"Terus, Shena, terus, sedikit lagi!"
"Aaaaaaa!" Shena mengerang sambil memegangi alas tempat ia berbaring.
Ya, hari ini, ia sedang menjalani proses persalinan. Beruntung sebelumnya Dewi sudah mendatangkan alat medis di desa itu agar para ibu muda yang melahirkan tidak kehilangan nyawa mereka akibat ketiadaan alat yang memadai.
"Shena, ayo, dorong lagi, kepalanya sudah terlihat!" seru Dewi.
"Aaaaaaaa!!!"
Hoeeee, hoeeee! Terdengar suara tangisan dari bayi Shena. Shena menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia berhasil melahirkan bayinya dengan selamat.
"Lihat, Shena, dia sangat tampan. Alis dan matanya sangat indah seperti bule," ucap Dewi setelah selesai memandikan dan memakaikan kain di tubuh anak Shena.
"Benarkah? Pasti dia tampan seperti ayahnya." Shena menatap haru ke anak laki-lakinya yang masih berada di dalam gendongan Dewi.
Dewi memberikan bayi Shena pada Harun untuk diadzankan, sementara dirinya menjahit luka Shena dan membersihkannya.
Setelah semua selesai, Dewi membawa bayi Shena untuk dilihat oleh ibunya. Shena membelai pipi anaknya dengan lembut.
'Kau seperti Tuan Rafael, wajahmu sangat mirip dengannya. Apakah dia tahu bahwa kini dia sudah menjadi seorang ayah?' batin Shena.
"Siapa nama anakmu, Shena?" tanya Dewi.
"Ansel, namanya Ansel Smith."
"Itu nama yang sangat bagus." Dewi tersenyum pada bayi Shena yang kini sedang terlelap dalam tidurnya.
"Terima kasih, Dewi, kau telah membantu ku selama ini. Kau ikut menjaga kesehatanku hingga bayiku lahir. Hanya kau dan Mira yang sangat baik padaku di desa ini."
"Tidak masalah, aku senang bisa membantu orang yang sepemikiran denganku. Kau istirahat saja di sini sampai luka jahit mu mengering. Setelah itu, baru kau boleh kembali ke rumahmu."
"Terima kasih, kau perhatian sekali. Aku lihat, sekarang hampir semua penduduk sudah mempunyai sepeda untuk memudahkan mereka beraktivitas. Harun memang benar-benar menepati janjinya."
"Iya, dia tentu ingin desa ini maju. Meskipun banyak sekali warga laki-laki yang mendatanginya hanya untuk memakinya karena kebijakannya sekarang membuat mereka tidak bisa berbuat sesuka hati pada istri mereka."
"Itu wajar saja, tapi seiring berjalannya waktu, mereka semua akan sadar jika harga diri laki-laki adalah bekerja, bukan menindas wanita."
"Iya, kau benar."
"Dewi." Shena menatap ragu pada Dewi.
"Ya, ada apa? Sepertinya ada hal yang ingin kau katakan."
"Selama ini aku berusaha untuk menahan rasa penasaran ku. Tapi, bolehkah aku bertanya, berjanjilah untuk tidak marah."
"Tanya saja, aku berjanji tidak akan marah."
"Apakah wanita yang membunuh Hasan adalah orang suruhanmu?"
Mendengar ucapan Shena, Dewi sontak terkejut.
"Apa? Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?" Dewi terlihat ragu.
"Racun yang aku lihat dibawah meja masih utuh, artinya racun itu belum habis. Kau sengaja membuat Hasan pergi ke luar desa dan membunuhnya dengan racun itu. Hasan yang gila wanita, dan ketika dia bercinta dengan wanita itu, dia menghisap d**a wanita itu yang telah diolesi racun dan disitulah racunnya bereaksi."
"Tidak, Shena, aku tidak mungkin,,,,"
"Dewi, aku yakin teoriku tidak salah. Jangan sembunyikan ini dariku, karena aku akan terus bertanya."
Dewi menghela nafas panjang.
"Aku terpaksa melakukannya. Ini adalah balasan untuknya yang dulu pernah memperkosa diriku. Dan juga, aku pernah dengar Pak Hanif itu sangat mengandalkan Hasan. Dia bahkan pernah berkata, jika Hasan mati, maka dia akan ikut mati. Maka dari itu, aku membunuhnya. Dan kematian Pak Hanif adalah yang ku harapkan dari ini semua. Aku ingin desa ini terbebas dari orang-orang jahat seperti mereka."
"Terima kasih karena kau begitu peduli pada kesejahteraan orang-orang di desa ini. Jagalah dirimu, jangan sampai perbuatanmu diketahui oleh orang-orang di desa ini."
"Ya, aku mengerti. Lagipula, tidakkah kau lihat istri Pak Hanif sekarang lebih sehat? Itu karena dia tidak lagi mengkonsumsi tumbuhan beracun yang ditanam di dalam rumahnya. Biasanya, Pak Hanif akan menghaluskan daunnya dan mencampurnya dengan air minum Bu Marni dengan alasan sebagai obat. Padahal itu adalah racun yang perlahan akan membunuh Bu Marni."
"Aku sudah menduganya, tapi syukurlah beliau masih hidup, jadi ada yang menjaga Arni."
"Oh ya, apa kau tahu, suami yang dulu pernah kau kerjai habis-habisan? Yang tangannya kau buat terluka dan gatal?" tanya Dewi.
Shena tampak berpikir. "Oh, yang sekarang sudah punya anak?" tanya Shena meyakinkan.
"Ya, sekarang mereka terlihat sangat bahagia. Aku menyesal baru tahu kalau selama ini laki-laki itu hanya berpura-pura menyakiti istrinya karena dia tidak mau Hasan mendatangi kediamannya karena dia baik pada istrinya, seperti aku dan Mira."
"Mira?" Shena mengernyitkan dahinya.
"Ya, sebenarnya suami Mira dulunya sangat baik dan penyayang. Tapi, sejak Hasan berhasil memperkosa Mira, mendadak suaminya berubah sikap. Entah mungkin karena dia kesal dengan Hasan yang berbuat sesuka hatinya tanpa diadili oleh Pak Hanif. Dia melampiaskannya pada Mira. Tapi, sepertinya sekarang mereka sudah berbaikan. Suaminya tidak lagi berjudi dan main perempuan. Itu terjadi sejak Hasan dan Pak Hanif meninggal."
"Aku berhutang maaf pada pria yang aku lukai. Tapi aku bersyukur ternyata mereka hanya bersandiwara. Tentu saja, wanita yang hidupnya bahagia bersama suaminya, pasti akan dirusak oleh Hasan." Shena membenarkan ucapan Dewi.
"Benar, syukurlah, aku senang semuanya kembali normal. Tapi aku berharap, rahasia kita hanya kau, aku dan Harun saja yang tahu. Harun sudah memarahi ku habis-habisan waktu itu. Aku bersyukur kau tidak marah."
"Kau terpaksa melakukannya demi menghapus kejahatan di desa ini."
Dewi mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Shena.
*****
Dua Minggu kemudian, Shena sudah bisa berjalan normal karena luka jahitnya sudah mengering. Ia pun pulang dengan diantar Dewi serta suaminya.
Di rumahnya, Dewi sudah mempersiapkan perlengkapan bayi dan baju-baju bayi serta kain-kain yang ia dapat dari kota. Meskipun itu bekas, setidaknya bisa membuat Ansel merasa sangat nyaman dan tidak kedinginan.
Mulai sejak saat itu, Shena mendapatkan makanan dari Dewi setiap hari. Ia sering menerima bahan mentah untuk diolahnya sendiri.
Ansel terbilang bayi yang tidak rewel. Tidak merepotkan Shena dengan tangisan-tangisan rewelnya sepanjang malam. Memang, beberapa kali ia sering terbangun malam karena meminta ASI, namun, setelahnya, ia dapat tidur dengan cepat setelah mendapat apa yang diinginkannya.
Hidup Shena kini menjadi lebih berwarna sejak kehadiran Ansel. Seperti cahaya harapan yang selama ini Shena dambakan. Wajah yang sangat mirip dengan Rafael terkadang membuatnya sedih karena mereka harus terpisah dalam kurun waktu yang lama dan tempat yang teramat sangat jauh.
Rafael sendiri kini tengah fokus di bisnisnya yang sedang berkembang pesat. Hari-hari ia lewati dengan bekerja dan bekerja hingga akhirnya ia benar-benar telah melupakan Shena yang ternyata kini sudah menjadi ibu dari seorang bayi yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.
***
Dua bulan sudah sejak Shena melahirkan. Kini, ia bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari. Ia bekerja pada Dewi dengan membawa anaknya ke rumah Dewi agar tetap dapat mengawasi. Kini hidupnya sudah lebih baik lagi. Terlebih Ansel yang selalu mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan karena bayi itu sangat menggemaskan dan pintar.
"Dewi, aku pulang dulu. Tadi aku sudah mengatakan pada Harun tentang tanaman yang harus dicari."
"Iya, aku yakin dia sudah mencatatnya. Malam ini sepertinya akan hujan, bawalah ini untuk menambah selimut anakmu." Dewi menyerahkan sebuah plastik berisi selimut bayi pada Shena.
"Terima kasih." Shena menerimanya dengan senang hati, lalu pulang ke rumahnya.
Sepanjang jalan, ia berpas-pasan dengan beberapa orang yang ia kenal. Ada Mira dan suaminya yang kini berjalan sambil bergandeng mesra. Shena merasa lebih lega setelah Mira mengatakan bahwa cerita soal bayinya yang meninggal karena suaminya itu bohong. Sebenarnya suaminya menjaga anaknya, namun sejak lahir, sang anak memang sudah memiliki penyakit parah, sehingga penyakit itu membuat anaknya meninggal.
Mira tersenyum pada Shena saat mereka saling menatap. Tak berselang lama, lewatlah seorang wanita yang suaminya pernah ia jahili. Terlihat anak mereka yang sudah berusia hampir setahun. Sang ayah menggedong anaknya di atas lehernya, sementara sang ibu terlihat bertepuk tangan sambil tertawa pada sang anak. Sungguh, mereka terlihat sangat bahagia.
Di belakang mereka, ada seorang lelaki tua yang pernah Shena tolong. Lelaki tua itu terlihat dituntun oleh seorang pria muda. Diduga pria itu adalah cucu dari sang kakek. Sepertinya, setelah peraturan di desa ini dirubah, perlahan penduduk yang sudah kabur memilih untuk kembali. Mungkin mereka menyerah pada ibu kota yang kejam sehingga memutuskan kembali ke desa yang kini sudah tenteram dan damai.
Sang kakek tersenyum pada Shena yang langsung dibalas oleh Shena.
Sesampainya di rumah, Shena langsung membaringkan anaknya di atas tempat tidur bayi pemberian dari Dewi. Setelahnya, ia menutup jendela dan menguncinya serta menyalahkan lampu petromax.
Langit terlihat semakin gelap disertai angin pertanda akan terjadi hujan. Beruntung rumah Shena sudah tidak bocor lagi, sehingga ia tidak perlu repot-repot menampung air hujan dengan ember.
Malam harinya, tepatnya tengah malam, hawa dingin semakin menusuk disela hujan yang masih membasahi tanah desa itu. Shena menaikkan selimutnya menutupi tubuhnya. Terlihat Ansel masih tertidur lelap dengan selimut tebal yang menutupi tubuh mungilnya.
Tiba-tiba saja, Shena mendengar suara gemericik air yang diinjak beberapa kaki. Ia pun terbangun dari posisi berbaringnya.
Brakkk!!! Pintu bagian belakang Shena didobrak dengan begitu kasar. Shena terkejut mendengarnya. Ia pun langsung mengambil Ansel dari kasur bayi. Hingga beberapa saat kemudian, beberapa orang memakai topeng sudah mengelilingi dirinya.
"Siapa kalian? Apa mau kalian!" teriak Shena dengan wajah ketakutan.
"Ambil bayinya, dan bawa dia!" perintah seseorang yang diduga adalah ketua dari mereka.
Mereka pun segera mengambil paksa Ansel dari gendongan Shena. Shena yang berusaha mempertahankan bayinya, malah mendapatkan suntikan hingga akhirnya ia pun pingsan.
Para pria bertopeng itu langsung membawa Shena lewat pintu belakang. Mereka menggotong tubuh Shena sampai ke ujung desa, lalu membawanya menggunakan sepeda motor. Di pelabuhan, mereka sudah disambut sebuah kapal yang mengangkut mereka semua termasuk Shena yang masih pingsan. Shena pun menghilang malam itu tanpa tahu siapa yang telah menculiknya.
"Apa kau sudah membunuh bayinya?" tanya salah seorang dari mereka.
"Sudah, aku sudah mencampakkannya ke dalam sawah yang digenangi air, bayi itu pasti akan mati kehabisan nafas karena tenggelam dalam genangan air dan lumpur."
"Bagus!"
*****
Pagi menjelang. Semua orang pun mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang memerah s**u di peternakan, mengantar barang ke perbatasan, mencari pakan sapi, dan banyak juga yang pergi ke sawah memanen hasil sawah mereka.
Di area persawahan, terlihat beberapa warga sudah mulai bekerja mencangkul dan menanam benih. Semua tampak hening dan terfokus ke pekerjaan masing-masing. Hingga tiba-tiba.
"Tolooooong, ada mayat!!" seorang pria berteriak hingga membuat semua orang mendatanginya.
Mereka melihat seorang bayi terlihat sangat pucat berada di atas tumpukan daun padi yang baru saja dipanen. Seseorang dari mereka menyentuh leher sang bayi serta nafasnya untuk memastikan bahwa bayi itu masih hidup atau sudah meninggal.
"Masih bernafas, cepat kita bawa ke Dewi!"
"Ya, ayo!"
Mereka pun segera membawa bayi itu ke rumah Dewi.
Dewi sangat terkejut melihat bahwa bayi tersebut adalah Ansel, anak Shena. Tanpa bertanya, ia langsung menangani Ansel yang sepertinya kedinginan sepanjang malam karena berada di sawah dan terkena hujan.
Setelah menangani Ansel, Dewi pun bertanya pada mereka.
"Bagaimana keadaan Shena?" tanyanya dengan perasaan penuh kekhawatiran.
"Beberapa orang kami suruh mengecek keadaan rumahnya. Dan mereka menemukan pintu belakang yang rusak karena dibobol secara paksa. Kami juga menemukan banyak jejak sepatu di dalam rumahnya."
Mendengar hal itu, Dewi nampak sangat syok. Artinya, Shena diculik dan anaknya dibuang ke sawah malam tadi.
Setelah semua warga pulang, Dewi kembali memeriksa keadaan Ansel yang perlahan panasnya sudah menurun. Ia juga sudah memanggil wanita yang masih menyusui untuk memberikan ASI kepada Ansel sebelum ia menemukan pengganti ASI kepada Ansel.
Ia menyuruh suaminya untuk ke kota dan membeli s**u yang banyak untuk stok Ansel sampai Shena ditemukan. Ia bahkan meminta suaminya untuk mencari ayah dari Ansel meski ia sendiri tidak tahu siapa ayahnya.
Maka sejak saat itu, Dewi pun mengambil alih tugas Shena untuk menjadi ibu Ansel. Ia menyayangi Ansel seperti anaknya sendiri. Memberikan nutrisi terbaik untuk anak itu agar tumbuh sehat dan pintar seperti ibunya.
*****
Satu hari kemudian.
Shena yang baru sadar dari pingsannya terkejut melihat sekelilingnya. Ia berada di dalam sebuah ruangan dengan penerangan cahaya lampu listrik. Ia sedang terikat di atas ranjang empuk dan bagus. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa berada di sana dengan kondisi seperti.
Hingga seseorang masuk ke dalam ruangan itu sambil bertepuk tangan diiringi senyuman devil penuh dendam.
"Kau!"
Mata Shena membulat tak percaya saat mengetahui siapa yang telah menculiknya dan membuatnya terpisah dari anaknya.
"Kenapa kau lakukan ini! Dimana anakku? Kembalikan anakku!!" Shena berteriak sambil mengeluarkan air matanya.
Bagaimana tidak, Ansel masih berusia dua bulan, dan ia harus berada di desa itu sendirian, kesepian tanpanya.
"Anakmu! Hahaha, kau tidak perlu memikirkan anak itu lagi, karena dia sudah mati!"
"Tidak! Anakku tidak mungkin meninggal! Kau pasti bohong!" Shena memelototi orang tersebut.
"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, yang pasti, mulai sekarang, kau akan menjadi tawanan ku hingga misiku tercapai." Tersenyum jahat ke arah Shena.
Shena menangis memaki orang tersebut dengan segala sumpah serapah yang ia punya. Meraung, meminta supaya anaknya dikembalikan padanya. Namun sayang, semua itu tidaklah berguna. Lagi-lagi, ia disuntikkan obat penenang dan tertidur dalam pingsannya.