Pertemuan Ayah dan Anak

1528 Kata
Keesokan harinya, rombongan Rafael pun pergi ke desa tersebut. Ada hal yang sedikit membuat Rafael heran. Kenapa kepala pengawal mendesain mobil mereka untuk ditiduri anak-anak? Perjalanan yang memakan waktu setengah hari itu akhirnya membawa mereka pada sebuah desa yang jauh dari kata modern. Meskipun sudah ada listrik dan jalan yang sedikit melebar, tetapi tetap saja, itu adalah desa terpencil. Rafael pun turun di desa itu. Semua orang yang melihatnya begitu takjub dengan mobil mewah dan juga penampilannya yang sangat rapi dan berwibawa. "Selamat datang, Tuan, ada yang bisa saya bantu," ucap Harun selaku ketua di desa tersebut. Harun datang setelah dikabari salah satu warga yang melihat keadaan Rafael. "Apa kau ketua di desa ini?" tanya Rafael. "Ya, Tuan, saya orangnya. Ketua desa yang lama sudah meninggal lima tahun yang lalu." "Kalau begitu, apa kau tahu tentang seorang wanita bernama Shena?" Harun tertegun mendengar pertanyaan Rafael. "Tuan, silakan ikut saya ke rumah saya. Alangkah lebih baik jika kita berbicara tidak di depan umum seperti ini." Rafael mengangguk. Ia pun mengikuti langkah Harun menuju rumahnya dengan dikawal beberapa pengawal, sedangkan sisanya menunggu di mobil. Selama berjalan, Rafael mendapatkan tatapan heran dari semua orang. Ia tahu bahwa ketampanannya mungkin memang sering membuat orang-orang seperti itu. Mereka telah sampai di rumah Harun. Rafael melihat sekeliling rumah yang terlihat asri dan nyaman. Beberapa orang anak sedang bermain di halaman luas rumah itu. Namun matanya mengarah pada seorang anak yang sedang asyik belajar di antara teman-temannya yang sedang bermain. Ia hanya melihat punggung anak itu. Terlihat potongan rambut yang rapi dan warna kulit yang sedikit gelap karena terbakar matahari. Rafael pun berjalan mendekati anak itu. Entah kenapa ia ingin sekali melihat wajah anak itu. Namun, saat ia sudah lebih dekat, tiba-tiba saja Harun memanggilnya agar segera masuk ke dalam. Rafael pun masuk ke dalam rumah. Ia duduk di salah satu kursi yang terbuat dari kayu jati. Meski pemilik rumah melepas sandal dan sepatunya saat masuk, namun Rafael tetap memakai sepatunya yang harganya pun bisa membeli rumah di desa itu. Tak berselang lama, datanglah Dewi sambil menggendong anaknya. Ia pun duduk di depan Rafael bersama dengan Harun. "Dewi, kenalkan, beliau adalah Tuan yang tadi menanyakan keberadaan Shena." Dewi terkejut mendengar ucapan suaminya. Untuk apa pria di depannya menanyakan perihal Shena? Apa ia benar jika saat ini ia berpikir bahwa pria tampan yang sedang duduk di depannya adalah suami Shena. Dari segi wajah, dia sangat mirip dengan Ansel. Warna mata, bentuk hidung, bibir, dan tatapan mata indah yang sering ia dapatkan dari Ansel. "Perkenalkan, nama saya Rafael." "Salam kenal, Tuan, saya Dewi, dan ini suami saya Harun. Maaf, sebelumnya saya ingin bertanya, kenapa anda menanyakan keberadaan Shena?" "Ceritakan bagaimana kejadian di malam penculikan Shena, tepatnya lima tahun yang lalu." Rafael menatap datar pada Dewi dan Harun. Dewi menatap Harun penuh tanya, namun dibalas anggukan dari Harun yang artinya Dewi harus menceritakan semuanya. "Malam itu hujan deras, dan desa dalam keadaan belum mempunyai listrik. Kemungkinan dia diculik saat semua warga sudah terlelap." "Apa ada petunjuk?" "Tidak ada Tuan, karena kami mengetahuinya di pagi hari saat warga menemukan anaknya di tengah sawah dalam keadaan menggigil kedinginan karena kehujanan semalaman dan berada di luar." "Apa? Kau bilang apa tadi? Anak?" tanya Rafael dengan tatapan heran. "Ya, Tuan, Shena mempunyai anak yang dilahirkan lima tahun yang lalu." "Apa dia menikah di sini?" "Tidak, Tuan, dia hamil setelah sebulan tinggal di sini. Kemungkinan dia menikah sebelum datang ke sini," jelas Dewi. Rafael hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Lalu, dimana anak itu? Maksud ku, apa dia masih hidup?" tanya Rafael tidak sabaran. "Maaf, Tuan, anda belum menjelaskan siapa anda sebenarnya." Harun menyela. "Aku adalah suami Shena. Dan anak yang dilahirkannya adalah anakku!" Dewi terkejut dengan ucapan Rafael. "Apa nama belakang anda adalah,,," "Ya, namaku Rafael Smith, aku suami Shena. Dan sekarang kami masih berstatus suami istri. Dimana anakku?" tanya Rafael sambil menatap Dewi dengan tatapan penasaran. "Jadi, anda yang telah membuang Shena ke tempat ini?" Kini Dewi mulai emosi. Ia bahkan menyerahkan anaknya pada Harun agar ia dapat memarahi Rafael sepuasnya. "Apa anda tahu yang anda lakukan telah membuatnya menderita? Dia dijadikan b***k di sini dengan makanan seadanya. Dia bekerja sampai malam dalam keadaan hamil. Dia hampir beberapa kali dicelakai orang-orang jahat di sini. Dia bahkan tidur dengan alas tikar dan kayu saja, apa anda pernah memikirkannya?" Rafael benar-benar merasa bersalah mendengar semua yang Dewi katakan. Betapa Shena sangat menderita di sini bahkan saat mengandung anaknya. "Aku tahu bahwa aku salah. Dan aku juga pasti akan mencari keberadaan Shena. Tapi tolong katakan, dimana anakku?" Rafael menatap penuh harap. Tak berselang lama, Ansel pun datang dan menghampiri Dewi. "Bibi, kenapa Bibi malah-malah?" tanyanya sambil menatap Dewi dengan serius. Rupanya, saat Dewi meluapkan emosinya tadi, Ansel dapat mendengarnya dengan jelas karena ia berpindah duduk di beranda rumah. Rafael memerhatikan Ansel dengan seksama. Dialah yang tadi akan Rafael datangi. "Wajahnya, wajahnya sangat mirip denganku. Apa dia anakku?" Rafael tak berhenti menatap Ansel. "Ya, Tuan, dia adalah Ansel Smith, anak Shena dan juga anda," jelas Dewi dengan tatapan datar. Rafael berdiri dari duduknya. Ia lantas mendatangi Ansel dan berlutut di depan anak manis itu hingga kini posisi mereka sudah sejajar. Perlahan Rafael mengusap pipi Ansel dengan lembut. Ia beralih memegang kedua pundak Ansel sambil tersenyum diantara sorot matanya yang kini tengah berkaca-kaca. "Anakku!" Rafael langsung menarik Ansel ke dalam pelukannya. Betapa kerinduan pada Shena yang selama ini seperti sudah membelenggu hatinya akhirnya dapat ia tumpahkan pada Ansel. Ansel yang merasa heran masih diam membisu diantara isak tangis Rafael di tengah pelukan hangatnya. "Paman siapa?" tanya Ansel yang masih mencerna apa yang terjadi. "Aku adalah ayahmu, Nak. Aku adalah ayah kandung mu." Rafael melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ansel dengan penuh cinta. "Ayah? Apakah kau mendengal semua doaku selama ini?" tanya Ansel sambil memegangi pipi Rafael. "Ya, Ayah mendengarnya, Nak." "Paman bohong, kita jauh, mana mungkin Paman mendengalnya." Ansel melepaskan pegangannya pada pipi Rafael dan beralih ke Dewi. "Ansel, memang benar bahwa dia adalah ayahmu. Ayah yang selama ini kau rindukan," ucap Dewi sambil mengusap kepala Ansel dengan lembut. "Jadi benal, Bi? Kalau Bibi yang belbicala, aku pelcaya," ucap Ansel yang kemudian beralih ke Rafael. "Ayah, dimana Ibu?" tanyanya. "Ayah juga tidak tahu, tapi Ayah berjanji untuk menemukan ibumu. Sekarang, ikutlah Ayah pulang, kita akan memulai kehidupan yang baru sambil terus mencari keberadaan Ibu. Ayah akan mengerahkan segala kemampuan Ayah untuk menemukan ibumu." Tersenyum sambil menyeka sudut matanya. "Tapi, bagaimana dengan Paman dan Bibi?" tanya Ansel sambil menatap dua orang yang selama ini memberinya cinta layaknya orang tua kandung. "Pergilah, Nak, kami pasti akan senang jika kau mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak bersama ayahmu. Kami berjanji akan baik-baik saja di sini." Dewi mengusap punggung Ansel dengan lembut. "Ya, Nak, pergilah. Paman dan Bibi akan menjaga Aruna dengan baik, kami berjanji." Harun menambahkan. "Baik, Paman, Bibi. Tolong jaga Aluna, ya. Jika sudah besal nanti aku akan membahagiakan Aluna." Ansel menatap Aruna, lalu menyeka sudut matanya. "Iya, Sayang, kami akan selalu menjaga Aruna dengan limpahan kasih sayang. Kami berjanji." Dewi mengacungkan jari kelingking yang langsung disambut oleh jari kelingking Ansel. Setelah pertemuan yang mengharukan itu, Rafael dan Ansel pun pergi. Kini ia mengerti alasan Mark mendesain mobil pengawal. Alasannya supaya Ansel merasa nyaman berada di dalam mobil sepanjang perjalanan. "Kenapa kau tidak mengatakan soal anakku? Apa kau tahu? Aku terlihat sangat bodoh saat baru mengetahui bahwa aku punya anak." Rafael menggerutu pada kepala Mark. Ia memang memilih untuk ikut bersama mobil pengawal agar bisa terus bersama Ansel. "Saya berusaha mengatakannya, tapi Tuan malah,,,," "Sudahlah, jangan mencoba melakukan pembelaan! Kau tetap salah. Selama ini kau tidak tahu bahwa Shena hamil. Jika aku tahu dia mengandung anakku, pastinya aku akan mengajaknya lagi untuk tinggal bersamaku!" "Maafkan saya, Tuan, harusnya waktu itu saya tidak menuruti perintah Tuan untuk tidak memperdulikan Nona Shena di desa." "Nah, begitu seharusnya. Kalau kau tahu bahwa yang ku perintahkan itu tidak sesuai dengan hatimu, harusnya kau langgar saja diam-diam." "Baik, Tuan." "Kirimkan tambahan alat transportasi, medis, sarana dan prasarana tempat-tempat seperti sekolah, masjid, dan sembako yang banyak. Aku berhutang banyak pada ketua desa karena mereka telah merawat anakku selama ini." Rafael mengusap kepala Ansel yang sedang terlelap dalam tidurnya. "Baik, Tuan." "Dan jangan lupa untuk menyelidiki misteri menghilangnya istriku. Cari petunjuk dengan mengandalkan detektif swasta sekalian." "Baik, Tuan. Saya juga akan mendaftarkan sekolah untuk Tuan Muda." "Ah iya, itu juga, terima kasih karena kau belum pikun." Sesampainya di rumah, Rafael menggendong Ansel menuju ke dalam rumahnya. Ia menempatkan Ansel di kamarnya. Namun, baru beberapa menit Ansel di sana, ia terlihat menggigil kedinginan. Rafael mengerti jika anak lelakinya itu belum terbiasa menggunakan AC. Ia pun menurunkan suhu di ruangan tersebut agar Ansel merasa lebih nyaman. Ia mendekati Ansel dan mengusap kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Maafkan ayahmu yang sangat bodoh ini, Nak. Ayah telah melakukan kesalahan yang besar pada ibumu sehingga kau berakhir di desa itu dengan keadaan uang memprihatinkan. Semoga saja setelah ini Ayah akan menemukan keberadaan ibumu." Mengecup kening Ansel sambil meneteskan air mata. Ia pun tertidur, berada dalam satu selimut bersama Ansel. Ia memeluk erat buah hatinya dengan penuh kerinduan. Ah, andai saja Shena ada di sana, pasti mereka akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN