Ansel sedang menggambar di taman belakang rumahnya. Ia baru saja pulang dari sekolahnya. Makan, mandi, mengerjakan tugas, lalu mengambil kanvas dan alat lukis lainnya dan meminta pelayan membawanya ke taman belakang.
Ia sedang melukis kebun bunga di hadapannya. Matanya terus saja fokus pada objek yang sedang ia lukis.
"Bagaimana Paman Pengawal?" tanya Ansel pada seorang pengawal yang berjaga di belakangnya.
"Sangat bagus, Tuan, bunga-bunga itu tampak hidup," jawab sang pengawal yang bernama Luiz. Ia adalah salah satu pengawal pribadi untuk Ansel bersama temannya yang bernama Andi.
"Paman, kenapa berbohong? Apa Paman selalu melakukan itu pada semua orang? Jelas-jelas lukisan ini sangat buruk. Tapi Paman mengatakan kalau ini sangat bagus." Ansel menatap Luiz dengan perasaan kecewa.
"Tidak, Tuan, bagi saya, lukisan itu sangat bagus. Untuk anak seusia Tuan, lukisan ini tentu terlihat bagus."
"Jadi, jika yang menggambar orang dewasa, maka akan terlihat jelek? Bagaimana kalau ayah yang menggambarnya? Apa Paman akan mengatakan kalau itu jelek?"
Luiz merasa bingung dan serba salah. Bagaimana mungkin ia mengatakan kalau lukisan Rafael jelek? Itu pasti akan membuatnya kehilangan pekerjaannya.
'Ya Tuhan, menghadapi ayahnya saja aku sudah kewalahan. Dan kini, aku harus menghadapi anaknya yang selalu ingin tahu,' batin Luiz.
"Paman, kenapa diam?" tanya Ansel tidak sabar.
"Sebenarnya, lukisan itu tidak tergantung oleh bagus atau tidaknya." Suara seseorang datang dari arah belakang Luiz. Saat mereka melihat, ternyata itu adalah Andi, pengawal lain yang bertugas menjaga Ansel.
"Apa maksud Paman?" tanya Ansel penasaran.
"Bagus itu relatif, tergantung mata orang yang melihat. Contohnya Paman Luiz, dia suka melihat pemandangan alam, maka dia akan mengatakan kalau itu bagus meski tidak bagus di mata orang lain."
"Oh, jadi bagus tidaknya lukisan tergantung selera masing-masing?"
"Tidak semuanya. Ada lukisan yang meski bukan bertema seperti yang orang-orang sukai, tapi tetap terlihat indah. Jika pelukisnya melukis dengan sepenuh hati, maka semua orang pasti akan merasakan makna dari lukisan tersebut."
Ansel bertepuk tangan. "Paman sangat hebat."
Luiz menghembuskan nafas lega karena ia tidak perlu mengatakan hal yang bisa-bisanya membuatnya terjebak.
"Sebenarnya lukisan ini adalah contoh dari lukisan yang ayah buat. Tadi aku sempat melihatnya saat mengambil kanvas, jadi aku menjiplaknya."
"Bagus, Tuan, Anda sangat berbakat," puji Andi.
"Terima kasih, Paman. Aku akan mulai melukis lagi. Sekarang, Paman berdua berdiri di depan dan aku akan melukis kalian!" seru Ansel dengan penuh semangat.
"Baik, Tuan." Andi dan Luiz pun berdiri di depan Ansel dan memasang wajah datar.
"Paman, tersenyumlah," pinta Ansel.
Andi dan Luiz langsung tersenyum.
"Rasanya ada yang kurang. Bagaimana kalau sambil berjabat tangan saja." Ansel mulai meneliti.
Kedua pria dewasa itu pun segera berhadapan dan saling berjabat tangan sambil terus tersenyum.
"Kau tahu? Sepertinya ayah dan anak sama saja. Suka memerintah sesuka hatinya," gumam Luiz sambil terus tersenyum.
"Jangan begitu, dia hanya anak kecil yang ingin menambah pengetahuan. Dia bukanlah anak yang suka mengadu, dia hanya ingin teman," ucap Andi pelan.
Ansel terus mencoret hingga menciptakan lukisan dua pria dewasa itu. Sewaktu masih di daerah terpencil, ia hanya bisa menggambar di atas pasir karena buku dan kertas sangat berharga untuk diisi coretan. Maka, di sini, ia seperti melampiaskan hal yang tidak bisa ia lakukan di desa.
"Wah, sepertinya seru sekali!" suara tepuk tangan terdengar tak jauh dari mereka.
Kedua pengawal muda itu terkejut melihat orang yang ternyata Celine datang mendekat.
"Nona Celine! Kenapa anda bisa masuk?" Andi segera menghampiri dan menghalangi Celine mendekati Ansel.
"Kalian semua adalah pengawal yang bodoh sehingga dengan mudah bisa aku tipu!"
Ucapan Celine langsung membuat Andi memeriksa sekeliling dan benar saja, sudah banyak pengawal yang pingsan, kemungkinan karena obat bius. Bagaimana mereka bisa lupa bahwa Celine sang aktris pernah berlatih menembak jarak jauh demi mendalami perannya. Tentu saja Celine dengan mudah menembaki semua pengawal dengan jarum bius.
"Nona, ini adalah tindak kriminal dan nona bisa dipenjara karena melakukan semua ini," ancam Luiz.
"Silakan laporkan, aku tidak peduli. Jika aku hancur, maka dia juga akan hancur dengan pemberitaan di media. Aku sudah cukup baik untuk tidak menyebarkan ke publik bahwa dia mempunyai anak." Kini pandangan Celine beralih ke arah Ansel yang menatapnya serius.
"Benar-benar mirip. Kau pasti anaknya Rafael, kan?" tanya Celine sambil menatap Ansel dengan tatapan tajamnya.
"Bibi siapa?" tanya Ansel tanpa rasa takut.
"Nona, sebaiknya anda pergi atau..."
Belum sempat Andi menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba saja kepalanya pusing dan ia pun pingsan. Tak hanya ia, Luiz juga pingsan.
Ternyata, Celine tidak sendirian. Ia bersama beberapa pengawal. Pantas saja dengan mudah membuat semua orang pingsan. Tunggu hingga Rafael datang dan mengamuk.
"Ayo, duduk di sini."
Celine mengajak Ansel duduk di atas kursi di taman itu.
Setelah Ansel mendekat dan duduk, Celine langsung mengajukan beberapa pertanyaan pada anak itu.
"Siapa namamu?"
"Ansel."
"Dimana ayahmu menemukanmu?"
"Di desa terpencil."
"Anak yang pintar. Apa kau tahu dimana ibumu?"
"Ibu menghilang setelah melahirkanku."
"Apa kau tahu bahwa ibumu sebenarnya diculik?"
Ansel menggeleng.
"Sebenarnya bukan hanya itu. Ibumu dibuang di desa terpencil sehingga hidup menderita. Apa kau masih menganggapnya ayah? Dia sangat jahat pada ibumu. Kau menderita selama bertahun-tahun karenanya."
Ansel tampak terdiam. Ia menundukkan kepalanya seperti sedang sedih, namun nyatanya ia sedang berpikir keras.
Ia pun kembali mendongak dan berkata, "Bibi, aku tidak tahu apa itu? Mana ada manusia yang bisa dibuang? Yang dibuang itu hanyalah sampah."
"Sudahlah, jika kau tidak mengerti. Yang pasti, ayahmu tidak menginginkan ibumu dan mungkin sebentar lagi kau juga akan dibuang. Maksudnya diusir."
"Maaf, Bi, aku tidak mengenal Bibi. Kata ayah, aku tidak boleh berbicara pada orang asing. Apalagi orang tersebut sudah menyakiti orang lain." Ansel menoleh ke Andi dan Luiz yang masih pingsan di atas rerumputan.
"Aku tidak jahat, ayahmu yang jahat. Lihat saja, sebentar lagi ayahmu pasti akan membuangmu. Menjauhkan mu darinya karena dia tidak menginginkan dirimu sama seperti ibumu."
Celine tersenyum licik. Ia dapat melihat raut wajah kecewa Ansel, namun anak itu berusaha menutupinya.
"Ansel!" Suara yang tak asing bagi mereka pun terdengar.
"Rafael!" Celine berdiri dari duduknya karena terkejut melihat kedatangan Rafael.
"Dasar kau..." Rafael menghentikan umpatannya saat mengingat masih ada Ansel di sana.
"Mark, bawa Ansel ke dalam!" titah Rafael.
Mark langsung membawa Ansel ke dalam rumah.
"Apa yang kau lakukan di sini, ha! Dasar wanita tidak tahu diri! Untuk apa kau menerobos rumahku dan membuat semua pengawal dan pelayanku pingsan. Apa kau mau masuk penjara?" Rafael mencengkram lengan Celine hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Bagaimana kau bisa ke sini!"
"Bodoh! CCTV rumah ini terhubung dengan ponsel Mark sehingga dia bisa memantau semuanya. Dan mereka." Menunjuk Andi dan Luiz. "Jika mereka tidak berada di depan Ansel, pasti mereka sudah membuangmu dari sini!"
Memang, Rafael selalu melarang semua pengawal melakukan kekerasan di depan Ansel.
"Terserah jika kau mau melaporkan ku pada polisi. Aku tidak takut. Aku hancur, kau hancur, anakmu juga hancur!" ancam Celine.
"Sekarang pergilah! Bukankah kau sudah mencapai keinginan mu?" Rafael melepaskan cengkeramannya pada lengan Celine dengan kasar.
"Lihat saja, dia tidak akan mau memanggil mu ayah lagi." Sambil tersenyum, Celine pun pergi bersama para pengawalnya yang ternyata sudah babak belur dihajar Mark.
"Panggil dokter," ucap Rafael yang baru saja menjumpai Mark di dalam rumah. Mark langsung mengangguk dan memanggil dokter.