Rafael telah sampai di sebuah restoran mewah tempat dirinya dan Billy, sang klien bertemu. Ia disambut begitu hangat oleh Billy yang umurnya sudah menginjak kepala lima.
"Selamat datang, Tuan, senang bertemu dengan Anda." Billy menjabat tangan Rafael.
"Terima kasih Tuan Billy, senang bertemu dengan Anda. Maaf kami terlambat."
Billy melihat arlojinya. "Saya rasa tidak, Tuan, kita sampai beberapa menit lebih awal dari perjanjian."
'Dia sangat kaku dan garing,' batin Rafael. Sepertinya ia tidak menyadari bahwa dirinya juga seperti itu.
Mereka pun duduk dan mulai menikmati makan siang yang sebelumnya sudah dipesan oleh Billy. Menu Rafael sudah dituliskan Mark dan dikirimkan ke Billy saat mereka dalam perjalanan ke restoran itu.
Mark dan Khalik menunggu di meja lain karena Billy hanya ingin bersama dengan Rafael saja.
"Tuan, saya senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda selama bertahun-tahun. Saya hanya berharap ke depannya kerja sama kita semakin memajukan perusahaan kita."
"Pasti, itu pasti." Rafael tersenyum menanggapi.
"Tetapi, undangan makan siang ini bukan ingin membicarakan hal itu. Ada hal lain yang ingin saya katakan." Billy menatap serius pada Rafael.
"Katakan saja."
"Mohon maaf, apakah hubungan Anda dan Celine akan menuju ke jenjang yang lebih serius?"
Pertanyaan Billy langsung membuat Rafael menghentikan kegiatan mengunyahnya.
"Maaf, Tuan, apa maksud anda?" tanya Rafael dengan tatapan heran.
"Begini, saya mengerti jika hubungan Anda dan Celine pasti demi memanjat popularitas dan tidak ada cinta sama sekali dalam hubungan kalian. Maksud saya, kenapa dilanjutkan, kenapa tidak mencari wanita lain yang lebih baik yang bisa anda cintai?"
Rafael mengernyitkan dahinya. Orang tua di depannya ini seperti ingin dirinya dan Celine berpisah. Meski ia memang sudah berpisah, tetapi pemikiran Billy memang sangat aneh.
"Kenapa anda menginginkan hal itu? Apa untungnya buat anda?"
"Namanya Laras, umur dua puluh enam tahun, lulusan Harvard university dengan gelar cumlaude. Cantik, baik hati, dan sangat sopan. Dia belum pernah menjalin cinta sejak mengenal sosok laki-laki yang telah sukses mencuri hatinya. Dan orangnya adalah Tuan Rafael sendiri."
Rafael semakin keheranan dengan ucapan Billy yang sudah melenceng dari jalur itu. Ia menatap pria tua itu dengan seksama.
"Maaf, Tuan, saya tidak tertarik," jawab Rafael dengan entengnya.
"Dia adalah anak perempuan saya satu-satunya, empat saudaranya adalah laki-laki."
"Oh, jadi anak anda. Memangnya ada apa dengannya sehingga tidak bisa menyukai pria yang berstatus single? Kenapa dengan pria yang sudah bertunangan?"
"Dia sudah menolak banyak lamaran dari para pengusaha kenalan saya karena dia hanya ingin menikah dengan anda."
"Sepertinya aku sangat tampan, ya." Rafael tersenyum tipis.
"Ya, anda memang tampan."
"Tapi maaf, saya tidak bisa."
"Kenapa, Tuan? Celine bukan wanita yang sesuai kriteria anda. Dia hanyalah artis dengan pendidikan rendah, tidak seperti anak saya yang berpendidikan tinggi."
"Jika saya tidak menyukai Celine, bukan berarti saya harus menyukai anak anda."
"Tapi anak saya lebih dari Celine."
"Maaf, Tuan, tidak ada cinta bisa dipaksakan. Dan dalam dua hari, anda juga akan mendengar sebuah berita yang mungkin akan mengubah jalan pikiran anak anda."
"Tuan, apa maksud anda?" Billy mengernyitkan dahinya.
"Lihat saja nanti, tapi yang pasti, saya tidak bisa menerima anak anda. Sepertinya halnya anak anda menginginkan orang yang dicintainya, saya juga menginginkan orang yang saya cintai."
Billy semakin heran dengan ucapan Rafael. "Apa anda yakin, Tuan. Karena jika anda menolak, ke depannya saya tidak akan menerima anda."
"Saya mengerti tentang perasaan anda saat ini, anak kebanggaan anda ditolak mentah-mentah, tapi anda juga harus menghargai keputusan saya."
"Baik, Tuan, saya hanya kembali mengingatkan ada untuk tidak menyesal nantinya. Karena wanita seperti anak saya pasti banyak pria yang mengantri dan para pria itu lebih dari anda."
"Ya, Tuan, saya mengerti perasaan ayah yang marah karena putrinya ditolak. Jika saya Rafael yang dulu, pastilah orang seperti anda tidak akan saya ampuni karena berani berbicara seperti ini langsung di hadapan saya." Kini Rafael menatap Billy dengan tatapan tajamnya.
Billy hanya bisa diam dan kembali melanjutkan makannya begitu juga dengan Rafael. Sepanjang makan, tidak ada yang terucap dari bibir mereka.
Selesai makan, Rafael sedikit membicarakan tentang perusahaan mereka. Meski tadi mereka sempat berdebat, namun dalam urusan pekerjaan, mereka harus melupakan masalah pribadi.
Makan siang hari itu, diakhiri dengan jabat tangan hangat seperti awal bertemu. Tidak ada dendam apalagi wajah masam seperti emak-emak yang habis ditagih uang angsuran skincare.
Sepeninggal Rafael, Billy menghembuskan nafas kasar. "Ah, sial! Aku gagal! Harusnya dia mau menikah dengan Laras. Aku sudah susah payah memaksa Laras berpura-pura mencintainya, tapi Rafael malah jual mahal. Kalau begini jadinya, mana bisa aku mendekati Celine!"
Oh, ternyata yang tadi hanyalah akal-akalan Billy semata. Pria bau tanah itu ternyata sedang mengincar Celine untuk menjadi simpanannya. Sedangkan putrinya itu hanyalah tumbal dibalik keserakahan dan naluri hidung belangnya. Ya, mungkin jika ia tahu bahwa Celine sudah putus dengan Rafael, ia akan sangat menyesali karena sudah berani menawarkan putrinya pada Rafael. Padahal, ia tidak perlu repot-repot berdebat dengan Rafael karena Celine sudah sendiri.
Rafael menelepon pengawalnya untuk memastikan keberadaan Ansel.
"Sedang apa putraku?" tanya Rafael dalam sambungan telepon seluler miliknya.
"Tuan Muda baru saja selesai mengerjakan PR, Tuan. Sekarang beliau hendak memberi makan ikan hias."
"Apa dia sudah makan?"
"Sudah, Tuan. Beliau sampai menambah porsi makan karena sangat lapar."
"Lapar? Kenapa bisa sampai kelaparan? Apa dia tidak makan di kantin sekolah itu. Mereka kan menyediakan makanan sehat dan bergizi untuk semua siswa."
"Begini, Tuan, tadi ada siswa yang makanannya tumpah, jadi, Tuan Ansel memberikan makanannya pada anak tersebut."
"Lalu kenapa kalian membiarkan anakku tidak makan?"
"Maaf, Tuan, kami hanya berdiri di luar, tidak boleh ke dalam, jadi kami tidak tahu jika Tuan Ansel tidak makan."
"Dasar kalian payah!" Rafael mematikan panggilan tersebut. Ia lantas mencari nomor sang kepala sekolah dan meneleponnya.
"Ha-halo." Terdengar nada suara bergetar dari seberang sana.
"Bagaimana bisa anakku tidak makan karena memberikan makanannya pada anak lain. Tidak bisakah kau memberikan makanan pengganti untuknya atau temannya? Apa kau sudah bosan pada jabatanmu sekarang?"
"Ti-tidak, Tuan, saya mohon jangan lakukan itu. Saya akan langsung menegur mereka. Saya akan memastikan itu tidak terjadi lagi, saya mohon maaf."
"Bagus, jangan ulangi lagi atau kau akan melihat dirimu di depan cermin berpakaian compang camping, berwajah lusuh dan jelek, membawa karung berisi sampah, dan berprofesi sebagai seorang gelandangan." Rafael segera mematikan panggilan tersebut.