Mimpi Ansel

1013 Kata
"Dasar orang payah, bagaimana bisa dia membiarkan anakku kelaparan. Sekolah macam apa yang tidak mengamati semua siswanya? Harusnya mereka melihat semua siswa makan, bukan hanya duduk santai di kantor. Harusnya semua guru memerhatikan satu persatu siswa mereka saat sedang makan." Hening. "Hei, jawab aku jika berbicara!" "Ya, Tuan benar, harusnya mereka berdiri di depan meja makan siswa dan memastikan mereka makan dengan benar, Tuan." Khalik menanggapi. "Ya, Tuan," timpal Mark. Disaat seperti ini, tidak ada yang bisa memberi pendapat, mereka harus mendukung apa yang sedang dibicarakan Rafael. Ini baru tentang anak, belum istri. Entah bagaimana nantinya jika Shena ditemukan. Mereka tidak akan bisa tidur dengan nyenyak ketika satu nyamuk menggigit Shena atau hanya sekadar berdengung di telinganya. ***** Menjelang malam, Rafael pun sampai di rumahnya. Hari ini memang terasa sangat melelahkan. Apalagi, tadi ia sempat marah pada seorang pekerja yang tanpa sengaja membuat setitik adonan semen menempel di sepatu mahalnya. "Ah, rasanya sangat melelahkan." Rafael mendudukkan dirinya di atas sofa rumah itu. Terlihat pelayan datang membawakan teh untuk Rafael. Rafael langsung meminum teh tersebut. Ia memijit pelipisnya sambil memicingkan matanya. Tiba-tiba, Rafael merasakan sesuatu menubruk dirinya. Ia lantas membuka mata dan melihat Ansel sedang duduk di pangkuannya sambil terus memeluknya. Rafael langsung tersenyum dan membalas pelukan Ansel. Ia mengusap kepala Ansel dengan lembut. "Beberapa menit yang lalu, pelayan mengatakan bahwa kau baru saja mengerjakan soal yang kau minta dari mereka karena kau kekurangan soal. Ayah pikir kau tidak ingin diganggu, sehingga Ayah hanya duduk di sini." "Aku hanya mengusir rasa bosan dengan belajar, Ayah. Tapi ketika mendengar Ayah datang, aku langsung menyelesaikan semuanya dan ke sini. Aku merindukan Ayah." Ansel semakin mempererat pelukannya pada ayah kandungnya itu. "Hei, ada apa, Nak? Apa yang membuatmu seperti ini?" "Tadi siang aku ketiduran dan bermimpi. Aku bermimpi ayah meninggalkanku sama seperti ibu. Aku tidak mau itu terjadi." "Oh ya? Bagaimana isi mimpimu? Dan bagaimana penampilan Ayah di sana? Apakah masih tampan?" Rafael mencoba menggoda Ansel untuk menghibur anak itu. "Ayah." Ansel mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat Rafael yang tertawa kecil. "Dalam mimpiku, Ayah memakai pakaian serba hitam dan melambaikan tangan padaku. Ayah tidak berbicara sepatah katapun, dan akhirnya Ayah pergi semakin menjauh dari rumah ini dan ketika aku memanggil, pelayan membangunkan ku karena aku berteriak dalam tidurku." "Ansel, itu hanya mimpi, Nak. Ayah tidak akan kemana-mana. Ayah akan tetap bersamamu. Sudah cukup selama ini ayah terpisah darimu dan ibumu. Ayah tidak ingin hal itu terjadi lagi." Rafael mengusap wajah Ansel dengan penuh kasih sayang. Wajah yang merupakan jiplakan wajahnya itu membalas tersenyum. Menampilkan dua lesung pipi seperti ibunya. "Ayah janji?" Ansel mengangkat satu jari kelingking kanannya. Rafael pun menyambut kelingking Ansel dengan kelingkingnya. "Ayah berjanji." Mencium kening Ansel. Ansel terlihat lebih tenang daripada saat pertama ia muncul ke hadapan Rafael. "Sekarang katakan, siapa anak yang kau berikan makan siang milikmu." Rafael menatap serius. "Namanya Helena, Ayah, dia tidak punya teman karena ibunya dijuluki Nyonya Bar. Maksudnya apa, Ayah, Nyonya Bar itu siapa?" "Ayah mengerti kau anak yang pintar, jadi, sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang sebutan itu. Dan kau belum menyelesaikan ceritamu," tagih Rafael. "Dan karena dia tidak punya teman, maka semua anak selalu mengerjainya. Tadi, kakinya dihadang oleh salah satu teman sekelasnya dan makanannya jatuh. Lalu aku berikan semua makananku padanya." Ansel menyelesaikan ceritanya. "Anak baik, yang kau lakukan sudah benar. Hanya saja, jika kejadian itu terulang, kau harusnya melaporkannya agar gadis malang itu tertolong dan perutmu juga terisi." Rafael mencubit pipi Ansel dengan gemas. "Maaf, Ayah, aku tidak akan mengulanginya lagi." "Anak Ayah memang sangat hebat. Ayah bangga padamu. Sekarang, apa kau sudah makan?" "Sudah, Ayah. Sebenarnya aku ingin menunggu Ayah agar makan malam bersama. Tetapi, bibi pelayan terus saja memintaku makan, makanya aku makan. Maafkan aku, Ayah." "Apa kau memaksanya?" tanya Rafael pada sang kepala pelayan. "Saya mendengar perut Tuan Muda terus berbunyi, Tuan, makanya saya meminta Tuan Muda untuk makan," jelas sang kepala pelayan. "Kau dengar itu? Lain kali, jika kau sudah lapar, jangan menunggu Ayah. Makanlah dulu, dan setelah Ayah pulang, kau bisa menemani Ayah makan sepuasmu. Kalau kau masih lapar, makanlah lagi bersama Ayah." Rafael beranjak dari duduknya dan menggendong Ansel ke ruang makan. "Benar, Ayah, tadi aku makan sedikit untuk mengganjal lapar, jadi sekarang aku akan makan lagi." Ansel terlihat bersemangat. Rafael hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Anaknya ini memang sangat pintar dalam hal apapun. Ternyata kecerdasan kakeknya menurun padanya dan ibunya. Mereka pun memulai makan malam bersama. Biasanya Rafael tidak akan makan malam sebelum mandi. Namun, demi menyenangkan hati anaknya, ia pun makan malam terlebih dahulu dengan tubuh yang lengket dan lelah akibat berpanas-panasan di proyek terbarunya. Ansel terlihat makan dengan sangat lahap. Ia benar-benar hanya mengganjal perutnya saja saat kepala pelayan memaksanya makan. Selesai makan malam, Rafael menemani Ansel menuju kamarnya. Ansel memang akan menempati kamarnya sendiri untuk melatih kemandirian. "PR sudah siap?" "Sudah." Ansel mengangguk cepat. "Jadwal pelajaran untuk besok?" "Sudah." "Tidak ada yang tertinggal?" "Tidak." "Baiklah, jagoan, saatnya membaca dongeng." Rafael mengangkat Ansel menuju ke atas ranjang untuk membacakan cerita dongeng untuknya. Tangannya terulur mengambil sebuah buku dongeng yang tertata rapi di rak kecil dekat ranjang Ansel. "Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pangeran yang bernama,,,,,," Rafael menghentikan kalimatnya saat mendengar dengkuran halus dari Ansel. Saat ia melirik ke samping, ternyata Ansel sudah tertidur. Ia lantas menutup buku tersebut dan menyimpannya kembali ke rak. "Apa kau kelelahan karena menunggu Ayah? Tenang saja, Nak, Ayah tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Kau adalah hidup Ayah. Ayah tidak akan melakukan kebodohan untuk yang kedua kalinya, Nak." Sebuah kecupan lembut mendarat ke kening Ansel. Menatap wajah putranya dengan penuh cinta. Rafael menarik selimut untuk menutupi tubuh Ansel, lalu ia pun kembali ke kamarnya. Tak butuh jalan memutar, karena kamarnya dan kamar Ansel mempunyai sebuah pintu penghubung agar keduanya tidak terlalu sulit untuk bertamu ke kamar masing-masing. Di dalam kamarnya, Rafael langsung menyegarkan dirinya dengan guyuran shower yang sukses membasahi seluruh tubuhnya. Ingatannya kembali pada perkataan Ansel tentang meninggalkannya. Sungguh, ia benar-benar belum sanggup untuk berpisah lagi dengan Ansel. Apalagi, saat ini ia masih belum bisa menemukan Shena. Semoga saja mimpi Ansel hanya bunga tidur yang tidak akan menjadi kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN