"Ini semua salah saya. Saya yang terlalu memaksa Fany. Seharusnya saya tidak perlu menuruti ego saya terlalu keras. Sekarang, Fany telah tiada. Dan itu karena saya." Herman terus menyalahkan dirinya sendiri di depan Akriel. Pria itu masih tampak tertekan dengan kematian Fany. Herman terus merasa kalau meninggalnya Fany adalah karenanya yang sempat memaksa gadis itu untuk mengungkapkan kebenaran soal kematian Karan. Herman telah egois dan terlalu terobsesi untuk menjerumuskan Renita ke dalam penjara atas bantuan Fany. Dia tidak memikirkan Fany sama sekali. Dalam otaknya hanya ada kebencian terhadap Renita sehingga Herman rela melakukan apa saja untuk membuatnya mendekam di penjara selamanya.
"Tidak ada gunanya menyesal. Semuanya telah berlalu." Kata Akriel pada Herman.
Herman membuka kaca mata beningnya lalu mengusap air matanya dengan jari tangan. Dia terlalu emosi dan masih belum menyangka kalau Fany telah meninggal dunia. "Kamu benar. Tidak ada gunanya menyesal. Dan saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membuat Renita dipenjara. Saya tidak punya bukti lagi."
"Masih ada saya untuk membuat dia dipenjara." Kata Akriel.
Herman menggelengkan kepalanya. "Itu saja tidak cukup. Saya ingin Renita dipenjara seumur hidupnya. Dosa-dosanya terlalu besar dan kalau dia dipenjara terlalu singkat, itu tidak akan cukup. Renita telah membuat orang yang saya cintai menderita. Dan saya harus membalas dendam kepadanya."
Air mata Herman menetes lagi dan Akriel hanya bisa menyaksikan pria itu terus menangis sekarang. Mereka sedang berada di sebuah cafe untuk mengobrol sambil sesekali ngopi.
"Orang yang Anda cintai?" Akriel penasaran.
"Iya. Dia adalah orang yang saya cintai di masa lalu. Namanya Tsania Larasati. Renita telah menyakitinya sampai akhir hayatnya. Dan sekarang dia juga sudah meninggal dunia. Saya merasa terlambat untuk memberi apa yang harusnya dia dapatkan di detik-detik terakhir hidupnya." Ucap Herman lagi.
Akriel sedikit tersenyum saat mendengarnya. "Dia pasti sudah tenang di sana. Dia akan baik-baik saja." Kata Akriel sedikit menenangkan Herman.
Herman lalu menghela napasnya. "Ada yang ingin saya beri tahu juga pada kamu. Saya harap, kamu bisa menjaga apa yang saya katakan ini."
Akriel lantas mengernyitkan dahi. "Apa itu?"
"Kamu dekat dengan Dara. Dan kamu juga tahu kalau Dara dan Sheryl itu sering berselisih dan bermusuhan sejak dulu."
Akriel menganggukkan kepala. "Lalu?"
"Mungkin kamu adalah orang pertama yang akan saya beri tahu tentang hal ini. Ini adalah tanggung jawab besar karena tidak ada orang lain lagi yang mengetahui tentang ini."
Akriel semakin penasaran. "Saya akan menjaga pesan Anda yang satu ini. Tapi, apa itu?"
Herman menghela napasnya. Dia menatap Akriel dengan penuh kepercayaan. "Dara dan Sheryl adalah saudara tiri."
Mendengarnya, Akriel berhasil tersentak hanya dalam beberapa detik. Dia geming seusai Herman mengatakan kalau Dara dan Sheryl adalah saudara tiri. Lalu, kenapa mereka harus bermusuhan kalau keduanya adalah saudara?
"Saudara tiri?" Akriel mengernyitkan dahinya. Dia sangat terkejut. "Apa karena itu mereka berselisih? Hanya karena mereka saudara, mereka sering bertengkar?"
"Seusai bercerai dari saya, Renita menikah dengan Dimas yang merupakan ayah kandung Dara. Maka dari itu, Dara dan sheryl adalah saudara tiri." Ucap Herman. "Apa yang kamu katakan mungkin benar. Dara dan Sheryl bermusuhan karena Sheryl masih belum menerima harus satu ayah dengan Dara yaitu Dimas. Selain itu, saya masih ingat mereka juga sempat terlibat cinta segitiga. Sheryl menyukai Karan, namun Karan malah menyukai Dara. Karena hal itu, Sheryl sangat membenci Dara."
Akriel tersentak lagi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan beberapa plot twist diantara Dara dan juga Sheryl. Kehidupan ini memang tidak bisa ditebak.
"Dengar Akriel, tolong jangan beri tahu hal ini pada siapa pun. Sheryl tidak ingin identitasnya sebagai saudara tiri Dara diketahui oleh semua orang termasuk teman-temannya. Saya memberi tahu hal ini karena saya percaya kamu pasti bisa menjaganya dengan baik." Ujar Herman lagi pada Akriel.
Akriel masih belum mampu berkata-kata. Dia benar-benar terkejut mengetahui hubungan diantara Dara dan Sheryl. Akriel menghela napasnya. "Saya berjanji tidak akan mengatakannya pada siapa pun."
***
"Saudara Renita Adinatya telah berusaha menculik saksi yang bernama Akriel Zaphka Mihr dan menyekapnya di sebuah gudang serta mencoba menghabisinya beberapa kali sampai korban tidak sadarkan diri. Selain itu, Anda juga telah menjebak korban lain yang bernama Addara Ghassani sampai dia nyaris dikeluarkan dari sekolah. Dengan ini, saya menjatuhi Saudara Renita Adinatya dengan hukuman maksimal 1 tahun penjara dan denda maksimal 1 Milyar Rupiah."
Tok tok tok
Suara ketukan palu dari hakim seolah menyiksa pendengaran Renita kala itu. Wanita itu akhirnya diadili dan terpaksa harus dipenjara. Tatapan Renita kosong kala itu. Wajahnya pucat dan terlihat lemah. Tak lama kemudian, ada dua orang yang menuntunnya untuk segera dibawa ke penjara setelah memborgol tangannya. Renita berdiri dengan lemah untuk segera meninggalkan ruangan sidang itu. Dari belakang sana, Renita bisa melihat putrinya, Sheryl, tengah menangis di sana. Dia terus meneriakinya seraya menangis histeris. Batin Renita teremat saat menyaksikan pemandangan itu.
"Cepat jalan!" Seru seorang penjaga di sampingnya untuk segera masuk ke dalam mobil polisi.
"Apa saya boleh menemui putri saya sebentar saja?" Pinta Renita.
"Tidak bisa. Anda harus segera ke kantor polisi sekarang juga." Jawab polisi itu. Dan akhirnya Renita masuk ke dalam mobil untuk segera dibawa ke kantor polisi.
Dia tidak sempat menemui Sheryl sebentar saja. Renita sangat takut. Takut kalau Sheryl suatu hari akan membencinya karena ibunya adalah seorang narapidana. Itu adalah mimpi terburuk bagi Renita kalau Sheryl akan membencinya suatu hari nanti.
Tak lama sebelum mobil itu melaju, Sheryl tengah berusaha menemui Renita namun kesulitan karena dihadang oleh beberapa polisi. Renita menyadari kehadiran Sheryl di sana. Dia hanya bisa menyaksikan putrinya melalui kaca mobil. Air mata Renita jatuh begitu saja ketika putrinya berusaha mengejar mobil yang kini mulai melaju itu. Namun, tetap saja gadis itu tidak akan mampu mengejar mobil yang semakin berjalan menjauh. Sheryl menangis histeris kala itu. Dan hati Renita terasa sangat sakit ketika menyaksikannya.
Sementara Renita, wanita itu semakin tak kuat ketika Sheryl sudah menghilang dari pandangannya. Wanita itu lirih, "Sheryl, maafin Mama, Nak."
***
Sesampainya di kantor polisi, kedatangan Renita langsung dijaga ketat oleh beberapa polisi di sana. Wanita itu dituntun menuju selnya di mana dia akan ditahan selama 1 tahun lamanya. Renita menghela napas ketika melihat beberapa penghuni penjara dalam berbagai sel yang berbeda. Tatapan mereka sangat garang ketika menyaksikan kahadiran Renita di tempat itu. Renita meneguk ludahnya kasar.
Polisi itu membuka borgol Renita lalu mempersilakannya untuk masuk ke dalam sel tahanan. Renita terdiam selama beberapa saat. Dia memperhatikan penghuni yang satu sel dengannya tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. Renita benar-benar takut.
Renita jatuh begitu saja. Seolah kakinya sudah tak kuat menopang badannya lagi. Dia begitu lemas. Tatapannya kosong. Kedua polisi itu dibuat keheranan dengan Renita kala itu. Renita mendadak kelu dan tak mampu berkata-kata. Dia tidak bisa dipenjara begitu lama. Satu hari saja Renita tidak bisa untuk tinggal di penjara. Apalagi sampai satu tahun, Renita tidak akan sanggup.
Renita lantas menatap kedua polisi itu. Tatapannya sangat katakutan dan wanita itu juga merapatkan kedua tangannya seolah memohon pada kedua polisi itu. "Tolong jangan penjarakan saya. Saya tidak mau dipenjara. Tolong bantu saya. Saya tidak mau tinggal di sini."
"Cepat masuk!" Namun, polisi itu malah membentak dan membuat Renita semakin ketakutan. Lalu, Renita terpaksa diseret untuk masuk ke dalam sel tahanan tak peduli meskipun wanita itu terus memohon untuk tidak dipenjara.
***
Seusai solat Isya, Kasa tengah sendirian di balkon asramanya. Angin malam itu agak kuat sampai beberapa kali menampar rambutnya hingga berantakan. Dia menatap teduh pada pepohonan di depan asramanya. Di sampingnya juga ada Akriel yang menemani. Mereka berdua tengah menikmati suasana malam sambil merenungi hari-hari mereka yang tidak berjalan seperti biasanya. Banyak kejadian-kejadian yang mereka alami sampai membuat kekhawatiran yang luar biasa. Contohnya saja Akriel yang sempat diculik hingga kematian Fany secara tiba-tiba. Itu semua membuat Kasa maupun Akriel atau semuanya tak habis pikir dengan kejadian demi kejadian yang menimpa mereka.
Kasa menghela napas. Lalu, cewek itu memejamkan kedua matanya ketika angin malam berhasil menerpa wajahnya. "Seberat apa pun kehidupan, kita gak boleh berhenti menjalaninya."
Akriel menoleh tatkala Kasa baru saja berucap. Laki-laki itu lalu melukiskan sebuah senyuman di bibirnya. Sebuah senyum lelah. "Semua orang tahu hal itu."
"Bisa gak sih, sehari aja gue bebas dari masalah?"
Akriel menoleh ke arah Kasa lagi. "Kamu tidak bisa menjamin. Masalah itu selalu datang tanpa diperintah. Kamu pun tidak bisa mengelak darinya. Jadi, kamu tidak bisa terbebas dari yang namanya masalah."
Kasa menghela napas lagi. "Gue tau. Manusia dan masalah itu ibarat dua benda yang gak bisa dipisahin dengan cara apa pun. Mereka selalu berjalan beriringan. Ibarat teman sejati yang selalu berdua ke mana-mana."
"Kamu pun mengerti sekarang."
"Akriel."
"Apa?"
"Gue mau nanya sesuatu sama lo."
"Katakan saja."
"Lo sama ayahnya Sheryl masih bersikeras buat ngebongkar fakta soal kematian Karan?"
Mendengar pertanyaan Kasa yang melenceng dari yang ia kira, Akriel lantas mengernyitkan dahi. "Kamu sudah bilang saya tidak boleh ikut campur lebih jauh lagi. Kamu juga bilang kalau saya tidak boleh bertindak sok tahu soal kematian Karan karena saya bukan siapa-siapa."
"Kalo gue ngebolehin lo ikut campur, lo mau bantuin gue juga buat ngungkapin kebenaran soal kematian Karan?"
Akriel mengernyit lagi. Dia bingung kenapa Kasa jadi ikut-ikutan membahas soal Karan. "Kenapa kamu jadi membolehkan saya?"
"Gue cuma nanya. Barangkali lo masih berpikir hal yang sama kayak dulu kalo lo masih mau bersikeras buat ngasih tau ke semua orang soal kebenaran di balik meninggalnya Karan."
"Memangnya kamu mau ikut juga kalau saya mengatakan ke polisi soal kematian Karan?"
"Kalo jawaban lo iya, gue juga iya."
"Maksudnya?" Akriel mengernyit.
"Kalo lo berubah pikiran lagi buat mau ngungkapin kematian Karan, gue juga ikut lo sekarang. Gue juga mau ikut lo buat ngungkapin kebenaran soal kematiannya."
"Kenapa kamu tiba-tiba peduli dengan hal ini? Padahal dulu kamu sampai menangis melarang saya untuk tidak terlalu peduli soal fakta di balik kematian Karan."
"Gue berubah pikiran."
Akriel geming. Dia terdiam dan masih bingung dengan sikap Kasa yang suka berubah-ubah seperti bunglon. "Saya tidak ingin terlibat dalam kematian Karan lagi. Saya tidak tahu apa-apa. Jadi, sepertinya saya hanya perlu diam saja. Lagipula, kita tidak punya bukti dan yang mengetahui semuanya hanyalah Fany."
"Gue punya buktinya."
"Bukti?" Akriel mengernyitkan dahi.
"Gue punya rekaman suara Fany saat dia ngejelasin kronologi kematian Karan. Gue rasa itu bukti yang cukup."
"Tapi kenapa? Kenapa sekarang malah kamu yang tiba-tiba bersikeras soal fakta kematian Karan?"
"Karena gue peduli." Kata Kasa secara datar. "Karena gue adik kandung dari Karan Sabintang."
Saat itu juga, Akriel benar-benar terpaku di tempatnya. Dalam satu hari, dia sudah mendengar fakta mengejutkan dari setiap orang yang dekat dengannya. Mulai dari hubungan saudara tiri antara Dara dan Sheryl. Lalu, sekarang dia dikejutkan dengan Kasa yang mengatakan kalau dia adalah adik kandung Karan. Akriel merasa dirinya hampir gila berada di dunia seperti ini.