Kehidupan Baru

2024 Kata
Seminggu kemudian, Ansel telah di daftarkan ke sebuah sekolah terkenal. Namun, ia tidak lagi duduk di taman kanak-kanak. Ia langsung memasuki sekolah dasar karena kemampuannya yang sudah sepantaran dengan anak SD. Membaca, menulis, berhitung, semua bisa ia lakukan. Yang masih kurang adalah mengucapkan huruf r. Ia masih mengatakan l untuk menyebut r. Rafael juga sudah mencatatkan pernikahannya dengan Shena ke negara agar Ansel mempunyai data kependudukan yaitu kartu keluarga dan akta kelahiran. Pagi ini, ayah dan anak sedang sarapan bersama. Ansel terlihat sangat lahap memakan menu yang sangat menggugah selera itu. "Pelan-pelan, Ansel, Ayah tidak akan meminta," ucap Rafael dengan lembut. Sejak kehadiran Ansel, sikapnya semakin lembut saja meskipun hanya pada Ansel seorang. Sedangkan kepada para bawahannya, ia tetaplah Rafael yang galak. "Tidak, Ayah, aku bukan takut diminta. Tetapi, aku tidak ingin telambat." Rafael mengecek arlojinya yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. "Ini belum siang, pelan-pelan saja makannya." Kembali mengingatkan. "Baik Ayah, aku akan,,,,aduh!!" Ansel mengasuh kesakitan sembari menjulurkan lidahnya yang terdapat luka kecil. "Hah? Terluka? Mark, siapkan mobil, cepat ke rumah sakit!" seru Rafael pada Mark yang padahal sedang berdiri di sampingnya. Mungkin saat ini telinganya hampir tulis setelah mendengar teriakan Rafael. "Tidak, Ayah, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, sebentar lagi akan sembuh." Ansel mencoba meyakinkan Rafael. "Ya, tapi tetap saja kau harus diobati karena kalau tidak,,," Rafael menyadari sesuatu. "Tunggu, coba katakan lagi." "Katakan apa, Ayah?" Ansel terlihat bingung. "Pernah, coba katakan!" Tidak sabaran. "Pernah! Eh, aku bisa mengucapkan 'r', Ayah." "Benar. Coba katakan lagi. Markas" "Markas." "Terpa." "Terpa." "Sinar." "Sinar." "Heran." "Heran." "Emmm, Tuan, saya pikir Tuan Muda ingin segera ke rumah sakit," ucap Mark mengingatkan. "Ah, benar, Ansel, kita ke rumah sakit dulu, ya." "Aku sudah tidak apa-apa, Ayah." Ansel masih meyakinkan. "Benarkah?" Rafael meneliti mulut Ansel. Ansel mengangguk dengan cepat. Gegas mereka pun segera berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sepanjang jalan, Rafael banyak mengingatkan Ansel bahwa ia tidak boleh nakal apalagi sampai membully teman-teman sekolahnya. Setelah menurunkan Ansel dan bertemu dengan kepala sekolah juga wali kelas Ansel, Rafael pun melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Sebelumnya ia juga sudah meminta kepada dua pengawal untuk berjaga di depan sekolah Ansel sampai anak itu pulang. Mereka tidak boleh berjaga di dalam sekolah karena itu akan membuat Ansel merasa tidak nyaman. Di dalam mobil, ia hanya bersama Mark sebagai asisten pribadi dan juga sopirnya. Sedangkan mobil pengawal berada di depan dan belakang mereka. "Oh ya, Mark, apa kau sudah melaksanakan perintah ku tentang mencari tahu kasus yang sempat dialami orang tua angkat Ansel?" tanya Rafael. "Sudah, Tuan, dan hasilnya, memang mereka dijebak. Saya sudah mengatakan pada mereka, tetapi mereka masih ingin tetap berada di desa itu. Mereka ingin memajukan desa tersebut, karena belum ada kandidat lain yang bisa menggantikan mereka." "Ya sudah, kalau begitu, bersihkan nama mereka dari pihak kepolisian agar mereka dapat leluasa datang dan pergi ke kota." "Baik, Tuan." "Lalu, bagaimana dengan istriku?" "Maaf, Tuan, mengenai hal itu, tim saya sedang mencari tahu. Kami sudah melakukan penelusuran bahkan sampai ke luar negeri, namun kami belum menemukan apapun." Rafael menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Padahal aku sudah merekrut orang-orang terbaik. Tetapi Shena seperti ditelan bumi." Mengusap wajahnya kasar. "Tuan bersabarlah, saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari keberadaan Nona Shena." Rafael hanya mengangguk lemah. "Emm, Tuan, maaf sebelumnya, apa Tuan tidak ingin mengatakan pada publik tentang Tuan Muda? Maksud saya, agar semua orang tahu bahwa Tuan sudah mempunyai anak. Mungkin dengan begitu kita bisa mendapatkan petunjuk tentang Nona Shena." "Sebenarnya aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, namun aku juga tidak boleh melupakan tentang penculikan yang dialami Shena. Jika si penculik tahu, maka, bisa jadi dia malah menculik Ansel juga." Rafael menatap ke luar jendela. Melihat mobil yang melaju dengan kecepatan yang berbeda. "Saya tahu, Tuan, mungkin itu sangat berisiko, namun itu juga jalan agar mereka muncul dan kita bisa mengetahui keberadaan Nona Shena." "Jadi, kita harus memancing mereka?" "Ya, Tuan, dan juga, jika Nona Celine mengetahui hal ini, maka sia-sia saja jika Tuan Muda disembunyikan dari publik, kita sendiri tahu bagaimana sikap Nona Celine." "Ah, bagaimana aku bisa melupakan itu." Rafael mengusap wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. "Mungkin karena belakangan ini Tuan sedang fokus pada pencarian Nona Shena sehingga itu terjadi." "Ya, sekarang aku harus memutuskan hubungan dulu dengannya. Aku tidak ingin menikahi orang yang sama sekali tidak aku cintai." "Apa Tuan yakin? Bagaimana kalau beliau membuat berita yang tidak-tidak tentang Tuan?" "Aku tidak takut. Aku akan menceritakan semuanya pada publik. Tidak ada yang perlu ditutupi meski aku harus menerima konsekuensi dibenci oleh semua orang. Aku pantas menerimanya, bahkan, itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan pada anak dan istriku. Mereka menderita selama bertahun-tahun karena ulahku." "Saya mengerti, Tuan." Mark mengangguk pelan. Ia masih fokus pada jalanan di depannya. Pembawaannya memang selalu serius dan datar. Umurnya masih dua puluh delapan tahun, namun belum menikah. Siapa juga yang mau menikahi orang sedingin dan sedatar dia? Mobil telah memasuki halaman kantor. Rafael berjalan dengan Mark yang ada di belakangnya. "Pukul sembilan tiga puluh Tuan akan mengadakan rapat dengan Tuan Garry. Pukul dua belas, Tuan akan makan siang bersama Tuan Billy. Pukul tiga sore, peletakan batu pertama di proyek terbaru Tuan." "Kenapa banyak sekali? Apa aku tidak boleh istirahat?" "Maaf, Tuan, Anda sudah membatalkan semua janji untuk waktu yang cukup lama." "Hah, kalau saja mereka bukan klien terbaikku, aku tidak akan meladeninya!" Rafael membuang nafas kasar. Mark hanya mengangguk saja meski Rafael tak melihat anggukannya karena berada di belakangnya. Mereka sudah sampai ke ruangan dan Rafael sudah dihadapkan dengan tumpukan berkas yang harus ia tandatangani. Rasanya ia ingin sekali meluapkan kekesalannya saat ini juga. Namun, setelah ia melihat video Ansel yang sudah masuk kelas, memperkenalkan diri, lalu belajar dengan teman-teman barunya. Senyumannya langsung merekah, moodnya langsung membaik setelah melihat anaknya yang sangat membanggakan itu. Tidak takut meski ini hari pertamanya di sekolah. Video itu dikirimkan oleh wali kelasnya ke kepala sekolah, lalu kepala sekolah mengirimnya pada Rafael. Setelah itu, Rafael langsung lanjut membaca berkas dan menandatanganinya dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya. Mark yang awalnya heran langsung mengerti bawah Rafael pasti sedang melihat Ansel. *** Rafael yang baru saja selesai dengan tanda tangannya, beralih menatap layar laptopnya. Masih ada waktu banyak sebelum melakukan semua jadwalnya hari ini. Tiba-tiba, Mark yang sedang berdiri tak jauh dari Rafael memfokuskan tangannya pada earphone di telinganya. Rafael tahu, pasti itu sesuatu yang buruk. "Kenapa?" tanyanya tidak sabar. "Nona Celine mengamuk di lobi, Tuan. Beliau memaksa masuk ingin bertemu dengan Anda." "Ah, mau apa dia?" Rafael terlihat begitu kesal setelah mendengar penjelasan dari Mark. Tanpa berbicara lagi, ia pun bergegas keluar, menaiki lift khusus pimpinan untuk menuju ke lantai dasar. Mark sudah ia beri kode agar tidak ikut dan tetap berjaga di dalam ruangannya. Sesampainya di bawah, pandangan Rafael tersorot pada Celine yang sedang ditahan security-nya. "Lepaskan! Aku ingin bertemu dengan Rafael!" Teriakan Celine yang hampir memekakkan telinga itu membuat Rafael langsung menghampirinya dan menarik tangannya menjauh dari kantornya. "Bagus akhirnya kau keluar!" Celine menatap Rafael dengan begitu tajamnya. Rafael tidak mengindahkan tatapan Celine. Ia terus menarik Celine menuju mobilnya. "Apa yang ingin kau katakan?" tanya Rafael sambil menatap Celine dengan datar. "Apa maksudnya ini?" Celine menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya. Foto itu memperlihatkan kebersamaan Rafael dengan Ansel. Jika diingat, momen di foto itu terjadi sekitar tiga hari yang lalu. Rafael masih ingat saat ia dan Ansel sedang berbelanja di butik terkenal. Membeli semua perlengkapan sekolah Ansel. "Darimana kau dapat foto itu?" "Itu tidak penting, sekarang katakan padaku, siapa anak ini? Wajahnya begitu mirip denganmu." Celine kembali menatap tajam Rafael yang terlihat cuek saja. "Ya, dia anakku. Kenapa?" tantang Rafael tak kalah sengitnya. "Apa maksudnya ini? Kau sudah mengkhianati ku?" tanya Celine dengan suara serak hampir menangis. Terlihat matanya sudah berkaca-kaca. "Tidak, aku tidak pernah mengkhianati mu. Tidakkah kau lihat usianya sekarang? Dia ada sebelum kita kenal." "Apa? Apa maksudnya ini? Kau memperkosa seorang wanita?" "Tidak, jaga ucapanmu. Enam tahun yang lalu, aku sudah menikah, namun kami berpisah dan aku tidak tahu kalau dia sedang mengandung anakku." "Lalu, dimana ibunya? Siapa wanita itu?" "Itu bukan urusanmu. Sekarang aku ingin berkumpul dengan keluarga kecilku, aku akan segera mengumumkan ke publik bahwa hubungan kita berakhir!" "Tidak! Kau tidak bisa melakukan hal itu padaku. Aku tidak mau berpisah. Aku ingin kau menjadi suamiku!" ucap Celine bersikeras. "Terserah padamu, yang terpenting jangan ganggu aku." "Aku akan mengatakan hal buruk di hadapan publik agar reputasi mu hancur!" ancam Celine. "Aku tidak peduli. Lebih baik aku kehilangan harta daripada kehilangan keluargaku." Rafael seperti tidak peduli akan harta dan kekuasaannya lagi. Ia benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk Shena dan Ansel. Memang benar, anak adalah ikatan yang sangat erat bagi orang tuanya. "Baiklah, tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membuat keluargamu hancur!" Celine menunjuk wajah Rafael dengan jari telunjuknya. "Tunggu!" Rafael menarik tangan Celine yang hendak keluar dari mobil. Celine yang sedang membelakangi Rafael tersenyum karena berpikir Rafael ingin mengubah pikirannya. Ia pun lantas berbalik dan menunjukkan wajah sombongnya. "Ada apa? Kau mau bilang bahwa kau menyesal? Setelah ancamanku tadi kau ingin kembali padaku? Tidak semudah itu Rafael." Celine menatap Rafael sambil bersedekap d**a. Ia menatap Rafael dengan senyuman miring dan tatapan sombong. "Bukan, bukan itu, sebenarnya khayalanmu itu terlalu tinggi." Wajah Celine langsung berubah yang tadinya tersenyum sombong, kini senyumannya seketika hilang berganti dengan raut wajah masam. "Aku ingin bertanya, darimana kau dapat foto itu?" "Aku menyuruh orang mengikuti mu selama kau menghindar dariku. Apa kau puas?" "Ya sudah, mulai sekarang, jangan suruh orang mengikuti ku lagi, cobalah untuk melupakan ku." "Tentu saja aku akan melakukannya!" Lagi-lagi Celine berteriak kencang. Rafael yang sedang malas membiarkannya saja. Ia tidak ingin terlibat dalam urusan apapun bersama Celine, orang yang kini menjadi mantan tunangannya. Setelah beberapa saat, Rafael pun kembali ke ruangannya. Di sana, Mark masih berdiri menunggunya dengan sabar. Kini Rafael mulai memerhatikan Mark yang memang selalu menunggunya dalam posisi berdiri. "Sejak kapan kau berdiri dengan waktu yang lama?" tanya Rafael. "Sejak menjadi asisten anda, Tuan." "Apa aku terlalu kejam membiarkan mu berdiri sepanjang waktu?" "Saya rasa tidak, Tuan. Saya hanya mengikuti perintah dari atasan saya saja." "Kalau begitu, mulai sekarang, kau duduk saja. Aku risih melihat orang berdiri dengan waktu yang lama." "Baik, Tuan." Mark langsung duduk di atas sofa di ruangan itu sambil terus menatap Rafael. "Ah, dan satu lagi, kau harus selalu menatap pintu, jangan menatap ku kecuali aku berbicara padamu." "Baik, Tuan." Mark mengangguk dan beralih menatap pintu. "Siapkan berita tentang putusnya hubungan ku dengan Celine." Mark langsung menatap Rafael dengan heran, namun ia segera mengangguk. "Baik, Tuan." "Jangan lupa persiapkan konferensi pers untukku dan Ansel. Mungkin besok lusa adalah waktu yang telah setelah beritanya beredar." "Baik, Tuan." "Apa kau punya saran untuk pakaian kami? Aku ingin sekali anakku memakai baju yang sama seperti ku agar kami semakin serasi. Mungkin saja saat Shena melihatnya, dia akan berusaha kabur dan memberitahu ku tentang keberadaannya." "Semoga saja Nona Shena melihatnya, Tuan." "Ya, semoga saja dia baik-baik." Rafael tersenyum sambil melihat kembali layar ponselnya. Ia sudah kembali menyimpan foto pernikahannya dengan Shena dulu yang sempat dihapus. Berkat Mark yang mengcopy terlebih dahulu sebelum dihapus, foto itu terselamatkan. Ah, Mark banyak sekali jasamu. "Tuan, sepertinya kita harus pergi rapat," ucap Mark mengingatkan. "Baik, apa semua sudah siap?" "Sudah, Tuan. Sekretaris sudah menunggu di luar." "Baik, ayo berangkat." Rafael berjalan menuju keluar ruangannya. Dan benar saja, ternyata Sekretarisnya yang bernama Khalik sudah menunggu dengan tas berisi semua berkas mereka. Mereka segera berangkat menuju keluar kantor. Mengendarai mobil, menuju tempat rapat. Rafael memeriksa ponselnya, barangkali ada pesan dari kepala sekolah Ansel. "Emm, Mark, apakah kita bisa melewati sekolah Ansel? Aku ingin melihatnya sebentar." "Bisa, Tuan, namun itu artinya kita harus berjalan memutar. Tapi, waktunya akan terlambat sedikit." "Ya sudah, tidak apa-apa. Katakan pada Garry kalau aku akan terlambat sedikit. Kalau dia tidak mau menunggu, tidak apa-apa, pulang saja." "Baik, Tuan, saya akan mengatakan anda terlambat sedikit dan meminta Tuan Garry menunggu sebentar," sahut Mark. 'Mana mungkin saya mengatakan seperti yang anda katakan, Tuan. Itu hal yang sangat kasar, menyuruh orang yang menunggu anda untuk pulang saja,' batin Mark. "Baik, kau memang dapat diandalkan." Mark hanya mengangguk saja. Ia pun menelepon Garry dan mengabarkan tentang keterlambatan mereka yang disengaja ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN