Rafael dan Ansel sedang duduk santai di taman belakang rumah mereka. Minggu pagi memang waktu yang cocok untuk bersantai bersama. Biasanya, hari Minggu Rafael gunakan untuk bermain golf bersama relasinya. Namun, sekarang ia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama anaknya.
"Ayah, CEO itu apa?" tanya Ansel tiba-tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Rafael heran.
"Aku melihat foto Ayah dengan tulisan CEO di bawahnya."
"CEO itu singkatan dari chief executive officer. CEO memegang posisi tertinggi dari suatu perusahaan. Mereka bertanggung jawab untuk membuat keputusan demi keberlangsungan perusahaan."
"Oh, apa syarat menjadi CEO?" Ansel seperti tertarik dengan istilah CEO yang kemarin sempat ia cari di internet melalui komputernya, karena Rafael belum memberikannya ponsel.
"Syaratnya, kau harus rajin belajar sampai pintar!" Rafael mengusap kepala Ansel dengan gemas. Anak seusia Ansel yang pada umumnya hanya memikirkan bermain, malah memikirkan masa depan. Lucu sekali.
"Oh, kalau begitu, aku akan rajin belajar agar bisa menjadi CEO dan membawa Aruna ke sini."
"Sepertinya kau sangat menyayangi Aruna."
"Ya, Ayah, aku sangat menyayanginya. Jika besar nanti, aku akan datang kepadanya dan menikah dengannya."
Rafael tertegun dengan ucapan Ansel.
"Menikah? Bukankah dia adikmu?" tanyanya heran.
"Kata Paman Mark, jika tidak satu ayah dan ibu, juga tidak sepersusuan, maka boleh menikah."
Rafael melirik Mark yang tak jauh dari mereka. Terlihat Mark hanya diam sambil menatap lurus ke depan.
'Apa yang kau ajarkan pada Ansel, Mark?' batinnya kesal.
"Kenapa Paman Mark berkata begitu? Memangnya kau menanyakan apa padanya?"
"Aku kemarin bertanya, bagaimana kalau saat besar nanti, aku dan Aruna tinggal bersama dengan Ayah. Dia menjawab laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh tinggal satu rumah."
"Lalu?"
"Lalu aku tanya, aku harus bagaimana supaya Aruna bisa tinggal bersamaku nantinya. Kata Paman Mark, aku hanya perlu menikah dengannya. Karena aku dan Aruna tidak satu ayah dan ibu, juga tidak satu ASI atau sepersusuan." Ansel menjelaskan ilmu yang didapatnya dari Mark.
"Kau memang sangat cepat tanggap, ya. Tapi, kau masih kecil, tidak perlu memikirkan hal itu." Rafael berusaha menghentikan pembahasan yang belum layak dimengerti Ansel.
"Ayah, Bagaimana? Apakah Aruna sudah bisa dihubungi? Aku rindu," ucap Ansel dengan mimik wajah sedih.
"Maaf, Nak, jaringan di sana sering terganggu karena sering ada badai. Musim penghujan di sana sangat berpotensi badai," jelas Rafael.
"Aku sangat merindukannya, Ayah."
"Iya, Nak, ketika cuaca di sana sudah stabil, dan jaringan sudah normal, Ayah akan menghubungi mereka."
"Terima kasih, Ayah. Untung saja aku punya Ayah yang selalu mengabulkan keinginan ku. Aku sangat beruntung memiliki Ayah yang sayang padaku." Ansel memeluk Rafael.
Rafael tersenyum melihat betapa manisnya sikap Ansel sekarang. "Ayah juga beruntung memiliki anak dengan pikiran yang cerdas seperti dirimu. Kecerdasanmu sama seperti ibumu."
"Berarti aku menuruni kecerdasan ibu, ya, Ayah. Lalu, Ibu menurun dari siapa, Yah? Nenek atau Kakek?"
"Dari Kakek."
"Hmmm, sayang sekali Kakek sudah tidak ada. Kalau masih ada, pasti setidaknya bisa mengobati kerinduanku pada Ibu," ucap Ansel lirih.
Rafael hanya tersenyum menatap Ansel. Berkali kali ia mengusap pipi lembut Ansel.
Namun, seketika ia teringat akan ucapan Ansel tadi. Kakek? Maksudnya Ayah Shena? Kenapa ia baru terpikir sekarang?
Ia pun segera meminta Mark menemuinya di ruang kerjanya. Sedangkan Ansel ditemani oleh pengawal yang lain.
"Mark, menurutmu kenapa Shena diculik?" tanya Rafael setibanya di ruang kerjanya.
Mark mencoba berpikir. "Sepertinya ini masalah dendam. Mana mungkin ada yang repot-repot datang ke desa terpencil hanya untuk menculik Nona Shena tanpa adanya motif tersembunyi."
"Kau benar. Jika Shena di culik di desa yang sangat jauh seperti itu, artinya mereka memang mengincar Shena sejak lama, namun baru punya kesempatan saat dia benar-benar sendiri." Rafael sepemikiran dengan Mark.
"Benar, Tuan, pasti Nona Shena adalah orang yang penting bagi si penculik. Dan mereka bahkan mencoba melenyapkan Tuan Ansel di malam penculikan Nona Shena. Artinya, hanya Nona Shena yang diincar."
"Mark, bisakah kau jelaskan mengapa ayah Shena meninggal? Tepatnya kapan, dimana, dan kenapa?"
Mark segera membuka ponselnya. "Menurut berita yang ada, Ayah Nona Shena meninggal beberapa minggu sebelum proyek baru yang sedang dikerjakannya selesai. Dan karena beliau meninggal, proyek itu terhenti karena kode sandinya sangat rumit dan hanya beliau yang tahu cara membukanya. Sampai sekarang, kode sandi itu sedang dipecahkan oleh beberapa ahli."
"Proyek apa?"
"Membuat sistem keamanan untuk perusahaan yang sangat besar di dalam negeri. Anda tahu ZXC Group, kan? Perusahaan besar yang cabangnya ada dimana-mana. Perusahaan itulah yang dulu mempekerjakan Tuan Sharif. Beliau dipercaya menangani proyek tersebut karena dianggap paling layak."
"Dan penyebab meninggalnya?"
"Saat Nona Shena berusia lima tahun, ayahnya yang bernama Tuan Sharif ditemukan meninggal. Beliau menabrak sisi jembatan yang terdapat laut di bawahnya. Beliau tenggelam bersama mobilnya."
"Kenapa sampai menabrak sisi jembatan?"
"Tidak banyak yang tahu, Tuan, karena kecelakaan itu terjadi di malam hari. Beberapa saksi mengatakan beliau mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Saat di otopsi, ternyata beliau memang menyetir dalam keadaan mabuk."
"Menurutmu, kenapa kode sandi proyek yang sedang dikerjakan ayah mertua sampai tidak terpecahkan sampai sekarang? Maksudku, apakah dia tidak punya asisten atau orang kepercayaannya?"
"Tidak, Tuan, berdasarkan informasi yang ada, beliau memang bekerja sendiri selama berbulan-bulan. Lebih tepatnya, beliau tidak mempercayai siapapun mengetahuinya sampai proyek itu benar-benar selesai."
"Dari sini, sepertinya aku bisa menyimpulkan sedikit. Ayah mertua sengaja dibunuh oleh musuh dari perusahaan tersebut. Kemungkinan Shena diculik karena dianggap bisa memecahkan kode sandi tersebut. Mereka tidak ingin Shena membuat proyek itu selesai." Begitulah pendapat Rafael.
"Ya, Tuan, bisa jadi seperti itu. Tapi, bagaimana cara kita menangkap pelakunya? Sedangkan kasus sudah ditutup karena dianggap murni kecelakaan karena kelalaian pengendara yang mengemudi saat mabuk."
"Pertama, kita harus mencari tahu siapa saja musuh dari perusahaan tersebut. Kita akan melakukan penyelidikan satu persatu. Kerahkan detektif kepercayaan kita untuk menanganinya. Biarkan dia bekerja sendiri. Semakin sedikit yang tahu, itu lebih baik."
"Baik, Tuan." Mark pun segera mohon diri untuk melaksanakan tugasnya.
Rafael menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Mengapa baru sekarang dia teringat ayah Shena? Itupun karena Ansel yang mengatakannya. Ah, anak itu memang pemecahan masalah Rafael.
Suara pintu diketuk pun terdengar.
"Ayah, apa Ayah di dalam?"
Rafael segera membuka pintu dan terlihatlah Ansel di sana.
"Ya, Nak, ada apa?" tanya Rafael sambil berlutut agar posisinya sejajar dengan Ansel.
"Ayah, apakah aku boleh meminta lebih banyak cat air? Aku ingin melukis lagi," ujar Ansel.
"Apapun pasti kau dapatkan, Nak. Katakan pada Ayah, mau berapa banyak cat air yang kau butuhkan."
"Ini, Yah, aku ingin semua warna ini." Ansel menunjukkan sebuah kertas dengan banyak contoh warna di atasnya.
"Baiklah, sekarang minta pada kepala pelayan untuk menyiapkan semuanya. Ayah ingat sepertinya semua warna itu ada di ruang tempat penyimpanan di lantai bawah."
"Baik, Ayah, aku akan memintanya menemaniku." Ansel pun langsung pergi menemui sang kepala pelayan untuk menemaninya mengambil cat air di ruang penyimpanan.