Seperti yang sudah diduga sebelumnya bahwa berita tentang Ansel akhirnya naik ke permukaan. Banyak sekali media yang mengulas berita tentang anak yang bersama Rafael.
Bukan karena Celine, sumber ini berasal dari seseorang yang sepertinya mengincar kehancuran Rafael maupun Ansel.
Rafael Smith kedapatan menggendong seorang anak yang sangat mirip dengannya. Diduga anak tersebut adalah anaknya.
Dikabarkan putus dengan artis cantik Celine, ternyata Rafael sudah mempunyai anak dari wanita lain.
Siapakah orang ketiga yang membuat hubungan Rafael dan Celine berakhir?
Sementara itu, Celine yang ditemui banyak wartawan terlihat enggan memberikan komentar. Dari mimik wajahnya terpancar sebuah kekecewaan. Sesekali ia menerbitkan senyuman tipis yang seperti terpaksa itu.
Dimata orang-orang, tentulah Celine sangat kecewa dan sedih karena berada di pihak yang paling tersakiti. Namun di mata Rafael, itu hanyalah kesedihan palsu untuk menarik banyak simpati dari para penggemarnya.
"Nona, apakah benar anda dan Tuan Rafael telah putus?" tanya seorang wartawan sambil menyaingi langkah Celine dan berhimpitan dengan wartawan lainnya.
"Maaf, saya tidak bisa memberikan komentar, tanya saja pada Tuan Rafael."
"Nona, apa tanggapan Nona tentang rumor yang beredar bahwa Tuan Rafael mempunyai anak dari seseorang di masa lalunya?"
Celina hanya melambaikan tangannya. Ingin rasanya ia berteriak dan memaki nama Rafael, namun itu sama saja menjatuhkan imagenya. Ia memilih tak banyak bicara. Biarlah media yang memberitakan hal ini. Dengan diamnya dirinya, pasti akan ada banyak tawaran dari televisi untuk mengundangnya dalam acara talk show. Dengan begitu, ia dapat mematok bayaran yang mahal untuk sekadar berbicara di depan televisi.
Setelah Celine masuk ke dalam mobil, ia pun menyuruh sang sopir untuk mengantarnya ke kediamannya. Selama beberapa hari ini, ia akan memilih untuk berdiam diri di rumah saja. Dengan begitu, maka ia akan menjadi pusat perhatian. Dan setelah semua orang mencarinya, maka ia akan muncul bak seorang Dewi yang dipuja banyak orang.
"Ada informasi apa lagi?" tanya Celine pada sang sopir.
"Tuan Rafael baru saja mengumumkan konferensi pers yang akan diadakan sore ini di gedungnya, Nona."
"Bagus, aku akan menontonnya dan menikmati setiap fakta atau kebohongan yang dia katakan." Celine tersenyum licik. Ia pun merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu melihat ribuan pesan yang masuk ke akun sosial media miliknya. Ratusan ribu komentar berisi dukungan dan kata-kata pujian untuknya sebagai wanita hebat dan tegar.
Celine tersenyum melihat betapa banyak hal yang bisa ia manfaatkan dari situasi ini. Penggemar semakin bertambah, dan tawaran menggiurkan juga pasti akan berdatangan.
***
Rafael dan Mark masuk ke dalam gedung tempat dimana acara konferensi pers digelar. Sedangkan Ansel terpaksa libur sekolah karena Rafael khawatir anaknya akan didatangi oleh para wartawan atau paparazi yang akan memotretnya secara diam-diam.
"Bagaimana penampilan ku? Dan juga potongan rambut ku?" tanya Rafael pada Mark saat mereka menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat konferensi pers digelar.
"Sangat bagus, Tuan. Anda memakai setelan jas yang bergaya sama setiap hari. Dan potongan rambut anda memang tidak pernah berubah sejak dulu, masih tetap rapi."
"Biarpun ini konferensi pers yang akan membuka semua aibku, tentu aku harus berpenampilan tampan. Siapa tahu Shena akan melihatku dari televisi dan langsung datang ketika melihat ketampanan ku." Rafael merapikan dasinya meski tidak ada yang berubah pada posisi dasi itu.
"Ya, Tuan, pasti jika Nona Shena melihat, beliau akan langsung memaafkan Tuan."
"Ya, aku lupa soal kesalahan fatalku. Terima kasih sudah mengingatkan ku, Mark, kau memang bisa diandalkan." Rafael menatap Mark dan menepuk pundaknya sembari tersenyum namun dengan sorot mata yang tajam.
Saat itu, pintu lift pun terbuka dan Rafael segera keluar.
"Apa? Apa yang aku katakan tadi? Aku hanya berpendapat. Apa itu salah? Kenapa tatapan Tuan Rafael seperti itu?" Mark bergumam sendiri. Ia pun melangkah menyusul Rafael yang tak jauh darinya.
Mereka pergi ke sebuah ruangan yang sangat besar. Di sana, sudah ramai para wartawan dan kameraman dari berbagai stasiun televisi.
Rafael duduk di kursi yang telah disediakan dengan Mark yang berdiri di belakangnya.
"Duduklah, Mark," titah Rafael.
Mark pun langsung duduk di samping Rafael. Keduanya memasang wajah yang serius.
"Terima kasih kepada semua yang sudah hadir di acara ini. Di sini, Tuan Rafael akan menjawab pertanyaan dari kalian semua. Satu orang hanya boleh bertanya satu pertanyaan. Jadi, pikirkanlah pertanyaan yang penting dan berguna."
Begitulah ucapan Mark saat membuka acara sore hari itu.
"Tuan, apa benar, jika anak yang terlihat di foto bersama Tuan adalah anak kandung Tuan?"
"Benar, dia adalah anak saya. Umurnya lima tahun, tapi dia cerdas, sehingga saat ini sudah masuk di sekolah dasar."
'Tuan, kenapa anda harus repot-repot menjelaskan tentang itu?' batin Mark.
'Hebat, kan anakku,' batin Rafael dengan senyum penuh kebanggaan.
"Apakah anda pernah menikah?"
"Ya, saya menikah enam tahun yang lalu. Dengan seorang gadis yang sangat baik, cantik, dan cerdas. Dia selalu menuruti apa yang saya katakan. Dia adalah wanita yang sangat sempurna."
'Tuan, tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Kita sedang ada di sesi tanya jawab, bukan sesi curhat,' batin Mark dengan tatapan heran.
"Kenapa anda menyembunyikan pernikahan ini?"
"Karena saya tidak ingin semua orang tahu bahwa saya mempunyai istri yang sangat sempurna. Dia harus saya jaga agar tidak ada pria yang akan merebutnya."
Mata Mark terbelalak mendengar penjelasan Rafael. 'Bagaimana bisa anda mengatakan itu, Tuan? Itu seperti jawaban anak muda yang sedang dimabuk cinta, astaga,' batin Mark sambil mengepal kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja. Gemas sekali melihat majikan yang seperti ini.
"Wah, sepertinya anda sangat mencintai istri anda. Lalu, dimanakah beliau, Tuan? Maksud saya, selama ini yang publik tahu, anda sudah bertunangan dengan Nona Celine."
Rafael menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Di tahun pertama pernikahan saya, saya melakukan kesalahan yang teramat fatal sehingga kami berpisah. Saat itu saya salah sangka dan mengira bahwa dia mempermainkan saya sehingga saya mengusirnya. Saya tidak tahu bahwa dia sedang mengandung anak kami. Lalu saya menjalin hubungan dengan Celine. Namun, beberapa Minggu yang lalu, saya baru mengetahui bahwa istri saya telah hilang dan meninggalkan seorang anak. Dia diculik beberapa hari setelah kelahiran anak kami. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu dimana dia berada. Dan karena itu juga, saya memutuskan hubungan saya dengan Celine. Dia wanita yang sangat baik, dia menerima semuanya dengan ikhlas."
"Maaf, Tuan jika saya lancang, siapa nama istri anda dan bagaimana rupanya? Mungkin saja itu akan membuat pencarian istri anda lebih mudah."
Rafael menoleh ke arah Mark dan mengangguk. Mark langsung memencet sebuah remot dan layar di belakang mereka pun menyala dan memperlihatkan sebuah foto yang bagi sebagian orang tidak akan percaya bahwa Rafael begitu mencintai wanita dengan tampilan biasa saja seperti itu.
"Namanya Shena Almira, berusia dua puluh tiga tahun. Dia adalah keponakan dari Tuan Brama, dan anak kandung dari Sharif."