengarnya. Mungkinkah Pak Hanif terganggu jiwanya sejak kepergian Hasan dan penolakan dari Shena? "Kalau begitu, mari, ikut saya, izinkan saya mengobati Bapak dulu." Si pria tua langsung mengangguk. Ia pun mengikuti Dewi dan mendapatkan perawatan di sana. "Lain kali, jika Pak Hanif lewat, Bapak sembunyi saja di dalam rumah," ucap Dewi saat sudah selesai mengobati pria tua. "Terima kasih, kalau begitu saya pergi dulu." Dewi mengangguk setuju. Setelah pria tua itu pergi, ia pun pergi untuk menemui suaminya yang baru pulang mencari tanaman obat. "Dapat banyak?" tanya Dewi. "Lumayan, hanya saja, bagian akar sulit aku dapat karena susah sekali mencabut saat hari sedang kemarau." "Tadi ada yang berkata kalau Pak Hanif baru saja membeli pakaian untuk Hasan." "Hah? Tapi Hasan sudah meninggal, kan? Apa yang terjadi pada Pak Hanif?" "Entahlah, aku rasa dia terganggu jiwanya. Aku khawatir dia membongkar makam Hasan." "Kalau begitu, sebaiknya kau periksa saja ke rumahnya." "Ya, besok aku akan ke rumahnya. Pantas saja peraturan yang dia buat semakin gila. Bahkan dia melarang kita membantu Shena." "Saat terganggu jiwanya, kekejamannya malah semakin bertambah brutal." Harun menghela nafas panjang. "Kau sangat lelah, pergilah mandi, biar aku yang meracik obatnya." Harun mengangguk menyetujui permintaan istrinya. Ia pun pergi ke kamar mandi dan mandi dengan penerangan obor dan lampu minyak. ***** Pak Hanif yang baru sampai di rumahnya lantas masuk ke sebuah kamar milik Hasan. Dan benar saja, ternyata ia membongkar makam Hasan yang sudah tinggal tulang belulang itu. "Hasan, tetaplah di sini dan jaga Bapak. Habisi mereka yang ingin mencelakai Bapakmu ini." "Bu, kenapa Bapak begini?" tanya Arni yang merupakan anak gadis Pak Hanif. Mereka sedang berada di kamar sebelah. Tentu mereka mendengar semua yang diucapkan Pak Hanif. "Sabar, ya, Nak, mungkin Bapak perlu waktu untuk menerima kepergian Bang Hasan," ucap Marni ibunya. "Tapi Arni takut, Bu." Arni mempererat pelukannya pada ibunya. "Sudah, Nak, tidak apa-apa, semoga saja Bapak sadar akan semua ini. Semoga beliau bisa menjadi orang yang adil dan bijaksana seperti almarhum kakekmu." "Iya, Bu, semoga saja. Arni lelah melihat Bapak selalu bersikap kasar pada kita. Tapi Arni senang sekarang Ibu terlihat lebih sehat." "Iya, Nak." Marni mengangguk seraya tersenyum. Di sudut ruangan, menampakkan sebuah tanaman yang pernah dilihat Shena, kini sudah mati karena tidak disiram oleh Hasan semenjak anaknya meninggal. *** Beberapa bulan kemudian. Suasana di desa terlihat sangat menegangkan dan sedikit ricuh. Bagaimana tidak? Ketua desa yaitu Pak Hanif ditemukan tewas gantung diri di belakang rumahnya. Jenazahnya pertama kali ditemukan oleh istri dan anaknya pagi-pagi sekali. Seketika, jeritan mereka mengundang para warga datang ke lokasi kejadian. Mereka semua terkejut melihat jasad Pak Hanif tergantung di pohon. Warga yang mengerumuni langsung memotong talinya dan membawa jenazah Pak Hanif ke dalam rumah. Suara isak tangis pun terdengar dari Marni dan Arni yang merupakan istri dan anak Pak Hanif. Warga juga sempat geger karena melihat tulang tengkorak Hasan ada di dalam kamar lama Hasan. "Bu, bisa jelaskan pada kami bagaimana keadaan Bapak tadi malam?" tanya Harun bersama Dewi di sampingnya. Saat ini keadaan rumah sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang saja setelah jasad Pak Hanif dikubur. Ada Harun, Dewi, Pak Diman, dan beberapa warga laki-laki. Sambil menangis, Marni pun menceritakan apa yang terjadi pada suaminya kemarin. "Kemarin adalah hari ulang tahunnya yang ke lima puluh delapan. Saya memasak banyak makanan untuknya. Beliau menyantap semuanya dengan begitu lahap, tanpa berkata apapun. Lalu malamnya sebelum tidur, beliau sempat menangis di samping Hasan, lalu tidur bersama bahkan beliau juga menyelimuti Hasan. Dan pagi ini, saya malah menemukan beliau sudah tergantung di atas pohon." "Baiklah kalau begitu, berarti ini murni bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya," ucap Pak Diman. "Lalu, bagaimana dengan jabatan ketua desa selanjutnya?" celetuk salah satu warga. "Di sini Harun lah yang paling berhak menjabat karena dia dan Dewi adalah orang kepercayaan Pak Hanif dan selalu membantu warga di sini," ujar salah satu warga. "Kalau begitu, besok kita akan mengumumkannya di balai desa." "Apa ini tidak terlalu cepat? Pak Hanif baru saja meninggal," ucap Harun. "Tidak, memang harusnya begitu agar desa tidak kacau, Harun," timpal Marni. "Malam ini kau harus mempersiapkan peraturan baru yang akan kau buat," ujar Pak Diman. "Apakah saya boleh menghapus yang sudah ada?" tanya Harun. Semua orang saling pandang hingga salah satu warga berceletuk, "kita akan mengambil suara terbanyak apakah boleh atau tidaknya peraturan itu dihapus dan dibuat." Harun pun mengangguk mengerti. "Baiklah, malam ini saya akan memikirkannya. Dan besok, saya ingin semua orang diliburkan dari pekerjaannya. Kita memang harus mengambil suara dari semua warga tanpa terkecuali." Semua mengangguk mengerti. ***** Pada keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di balai desa termasuk Shena yang usia kandungannya sudah memasuki usia enam bulan. "Para warga sekalian, berkumpulnya kita di sini adalah untuk mengumumkan bahwa mulai hari ini, Harun, suami dari Dewi akan menjadi ketua di desa ini." Begitulah Pak Diman membuka pertemuan pagi itu. Semua orang mengangguk mengerti. Sebelumnya mereka memang sudah menduga bahwa Harun lah yang akan menjadi pengganti Pak Hanif. "Nak Harun, silakan bacakan aturan baru yang akan kau buat di sini." Pak Diman mempersilakan. "Baik, terima kasih semuanya. Berdirinya saya di sini adalah untuk membacakan aturan yang akan saya hapus dan saya buat demi kemajuan di desa ini." Semua menatap tak percaya pada Harun. Tampak para wanita dan pria tua tersenyum mendengar ucapannya. Harun adalah orang yang baik, pasti dia akan menjadi ketua yang adil dan bijaksana seperti almarhum ayah Pak Hanif. "Peraturan pertama, semua wanita yang sedang hamil dan pria tua, dibebastugaskan dari pekerjaan jika dia tidak menginginkannya. Sedangkan para b***k akan dibayar atas kerja mereka. Saya ingin mengambil suara terbanyak." Tampak para warga yang kebanyakan adalah pria tua dan wanita langsung tunjuk tangan. Setelah dihitung, jumlah yang setuju lebih banyak daripada yang tidak setuju. Tampak para suami yang selama ini memaksa istrinya bekerja dalam keadaan apapun langsung menatap tidak suka. "Yang kedua, jika ada tindak kekerasan dalam rumah tangga, maka saya akan mengambil tindakan tegas kepadanya." Lagi lagi, jumlah setuju lebih banyak. "Yang ketiga, pekerjaan di peternakan dibatasi dengan waktu, bukan dengan target. Jadi, setiap warga mendapatkan istirahat." Yang setuju menang. "Yang keempat, tanah untuk makam akan saya gratiskan demi kepentingan dan kenyamanan kita bersama." Kalau hal itu, semua setuju. "Yang kelima, saya akan berusaha untuk mengadakan listrik, akses jalan yang bagus, sekolah, masjid, dan kendaraan yang akan mengantarkan kita ke perbatasan dan pelabuhan. Saya juga akan memperbanyak jumlah sepeda di desa ini dengan membelinya dari hasil peternakan." "Apakah itu bisa kita lakukan? Semua butuh biaya," ucap Pak Diman. "Bisa, Pak. Kita berada di negara yang mempunyai pemimpin yang tentu akan membantu rakyatnya. Keberadaan kita yang sangat jauh dari kota dan terpencil membuat kita nyaris tak terjamah bahkan oleh peta. Saya akan mengusulkan agar desa kita mendapatkan itu semua. Dan peraturan yang saya buat adalah salah satu syarat agar desa kita menjadi maju." "Tapi kebanyakan dari kami adalah buronan dan pengutang yang kabur. Bagaimana kami bisa aman jika kau membuat para penegak hukum dengan mudah mendatangi tempat ini!" seru salah seorang yang langsung diikuti anggukan dari teman senasibnya. "Kalau soal itu, saya juga akan mengusahakan untuk menyembunyikan kalian ketika mereka datang ke sini. Lagipula, semua butuh proses, tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun atau mungkin belasan tahun agar semua terlaksana mengingat kita berada di daerah terpencil." Dewi yang sejak tadi mendengarkan ucapan Harun merasa was-was. Bagaimana jika polisi menangkap mereka gara-gara hal ini? Setelah semua orang membubarkan diri mereka, Shena mendatangi Harun dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya, kini ia tidak perlu menderita lagi. Kini ia hanya perlu bekerja pada Dewi untuk menolong para warga. Setelah itu, ia pun mohon diri untuk pulang dan istirahat. "Kenapa kau melakukan hal itu? Bagaimana kalau polisi mengetahui keberadaan kita?" "Selama aku mencari tanaman obat di perbatasan, aku juga mencari tahu tentang kasus kita. Apa kau tahu? Polisi yang kala itu mengejar dan menangani kasus kita sudah meninggal. Dan tak hanya itu, saksi kunci yang telah memfitnah kita sekarang dalam keadaan stroke. Dan yang paling membahagiakan, kasus kita sudah ditutup. Tidak akan ada yang mengenali kita. Apalagi tim mereka sudah bubar. Ada yang sudah pensiun, dimutasi, dan keluar dari pekerjaan. Seakan Tuhan berpihak pada kita. Kau tidak perlu khawatir, semuanya akan aman. Bersama kita akan memajukan desa ini bersama-sama." Dewi tersenyum mendengar penuturan suaminya. Ia mengangguk setuju. Seakan beban yang selama ini berada di pundaknya sudah hilang, kakinya terasa sangat enteng saat melangkah menuju rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN