Telepon Misterius

1016 Kata
Rafael pergi ke kamar dimana Ansel berada. Ia khawatir kalau Ansel trauma karena melihat Andi dan Luiz pingsan di hadapannya. Padahal, hal seperti itu sudah sering ia lihat di desa saat ada orang yang bertengkar hingga menggunakan kekerasan. Meski desa sudah makmur, namun tetap saja sifat manusia belum seutuhnya membaik. Masih ada beberapa yang kontra pada peraturan ketua desa yang baru yaitu Harun selaku ayah angkat Ansel. Sesampainya di kamar Ansel, Rafael langsung menyapu ruangan dengan matanya. Ia mencari keberadaan Ansel. "Ansel," panggilnya saat tidak menemukan keberadaan Ansel. Ia mencari ke beberapa ruang di kamar itu namun tidak menemukannya. Namun, saat ia pergi ke balkon kamar, ia menemukan sang anak sedang duduk di kursi yang bisa berayun. Dilihat dari ekspresinya, kelihatannya Ansel sedang merenung. Ia lantas mendekati Ansel dan duduk di sampingnya. "Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Rafael sambil mengusap punggung Ansel. "Apa benar yang Bibi itu katakan. Bahwa dulu ayah mengusir ibu ke desa terpencil itu?" tanya Ansel dengan mata berkaca-kaca. "Apa kau percaya?" Rafael balik bertanya. "Hatiku berkata tidak, tapi mataku berkata ya, Ayah." Rafael menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Ayah akui bahwa Ayah memang bersalah pada ibumu. Dulu Ayah sangat marah padanya sehingga mengusirnya dari hidup Ayah. Hingga beberapa minggu lalu, Ayah menemukan sebuah fakta yang membuat Ayah menyesal telah melakukannya. Ibumu tidak bersalah, tapi Ayah lah yang salah. Ayah tidak berpikir panjang dan langsung mengusir ibu." Mata Rafael berkaca-kaca saat mengenang peristiwa pahit itu. "Apa dulu Ayah orang yang jahat?" "Begitulah. Apa kau membenci Ayah?" tanya Rafael dengan tatapan penuh harapan. Ia berharap Ansel tidak mengatakan 'ya'. "Ya, Ayah." Sekertaris Rafael menghembuskan nafas berat. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini adalah kesalahannya. "Jika Ayah berbohong." "Apa?" Rafael menatap Ansel dengan tatapan bingung. "Aku membenci Ayah jika Ayah berbohong. Tapi ternyata Ayah berkata jujur, maka aku tidak akan membenci Ayah. Paman Harun selalu mengatakan padaku bahwa kita harus menghargai kejujuran seseorang. Dan aku menghargai kejujuran Ayah. Lagipula, Ayah akan mencari ibu dan kita bisa berkumpul bersama, bukan? Jika aku marah pada Ayah, itu tidak akan merubah keadaan." Mata Rafael berkaca-kaca mendengar ucapan Ansel. Sungguh ia tidak menyangka anak berusia lima tahun lebih itu bisa mengatakan hal yang menyentuh hatinya. 'Aku berhutang banyak pada kalian, Harun, Dewi. Kalian telah mengajarkan banyak hal baik pada anakku,' batin Rafael. "Terima kasih, Nak, Ayah berjanji untuk selalu menyayangimu dan ibu. Kita terus berdoa semoga suatu hari nanti ibu ditemukan." "Iya, Ayah, semoga saja Ibu cepat ditemukan." Rafael memeluk Ansel dan mengusap lembut rambutnya. "Oh ya, Ayah, Bibi yang tadi itu siapa?" tanya Ansel tiba-tiba. "Dia teman Ayah." "Pasti kalian bertengkar sehingga Bibi itu sampai ke sini dan mengatakan hal jelek tentang Ayah. Dia juga telah melukai Paman pengawal." "Apa kau tadi takut? Apa masih terbayang-bayang tentang tadi?" tanya Rafael ingin memastikan mental anaknya. "Tidak, Ayah, di desa, hal yang lebih dari itu sering terjadi." Ansel menggeleng pelan. "Ya sudah, jangan diingat lagi, ya." "Iya, Ayah. Oh ya, bagaimana kabar Aruna di desa, Ayah?" "Ayah sedang mengusahakan jaringan yang kuat di sana agar kau bisa menelepon Aruna dan orang tuanya." "Terima kasih, Ayah. Aku sangat rindu pada mereka." Ansel memeluk ayahnya erat. "Apapun pasti akan Ayah lakukan untukmu asal kau bahagia." *** "Aaaarrrrghhhh, sial!" Celine berteriak sambil mengacak-acak isi meja riasnya. Semua skincare, alat make up, dan parfum mahal berserakan di lantai bahkan sampai ada yang pecah. "Susah payah aku mencari semua data tentang istrinya, tapi hasilnya malah begini!" Celine terlihat sangat murka. Ketenangan dari anak Rafael membuat semua rencananya gagal. Padahal ia ingin melihat anak Rafael trauma dan ketakutan, namun hasilnya malah sebaliknya. Tidak ada jeritan atau tangis ketakutan dari anak itu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisi sebuah perintah untuknya. "Anak itu sangat jenius. Kau bisa membunuhnya jika kau membencinya. Kematian anak itu akan menjadi pemisah antara Rafael dan istrinya. Kau bisa merebut hati Rafael lagi." Begitulah isi pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu pun langsung hilang karena memang disetting untuk sekali lihat. "Siapa? Siapa yang mengirimiku pesan? Apa dia mengenal Rafael? Tapi kenapa dia malah menyuruhku membunuh seseorang. Ini tidak benar, pasti ada orang yang mencoba memanfaatkan aku demi dendamnya. Tapi, apakah dia tahu dimana istri Rafael?" gumam Celine sambil mondar-mandir memikirkan pesan tadi. Tingg. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal pun masuk. "Halo," jawab Celine dengan ragu. "Bunuh anak itu, dan Rafael akan menjadi milikmu selamanya." Suara yang didengar Celine seperti suara yang menggunakan alat tertentu sehingga suara tersebut tidak seperti suara manusia pada umumnya. "Siapa kau? Kenapa aku harus menuruti perintah mu?" "Karena jika anak itu mati, maka ibunya juga akan mati." "Apa maksudnya? Apa kau yang telah menculiknya? Jadi maksud mu, kematian anaknya akan membuat wanita itu mati karena syok?" "Turuti saja perintahku jika kau menginginkan Rafael." "Enak sekali kau bicara. Kau menginginkan kematian anak itu, tapi kau tidak mau mengotori tanganmu. Kau sungguh licik. Kau bisa saja aku laporkan ke polisi saat ini juga." "Silakan laporkan aku. Dan aku akan mengirimkan foto aibmu di masa lalu. Hotel Mawar, kamar 203, pukul sebelas malam." Mendengar ucapan sang penelepon, Celine langsung mematikannya dan bereaksi. Wajahnya tampak pias, jantungnya terus berdebar karena memikirkan peristiwa malam itu. Tak berselang lama, panggilan kembali masuk dari nomor yang lagi-lagi berbeda namun sepertinya dari satu orang yang sama. Celine berusaha menekan tombol rekam, namun tidak berfungsi. "Jika kau berubah pikiran, aku akan mengirimkan partner yang hebat untuk membunuh anak itu. Semua gerak-gerikmu sudah aku pantau selama ini. Jadi, kau tidak akan punya kesempatan untuk melaporkan hal ini pada siapapun termasuk Rafael." Panggilan terputus. Dan nomor yang memanggilnya tadi pun hilang dari riwayat panggilan. Seketika Celine menjadi ragu. Ia seperti telah terjebak ke permainan seseorang. Seseorang itu pun sepertinya tahu bahwa ia ingin kembali mendapatkan Rafael. "Aaaarrrrghhhh, entahlah, aku pusing!" Celine membanting ponselnya ke lantai hingga retak. Ia tak lagi mau memakai kartu SIMnya lagi. Ia akan menggantinya agar terhindar dari penelpon misterius itu. Ia pasti akan mendapatkan Rafael lagi, namun dengan cara yang berbeda. Ia tidak mau terlibat ke dalam masalah hukum. Akan tetapi, jika semua usahanya tidak berhasil, ia mungkin harus menggunakan cara kotor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN