Andai Kasa tahu kalau sebetulnya Badrol itu diam-diam menyukainya. Tapi, Badrol belum punya cukup keberanian buat mengungkapkan perasaannya pada cewek itu. Badrol khawatir kalau suatu hari nanti mereka berumah tangga, judul yang paling tepat untuk menggambarkan kehidupan mereka nantinya tak jauh dari genre 'Suami Takut Istri'. Ceilah, belum juga halal udah ngebayangin berumah tangga. Tapi, gak pa-pa kan ya itung-itung pemanasan.
Badrol tak sengaja mendapati Kasa yang lagi duduk sendirian di depan asrama perempuan. Dari ekspresi wajahnya sih, kayaknya cewek itu lagi galau apalagi matanya yang sembab seperti habis menangis. Badrol ragu untuk mendekatinya karena nampaknya Kasa lagi gak baik-baik aja. Tapi, entah kenapa pikiran Badrol seolah mendorongnya untuk menemui Kasa saat itu. Dan pada akhirnya Badrol memutuskan untuk menghampirinya.
"Heh, Cewek Maung!" Seru Badrol pada Kasa.
Cewek yang tadinya lagi termenung sendirian lantas menoleh dan berdecak ketika mengetahui kehadiran Badrol di sana. "Ngapain lo ke sini?" Kasa langsung sinis.
"Ceilah, gue nyapa doang."
"Itu nyapa apa ngejek namanya?"
Badrol nyengir. "Setengah nyapa setengah ngehina."
Kasa lantas mendelik dan dia agak melotot ketika Badrol duduk di dekatnya begitu saja. Kasa sampai harus sedikit bergeser untuk menjauhinya supaya jaga jarak aman.
"Ngapain lo deket-deket gue?" Kasa kaget.
"Gue mau nanya." Kata Badrol kemudian.
"Nanya apaan?" Tanya Kasa dengan sedikit.
"Tikus kalo kelindes tronton, bunyinya gimana?"
Sudah Kasa duga, kalau Badrol bertanya pasti pertanyaan itu tidak ada yang waras. Kasa seolah cenayang yang bisa menebak kalau pertanyaan Badrol adalah hal yang bisa membuang-buang waktunya lalau dijawab. Dan benar saja, dia malah menanyakan gimana suara tikus kalo kelindes tronton. Orang gila aja gak akan sampai meneliti bagaimana tikus akan bersuara ketika mereka kelindes tronton.
"Lo mau gue geplak?" Kasa mengancam dan siap melayangkan tangannya untuk menggepak Badrol.
"Gue kan nanya. Kok lo malah ngajak gelut sih?"
"Pertanyaan lo mancing emosi." Kasa cemberut lagi.
Memang sih Kasa lagi sedih sekarang, tapi jujur dengan hadirnya Badrol di sana rasanya hatinya terhibur sedikit.
"Sa!" Cowok itu berseru lagi bikin Kasa menoleh penasaran.
"Paan?"
"Kenapa lo nangis?" Badrol bertanya tanpa menatap Kasa, melainkan pandangannya ke depan melihat sebuah pohon palm di depan mereka.
"Emang keliatan gue abis nangis?"
"Menurut lo kenapa gue nanya lo abis nangis? Ya jelas karena mata lo tuh gak bisa bohong. Orang mata lo aja sembab jela-jelas lo abis nangis, kan?" Badrol sok jadi cenayang.
Kasa memalingkan wajahnya dari hadapan Badrol. "Mungkin lo bener. Gue emang abis nangis."
Dahi Badrol mengkerut. "Nangis kenapa lo?"
"Lo mau tau gue kenapa? Tumben banget perhatian gitu. Cih. Mending lo sana pergi deh. Ntar kalo ketauan lagi berduaan di sini bisa jadi fitnah." Usir Kasa pada Badrol dan cowok itu pun langsung meliriknya tak suka.
"Ngusir gue lo ceritanya?"
"Ya terus? Daripada bentar lagi kepergok lagi berduaan terus jadi fitnah, mending lo cepetan deh pergi. Lagian ini tuh asrama cewek bukan tempat lo di sini."
Badrol berdecak dan terpaksa dia bangkit dari sana. "Tapi, gue punya satu pertanyaan lagi buat lo."
Kasa mendelik. "Kalo pertanyaan lo semacam gimana suara tikus kelindes tronton atau semacamnya, mending lo langsung pergi sana daripada gue timpuk lo pake sendal."
"Ceilah, bukan kali. Gue nanya serius kali ini."
"Nanya apa?"
"Gue cuma mau nanya, tapi gak usah lo jawab. Cukup jawab dalem hati aja. Oke?"
"Buruan, Anjir!"
"Berapa jawaban dari 50×2+43?"
Kasa mengernyitkan kening dan Badrol langsung pergi dari hadapannya. Dalam hatinya Kasa berkata, 'Jawabannya 143, artinya I Love You'.
***
Setelah menjalani proses autopsi, penyebab kematian Fany disimpulkan karena bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke Sungai Akasia. Surat yang diduga ditulis oleh Fany sendiri yang ditemukan di kamarnya seolah memperkuat dugaan bahwa gadis itu benar-benar melakukan percobaan bunuh diri karena depresi. Namun, Akriel sama sekali tak mempercayai hal itu. Fany yang dia kenal tidak mungkin rela mengambil nyawanya sendiri dengan cara yang seperti itu. Setahunya, Fany adalah anak yang periang dan dia sama sekali tidak terlihat seperti punya beban hidup apalagi sampai menderita depresi. Akriel seperti merasa ada yang janggal. Dia sama sekali tidak mempercayai kalau kematian Fany karena bunuh diri.
Di pemakaman itu hanya dihadiri oleh teman-teman yang satu kelas dengan Fany termasuk Akriel sendiri serta Pak Bondan selaku kepala sekolah juga Dara yang kini terus menangisi nisan Fany sedari tadi. Bagaimanapun, Fany adalah teman pertama Dara saat mereka pertama kali bersekolah di sekolah itu. Kepergian Fany membuat Dara sangat terpukul kala itu. Dia tidak menyangka kepergian Fany begitu tragis dan mengenaskan. Tidak ada wali dari Fany baik kedua orang tua maupun kerabat dekatnya. Fany adalah anak yatim piatu dan tidak punya siapa-siapa.
Tak lama kemudian, Herman datang ke sana dan langsung berjongkok begitu saja di samping makam Fany setelah meletakkan setangkai bunga mawar. Baru saja dia menemui anak gadis itu kemarin, tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi. Rencananya untuk menjerumuskan Renita ke dalam penjara dengan bantuan Fany sirna sudah. Herman sekarang tidak punya cukup bukti untuk dia berikan pada polisi agar Renita dipenjara.
Semua orang telah pergi dari sana termasuk Akriel, Bondan, Herman serta Dara yang sebetulnya enggan meninggalkan makam Fany saat itu. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Tak lama kemudian, ada dua orang yang berkunjung ke sana selepas perginya Akriel, Bondan, Herman dan Dara dari makam Fany. Dua orang itu adalah Megan, seorang kepala kepolisian, serta satu lagi adalah seorang laki-laki yang merupakan anggota Tim Sar yang telah mengeksekusi Fany serta orang yang sempat berbicara dengan Megan saat wanita itu menyebutkan kalau Fany mengingatkannya pada anaknya yang masih bayi yang telah meninggal dunia, sebut saja laki-laki itu bernama Rey.
Keduanya berjongkok di samping makam Fany. Mereka sama-sama membawa beberapa tangkai bunga sebagai persembahan terakhir untuk anak gadis itu. Entah apa yang membawa Rey ingin mengunjungi Fany juga seperti yang Megan lakukan.
"Kenapa kamu datang ke sini juga?" Tanya Megan pada Rey.
"Saya cuma mengikuti kamu." Jawab Rey. "Sekaligus saya juga ingin mengunjungi anak ini. Anak yang malang."
Megan tersenyum pasi. Dia menatap sayu pada nisan bertuliskan Stefany Ghinnara, nama anak gadis itu. "Dia yatim piatu. Dia tidak punya orang tua atau kerabat dekat."
Rey bisa melihat wajah sedih Megan. Wanita itu benar-benar sekasihan itu pada Fany meskipun mereka tak memiliki ikatan darah apa pun.
"Kalau boleh, saya ingin jadi ibu sementaranya di saat kepergian terakhirnya. Setidaknya dia tidak akan kesepian dan merasa sendiri di dunia ini," lanjut Megan.
"Tentu saja boleh. Tidak ada yang melarang kamu melakukan itu. Lagipula, kamu pernah bilang kan kalau dia mengingatkan kamu pada anakmu yang masih bayi." Kata Rey dan saat itu juga seperti ada sesuatu yang menyenggol d**a Megan. Jantungnya seperti berdegup keras.
Megan tersenyum dengan lembut sambil terus mengusap batu nisan itu. "Iya, Fany mirip seperti anakku."
***
Setelah pingsan selama beberapa jam, akhirnya Renita sadarkan diri. Wanita itu merasa kepalanya sangat pusing serta bagian perutnya terasa nyeri. Kata dokter, dia baru saja menjalani operasi karena peradangan pada lambungnya. Dan di ruangannya, sudah ada seorang polisi yang terus mengawasinya sedari tadi. Renita menyadari kehadiran polisi tersebut yang bernama Megan.
"Anda masih pusing? Bagaimana keadaan Anda?" Megan terus menanyainya.
Renita malah mendelik dan tak menjawab apa pun.
"Anda harus segera sembuh. Akriel Zaphka Mihr, anak laki-laki yang Anda coba lenyapkan telah kembali dan mengatakan kalau Anda-lah yang telah menculik dan menyekapnya di gudang."
Ucapan Megan membuat Renita menatap sinis ke arahnya. Sial, Renita tidak sempat untuk menyingkirkan Akriel. Tapi setidaknya Renita telah berhasil menyingkirkan Fany yang bisa mendatangkan masalah lebih besar kalau dia mengatakan Renita yang telah membunuh Karan.
Megan tetap tersenyum ramah pada Renita. "Anda akan segera diadili di kantor polisi. Semoga lekas sembuh."
Renita memasang tatapan amat nyalang pada Megan yang kini berjalan pergi ke luar ruangannya. Deru napas wanita itu menggebu. Rasanya jiwa psikopatnya perlahan bangkit dan ingin secepatnya membunuh Akriel.
Dari balik pintu, tiba-tiba muncul Sheryl yang langsung menghampirinya begitu saja. Cewek itu begitu merindukan ibunya yang sudah tidak dia temui selama berhari-hari karena harus mendekam di penjara dan kini dia harus berada di rumah sakit.
"Mama!" Seru Sheryl dan langsung memeluk Renita begitu saja sambil menangis.
Renita mengusap rambut anak perempuannya. "Kamu udah makan, kan? Kamu baik-baik aja selama ini? Apa kamu tidur dengan nyenyak semalam?"
Renita terus membombardir Sheryl dengan pertanyaannya. Namun, Sheryl tak langsung menjawab, cewek itu menengadahkan kepalanya ke arah Renita dan masih sambil menangis.
"Sheryl?" Renita kebingungan dengan ekspresi anaknya yang agak aneh tersebut. Seperti dia sedang menatapnya dalam-dalam dan membuat Renita keheranan.
"Mama gak benar-benar menculik Akriel, kan? Mama gak melakukannya, kan?"
Renita langsung bereskpresi datar. Dia tidak berekspektasi kalau anaknya akan bertanya semacam itu. Renita tertegun.
"Jawab!" Sheryl baru saja membentaknya dan Renita benar-benar dibuat keheranan. Baru pertama kali anaknya membentak dengan suara yang lantang sampai Renita mengerjap sesaat untuk memastikan apakah gadis yang berada di hadapannya adalah betulan anaknya.
"Kamu menuduh Mama sebagai penjahat?" Renita agak sedih. Sheryl semakin menangis lagi lalu memeluk ibunya.
"Sheryl gak mau punya seorang ibu penjahat." Bisik Sheryl dalam pelukan Renita.
Renita sebetulnya tak mampu berkata-kata. Lidahnya mendadak kelu. Dia tidak ingin suatu hari Sheryl akan mengetahui kalau ibunya lebih dari seorang penjahat. "Mama bukan penjahat, Sayang. Mama bukan penjahat."
***
Sheryl akhirnya pergi dari ruangan Renita karena wanita itu telah menyuruhnya pulang ke rumah. Renita kini tengah menghubungi seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Roger, anak buahnya.
"Bagaimana? Apa Fany sudah benar-benar meninggal?"
'Fany telah meninggal, Nyonya. Dia baru saja dimakamkan dan kedokteran telah mengatakan kalau penyebab kematiannya adalah karena bunuh diri.' Ujar Roger dari balik telepon.
"Bagus. Pastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan saya di Jalan Akasia itu. Segera singkirkan barang bukti yang berada di sana dan lenyapkan secepatnya." Suruh Renita pada Roger.
'Baik, Nyonya.'
Sambungan telepon segera dimatikan dan Renita langsung tersentak dengan seseorang yang baru saja mengetuk pintu dan tak lama seseorang itu masuk ke dalam ruangan. Teenyata itu adalah suaminya, Dimas, yang datang sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Pria itu berjalan mendekatinya dengan ekspresi datar dan keberadaan kertas di tangannya itu membuat Renita penasaran. Dimas langsung menyodorkan kertas-kertas yang dia bawa sedari tadi ke hadapan Renita. Wanita itu mengernyitkan dahi.
"Mari bercerai!" Kata Dimas kemudian dan membuat Renita melotot seketika.
Renita kebingungan. "Apa? Cerai? Kamu mentalak aku?"
Dimas menghela napas. "Aku pikir kamu sudah tahu artinya begitu. Sudahi saja hubungan kita. Mungkin berpisah adalah cara terbaik untuk semuanya."
Renita mengeratkan gigi tanda emosi. Dia benar-benar merasa terendahkan dengan Dimas yang tiba-tiba menjatuhkan talak kepadanya.
"Apa maksudnya ini? Kamu menceraikan aku ketika aku dalam keadaan susah begini? Aku hampir dipenjara, apa kamu tidak tahu itu?" Renita marah sekarang.
"Aku tahu. Tapi, itu karena kesalahanmu sendiri dan aku tidak ingin ikut campur. Sudahlah, tidak ada yang bisa diperbaiki dalam hubungan kita lagi. Mari akhiri semuanya."
"Kamu gak bisa menceraikan aku begitu saja!" Renita membentak. "Kamu tega meninggalkan istrimu yang sedang dalam masa sulit ini? Suami macam apa kamu?"
Dimas terdiam sejenak. Pria itu tampak sesekali menghela napasnya. "Sejak awal, istriku adalah Tsania. Dialah istriku yang sebenarnya."
Dimas akhirnya mencabut langkahnya dari sana dan meninggalkan Renita begitu saja. Saat itu, Renita luar biasa marah. Musuhnya semakin bertambah. Setelah Tsania, Herman, dan sekarang Dimas. Saat itu juga, Renita tidak menyadari kalau dia tidak pernah menang atau lebih unggul daripada Tsania. Pada akhirnya, semua akan berpihak pada Tsania.