Hukuman

1002 Kata
Setelah selesai, ia melihat sprei yang tidak ada bercak darah. Hal itu menandakan bahwa Shena sudah tidak suci lagi. Wajahnya seketika berubah merah padam. Terlihat jelas amarah yang siap ia ledakkan saat itu juga. Rafael bangkit dari ranjang, lalu mengenakan handuknya. Kini ia menatap Shena dengan tatapan begitu tajam dan menusuk. “Bagaimana bisa kau tidak suci lagi. Dasar w************n!” "Tu, Tuan, saya bisa jelaskan," ucap Shena dengan bibir bergetar. Tanpa menunggu jawaban Shena, Rafael langsung menarik Shena ke dalam kamar mandi dan menjatuhkannya ke dalam bathtub secara kasar hingga menyisakan rasa sakit saat tubuhnya menghantam bathub yang keras. Rafael lantas mengambil shower, memegangi kedua tangan Shena dengan satu tangannya, lalu tangan satunya mengguyur Shena di bagian wajahnya dengan air dingin hingga hidung Shena beberapa kali kemasukan air hingga membuatnya kesulitan bernafas. Rafael mematikan shower. Shena terbatuk-batuk akibat air yang masuk ke dalam saluran pernafasannya. Tenggorokan dan hidungnya terasa begitu sakit. Bahkan kini hidungnya terlihat memerah. Rafael membuang shower ke sembarang arah. Kini ia berjongkok di depan Shena. "Kau begitu sangat menghina ku. Dirimu yang tidak memiliki daya tarik saja sudah jadi nilai minus bagiku, dan sekarang aku harus mempunyai istri yang sudah tidak suci lagi. Jika saja aku tidak terpaksa, sudah aku buang kau ke jalanan!" Melotot tajam, membuat Shena hanya menunduk takut dan menangis sambil bergetar ketakutan. "Sekarang katakan padaku, seberapa murahannya dirimu? Berapa pria yang sudah meniduri dirimu? Satu, tiga, sepuluh, seratus, atau seribu?" Shena hanya menunduk dan menangis. Hal itu membuat Rafael semakin marah. Ia pun memegang dagu Shena erat-erat dan mengangkatnya sedikit dan lebih dekat dengan wajahnya. "Jika aku bertanya, maka kau harus menjawab!!!" Bentakan Rafael pun memenuhi ruang kamar mandi tersebut. Membuat Shena semakin ketakutan dan menangis. Rafael semakin murka. Ia lantas mengambil kembali shower dan mengarahkan ke wajah Shena. "Katakan, atau aku akan menyiram wajahmu dengan air panas hingga wajah tidak menarik mu ini akan melepuh hingga kau akan semakin terlihat menjijikkan!" Berkata pelan, namun dengan penekanan yang membuat nada ucapannya terdengar mengerikan. "Sa,,,,saya tidak tahu, Tuan." "Apa maksudmu tidak tahu, dasar w************n!" Rafael membanting shower ke lantai dan berdiri. "Bagaimana? Enak bukan? Katakan seperti apa para pria yang telah menidurimu? Apa mereka juga murahan seperti mu?" "Tu,,Tuan, saya benar-benar, tidak tahu! Saya tidur pada malam hari, dan keesokan paginya, saya terbangun di sebuah hotel tanpa pakaian." Akhirnya Shena mengungkapkan kebenarannya. "Hahaha, kau kira aku percaya dengan cerita klasik seperti itu? Kau ini sudah murahan, ternyata otakmu licik juga, ya, dasar murahan!” Shena hanya meringkuk di dalam bathtub sambil menangis. Ia pun bangkit dari posisinya, lalu melakukan mandi junub. Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai baju mandi saja. Ia bingung karena tidak membawa apapun dari rumahnya karena larangan paman dan bibinya. Rafael sudah memakai baju yang lengkap sambil duduk di atas sofa kamar tersebut. Sepertinya ia sudah mandi di kamar mandi lain di kamar tersebut. Pandangannya langsung menjurus ke Shena yang hanya diam mematung. Tatapan yang begitu tajam dan menakutkan. Membuat Shena langsung menundukkan wajahnya ke lantai. Melihat kedua kakinya yang berjejer rapi, berharap orang yang ada di depannya menghilang seketika entah terbawa angin topan atau diculik hantu. Ahz pemikiran macam apa itu? “Cih, dasar wanita menjijikkan, berani sekali kau menunjukkan wajah dan tubuhmu yang menjijikkan itu.” Rafael langsung membuang muka saat itu juga. “Maafkan saya, Tuan.” Shena masih menunduk. “Karena kau sudah membuat aku kecewa, maka aku akan menghancurkan keluarga mu saja.” Rafael melakukan panggilan pada seseorang. “Hancurkan keluarga Brama! Buat mereka semua menggelandang di jalanan, terutama putri mereka. Dia sudah benar-benar menipuku!” Mendengar ucapan Rafael, Shena langsung berlutut di kaki Rafael. “Tuan, saya mohon, jangan apa-apakan keluarga saya. Jangan sakiti Jane! Saya mohon, Tuan.” “Minggir kau gadis bodoh!” Rafael mendorong tubuh Shena hingga ia terjungkal ke lantai. “Jangan kotori kakiku dengan tubuh menjijikkan mu itu!” Berdiri dan menatap tajam pada Shena. “Saya mohon, Tuan, jangan hancurkan keluarga saya. Saya akan lakukan apapun untuk Tuan.” Shena kini menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon belas kasih dari Rafael. “Apapun?” tanya Rafael dengan tatapan menusuk. “A-apapun, Tuan.” Shena ragu akan ucapannya, namun ia tidak bisa menariknya kembali. Bagaimana mungkin? Yang ia hadapi saat ini adalah Rafael Smith, seorang CEO kejam yang ucapannya tidak pernah ditarik. Segala yang ia ucapkan adalah suatu hal yang lumrah dan harus dilakukan. “Kalau begitu, aku ingin kau menari tanpa sehelai baju di halaman rumah ini besok siang, apa kau mau?” Tersenyum sinis. “Tuan, saya tidak mungkin melakukan hal itu, saya mohon, Tuan, kasihanilah keluarga saya. Tuan boleh menyiksa saya, tapi jangan apa-apakan keluarga saya.” “Aku pasti akan menyiksamu, tapi nanti, ketika harta warisan telah jatuh ke tanganku, maka aku akan langsung membuang mu.” Shena tertegun mendengar ucapan Rafael yang ia yakin bukan hanya sebuah ancaman. “Dua hari lagi, kita akan bertemu dengan nenekku. Ini catatan yang harus kau pelajari. Berisi ucapan yang harus dan tidak boleh kau katakan saat bertemu nanti. Jika kau melakukan kesalahan sedikit saja, maka aku akan mematahkan kakimu, mengerti?” “Sa,,,saya mengerti, Tuan." Shena mengangguk dan tetap berdiri di tempatnya. Rafael bangkit dari sofanya, mendekati Shena, lalu menarik handuk yang melilit rambutnya. Shena meringis kesakitan kala merasakan sakit karena tarikan Rafael membuat beberapa helai rambutnya tercabut bersama handuk tadi. Tak hanya itu, Rafael kini menarik rambut Shena ke belakang hingga membuat kepalanya menghadap ke langit-langit kamar. "Satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku merasa sangat terhina oleh dirimu. Akan aku pastikan kau menderita di tempat aku akan membuang mu. Bahkan aku tidak akan membiarkan kau keluar dari tempat itu!" "Aahh, sakit, Tuan, maafkan saya." Shena meringis kesakitan sambil terus memegangi rambutnya Rafael melepaskan rambut Shena dengan kasar. Ia pun segera pergi dari kamarnya. Shena jatuh terduduk sambil menangis meratapi nasibnya nanti. Ia akan dibuang di tempat terpencil? Apa ia akan sanggup menerima hukuman itu? Tapi, ia juga takut jika sampai Rafael melukai Jane. Hanya Jane yang menyayanginya, ia tidak mungkin membiarkan Jane menderita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN