Mungkin, Akriel ada benarnya telah berpikir kalau dunia ini memang sudah gila. Belum genap satu hari, dia sudah mendapatkan dua hal yang benar-benar mengejutkannya. Tidak cukup dengan Dara dan Sheryl yang merupakan saudara, sekarang Akriel dibuat nyaris gila karena Kasa mengatakan kalau dirinya dan Karan juga saudara.
'Karena gue adik kandung dari Karan Sabintang.'
Akriel masih terpaku di tempatnya. Perkataan Kasa masih terngiang di benaknya. Seolah kalimat itu telah terputar satu juta kali dalam satu detik. Perkataan itu terus berputar di otaknya tanpa henti. "Apa yang kamu ucapkan apa itu benar?"
Kasa malah geming. Perlahan, gadis itu menitikkan air mata yang mulai membasahi pipinya. Wajahnya sambil menunduk. "Kenapa juga gue harus bohong?"
Akriel menghela napasnya. Dia mengusap wajahnya frustasi. Dia benar-benar shock dengan pernyataan Kasa.
"Maka dari itu, gue selalu ngelarang lo buat berhenti bertindak apalagi sok tau soal kematian Karan. Apalagi lo itu cuma orang baru di sini. Lo gak tau apa-apa. Gue gak suka kalo lo nekat buat nyari tau kenapa Karan mati. Awalnya gue gak percaya. Dan ternyata, setelah gue cari tau sendiri lewat Fany, apa yang lo bilang itu bener kalo Karan mati karena dibunuh bukan karena kecelakaan." Kasa semakin menangis lagi. Ketika mengingat atau membahas soal Karan, Kasa selalu tidak bisa mencegah air matanya untuk keluar. Dia terlalu lemah hanya dengan mendengar kata Karan. "Gue gak bakal maafin Renita."
Kasa menangis semakin histeris lagi. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya mencoba menyembunyikan tangisannya. Beruntung, malam itu hanya ada mereka di balkon. Tidak ada orang lain lagi selain Akriel yang melihat cewek itu menangis.
"Kalau kamu punya buktinya, kenapa kamu tidak melaporkannya pada polisi segera? Maka dengan itu, Renita akan menerima balasan atas perbuatannya."
Kasa mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Tanpa disuruh pun, gue akan mengungkapkannya sendiri. Harus gue yang melakukannya, bukan orang lain. Meskipun begitu, kalo gue udah melakukannya, rasa benci gue pada Renita belum cukup. Gue kurang puas kalo ngeliat Renita cuma dipenjara doang. Harusnya dia ngerasain hal yang sama apa yang dirasakan kakak laki-laki gue. Itu baru namanya adil."
"Kamu tidak bisa melakukannya."
"Kenapa gue gak bisa?!" Kasa baru saja membentak Akriel. Dia terlalu marah sampai terbawa suasana. "Kakak gue mati karena Renita. Apa gue salah kalo minta supaya Renita juga harus mati persis seperti cara kakak gue pergi?"
"Renita yang membunuh Karan. Lalu, siapa yang akan membunuh Renita untuk membalas dendam? Apa kamu berniat untuk membunuhnya? Itu sama saja kamu seorang pembunuh sekaligus penjahat. Kamu tidak beda jauh dengan Renita."
Ucapan Akriel membuat Kasa tertegun lagi. Cewek itu menunduk lagi dan air matanya mulai menetes dan semakin deras sampai membasahi pipi dan bajunya.
"Melihat Renita dipenjara sesuai perbuatannya itu sudah cukup. Manusia tidak bisa menentukan neraka mana yang pantas untuk manusia lain. Manusia juga tidak bisa menentukan bagaimana seorang manusia lain mati. Kamu hanya perlu diam. Yang menentukan nasib Renita di dunia adalah manusia juga, tapi bukan kamu. Dan yang menentukan nasib Renita di kehidupan selanjutnya adalah urusan Tuhan."
Mendengar perkataan Akriel, Kasa merasa seperti ada sesuatu yang baru saja menyenggol hatinya.
***
Baru sehari tinggal di penjara lengkap dengan seragam tahanannya, Renita sudah stres duluan. Dia merasa paling asing di lingkungan barunya bersama para narapidana lain. Jelas hidup di penjara berbeda jauh dengan kehidupan sehari-harinya. Renita benar-benar shock. Belum lagi masalah rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk. Dimas benar-benar b******n. Dia bahkan tidak memberi kesempatan pada Renita untuk menolak. Lagipula dia sudah terlanjur membenci Dimas. Dia muak pada pria yang telah mengkhianatinya. Juga Renita sama sekali tidak keberatan jika mereka harus bercerai. Hanya saja kalau Renita yang dijatuhi talak secara sepihak oleh Dimas, Renita merasa harga dirinya bagai direndahkan oleh pria itu.
"Ini bukan waktunya buat bengong, t***l!"
Renita tersentak ketika ada seseorang yang baru saja mendorong kepalanya dari belakang. Renita lantas menatap tajam ke arah orang tersebut. Dia sudah ancang-ancang untuk menggebuknya dengan sapu lidi yang ia pegang. Tapi, ternyata mereka berlima dan Renita pun batal memukuli mereka satu per satu. Renita mengurungkan niatnya untuk melawan karena dia tahu dia adalah yang paling lemah diantara mereka semua.
"Napa lo natap gue?! Mau ngelawan lo hah?!" Kata salah dsatu dari mereka, sebut saja namanya Nunu sebagai ketua dari sel tahanan mereka.
"Jangan mencari masalah dengan saya. Kalian tidak usah mengganggu saya." Ucap Renita datar lalu wanita itu beralih menyapu halaman kembali dengan sapunya.
Nunu melipat kedua lengannya di depan d**a. Lirikannya terhadap Renita seolah merendahkan harga diri wanita itu. "Si Penjahat Baru ini bener-bener sok dingin banget ye. Hey, inget! Lo di sini sekarang sebagai narapidana sama kayak gue dan yang lainnya. Lo bukan lagi direktur di perusahaan lo itu, lo sekarang penjahat karena lo di penjara."
Renita sebisa mungkin menahan amarahnya. Namun, wanita itu tak cukup sabar rupanya. Mendengar Nunu mengatainya di depan umum begitu, Renita merasa terpancing. Renita lantas membanting sapunya ke tanah dan menatap Nunu dengan tatapan tak kalah mengintimidasi. Keduanya kini saling memasang tatapan ejekan.
Nunu tersenyum miring. "Kenapa? Lo tersindir? Lo mau marah?"
Suara gelak tawa terdengar dari mulut mereka satu per satu. Mereka seolah menertawakan Renita kala itu dan membuat Renita tersulut amarahnya.
"Saya sudah memperingatkan kalian untuk tidak berurusan dengan saya." Ucap Renita dengan datar.
"Kenapa emangnya? Kalo kami berurusan sama lo, lo mau ngebunuh kami gitu? Lo mau ngehajar kami sampe mati karena lo orang berkuasa? Asal lo tau ya, lo sekarang bukan apa-apa selain seorang narapidana." Tapi, tampaknya Nunu malah semakin memantik amarah Renita.
"Saya bukan seorang narapidana!" Renita membentak dan malah mengundang gelak tawa dari Nunu dan kawan-kawannya.
"Apa lo buta, hah?! Jelas-jelas lo pake seragam tahanan dan tinggal di penjara. Bisa-bisanya lo mengelak kalo lo bukan narapidana."
Renita tak bisa menahan emosinya lagi. Dia sangat marah sekarang. Dia menjambak rambut Nunu begitu saja sampai wanita itu kesakitan karena rambutnya sampai rontok banyak akibat ditarik oleh Renita. Suasana semakin ricuh ketika Nunu balas menjambak rambut Renita. Keduanya kini saling pukul dan adu tendang tak mau kalah satu sama lain.
"Wanita sialan!"
"Dasar jalang!"
Begitulah sekiranya kata-kata yang keluar dari mulut Renita maupun Nunu. Mereka masih terus bergelut dan suasana tak kalah semakin panas ketika semua orang mengepungi mereka beedua untuk menyaksikan pergelutan yang tengah berlangsung tersebut.
Tak lama, terdengar suara peluit dari seorang polisi yang menghentikan perkelahian itu. Sontak mereka segera membubarkan diri dari sana dan kembali pada pekerjaan masing-masing kecuali Renita dan Nunu. Keduanya dalam kondisi berantakan apalagi rambut mereka yang luar biasa amburadul seperti habis dibombardir angin topan.
"Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil?!" Polisi itu membentak. Dia tak kalah sewot dengan perkelahian yang melibatkan Renita dan Nunu.
"Dia yang mulai?!" Ucap Renita dan Nunu bersamaan dan saling tunjuk menyalahkan satu sama lain.
Polisi itu geleng-geleng kepala. "Cepat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing! Jangan ada yang bertengkar lagi!"
***
Dara sebetulnya sudah terlanjur membenci ayahnya sendiri, Dimas. Tapi, pria itu datang lagi dalam kehidupannya dan berharap Dara masih mau menerimanya sebagai ayahnya lagi. Dimas pun tidak tega membiarkan putrinya tinggal sendirian sepeninggal Tsania. Bagaimanapun mereka adalah bapak dan anak. Dan Dimas tidak bisa membiarkan Dara berdosa karena terus membenci ayahnya sendiri. Sekarang, Dimas akan bertanggung jawab penuh untuk mengurus Dara hingga ia dewasa. Hanya Dimas yang Dara punya saat ini. Tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa menemani hari-hari Dara sekarang selain Dimas. Mungkin itu sedikit cukup untuk menebus semua kesalahan Dimas pada Tsania. Mungkin.
Mereka tengah berada di pemakaman umum. Sudah bisa ditebak, mereka tengah berziarah ke makam Tsania. Mereka tidak pernah absen untuk mengunjungi makam itu saban hari. Mereka selalu rajin membersihkan makam itu serta menaburi bunga baru yang lebih segar sebagai bentuk penghormatan terakhir pada Tsania.
Dimas juga telah mengatakan pada Dara kalau dirinya telah bercerai dari Renita yang merupakan ibunya Sheryl. Namun, Dara pikir hal itu sudah sangat terlambat. Perceraian itu tidak ada gunanya dan kembalinya Dimas pun tidak ada artinya lagi karena Tsania sudah tidak ada lagi di dunia ini. Menyesal satu juta kali pun mungkin hanya akan membuang-buang waktu saja karena semuanya telah terlambat.
"Ayo kita pulang." Ajak Dimas pada Dara setelah acara ziarah mereka selesai.
Mereka akhirnya angkat kaki dari tempat pemakaman itu dan segera masuk ke dalam mobil. Dara diam saja dari tadi. Bahkan ketika Dimas telah melajukan mobilnya Dara terus geming dan terdiam tanpa suara. Entah apa yang tengah membebani pikiran gadis itu, Dimas tidak bisa menekanya.
Dimas lalu berdeham untuk sedikit melonggarkan suasana diantara mereka yang rasanya seperti mencekam. "Kamu mau makan? Kita bisa mampir ke cafe atau rumah makan lebih dulu."
"Aku gak lapar." Jawab Dara singkat.
"Terus kenapa kamu diam terus?" Dimas mencoba bertanya.
Dara tampak menghela napasnya. "Kalo Ayah kembali jadi ayah aku lagi dan bercerai dari Renita, semua orang akan tau kalo aku sama Sheryl pernah jadi saudara tiri dan pernah punya satu ayah yang sama."
Dimas sedikit mengernyitkan dahi. "Emang ada masalah apa? Apa salahnya kalo semua orang tau kalo kalian emang saudara tiri?"
Dara menyunggingkan senyum sambil mendelik. "Ayah gak tau kalo cewek itu sebegitu gengsinya. Lagipula aku juga malu kalo semua orang tau aku sama Sheryl adalah saudara tiri."
"Kalian gak pernah akur," ucap Dimas. "Apa Ayah harus turun tangan supaya kalian bisa hidup rukun?"
Dara berdecak. "Aku gak akan pernah sekalipun rukun sama dia."
Dimas geleng-geleng kepala. "Sheryl juga hidup sendiri sekarang. Renita sudah dipenjara dan dia hanya punya Herman saat ini. Mungkin kalian adil sekarang. Dan tidak ada salahnya kalo kalian mencoba akur sehari aja."
"Persetan aku berbaikan dengan dia." Dara berdecak lagi, agak kesal. "Lagipula, Ayah juga harus mengurusnya, kan? Gimanapun Ayah adalah orang tua Sheryl juga."
"Masih ada Herman yang mengurus Sheryl. Sekarang, Ayah hanya akan fokus mengurus kamu sebagai prioritas Ayah sekarang."
Jawaban Dimas membuat Dara tertegun lagi. Mungkinkah ayahnya kini sudah kembali seperti dulu lagi? Andai saja ibunya masih hidup, mungkin dia akan gembira melihat suaminya menjadi Dimas yang dulu lagi.
"Ayah serius, kan?" Dara bertanya dengan nada sedikit serius.
Dimas tersenyum lebar. "Kenapa Ayah harus gak serius? Ayah menyayangi kamu dan Ayah sama sekali tidak berbohong pada ucapan Ayah."
Benar, Dimas yang sekarang telah kembali dan sama persis seperti Dimas yang dulu lagi. Mungkin sekarang Dara harus kembali menganggap sepenuhnya kalau pria di sampingnya itu adalah benar-benar ayahnya.
Dara lantas menarik kedua sudut bibirnya lalu melukiskan senyum di wajahnya. Dimas bisa melihat putrinya melalui rear view mirror mobil yang tengah terseyum secerah bunga matahari sekarang. Dimas merasa bahagia kalau Dara juga senang dengan keberadaannya di sampingnya. Dia harap dia bisa benar-benar menjaga Dara sampai akhir hayatnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang sebagai pengganti janjinya pada Tsania di masa lalu.