Masa Lalu Kelam

1068 Kata
Semua terkejut mendengarnya. Ternyata Shena adalah anak dari si jenius Sharif. "Jika kalian pernah melihatnya? Tolong, hubungi saya. Saya akan berikan hadiah rumah, mobil, dan uang bagi siapa saja yang menemukannya." Rafael tersenyum sekilas. "Pertanyaan terakhir, Tuan. Siapa nama anak anda?" "Namanya Ansel Smith." "Baiklah, itu adalah pertanyaan terakhir. Sekarang, Tuan Rafael harus menghadiri acara lain. Saya harap, dari kalian, sampaikan informasi ke publik dengan jujur. Jangan ditambah atau dikurangi. Berikan masyarakat berita yang tidak mengandung hoax. Selama sore." Setelah itu, Rafael dan Mark pun pergi ke luar gedung. Rafael merasa sangat puas karena telah menumpahkan semua isi hatinya Ia berharap semoga nantinya akan ada berita gembira terkait Shena setelah adanya konferensi pers yang melibatkan terkuaknya siapa Shena. Celine mematikan televisi sambil tersenyum datar. "Bagus sekali, Rafael. Kau tidak menjelekkan aku. Apa hadiah yang harus aku berikan padamu? Informasi itu? Ah aku rasa tidak perlu. Biar saja kau hidup dengan teror karena berani memutuskan hubungan dengan ku." Namun seketika senyuman itu memudar saat ia melihat sebuah panggilan dari private number. Ia mencoba mengabaikan panggilan itu, namun ponselnya tidak henti-hentinya mengeluarkan dering yang membuat dirinya gelisah. Ia pun langsung mengubah mode ponselnya menjadi mode pesawat sehingga nomor tadi tidak dapat menghubunginya. "Siapa yang memanggilku tadi? Apakah orang yang sama seperti waktu itu? Nomor ini sangat baru dan aku tidak memberikannya pada siapapun. Apakah dia berusaha melacakku? Tapi kenapa harus aku?" gumam Celine sambil mondar-mandir dengan wajah cemas. "Arrrrghhh, sial! Baru saja aku menikmati ketenangan, lagi-lagi aku harus diganggu oleh hal seperti ini! Semua ini karena Rafael! Coba saja kalau dia tidak berusaha mencari istrinya, pasti dia tidak akan bertemu dengan anaknya dan hubungan kami masih baik-baik saja. Sekarang aku merasa sangat kesal pada anak itu! Sepertinya dia memang anak pembawa sial!" Celine berjalan meninggalkan kamarnya menuju ruang kerjanya. Kerja dalam artian Celine adalah ruangan tempat ia berpose atau mempromosikan produk-produk di sosial media. Ia pun berselancar di internet. Matanya menyipit saat melihat tagar nama Shena Almira berada di posisi paling atas. Foto pernikahan Shena dan Rafael yang telah tersebar luas pun turut membanjiri beranda sosial media. Banyak ungkapan doa yang disampaikan melalui pesan-pesan indah untuk Shena yang keberadaannya masih misterius. "Ahhh, sama saja! Dimanapun itu, aku tetap melihat mereka!" Celine menghembuskan nafas kasar. Saat ia membuka pesan, ia melihat banyak sekali pesan masuk dari para penggemarnya yang berisi simpati dan doa yang ditujukan untuknya sebagai wanita tegar. Jelas sekali, ucapan Rafael sangat berdampak pada popularitasnya saat ini. Namun, ada salah satu pengirim pesan yang membuatnya lagi-lagi mengernyitkan dahinya. Foto profilnya tidak ada. Dan namanya adalah Hotel Mawar 203. Ah, itu adalah nama hotel dan nomor kamar yang pernah disebutkan penelpon misterius itu. Ia lantas membuka pesan tersebut. "Pria yang sekamar denganmu ingin mengulang indahnya malam itu. Dia tidak bisa melupakan betapa indahnya tubuhmu." Mata Celine membola melihat isi pesan tersebut. Ia pun lantas memblokir akun tersebut dan menutup laptopnya. "Kenapa jadi aku yang diteror! Harusnya saat ini aku bahagia dengan popularitas ku!" Celine melangkah menuju ke sebuah lemari yang berisi semua barang-barang yang pernah ia promosikan. Jika produk tersebut berharga mahal, maka ia akan membawanya ke kamarnya. Namun jika tidak bagus, maka ia akan menyimpannya terlebih dahulu. Dan setelahnya ia pun bisa membuang atau memberikannya pada manager atau asistennya. Ia membuka sebuah laci dan mengambil sebuah kotak berukuran kecil berwarna biru. Ia membawa kotak tersebut menuju sofa, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah foto yang langsung membuatnya menitihkan air mata. Di sana juga ada sebuah cincin berlian mahal yang terukir inisial CA. Ingatan Celine kembali ke sebuah hari dimana ia hancur. Demi melunasi hutang yang ditinggalkan ayahnya dan juga pekerjaan menjadi artis, ia rela menjual tubuhnya pada seorang p****************g di hotel Mawar tepatnya di kamar 203. Nahas, saat sedang menjalankan tugasnya, kekasihnya memergokinya. Ia pun langsung mengejar sang kekasih. Hingga saat melintas di jalan raya, sang kekasih tertabrak mobil hingga meninggal. Itulah titik terendah di hidup Celine. Ia kehilangan kekasihnya karena kejadian hari itu. Hal yang membuatnya semakin sedih adalah kenyataan bahwa sang kekasih ternyata berniat melamarnya. Terbukti dari sebuah kotak kecil berisi cincin berlian di dalamnya tergeletak dalam genggaman tangan sang kekasih. "Maafkan aku, Haris, aku tidak bermaksud menyakiti dirimu. Aku terpaksa melakukannya agar kita tidak diganggu lagi oleh penagih hutang itu. Mereka selalu saja memukulimu ketika aku tidak bisa membayar hutang ayahku." Celine menyeka sudut matanya yang basah. "Tapi tunggu! Saat itu, tidak ada yang tahu aku ada di hotel itu karena aku datang pun dalam kondisi menyamar. Dan kenapa Haris bisa tahu kalau aku ada di sana! Dan kenapa orang misterius ini juga tahu kalau aku pernah ke hotel itu? Apakah dia yang telah memberitahukan hal itu pada Haris? Apakah semua itu adalah rencana seseorang?" Di tengah kebingungan, Celine langsung mengaktifkan lagi ponselnya. Dan benar saja, tak berselang lama, nomor tidak dikenal kembali meneleponnya. "Halo!" Celine langsung mengangkatnya. "Aku kira kau tidak akan mau menerima panggilan ku." "Siapa kau? Kenapa kau tahu soal kamar itu?! Apa kau yang merencanakan semuanya? Kau memberitahu Haris sehingga dia datang dan memergoki ku?" tanya Celine tidak sabaran. "Untuk seorang artis terkenal, kau cukup bodoh untuk baru memahami semuanya sekarang. Sayang sekali agensi mu harus mempunyai artis dengan otak dangkal seperti mu." "Berhenti menghinaku dan jawab saja!" Celine mulai mengeluarkan suara bentakan. "Wah, kau sudah berani, ya." "Untuk apa aku takut padamu? Kau hanyalah pengecut yang tidak berani menunjukkan identitas aslimu. Kau bersembunyi dibalik topeng pecundang! Bahkan suaramu saja kau samarkan!" Suara itu membuat Celine tidak tahu yang berbicara dengannya laki-laki atau perempuan. "Bunuh anak itu, dan aku akan memberitahumu sebuah rahasia yang sangat besar." "Aku tidak percaya padamu! Dan aku tidak peduli tentang rahasia apa yang kau punya!" "Kekasihmu masih hidup!" Mata Celine membola mendengar hal tersebut. "Itu tidak mungkin! Meski aku tidak datang ke pemakamannya, tapi aku tahu ada orang yang dimakamkan saat itu, dan itu adalah Haris!" "Jika kau tidak percaya, itu urusanmu! Yang pasti, aku berkata yang sebenarnya. Pria itu masih hidup dan sedang koma. Jika kau ingin bertemu dengannya, bunuh anak itu! Jika tidak, maka lupakanlah kekasihmu dan luka yang dirasakannya!" Panggilan pun mati. "Arrrrghhh! Sial! Bagaimana ini!" Celine mengusap wajahnya dengan kasar. Ini memang sulit dipercaya. Kekasihnya yang bertahun-tahun lalu ia kira sudah meninggal, ternyata masih hidup dan dalam keadaan koma. Kini Celine bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Berurusan dengan kriminal demi kekasihnya yang dapat menghancurkan kariernya, atau tetap diam dengan perasaan yang dihantui rasa bersalah. Misteri ini semakin rumit saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN