Singgah

1009 Kata
Setibanya di sekolah Ansel, Rafael langsung menuju kelas anak lelakinya itu. Kebetulan saat ini masih jam pelajaran, jadi Rafael hanya bisa melihat Ansel dari balik jendela kelas itu seperti seorang ibu yang menanti anaknya saat mengikuti tes masuk sekolah. Terlihat guru Ansel sedang menerangkan pelajaran saat itu. Dan saat sang guru bertanya, Ansel langsung tunjuk tangan. Ia pun maju menuju papan tulis putih dan menuliskan jawaban atas pertanyaan sang guru. Terdengar gemuruh tepuk tangan dari semua siswa saat sang guru mengatakan bahwa jawaban Ansel benar. Ia lantas bertepuk tangan sehingga diikuti siswa yang lain. Rafael yang masih mengintip tersenyum penuh kebanggaan. Ia sangat bangga memiliki anak dengan kecerdasan di atas rata-rata seperti Ansel. Setelah Ansel duduk, guru kembali melanjutkan. Sedangkan Ansel hanya diam dan mendengarkan dengan seksama. "Tu-Tuan, maaf, anda sedang apa di sini?" tanya sang kepala sekolah yang bernama Brian. "Oh, saya sedang melihat anak saya. Dia baru saja menjawab pertanyaan dari gurunya dan mendapatkan tepuk tangan dari teman-temannya. Bukankah itu bagus? Saya sangat bangga padanya." Rafael tersenyum sambil menepuk bahu Brian. "Oh, te-tentu sangat bagus, Tuan." Brian tak bisa menutupi kegugupannya sekarang. Ia memang masih gugup sejak kedatangan Rafael pagi tadi. Seorang Rafael yang terkenal kejam dan dingin itu tadi pagi beramah tamah dengannya dan tersenyum layaknya seorang manusia. Tentu ia merasa sangat aneh melihat orang seperti Rafael bisa bersikap seperti itu. Dan sekarang? Rafael malah menepuk bahunya seperti seorang teman. Untung saja jantungnya tidak copot. "Karena saya sedang senang, saya akan mendonasikan dana lagi untuk sekolah ini dan juga untuk semua staf dan pegawai." Rafael kembali menepuk bahu Brian hingga membuat pria separuh baya itu semakin gemetaran. "Te-terima kasih, Tuan." "Usahakan area permainan di sini tidak berbahaya dan melukai Ansel. Jika sedikit saja kulitnya tergores, maka saya akan marah, apa anda mengerti?" Rafael tersenyum, namun itu terlihat menakutkan. "Ba-baik, Tuan, saya akan merenovasi dan membangun fasilitas yang ada di sekolah ini dengan sebaik-baiknya." "Bagus, kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat bekerja." Rafael kembali menoleh ke jendela, melihat Ansel, lalu pergi meninggalkan lokasi itu. "Apa benar barusan dia berpamitan padaku? Itu memang Tuan Rafael, kan?" Brian menepuk pipinya berulang. "Ternyata bukan mimpi, ini nyata. Sepertinya mulai sekarang aku harus bisa menerima kenyataan bahwa ada anak sultan yang bersekolah di sini." Rafael sudah kembali ke dalam mobil dan mereka pun segera melanjutkan perjalanan ke tempat rapat. "Apa kalian tahu bagaimana rasanya melihat anak kalian diberikan tepuk tangan karena berhasil menjawab pertanyaan dari guru?" tanya Rafael tiba-tiba. "Kami tidak tahu, Tuan. Kami belum menikah," sahut Khalik. "Benarkah? Bukankah umur kita hampir sama? Aku saja sudah punya anak." Rafael berucap bangga. "Mungkin kami memang belum menemukan jodoh, Tuan." "Hahaha, makanya carilah pasangan dan punya anaklah, maka hari-hari kalian akan indah dengan kehadiran sosok anak yang sangat pintar dan menggemaskan." "Iya, Tuan." Khalik hanya bisa mengiyakan saran dari Rafael. "Dan kau, Mark? Kenapa belum menikah? Finansial mu bagus, kau juga tidak terlalu jelek. Kenapa tidak menikah?" Pertanyaan Rafael membuat Mark merasa risih. Dijawab malu, tidak dijawab salah. "Saya masih fokus pada pekerjaan saya, Tuan." "Pekerjaanmu hanya memastikan apa yang aku butuhkan terpenuhi. Aku rasa itu bukanlah hal yang dapat menyita waktumu." 'Tidak menyita? Jelas-jelas saya sering pulang lewat tengah malam karena anda, Tuan. Memangnya separah apa ingatan anda sampai melupakan waktu dimana anda benar-benar membuat saya seperti robot,' batin Mark. "Saya belum menemukan wanita yang tepat, Tuan." "Memangnya seperti apa kriteria wanita yang kau sukai?" 'Tuan, saya mohon, berhentilah menanyakan hal seperti itu,' batin Mark. "Tuan, apa sebaiknya kita memakai jalan pintas saja, sepertinya di depan terjadi kemacetan." Mark mengalihkan pembicaraan. "Benarkah?" Rafael mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke jalanan di depan mereka. Memang benar, sedang terjadi kemacetan karena terjadi kecelakaan. "Ya sudah, tapi cepat, ya, kau tahu kan kita sudah ditunggu. Jangan sampai karena kecerobohan kalian, kita membuat Tuan Garry kecewa." 'Sebenarnya apa masalah anda, Tuan?,' batin Mark. "Baik, Tuan." Setelahnya, Mark pun mengambil jalan pintas yang memang mempunyai tekstur jalan yang sempit dan sedikit rusak. Beberapa kali Rafael menghembuskan nafas kasar karena jalanan yang membuat tubuhnya tidak nyaman. Mereka akhirnya sampai di lokasi rapat yang terletak di sebuah hotel. Mark pun membimbing Rafael dan Khalik ke sebuah ruangan yang telah mereka sepakati sebelumnya. "Selamat datang, Tuan Rafael." Garry mengulurkan tangannya ke Rafael yang langsung disambut oleh Rafael. Mereka pun duduk di sebuah ruangan yang terdapat sofa. Ruangan itu sangat luas. Sudah tersedia sebuah layar yang akan menjadi wadah layar presentasi mereka nantinya. Sedangkan di luar, terdapat pemandangan yang sangat indah. "Maaf atas keterlambatan saya." "Tidak masalah, Tuan, jalanan memang sering macet dan memaksa kita mencari jalan pintas sehingga berakibat terlambat." "Anda seperti tahu bahwa kami baru saja melewati jalan pintas." "Wajah anda sudah menjelaskan apa yang terjadi." "Anda seperti detektif saja. Sudah mengetahui apa yang belum saya ceritakan." "Hahaha, saya tidak seperti itu. Jangan melebih-lebihkan. Ya sudah, kita mulai saja presentasinya." Rafael pun mengangguk sebagai tanda setuju. Selesai dengan presentasi dan diskusi, akhirnya tercapai sebuah kesepakatan untuk mereka menjalin kerja sama. "Selamat, Tuan, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar." Garry menjabat tangan Rafael sembari tersenyum. "Iya, Tuan, saya senang bisa menjalin kerja sama dengan anda." Rafael balas menjabat tangan Garry. Tiba-tiba, Garry melihat ke jari Rafael yang kini sudah polos tanpa cincin. "Maaf, Tuan, sepertinya anda kehilangan cincin yang sering anda pakai." Mendengar ucapan Garry, Rafael sedikit terkejut karena Garry memerhatikannya sampai sedetail itu. "Anda akan tahu besok lusa." Rafael tersenyum. "Baiklah, semoga saja keputusan yang anda buat adalah hal yang tepat." "Terima kasih." Rafael mengangguk. Garry benar-benar seperti seorang yang jenius. Bahkan, terlintas dalam benaknya untuk mencari keberadaan Shena dengan bantuan Garry. Tapi tidak, itu tidak mungkin ia lakukan. Shena adalah tanggung jawabnya. Ia akan mencari Shena tanpa melibatkan orang asing, apalagi klien yang baru ia kenal. Semakin sedikit yang tahu, maka akan semakin bagus, begitu pikir Rafael. Setelah itu, ia pun pergi dari hotel tersebut untuk menuju lokasi selanjutnya, yaitu makan siang dengan satu lagi kliennya. Ah, ingin rasanya ia cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan Ansel. Pasti sekarang buah hatinya itu sudah dalam perjalanan pulang bersama sopir pribadi dan pengawal yang telah ia utus untuk menjaga Ansel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN