Tumbuh

1557 Kata
Lima tahun telah berlalu. Kemajuan desa tempat Ansel dilahirkan sudah semakin terlihat. Kini sudah ada listrik, jalanan yang lebih lebar sehingga dapat dilalui kendaraan roda empat meskipun hanya terlihat beberapa bulan sekali, kendaraan roda dua yang sudah bertambah, lapangan pekerjaan yang diciptakan Harun di bidang kesenian, peralatan medis yang semakin lengkap, hingga sekolah dan masjid dengan sarana dan prasarana seadanya. Meskipun begitu, banyak pemuda desa yang merantau ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. "Ansel, sini, Sayang, makan dulu." Dewi memanggil Ansel yang sedang bermain dengan teman seusianya. "Iya, Bi." Ansel berlari mendatangi Dewi dan duduk di samping Dewi. Dewi menyuapi Ansel dengan tangannya. Meski dengan lauk seadanya, namun Ansel terlihat sangat lahap memakannya. "Enak, Sayang?" tanya Dewi dengan tatapan penuh cinta pada anak tampan dan pintar itu. "Enak, Bi." Ansel mengangguk berkali-kali sambil mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya. Selesai makan, Dewi lantas mengajak Ansel mengobrol sebentar. "Ansel, ini hari apa?" tanya Dewi "Hali labu." "Kalau besok?" "Hali Kamis." "Kemarin?" "Hali Selasa." "Wah, pintar, kalau ini berapa?" Dewi menunjukkan lima jarinya." "Lima." "Ini?" Menunjukkan tiga jarinya. "Tiga." "Kalau ini tambah ini?" Dewi menggabungkan lima jari kanan dan tiga jari kirinya. "Delapan." "Wah, pintar." Dewi mengusap kepala Ansel dengan begitu gemasnya. Ansel memang tumbuh menjadi anak yang sangat pintar seperti ibunya. Ia bahkan dapat menangkap pelajaran yang diberikan Dewi meski baru pertama kali diajari. "Bi, apa Ibu sudah datang?" tanya Ansel. Pertanyaan itu langsung membuat mata Dewi berkaca-kaca. Ini memang keputusannya untuk memberitahu Ansel bahwa ia bukanlah ibunya. Hal ini bertujuan agar Ansel tetap mengingat Shena. Karena ia sangat yakin kalau Shena masih hidup. "Belum, Sayang, sabar, ya. Suatu hari nanti, ibumu pasti akan menjemput mu." Dewi membelai pipi lembut Ansel. "Iya, Bi." Ansel mengangguk mengerti. Meski Dewi dapat melihat raut wajah kecewa Ansel, namun anak itu mampu menutupinya dengan senyuman. "Kalau begitu, ini untukmu." Dewi memberikan sebatang cokelat kepada Ansel yang dibawakan Harun dari kota. "Wah, cokelat! Telima kasih, Bi!" seru Ansel sambil menerima cokelat tersebut. Ansel melirik teman-temannya yang berjumlah dua orang. Ia pun membagi sebatang cokelat menjadi tiga bagian yang sama, lalu memberikannya pada teman-temannya. "Shena, andai saja kau tahu, sekarang anakmu sangat pintar dan baik sama seperti mu. Apa kabarmu, Shena? Apa kau masih hidup? Aku harap begitu." Dewi menyeka sudut matanya yang basah sambil terus memerhatikan Ansel yang masih asyik bermain dengan teman-temannya. "Hei, malah melamun." Harun datang sambil menggendong seorang balita berusia dua tahun. Ya, dia memang sudah memiliki anak perempuan berusia dua tahun saat ini. Sangat lucu dan menggemaskan. Bahkan Ansel pun begitu amat menyayangi dirinya. Namanya adalah Aruna Dewina, gadis kecil bermata indah yang sangat Ansel sayangi. Bahkan Ansel pernah berjanji, jika ia sudah dewasa, ia akan menjadi orang yang sukses agar bisa membahagiakan Aruna. "Aku hanya memikirkan Shena, sudah lima tahun dia tidak ada kabar. Aku masih meyakini bahwa dia masih hidup." "Kita tetap harus berdoa semoga Shena dalam keadaan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat dan cerdas, penculik tidak akan mampu membuatnya celaka." Harun mengusap punggung Dewi dengan lembut. "Aku tahu, kasihan Ansel, dia kehilangan ibunya saat masih bayi. Bahkan kita juga tidak tahu siapa ayahnya." Dewi menatap Ansel dengan tatapan iba. "Aku juga sudah berusaha mencari ayahnya, namun nihil. Di kota besar, banyak orang dengan nama Smith. Bahkan pengusaha sukses dan sangat berkuasa juga bernama Smith, namun dia belum menikah, dia baru bertunangan. Aku pikir, bukan dia orangnya. Mana mungkin dia tega menelantarkan anak dan istrinya seperti ini." "Yang penting kita sudah berusaha. Selagi kita masih hidup, kita harus tetap menjaga Ansel semampu kita." "Kau benar, dia juga sangat cerdas seperti ibunya, aku yakin kelak dia pasti bisa membuat desa ini semakin maju." Harun tersenyum pada Dewi sambil mengusap kepala Dewi dengan penuh kelembutan. Hingga saat malam tiba, mereka semua berkumpul di dalam rumah yang sudah beralaskan semen sebagai pijakan kaki mereka. Kasur yang hangat meski tidak sebagus di kota-kota besar. Mereka yang baru selesai makan malam memilih untuk bersenda gurau di beranda rumah. Kebetulan Dewi sedang tidak ada pasien malam ini. "Paman, jika sudah besal nanti, aku ingin menjadi olang yang sukses, agal ibu bangga padaku dan aku akan menjemput ibu," celetuk Ansel sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit. Sebuah senyuman tulus terpancar dari wajahnya. "Wah, itu cita-cita yang sangat bagus. Maka dari itu, kau harus rajin belajar mulai sekarang." "Iya, Paman, kata Bu gulu aku akan jadi olang sukses jika telus belajal di sekolah." Ansel memang masih berusia lima tahun, namun karena kecerdasannya, ia sudah diperbolehkan sekolah di desa itu. Tanpa seragam, mereka hanya menggunakan baju biasa dan alat tulis seadanya. Karena memang sangat sulit mendatangkan peralatan sekolah yang lengkap di sana. "Ansel, ayo tidur, Nak, sudah malam," ujar Dewi. Ansel langsung mengangguk dan pergi ke dalam kamarnya. Terlihat Aruna sudah tertidur di dalam ayunan sejak mereka makan malam tadi. Ansel berbaring di atas kasurnya sambil menatap langit-langit. "Ibu, Ayah, tunggu aku, ya." Ansel tersenyum, lalu memejamkan matanya. Ia berharap bisa bermimpi bertemu dengan ayah dan ibunya meski sampai saat ini, ia tidak pernah tahu bagaimana rupa orang tuanya itu. Yang ia tahu, ibunya adalah wanita yang sangat cantik dan baik hati. Ibunya juga pintar dan pekerja keras. Dan ayahnya, Bibi Dewi mengatakan bahwa ia belum pernah bertemu dengan ayahnya. Hanya ibunya saja yang tahu bagaimana rupa ayah kandungnya. ***** Di sebuah rumah mewah di tengah kota besar. Rafael mengendurkan dasinya dan meletakkan tas kerjanya ke atas sofa kamar tersebut. Ia lantas membaringkan dirinya ke atas ranjang dengan perasaan lelah yang menggerogoti energinya sejak pagi. "Pekerjaan hari ini sangat berat, aku sangat pusing." Rafael memijit pangkal hidungnya dengan perlahan. Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Dengan langkah gontai, Rafael membuka pintu tersebut. "Sayang, aku rindu!" Seorang wanita cantik dan seksi menghambur ke pelukan Rafael. Dialah Celine, seorang artis terkenal yang telah membintangi berbagai jenis film dan juga video klip Band ternama. Berusia dua puluh empat tahun, dan memiliki paras yang sangat cantik meskipun hasil operasi. "Lepaskan, Celine, aku sangat lelah." Rafael memaksa Celine melepaskan pelukannya. Celine mencebikkan bibirnya, kesal melihat perlakuan Rafael padanya. "Sayang, kita sudah bertunangan hampir setahun, dan kau masih bersikap seperti ini?" Celine mendudukkan dirinya ke atas sofa kamar itu. "Aku sangat lelah, harusnya kau tahu itu. Kenapa kau malah datang malam-malam begini? Apa kau tidak takut media membuntuti mu dan mengetahui kau pergi ke rumah tunanganmu pada malam hari?" Rafael mendudukkan dirinya ke atas ranjang. "Ayolah, Sayang, aku sangat merindukanmu. Kita sudah lama tidak bertemu." Celine beranjak dari duduknya. Menghampiri Rafael, lalu duduk di pangkuan Rafael. Ia melingkarkan tangannya ke leher Rafael dan mendekatkan bibirnya ke bibir Rafael. Cup, sebuah kecupan lembut mendarat sempurna di bibir Rafael. Namun, pria itu hanya diam saja tanpa merespon Celine. "Celine, aku ingin istirahat." Rafael ingin melepaskan lingkaran tangan Celine yang masih berada di lehernya. Namun, Celine malah mendorong tubuh Rafael hingga keduanya jatuh ke atas ranjang dengan posisi Celine menindih Rafael. Celine langsung mendaratkan lagi sebuah ciuman di bibir Rafael. Namun, lagi-lagi Rafael menolaknya. Hal itu tentu membuat Celine merasa sangat kesal. "Kau ini kenapa, Rafael? Kau sudah berusia tiga puluh dua tahun, tapi kau seperti pria yang tidak berselera untuk mendapatkan ku. Apa kau tidak mau menikahiku? Banyak aktor dan pengusaha yang mengejarku mati-matian, tapi aku tetap memilihmu!" "Aku tidak peduli, Celine, apa kau lupa bahwa pertunangan kita hanya sebatas untuk menaikkan pamor mu dan juga perusahaan ku?" "Tapi kita akan menikah, dan aku ingin kau belajar mencintai ku seperti aku mencintaimu." "Bukan cinta namanya jika kau melihat hartaku saja, Celine." "Rafael, kau tidak bisa seperti ini terus. Kau! Apa kau penyuka sesama jenis? Aku merasa, setiap bersamaku, kau tidak memiliki gairah sedikit pun. Seperti ada yang telah membawa hatimu pergi menjauh sehingga kau terus terkurung dalam perasaan yang tidak bisa kau ungkapkan." "Aku sudah bilang bahwa aku lelah, sekarang pergi atau aku akan memanggil pengawal ku untuk mengusirmu!" Rafael menunjuk pintu dan menatap Celine dengan datar. Celine keluar sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Namun sebelum keluar, ia sempat berkata pada Rafael, "Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku dan memintaku menikahi mu!" Setelah kepergian Celine, Rafael kembali menghamburkan dirinya ke atas ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Ada apa denganku, sejak lima tahun terakhir, aku sudah tidak pernah tidur dengan siapapun. Bahkan, untuk melirik wanita saja, aku sudah tidak bernafsu. Padahal dulu akulah rajanya, tapi sekarang, aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Apa mungkin karena wanita itu?" Rafael menatap langit-langit kamarnya dengan ekspresi datar. "Arrrrghhh, mengapa aku memikirkannya. Dia sudah mati dalam hidupku, aku tidak perlu memperdulikannya lagi. Sedang apa dia, bagaimana keadaannya sekarang, harusnya aku tidak peduli. Dan Celine, sepertinya aku harus liburan untuk menyegarkan pikiran ku. Dan pastinya, aku harus beralasan sedang ada perjalanan bisnis agar dia tidak ikut." Rafael segera beranjak dari posisinya, ia pun menelepon sekertarisnya untuk mempersiapkan jadwal cutinya selama beberapa hari ke luar negeri. Ia akan segera berangkat demi menghindari Celine dan mencari ketenangan untuk dirinya. Selesai dengan itu, ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Air dingin yang ia pilih untuk menyegarkan dirinya membuat rasa lelah sedikit menghilang. Dengan lilitan handuk dan satu handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Tampan, memang sangat tampan. Meski ia sudah berumur, namun ketampanannya tidak memudar. Mungkin itu adalah salah satu daya tarik tersendiri yang ada pada dirinya. Dan tanpa ia tahu, ada seorang anak jenius yang sebentar lagi akan mengalahkan ketampanannya dan juga pesonanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN