Keesokan harinya, Shena dibawa ke sebuah villa mewah milik Rafael. Mereka akan melangsungkan pernikahan di rumah tersebut. Rafael memilih di sana karena tidak ingin terekspos oleh media.
Sesampainya di sana, Shena turun dengan ditemani paman dan bibinya. Ia mengenakan pakaian pengantin yang indah, namun raut wajahnya begitu redup, memancarkan kesedihan yang mendalam.
Rafael sudah berada di sana dengan setelan jas mahal miliknya. Ia menatap Shena dan menganalisa gadis itu.
“Bagaimana bisa kalian membawa gadis seperti ini, ha? Dia tidak menarik sama sekali!” Bentakan Rafael langsung membungkam semua yang ada di sana. Mereka menunduk takut tak terkecuali Shena yang kini gemetaran. Benar kata Rafael, dirinya memang tidak memiliki daya tarik. Berbeda dengan Jane yang sangat cantik dan seksi. Ya, itu karena sejak kecil orang tua Jane memperlakukan Jane dengan baik.
“Tuan, maafkan kami. Hanya ini yang bisa kami upayakan.” Brama berlutut di depan Rafael, diikuti istrinya, Meira.
“Aku tidak butuh permohonan maaf dari kalian! Kalian sudah merendahkan aku dengan membawa wanita seperti ini!” Rafael menunjuk Shena dengan tangannya sembari menatap tajam.
“Tuan, ampuni kami, Tuan.” Brama kembali memelas.
Ponsel Rafael bergetar. Ia langsung memeriksa ponsel tersebut dan ternyata ada sebuah pesan. Rafael yang semula marah, tiba-tiba saja menjadi terpaku beberapa saat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Sudah, cepat! Laksanakan pernikahan ini!”
Rafael pergi ke tempat yang sudah disediakan untuknya dan Shena.
Brama dan Meira mengucap syukur. Mereka kira ini adalah akhir dari segalanya, tapi ternyata Rafael berubah pikiran dan langsung menyetujui pernikahan ini.
Brama menjadi wali nikah Shena dan kata Sah pun terdengar.
Hari ini, Shena dan Rafael akhirnya menikah secara agama saja.
Setelah itu, Brama dan Meira pun segera pulang dengan membawa sertifikat dan surat-surat penting perusahaan mereka yang selama ini menjadi jaminan hutang pada Rafael.
Suasana sudah sepi. Tinggallah Shena yang masih terduduk di tempatnya. Ia meremas gaun pernikahannya dengan tangan yang masih bergetar.
Rafael masih mengamati dirinya. Ia masih mencari sisi yang menarik dari diri Shena. Namun, seberapa keras ia mencari, tetap saja, Shena sama sekali tidak menarik baginya.
“Hei, kau! Kemarilah!” titah Rafael.
Cepat-cepat Shena mendatangi Rafael dan menunduk setelah berhadapan dengannya.
“Angkat wajahmu!”
Perlahan Shena langsung mengangkat wajahnya. Ia semakin takut saat melihat tatapan mematikan dari Rafael.
“Kau sama sekali tidak menarik. Tapi aku terpaksa menikahi mu demi misiku. Dan ketika aku sudah mencapai tujuan ku, maka aku akan langsung membuang mu!”
Shena hanya diam dan mengangguk.
“Jawab!!”
“Sa-saya mengerti, Tuan.”
“Sekarang ikuti aku.” Rafael melangkah menuju sebuah lift diikuti Shena yang mengekor di belakangnya.
Namun, saat Shena sudah masuk, Rafael malah menghalanginya masuk.
“Jangan kotori lift ini dengan keberadaanmu di dalam. Naik tangga, dan temukan lantai mana yang akan aku tuju.”
Rafael pun menutup lift. Shena langsung bergegas ke lantai yang ada di rumah itu. Semua ada tiga lantai. Jadi ia yakin bahwa Rafael ada di lantai tiga.
Ia menaiki satu persatu anak tangga hingga kakinya terasa sangat lemas. Ketika sampai di lantai tiga, yang ada hanyalah ruangan luas dengan beberapa sofa yang diyakini untuk bersantai.
“Sepertinya aku salah lantai.” Shena pun kembali ke lantai dua. Di sana banyak terdapat ruangan, tetapi ia tidak menemukan Rafael meski sudah menelusuri ruangan satu persatu.
Shena pun kembali ke lantai satu. Namun, ketika ia sudah menuruni anak tangga, tanpa sengaja, kakinya terpeleset dan menyebabkan ia jatuh dari tiga anak tangga terakhir. Ia merasakan nyeri di bagian kaki dan tangannya. Ia segera bangkit dan melihat di sana ada seorang pria yang sedang duduk sambil tersenyum mengejek melihatnya yang sedang meringis.
Ternyata Rafael masih ada di lantai satu. Ia berdiri membelakangi Shena.
Ia menoleh ke arah Shena. “Bagaimana perjalananmu hari ini? Melelahkan?” tanyanya dengan masih tersenyum mengejek.
“Maafkan saya, Tuan, saya tidak tahu jika Tuan kembali ke sini.” Shena berjalan tertatih-tatih menghampiri Rafael yang memanggil dirinya dengan isyarat tangan.
“Sekarang pergilah ke kamar yang menurutmu adalah kamarku,” ucap Rafael.
Shena tampak bingung. Ia melihat sekeliling, begitu banyak ruang-ruang di sana. Namun ia melihat sebuah ruangan yang tidak diberi cahaya alias gelap gulita. Ia memberanikan diri melangkah ke ruangan tersebut, menghidupkan lampu agar dapat melihat dengan jelas. Dan benar saja, di sana terdapat sebuah pintu yang sangat besar dan terlihat mewah. Ia lantas kembali ke hadapan Rafael untuk memberi laporan.
“Tuan, kamar Anda ada di sana,” ucap Shena sambil menunjuk ruangan tadi.
“Mengapa kau yakin bahwa itu adalah kamar ku?”
“Ruangan itu gelap, Tuan. Terdapat pintu yang sangat mewah untuk berada di lantai dasar.”
“Pemikiranmu boleh juga. Dan sebagai hadiah, kau boleh melangkah duluan ke kamar itu.”
Shena terlihat gugup dengan perintah Rafael. Namun ia tetap melangkah menuju kamar tersebut. Setelah di depan pintu, Shena berhenti.
“Sekarang buka pintu ini,” ujar Rafael. Shena melihat bahwa tidak ada gagang pintu. Tapi ia tahu ini pintu jenis apa. Ia pun menggeser tangannya di depan pintu. Namun pintu tidak juga tergeser. Ia meneliti dan melihat bahwa di depan pintu terdapat sejenis pendeteksi wajah. Kini ia tahu, pintu akan terbuka otomatis jika yang di depan adalah Rafael.
Shena pun langsung bergeser, dan jelas saja, pintu itu langsung terbuka saat hanya Rafael yang ada di depannya.
“Darimana kau tahu?” tanya Rafael yang mulai heran dengan insting dan kepintaran Shena. Ia hanya tidak tahu, bahwa ayah Shena adalah si jenius yang telah menciptakan banyak sistem keamanan untuk rumah-rumah dan perusahaan besar dan berkembang. Sayang, ia harus meninggal di usia muda.
“Saya hanya menebak saja, Tuan.”
“Sekarang masuk!”
Shena pun langsung masuk ke kamar tersebut. Ia begitu takjub melihat ruangan yang begitu besar dan mewah. Terdapat sebuah ranjang besar berukuran king size di sana dengan banyak perabot dan ruang-ruang lain.
“Sekarang buka pakaian mu.”
Shena terkejut dengan perintah Rafael. Ia tidak menyangka semua akan secepat ini. Bahkan ia masih ingat bahwa Rafael mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak menarik.
“Apa yang kau tunggu? Buka bajumu!” Rafael kini membentak Shena. Ah tentu saja, dia ini seorang pria normal, wajar saja kalau ia meminta.
Shena langsung membuka pakaian pengantin yang dikenakannya. Padahal hari masih siang, tapi ia sudah meminta haknya sekarang.
Kini Shena sudah polos tanpa sehelai benang yang menutupinya. Ia menutupi bagian atas dan bawah dengan kedua tangannya. Rasa malu kini menyelimuti dirinya.
“Singkirkan tanganmu!”
Shena langsung menyingkirkan tangannya. Ia menunduk ke bawah.
Rafael pun datang mendekatinya, lalu mendorongnya ke atas ranjang. Ia membuka jasnya hingga terlihatlah tubuh kekar nan memesona.
Shena hanya bisa memicingkan matanya. Ia benar-benar sangat takut saat ini.