Berita tentang Ansel dan Shena yang diculik telah sampai ke telinga Meira dan Brama.
Mereka turut menyesal dengan apa yang menimpa Shena.
Mereka sudah datang dan meminta maaf pada Rafael, namun Rafael malah mengusir mereka dan mengancam akan membuat hidup mereka sulit jika berani menemui anaknya.
Sore itu, Meira sedang fokus membaca majalah fashion. Ia melihat-lihat fashion apa yang mungkin akan ia pakai saat arisan nanti.
"Nyonya, ini tehnya," ujar Wulan sambil meletakkan teh di meja.
"Hmmm," sahut Meira tanpa menoleh. Ia masih fokus membaca majalah tersebut.
"Emmm, Nyonya, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Wulan yang ternyata masih berdiri di sana.
"Katakan saja!" Meira masih tidak berpaling dari majalahnya.
"Saya ingin mengundurkan diri, Nyonya."
Sontak Meira langsung meletakkan majalahnya, lalu menatap Wulan dengan raut wajah terkejut.
"Kenapa? Apa aku terlalu jahat padamu sehingga kau tidak betah? Baru dikurung sehari di gudang saja kau sudah marah," ucap Meira sinis.
"Tidak, Nyonya, bukan karena masalah itu. Kalau masalah gudang, saya memang salah karena menumpahkan sambal ke wajah Nyonya saat makan malam. Lagipula, Nyonya memang galak dan kadang-kadang menyebalkan, jadi saya tidak terkejut dengan hal seperti itu."
"Heh, kau ini jujur sekali," gerutu Meira. "Baiklah, saya minta maaf. Jangan pergi, Wulan, saya sudah terlanjur merasa nyaman denganmu. Maksud saya, hanya kau pelayan yang tahan bekerja dengan saya selama bertahun-tahun." Menatap serius.
"Tidak, Nyonya. Sebenarnya saya,,,,,akan menikah. Saya harus meminta restu ke kampung halaman saya. Meski saya tidak tahu ayah saya masih hidup atau tidak, tapi saya harus memastikannya."
"Menikah? Tapi saya tidak pernah melihat mu berpacaran." Meira mengernyitkan dahinya.
"Beberapa minggu lalu, ada seorang pria yang melamar saya. Katanya dia sering melihat saya saat membuang sampah di luar. Dia jatuh cinta pada saya dan ingin menikahi saya." Wulan meremas ujung bajunya. Ia benar-benar gugup kali ini.
Meira semakin heran dengan Wulan. Hanya karena ada seorang pria yang melamarnya tanpa mengenal terlebih dahulu, ia mau mau saja. Apa ia tidak memikirkan ke depannya? Bagaimana kalau pria yang baru dikenalnya itu tidak baik?
"Wulan, apa kau benar-benar yakin? Kau baru mengenalnya. Oh ya? Siapa namanya? Dan apa pekerjaannya?" tanya Meira yang semakin penasaran.
"Namanya Bima, dia bekerja sebagai satpam komplek ini, Nyonya."
Meira menghembuskan napas lega. Kalau Bima, tentu ia mengenalnya. Pria itu baik dan ramah, tidak masalah jika Wulan menikah dengannya.
"Dan setelah menikah? Kalian mau kemana? Yang saya tahu, rumah Bima juga ada di belakang komplek ini. Ya, meskipun hanya rumah sewa."
"Kami akan tinggal di rumah Bima, Nyonya."
"Kalau begitu, untuk apa mengundurkan diri? Kau masih bisa bekerja di rumah ini."
"Maaf, Nyonya, tapi,,,calon suami saya melarang saya bekerja. Lagipula, dia akan resign dari pekerjaannya karena akan membawa saya ke kampung halamannya. Rumah Bima yang saya maksud ada di kampung halamannya, Nyonya. Kami akan menikah di kampung saya, lalu pergi ke kampung halamannya dan menetap di sana. Hasil tabungannya yang bekerja selama bertahun-tahun telah dibuat usaha di sana."
Dalam beberapa detik, wajah Meira berubah menjadi sedih.
"Kau tahu, Wulan, sejak putriku pergi meninggalkan ku dan menetap di luar negeri, hanya kau yang bisa menggantikan dirinya. Jika kau pergi, siapa teman saya nantinya?" Meira menunduk lesu.
"Nyonya tenang saja, pasti akan ada pengganti saya."
"Wulan, berjanjilah jika kau kembali ke sini, temui saya." Meira menatap Wulan dengan penuh harap.
"Ya, Nyonya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Nyonya karena selama ini sudah menerima saya bekerja di sini. Saya sudah banyak merepotkan. Banyak guci dan vas mahal yang pecah karena ulah saya. Nyonya juga sering terkena sial karena saya. Wajah tertumpah sambal, dress terciprat lumpur, bahkan saya masih ingat saat rambut Nyonya penuh dengan cat yang saya jatuhkan. Saya minta maaf, Nyonya." Wulan membungkukkan tubuhnya.
"Sudah, jangan diingat. Kalau mengingatnya, saya jadi kembali kesal padamu. Tunggu di sini."
Meira beranjak dari duduknya, lalu pergi ke dalam kamarnya. Sekembalinya ia dari dalam kamar, ia membawa sebuah kotak merah yang sepertinya kotak perhiasan.
"Wulan, kemarilah." Meira meminta Wulan duduk di dekatnya.
Wulan datang dan duduk di dekatnya.
Meira membuka kotak tersebut dan menunjukkannya pada Wulan.
Mata Wulan terkesima saat melihat kalung berlian di dalam sana. "Indah sekali," decaknya kagum.
"Ini adalah perhiasan edisi terbatas. Harganya sangat mahal, bahkan nyawamu pun tak sanggup membayarnya."
"Kalau jantung, hati, ginjal dan organ lainnya dalam tubuh saya dijual, pasti akan mencapai milyaran. Astaga, berarti ini sangat mahal, Nyonya." Wulan masih melongo melihat berlian tersebut.
"Ya, tapi jangan kau kira saya akan memberikan ini. Saya hanya mau menunjukkan saja. Kalau untukmu yang ini saja. Berlian couple yang dulu saya beli untuk anak saya juga. Tapi, karena Jane tidak menyukai perhiasan, jadi saya berikan saja padamu. Harganya tidak semahal milik saya, tapi ini barang yang tidak akan ada di pasaran. Imitasi sekalipun tidak akan boleh membuat yang seperti ini."
Meira menunjukkan kotak lain dan membuka isinya.
"Nyonya, ini cantik sekali." Wulan menatap kalung berlian itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan diberikan barang yang mahal seperti itu.
"Ya, tentu saja, saya ini kan orang kaya!"
Padanya kenyataannya, ia membeli sepasang kalung tersebut dari hasil menabung selama lima tahun.
"Wah, Nyonya benar-benar hebat."
"Sekarang, kalung ini menjadi milikmu. Daripada hanya menjadi penghuni brankas, lebih baik kau gunakan saja. Anggap ini adalah bonus karena kau bertahan bekerja dengan saya selama lima tahun."
"Nyonya juga hebat karena tahan dengan pelayan seperti saya. Apa Nyonya ingin hadiah dari saya? Sebuah pijatan saja bagaimana? Saya tidak punya uang kalau membelikan barang mahal," ucap Wulan cengengesan.
"Apa hanya itu keahlianmu?" Meira menatap heran.
"Emmm, atau Nyonya minum kopi buatan saya saja. Saya telah belajar selama lima tahun untuk membuat kopi seperti koki yang handal. Selama ini kan saya hanya bekerja di bagian kebersihan saja. Saya belum pernah membuatkan sesuatu untuk Nyonya makan atau minum."
"Ya ampun, kalau saja ini bukan hari terakhir mu bekerja, saya pasti sudah mengurungmu di gudang lagi! Ya sudah, buatkan!"
Wulan pun langsung pergi ke dapur, lalu membuatkan kopi untuk Meira dengan caranya sendiri.
Satu gelas kopi sudah tersedia di atas meja. Meira segera mengambil gelas kopi dan mulai menyeruputnya.
"Bagaimana, Nyonya?" tanya Wulan tidak sabar.
"Wah, ini, ini adalah kopi paling enak yang pernah saya minum. Bagaimana caramu membuatnya?" tanya Meira sambil menyeruput kopinya.
"Saya membuatnya dengan teliti, Nyonya. Dengan takaran yang pas, kematangan, kekentalan yang sempurna, dan juga keikhlasan hati saya." Wulan tersenyum malu.
"Ya baiklah, saya rasa ini sudah cukup untuk balasan dari kalung berlian yang saya berikan."
Wulan mengangguk senang. Akhirnya ia berhasil membuatkan sesuatu untuk di konsumsi Meira.
"Ingat, jangan jual kalung itu sesusah apapun hidupmu. Jika kau butuh uang, telepon saya saja." Meira memberikan kartu namanya pada Wulan yang langsung diambil dan disimpan oleh Wulan.
"Dan ini gaji terakhirmu. Pergunakan sebaik-baiknya" Meira menyerahkan sebuah amplop putih tebal pada Wulan.
"Ini banyak sekali, Nyonya." Wulan menatap tidak percaya.
"Ini sebagai hadiah pernikahan mu nanti."
"Terima kasih, Nyonya." Wulan membungkukkan tubuhnya, lalu tersenyum menatap Meira, sang majikan yang galak namun baik hatinya.
***
Sore harinya, Bima pun datang dengan mobil taksi di depan rumah Meira. Rencananya, hari ini mereka akan pergi ke kampung halaman Wulan.
"Wulan, bolehkah saya memelukmu?" tanya Meira ragu.
"Tentu saja, Nyonya." Wulan merentangkan tangannya, dan keduanya pun langsung berpelukan. Meira pun mengusap rambut lembut Wulan sambil berlinang air mata. Entah mengapa, ia sangat menyayangi Wulan. Mungkin benar, hal itu disebabkan karena Jane yang tak kunjung pulang selama lima tahun ini.
Selepas berpamitan, mobil yang membawa Bima dan Wulan pun pergi hingga hilang dari pandangan. Meira menyeka sudut matanya yang basah. "Jane, Ibu mohon, kembalilah, Nak."