Teka teki

1273 Kata
Setibanya di sana, Ansel juga ikut masuk dan melihat-lihat isi dari ruangan tersebut. Tempatnya bersih, karena memang selalu dibersihkan. Ia melihat sekeliling yang terdapat barang-barang yang mungkin jarang digunakan ayahnya. Matanya menyapu ruangan tersebut hingga akhirnya ia melihat sebuah tas kecil berwarna mereka yang terletak di antara tumpukan buku. Ia pun mendekatinya, namun bukan untuk melihat tas tersebut, melainkan buku yang ada di dekatnya. Ia melihat buku-buku tersebut adalah buku tentang menjadi orang yang baik. "Kenapa Ayah menyimpan buku sebagus ini? Ini harusnya dibaca." Ansel mengambil buku tersebut. Namun, karena tidak hati-hati, tanpa sengaja ia menjatuhkan tas merah tadi. Ia segera memungut tas tersebut. Namun, ternyata kancingnya sudah rusak sehingga membuat isinya berhamburan. Ansel segera memungut isi tas tersebut. Tangannya terhenti saat ia melihat sebuah foto seorang anak berusia lima tahun dengan seorang pria seusia ayahnya. "Ini siapa?" gumamnya pelan. Ia pun melihat belakang foto itu yang bertuliskan nama Sharif dan Shena. "Setahuku nama Shena adalah nama Ibu. Lalu, apakah ini Kakek?" gumamnya pelan. Ia masih meneliti foto tersebut. Seakan tidak puas, ia pun mencoba melihatnya dari dekat dan menemukan beberapa bagian foto yang tidak tembus pandang. Dengan perlahan, ia memisahkan bagian depan dan belakang foto itu hingga terlihatlah beberapa tulisan yang seperti teka teki itu. "Yang tersembunyi dalam dirimu, namun diketahui orang lain jika kau terluka. Hal yang tak pernah bisa kau hitung, dan laut adalah saksinya. Jika kau pernah melihat matahari, maka matamu akan buta. Kau pernah merasa lemah, tapi kau tetap tersenyum. Jika aku adalah warna, maka kau adalah gula." Itulah beberapa kalimat yang dibaca Ansel. "Hah? Apa maksudnya?" Ansel semakin tidak mengerti. "Tuan, saya sudah mendapatkan warnanya, ayo," ajak sang kepala pelayan. Ansel yang takjub melihat banyak sekali cat air lantas membawa foto tersebut. Ia menyatukan kembali lembaran foto tadi, dan memasukkannya ke dalam lembaran buku. Ia membawa buku tersebut untuk diletakkan di kamarnya, tepatnya di atas nakas. Namun, ia menaruhnya tidak hati-hati sehingga membuat buku bergoyang karena tidak seimbang. Setengah ada di atas nakas, setengahnya lagi berada di atas angin. Ansel pun berlari keluar untuk melukis dengan cat airnya barunya. Bukunya akhirnya jatuh dengan posisi terbuka. Membuat foto yang ia temukan jatuh ke lantai. Tak berselang lama, pelayan kebersihan datang membawa penyedot debu. Ia mengambil buku Ansel dan meletakkannya ke atas nakas, namun foto tersebut malah jatuh tepat di dekat penyedot debu yang menyala sehingga menyebabkan foto tadi tersedot tanpa dilihat oleh sang pelayan. Beberapa jam kemudian, Ansel kembali ke kamarnya. Ia mengambil buku yang tadi ia temukan di ruang penyimpanan. Namun, setelah dibolak balik, ia tidak menemukan foto ibu dan kakeknya. "Kemana foto itu? Apa hilang? Apa aku menjatuhkannya?" Ansel masih mencari-cari foto tersebut bahkan sampai ke kolong meja belajarnya. "Tuan, sedang apa?" tanya sang kepala pelayan. "Aku sedang mencari foto yang tadi aku letakkan di dalam buku ini," ucap Ansel sambil menunjukkan bukunya. "Memangnya foto apa, Tuan?" "Foto Kakek dan Ibuku," sahut Ansel. "Oh, kalau itu, saya bisa mencetaknya untuk Tuan. Ada banyak foto Nona Shena, juga dengan Kakek." Jelas saja, hal itu karena Rafael pernah meminta file foto Shena kecil bersama ayahnya dari Meira dan Brama beberapa waktu lalu. "Benarkah?" tanya Ansel dengan mata berbinar-binar. "Ya, benar, mari kita cetak fotonya, Tuan. Ada banyak sekali." Mereka pun segera pergi ke suatu ruangan untuk mencetak foto yang Ansel inginkan. "Darimana Bibi mendapatkannya?" tanya Ansel sambil menuruni anak tangga bersama sang kepala pelayan. "Bibi dari Ibu Tuan yang memberikannya." "Bibi? Kalau Bibi dari ibu, berarti aku memanggilnya nenek?" "Ya, Tuan." "Bolehkah aku bertemu dengan mereka?" tanya Ansel penuh harap. "Maafkan saya, Tuan. Sepertinya tidak bisa. Tuan Rafael melarangnya. Ini semua demi keselamatan Tuan sendiri. Tentu Tuan tidak ingin melihat Tuan Rafael khawatir, bukan?" "Hmm, ya, maaf, seharusnya aku tidak mengatakannya." Sang kepala pelayan hanya mengangguk perlahan sembari tersenyum. "Tuan, ini fotonya," ucap sang kepala pelayan sambil menyerahkan selembar foto yang sudah diberi bingkai cantik pada Ansel. Ansel tersenyum senang. Ia langsung pergi ke kamarnya, kemudian meletakkan bingkai foto itu di atas meja belajarnya. Tepatnya di samping foto Rafael dan Shena saat menikah dulu. "Ibu memang cantik." Ansel mengusap wajah ibunya yang ada di dalam foto bersama kakeknya. "Sejak kecil ibu memang cantik. Semoga, dimanapun ibu berada, ibu tetap sehat. Dan Kakek, semoga kakek bahagia di alam sana." Memeluk foto tersebut dengan erat diselingi air mata. Betapa ia merindukan kehangatan dari seorang ibu yang tak pernah ia ketahui sampai sekarang. Hanya sekadar foto, itu tidak cukup untuk melepaskan kerinduan yang membelenggu. *** "Nona Celine, makan malam sudah siap," ucap seorang pelayan sambil mengetuk pintu kamar Celine. Celine pun keluar dari kamarnya menuju meja makan. Betapa terkejutnya ia saat melihat kedua orang tuanya yang selama ini ada di luar negeri tiba-tiba saja sudah ada di ruang makan. Celine sampai mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. "Ayah, Ibu." Celine mendatangi mereka dan memeluk secara bergantian. Sang ayah bernama Michael, sedangkan ibunya bernama Reine. "Apa kami harus datang ke sini, baru bisa bertemu denganmu? Mengapa kau tidak pernah mengunjungi kami?" tanya Reine dengan tatapan kesal. "Maaf, Bu, aku sangat sibuk." "Oh, jadi karirmu lebih penting daripada orang tuamu?" Kini Reine berkacak pinggang. "Tidak, Bu, hanya saja aku sedang ada masalah. Kalian pasti sudah dengar kan kalau Rafael dan aku sudah putus karena dia memiliki anak dan istri?" "Ya, maka dari itu kami kesini. Bagaimana kau bisa kalah dengan wanita yang tidak jelas masih hidup atau tidak. Mengapa kau tidak bertahan dengannya? Kalau kau tidak jadi menikah dengannya, otomatis ayahmu tidak akan mendapatkan uang darinya." Reine menatap Michael yang langsung mendapatkan anggukan. "Rafael tidak mencintaiku, Bu. Lagipula, aku tidak suka anak-anak!" "Soal anak itu tidak masalah selagi kau punya banyak pelayan. Anak hanya sebagai status saja." "Ya, tapi Rafael mencintai istrinya, Bu. Dia tidak akan pernah menerimaku." "Lalu, sekarang bagaimana? Ayah sedang butuh uang untuk perusahaannya!" "Sudah cukup, Bu! Apa tidak puas selama ini kalian terus mengatur hidupku? Dulu, saat aku terpaksa menjual tubuhku demi melunasi hutang ayah yang kabur, kalian kemana? Kalian pergi meninggalkan aku seorang diri. Aku tahu aku anak angkat, tapi bukan begini cara kalian memperlakukan aku!" Kini Celine berteriak lantang pada kedua orang tuanya. Mereka memang orang tua angkat Celine setelah orang tua kandungnya meninggal dalam kecelakaan kapal yang tenggelam di laut. "Kami memang salah, dan kami sudah meminta maaf. Apa itu belum cukup? Kami sudah membesarkanmu seperti anak kandung, wajar saja kalau kau membalas jasa kami! "Oh, jadi kalian mengungkit, begitu? Apa kalian tahu, secara tidak langsung, kalian telah menghancurkan hidupku! Kalau saja aku tidak menjual diri saat itu, pasti saat ini aku tengah berbahagia dengan Haris!" "Haris? Kau mengharapkan pria miskin itu? Untuk apa, Celine? Dia hanya akan membebanimu. Ya, untungnya dia sudah meninggal, jadi Ibu tidak perlu repot-repot menyingkirkan dirinya!" Celine tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Sebaiknya kalian pergi saja! Aku sudah tidak berselera makan! Jika Ayah kekurangan uang, aku bisa menjual diriku lagi nanti!" Celine menatap sinis, lalu kembali ke dalam kamarnya. Ia menangis di atas ranjang. Betapa ia meratapi penyesalannya saat ini. Harusnya ia tengah berbahagia dengan Haris dan terbebas dari orang tua angkatnya yang gila harta. Seketika ia teringat akan pesan dari orang misterius. Ia pun mengaktifkan ponselnya, dan benar saja, sang penelepon misterius menghubunginya. "Halo, ya, aku mau bekerja sama menyingkirkan anak itu. Tapi, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?" "Tentu saja, apa yang kau inginkan." "Buat supaya orang tua angkat ku tidak menginjakkan kaki mereka di sini lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Dan,,,, pertemukan aku dengan Haris setelah misi selesai." "Baik, akan aku lakukan malam ini juga." Setelah itu Celine pun menutup panggilan sambil menatap tajam ke sembarang arah. Untuk apa ia tetap menjadi orang baik, jika pada akhirnya ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN