Satu minggu kemudian.
"Nyonya! Nyonya!" Seorang pelayan pengganti Wulan yang bernama Sri setengah berlari menghampiri Meira yang saat itu sedang duduk santai sambil menonton televisi.
"Ada apa, Sri? Kenapa seperti itu?" tanya Meira dengan panik. Melihat Sri menghampirinya dengan panik, tentu ia jadi ikutan panik.
"Nyonya, itu! Anu!" Sri terlihat ngos-ngosan dan berusaha mengatur napasnya.
"Anu apa, Sri? Jangan membuat saya khawatir! Tuan? Apa dia baik-baik saja?" Kini pikiran Meira tertuju pada Brama, suaminya. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya gemetaran, takut jika yang akan disampaikan Sri adalah kabar buruk tentang suaminya.
"Tidak, Nyonya. Bukan itu! Anu, di depan ada,, itu, Nyonya."
"Itu apa? Siapa? Satpam? Tetangga? Atau pengutip sumbangan?" Meira terlihat tidak sabar melihat Sri yang tak kunjung berbicara dengan benar.
"Ada itu, Nyonya. Anu, Sales! Eh, bukan."
"Sales? Aduh, suruh pergi saja!"
"Bukan, Nyonya. Siapa namanya, saya lupa. Itu, yang Nyonya sering ceritakan." Sri mencoba mengingat sesuatu.
"Siapa? Shena? Wulan? Apa dia kembali?" Meira berdiri dari tempat duduknya.
"Bukan, Nyonya. Emm, ah, itu, Nona Muda! Ya, Nona Muda Jana!" Akhirnya Sri berhasil menyampaikan informasi yang sejak tadi tertahan gara-gara aksi paniknya.
"Hah? Jana?" Meira mengernyitkan dahinya.
"Iya, anak Nyonya! Jana, kan?" tanya Sri meyakinkan.
"Jane! Jane datang?! Lalu kenapa tidak kau suruh masuk!" Meira buru-buru berjalan ke depan pintu utama rumah itu. Sedangkan Sri mengekor di belakang.
"Anu, Nyonya, tadi saya panik. Jadi saya tutup lagi pintunya. Bahkan tadi saya banting, Nyonya. Tapi pintunya tidak rusak, jangan potong gaji saya, Nyonya."
"Astaga, Sri! Bagaimana kau bisa membanting pintu di depan wajah Jane? Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau dia berpikir tidak diterima di rumah ini? Bagaimana kalau dia pergi?" Segala pikiran buruk kini menghampiri Meira.
"Maaf, Nyonya. Nanti kalau Nona Muda pergi kita kejar saja!" Sri memberi saran yang seharusnya tidak ia katakan. Karena itu sama sekali tidak membantu.
Sri mulai menyalahkan dirinya sendiri. Betapa ia sangat bodoh tadi saat pertama kali Jane datang. Ia menanyakan siapa Jane, dan darimana asalnya. Ia bahkan menyuruh Jane pergi jika dia seorang sales karena membawa koper. Mana ia tahu kalau isinya baju-baju Jane? Begitu pikirnya.
"Saya salah, Nyonya. Tadi Nona Muda sempat saya usir karena saya kira sales. Maafkan saya, Nyonya."
Ah, lebih baik ia mengakuinya sekarang daripada Jane yang mengadu nantinya.
Meira sudah tidak mampu lagi menjawab. Bahkan kini ia setengah berlari menuju pintu utama yang entah kenapa terasa sangat jauh.
Saat ia sudah mencapai pintu utama, ia langsung membuka pintu dan ternyata tidak ada siapapun.
"Mana? Mana Jane?" tanya Meira sambil celingukan mencari keberadaan Jane. Ia semakin panik saat melihat gerbang rumahnya terbuka. Ia pikir Jane sudah pergi..
"Tidak! Tidak! Jane!" Meira menangis kencang sambil memanggil nama Jane. Ia bahkan jatuh berlutut meratapi penyesalannya. Mengapa tadi ia tidak berlari saja? Beberapa detik yang terlewat tadi sangat berharga, bukan?
Sri juga ikut menangis. Ia juga berlutut di samping Meira yang masih menangis. Satpam yang berjaga di pintu gerbang rumah terheran-heran melihat majikan dan pelayan itu. Ia ingin menghampiri, tapi itu bukan ranahnya.
"Sabar, ya, Nyonya! Kita akan cari sama-sama," ucap Sri sambil mengusap punggung Meira.
"Sri! Kenapa kau bodoh sekali!" Meira mengguncang tubuh Sri hingga wanita muda itu hampir terjatuh. Namun seketika, Sri yang baru teringat akan satu hal pun sadar akan sesuatu.
"Nyonya, Nona Muda masih ada di sini. Mari ikut saya!" Sri berdiri, lalu menarik tangan Meira agar ikut berdiri juga.
Setelah itu, Sri membimbing Meira ke arah taman belakang rumah tersebut. Mereka berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas.
Saat tiba di sana, mereka pun melihat Jane sedang membantu tukang kebun menyiram bunga, sama seperti kebiasaannya dulu. Meira merasa kesal pada Sri. Padahal, ruangan tempat ia menonton tadi sangat dekat dengan taman belakang rumah tersebut. Tapi karena ulah Sri, ia terpaksa berjalan memutar, bahkan tadi sempat menangis seperti orang gila.
"Jane!" Meira memanggil Jane sambil berjalan ke arahnya.
"Ibu!" Jane juga mendatangi Meira dan mereka pun berpelukan.
"Jane, anakku! Akhirnya kau kembali, Nak." Meira mencium kening Jane berulang kali. Memastikan ini bukanlah mimpi. Jane yang ia rindukan benar-benar pulang ke rumah itu.
Setelah bertangis-tangisan, mereka pun masuk ke dalam rumah dan mengobrol di ruang keluarga.
"Bu, maafkan aku karena lama meninggalkan dirimu. Aku sangat takut dengan Tuan Rafael makanya aku menghilang."
Jane menatap lekat ibunya yang semakin menua sejak ia tinggal lima tahun yang lalu.
"Ibu juga minta maaf, Nak, karena menjodohkan mu dengannya. Tapi, bagaimana kau bisa memiliki keberanian untuk pulang?"
"Beberapa waktu lalu, aku bertemu Rafael di Amerika. Dia berkata padaku untuk tidak takut dan pulang saja. Tapi, benarkah Shena dibuang ke tempat terpencil, Bu? Dan dari hasil konferensi pers Rafael, dia diculik lima tahun yang lalu, meninggalkan seorang anak?" tanya Meira dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Ya, Nak. Dia dibuang karena Tuan Rafael merasa tertipu. Tapi, beliau sempat ke sini dan mengetahui semuanya. Namun, saat dia menjemput Shena, ternyata dia telah diculik dan anaknya hampir dibunuh." Meira menyeka air matanya yang mulai membasahi pipinya.
"Semoga Shena baik-baik saja, ya, Bu. Aku yakin dia masih hidup. Pasti Rafael bisa menemukannya. Aku ingin sekali melihat anaknya. Tapi aku takut pada Tuan Rafael." Jane menatap sedih. Dengan melihat Ansel, setidaknya bisa mengobati kerinduannya pada Shena.
"Ibu juga ingin melihatnya, Nak. Tapi Tuan Rafael sudah mengultimatum Ibu dan ayah agar tidak ke sana. Karena, kami lah penyebab Shena dibenci olehnya."
"Ya Allah, Shena." Jane memeluk ibunya, dan mereka pun menumpahkan kesedihan di sore itu.
"Jane, apa kau akan menetap di sini?" tanya Meira dengan harap-harap cemas.
"Ya, Bu. Tapi, sesekali aku harus kembali ke Amerika karena di sana, aku sudah menjalankan bisnis dari hasil kiriman ayah dan ibu serta aku yang bekerja di sana."
"Anak Ibu sangat hebat! Dimanapun kau berada, pasti kau selalu bisa mandiri. Kami bangga padamu." Meira memeluk Jane dengan sangat erat. Bangga, rindu, senang, sedih, bercampur menjadi satu.
Hingga saat Brama pulang, ia juga dikejutkan oleh kedatangan anak kandung yang selama ini selalu ia rindukan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, mereka pun makan malam bersama.
Meski sesekali wajah Jane menjadi sedih saat mengingat Shena, tetapi sang ibu menghiburnya dengan mengatakan, "Rafael adalah orang yang sangat hebat. Dia pasti akan segera menemukan Shena."