New York, Amerika Serikat.
Rafael baru saja menjejakkan kakinya di bandara tempat pesawat jet pribadi miliknya mendarat. Dengan setelan tuksedo berwarna abu, sepatu bermerk terkenal, dan kacamata hitam yang menambah kharismanya.
Ia melihat arloji yang menunjukkan waktu tengah hari. Ia terus berjalan menuju ke beberapa orang yang telah lama menunggunya.
"Tuan, bagaimana perjalanan anda," sapa salah seorang dari mereka. Ia membungkuk memberi hormat.
"Apakah semua yang ku minta sudah siap?" tanya Rafael.
"Sudah, Tuan, hotel tempat Tuan menginap dan kamar yang terbaik di sana."
"Bagus, tidak sia-sia aku mengandalkanmu." Rafael menepuk pundak pria tersebut.
'Aku sampai mengemis pada pemilik kamar sebelumnya, Tuan. Aku seperti dirampok saat dia meminta nominal yang sangat tinggi. Tapi syukurlah uang itu sudah diganti asistenmu.'
Mereka pun pergi ke hotel tempat Rafael menginap. Hotel termewah dengan pelayanan terbaik sudah siap menjamu Rafael.
Setelah memasuki kamar, Rafael segera menghamburkan dirinya ke atas ranjang empuk berukuran king size. Ia menatap langit-langit kamar sangat memanjakan matanya. Semua yang ada di kamar itu sangat mewah.
Tiba-tiba, terbesit dalam benaknya tentang desa dimana Shena ia buang enam tahun yang lalu.
"Ini sudah lima tahun, kira-kira, bagaimana kondisi desa itu sekarang?"
"Ah, apa yang aku pikirkan! Kenapa juga aku memikirkan hal itu, buang-buang waktu saja. Dia itu salah, dia sudah mempermainkan aku dengan dirinya yang tidak menarik dan tidak suci lagi!"
Rafael mendengkus kesal. Lagi-lagi, ingatan sekaligus rasa bersalah membuatnya terus saja mengumpat soal Shena.
"Sepertinya aku harus pergi ke luar, menikmati keindahan kota ini. Untuk apa aku malah tiduran di sini?"
Rafael segera bersiap. Ia membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian dan pergi ke luar. Ia diantar seorang sopir yang siap mengantarnya kemana saja dan kapan saja. Sedangkan pengawal ia suruh menunggu di hotel saja. Karena hari ini, ia ingin pergi tanpa dikawal.
Ia sampai di sebuah restoran yang menjual makanan halal. Ia pun segera memesan satu meja untuknya makan.
Setelah memesan, makanan pun datang. Ia segera menyantap makanannya karena ia memang sudah lapar.
Selesai makan, Rafael bermaksud pergi ke salah satu tempat hiburan di sana, namun, langkahnya terhenti saat ia melihat keberadaan seseorang yang tak asing baginya. Seorang gadis yang enam tahun lalu pernah kabur karena tidak ingin ia nikahi, kini sedang berdiri di depan mobilnya hendak pergi. Dialah Jane, sepupu Shena.
Dengan cepat, Rafael menghampiri Jane dan memanggilnya.
Jane menoleh ke sumber suara dan terkejut saat melihat bahwa yang memanggilnya adalah Rafael.
Ia hendak pergi, namun Rafael dengan sigap langsung menangkap tangannya.
"Jane, jadi benar ini kau?" tanya Rafael.
"Maaf, jangan sakiti aku. Aku mohon!" Jane menatap Rafael penuh permohonan.
"Itu hanya masa lalu, sekarang pun aku sudah bertunangan."
"Apa? Ber- bertunangan? Lalu Shena? Kenapa orang tuaku,,,,,"
"Aku meminta orang tuamu untuk tidak memberitahu dirimu. Kalau kau tahu, maka kau akan pulang dan berkumpul dengan keluarga mu lagi."
"Maafkan aku, Rafael. Tapi, bagaimana dengan Shena? Dimana dia? Apa kau sudah bercerai dengannya? Apa dia sudah berada di rumah orang tuaku?" tanya Jane dengan sorot mata berbinar-binar. Ia sangat berharap Rafael mengatakan 'ya' karena ia memang sangat merindukan Shena.
"Tidak, dia tidak di sana. Aku sudah membuangnya ke tempat terpencil."
"Apa? Kenapa kau membuangnya? Dia itu bukan sampah, dia itu sepupuku yang sangat berharga." Jane terlihat marah di antara tatapan matanya yang ingin menatap Rafael lebih lama namun tak sanggup karena tatapan Rafael jauh lebih menakutkan dari yang ia bayangkan.
"Jika dia berharga, kenapa kau malah mengorbankan dirinya dan kabur di hari pernikahan kita?"
"Aku, aku sangat takut waktu itu. Aku tidak punya pilihan lain selain kabur, aku tidak tahu jika orang tuaku malah menggantikan ku dengan Shena. Tapi kenapa kau membuangnya? Apa salahnya?"
"Salahnya? Dia bukanlah wanita yang aku inginkan waktu itu dan dia sudah menghinaku!"
"Shena, tidak mungkin dia menghinamu. Dia itu orang yang sangat penurut dan baik. Dia bahkan tidak pernah keluar dari rumah ku karena ingin menjagaku."
"Tidak pernah keluar rumah? Sekalipun? Apa kau yakin?"
"Ya, aku sangat yakin. Selama ini dia selalu bersamaku. Hanya sekali saja dia keluar pada malam hari dan kembali pagi hari setelah diajak kedua orang tuaku membantu membersihkan rumah teman mereka sehabis pesta."
Rafael tertegun mendengar ucapan Jane.
"Apakah selama ini dia punya kekasih?"
"Tidak, keluar rumah saja hanya sekali, mana mungkin punya kekasih."
"Ya sudah, aku tidak peduli, sekarang pergilah! Pulanglah ke rumahmu atau tetap berada di sini. Kau sudah tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi, aku juga sudah tidak tertarik padamu."
"Te, terima kasih. Tapi, bisakah kau,,,,"
"Tidak, jangan berharap aku mau membawa wanita itu kembali lagi ke rumahku. Bagiku, dia itu hanya sampah yang harus dibuang ke tempat yang jauh! Dan jika kau mencoba membebaskannya, maka aku tidak akan segan-segan membuat orang tuamu bangkrut!"
Jane hanya bisa menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca. Ia pun masuk ke dalam mobilnya, dan pergi.
Rafael segera kembali ke hotel. Ia langsung meminta asistennya untuk mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia. Aneh memang, baru saja datang, sudah mau pulang.
Selesai berkemas, Rafael langsung menuju bandara dan terbang kembali ke tanah air. Sebelumnya, ia berpesan pada orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Shena kepada orang tua Jane, khususnya di malam mereka membawa Shena ke pesta teman mereka.
Sepanjang perjalanan, hatinya menjadi tidak tenang.
Hingga belasan jam kemudian, saat ia sampai ke rumahnya, ia sudah ditunggu oleh orang kepercayaannya yang telah ia amanahi untuk mencari tahu tentang Shena. Namanya adalah Thomas.
"Bagaimana?" tanyanya tidak sabar.
"Begini, Tuan, mereka berkata bahwa mereka memang menjual Shena pada seorang g***o malam itu. Tapi mereka tidak tahu siapa pria yang sudah meniduri nona Shena."
"Sekarang bawa aku ke mereka!" titah Rafael.
Mereka pun segera pergi ke rumah paman dan bibi Shena. Di sana, mereka sangat terkejut akan kedatangan Rafael. Sangking takutnya, mereka pun menyembunyikan Wulan, wanita yang dikirim Shena untuk bekerja di rumah itu.
"Ampun, Tuan, kami memang bersalah!" Baik Meira maupun Brama berlutut di hadapan Rafael.
"Kenapa kalian menjualnya, ha?!" Kemarahan Rafael tak bisa dibendung lagi. Ia benar-benar murka setelah tahu kenyataan yang sebelumnya memang pernah Shena ceritakan namun ia tidak percaya.
"Saat itu kami butuh uang, Tuan."
"Sekarang katakan padaku, siapa laki-laki yang telah menidurinya!"
"Kami tidak tahu, Tuan, malam itu, kami menyerahkan dirinya pada seorang mucikari."
"Siapa dan dimana?"
"Namanya Anton, di sebuah hotel di jalan kenangan. Dia di sana juga bekerja sebagai pegawai hotel."
"Ayo pergi!" Rafael mengerahkan semua pengawalnya untuk mengikutinya pergi ke hotel yang telah disebutkan.
Sesampainya di sana, Rafael lantas mencari orang yang bernama Anton. Setelah menemukannya, para pengawalnya menarik paksa Anton pergi dari sana.
Anton dibawa ke kediaman Rafael dan diinterogasi secara langsung oleh Rafael sendiri. Ia didudukkan di sebuah ruangan kosong dalam keadaan terikat di sebuah kursi, sedangkan Rafael duduk di depannya sambil terus menatapnya tajam.
"Katakan, siapa laki-laki yang telah meniduri Shena, keponakan dari Brama dan Meira!"
Anton terlihat seperti orang bingung. Ia menatap Rafael dengan tatapan penuh keheranan.
"Katakan padaku, apa arti dari tatapan bodohmu itu!"
"Tu, Tuan, apa anda tidak ingat dengan saya?" tanya Anton dengan keringat yang bercucuran di wajah dan tubuhnya.
"Apa maksud dari perkataan mu itu!"
"Tuan, beberapa tahun yang lalu, Tuanlah yang memesan wanita yang masih suci kepada saya. Gadis belia yang baru lulus sekolah itu adalah keponakan dari Brama dan Meira, yaitu Shena."
Mendengar ucapan Anton, Rafael lantas menarik kerah baju pria itu dan menatapnya lebih tajam. "Jangan mempermainkan ku. Aku bahkan tidak mengenalmu!"
"Mungkin asisten Tuan bisa menjelaskannya." Anton melirik seorang pria yang sedang berdiri di samping Rafael. Dialah Mark, yang selama ini tidak terlihat karena baru selesai menyelesaikan tugas dari Rafael.
"Mark, apa yang terjadi padaku sebelumnya." Rafael menoleh ke arah Mark.
"Tuan, sebenarnya saya tahu anda memesan seorang gadis, namun saya tidak tahu jika gadis itu adalah Shena. Setelah kejadian malam itu, anda sempat mengalami kecelakaan dan mengalami Transient Global Amnesia yaitu mengalami hilang ingatan pada kejadian tertentu secara total, walaupun kejadian tersebut baru saja dialami."
Mendengar penjelasan dari Mark, barulah Rafael mengetahui bahwa ternyata dirinya lah yang telah menghancurkan hidup Shena. Tak hanya itu, ia juga sudah membuat Shena jauh di desa terpencil.
"Keluarkan dia dari rumah ini! Buang dia di jalanan, jangan antarkan dia ke hotel. Rampok semua uangnya agar dia berjalan kaki sampai ke hotel." Beralih menatap Anton. "Kau harus merasakan juga apa yang telah dirasakan Shena. Dan jika kau buka mulut soal ini, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi mu!"
Anton mengangguk dengan cepat. Ia bersyukur dirinya masih bisa selamat dari Rafael.
"Mark, apa kau juga sudah mengetahui tentang keadaan Shena di desa itu?" tanya Rafael.
"Sudah, Tuan, orang-orang suruhan saya sudah memberi informasi pada saya."
"Lalu, bagaimana dengan keadaannya di desa?"
Mark tampak diam.
"No-nona muda menghilang lima tahun yang lalu, Tuan. Menurut berita di desa itu, beliau diculik."
"Apa? Diculik? Dan kau tidak tahu menahu tentang ini!!" bentak Rafael.
"Maaf, Tuan, sebenarnya andalah yang melarang saya untuk mengetahui keadaan nona Shena." Mark menjelaskan.
"Dan sebenarnya, di desa itu juga ada,,,,,"
"Diam, aku tidak butuh penjelasan mu! Siapkan kendaraan yang harus aku tempuh untuk perjalanan besok ke desa itu!
"Baik, Tuan!"
Setelah puas marah, Rafael pun pergi ke kamarnya. Ia merenungi semuanya. Bayang-bayang akan pengusiran Shena kembali terlintas di benaknya. Ia ingin sekali tidak peduli, tapi karena tahu bahwa Shena diculik dan tidak diketahui keberadaannya, membuatnya sadar bahwa sebenarnya ia masih sangat peduli pada Shena. Dan itulah yang membuatnya tidak bisa membuka hati pada wanita lain. Karena Shena sudah benar-benar membuat hatinya terkunci rapat.