40. The Death

1782 Kata
Kasa merasa langkahnya hampa ketika menginjakkan kakinya ke asrama laki-laki. Tanpa malu dia tetap nekat pergi ke sana. Meskipun di sepanjang perjalanan dia mendapat tatapan keheranan dari anak laki-laki penghuni asrama itu, Kasa tetap tak menggubris mereka sekalipun. Cewek itu tetap ngegas menuju sebuah kamar asrama bernomor 14. Di mana itu adalah kamar milik Karan, kakaknya, di masa lalu. Kasa nekat masuk ke dalam. Meskipun dengan perasaan berat hati, cewek itu tetap memberanikan diri untuk masuk ke kamar tersebut. Baru saja membuka pintu, sudah tercium aroma sea salt yang khas. Seolah aroma itu sudah sangat melekat dengan Karan yang menyukai aroma laut. Ketika mencium bau itu di sana, Kasa merasa kalau Karan ada di dekatnya. Karan sebetulnya tidak benar-benar pergi. Kasa merasa keberadaan kakaknya ada di sampingnya. Kasa melangkah masuk seusai menyalakan lampu. Hanya ada sepasang ranjang bertingkat dan sebuah lemari serta meja belajar di sana. Tidak ada barang-barang lain lagi. Kasa nyaris menangis ketika melihat isi kamar itu. Kerinduannya pada kakaknya seolah menyiksa batinnya ketika Kasa mencoba masuk lebih dalam ke kamar itu. Kasa menghampiri meja belajar di sana. Sesekali tangannya mengusap debu-debu halus yang menumpuk di atas meja itu. Ingatannya kembali teringat pada sosok kakaknya semasa masih hidup. Bagaimana kakaknya selalu melindungi Kasa ketika dia dimarahi ayah atau ketika Kasa patah hati sama cinta monyetnya. Karan selalu ada untuknya. Tapi sekarang tak ada lagi Karan dalam hidupnya. Mendengar Fany menceritakan bagaimana tragisnya kematian Karan beberapa hari lalu, Kasa merasa kalau hidupnya benar-benar dicurangi. Kasa merindukan Karan. Kenapa harus Karan yang mendapat kematian seperti itu? Ini sungguh tidak adil. Kasa mencoba untuk tidak menangis. Tapi, air matanya seolah ancang-ancang untuk turun dari pelupuk matanya dan siap terjun kapan saja. Namun, Kasa masih mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Rasanya amat sakit kalau dia menangis karena merindukan kakaknya. Kasa lalu beralih pada lemari di dekatnya. Dia pun nekat untuk membukanya meskipun sudah jelas tidak apa-apa di sana. Namun, keningmya mengernyit ketika menemukan sebuah kotak di sana. Dengan penasaran, Kasa akhirnya membuka isi kotak itu. Dan ternyata isinya adalah sebuah benda yang dibungkus kain berwarna hitam serta terdapat secarik kertas di atasnya. Kasa membaca isi pesan di kertas tersebut. Untuk adikku tersayang, Kasalira Sabina, selamat ulang tahun yang ke-16. Doa terbaikku selalu mengiringi langkahmu. Maaf, tidak bisa mengucapkannya secara langsung. Tapi, hadiah ini semoga bisa menemanimu ketika tidak ada aku di sisimu lagi. Dari kakakmu, Karan Sabintang. Kasa nyaris tersentak ketika membacanya. Lidahnya mendadak kelu dan air matanya mulai menetes ketika dia mencoba membuka apa isi benda di dalam kain hitam itu. Dan setelah dibuka, ternyata isinya adalah sebuah lukisan yang menampilkan wajah Kasa sendiri. Itu adalah lukisan Karan. Dan saat itu juga, Kasa tak mampu membendung air matanya lagi. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk lukisan itu. Hatinya amat sakit. Sekuat apa pun dia menahan rindunya pada Karan, dia tak bisa berbohong bahwa sampai sekarang pun, Kasa masih belum bisa merelakan kepergian Karan. Dia bahkan belum sempat menemui Karan secara langsung untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tapi, Tuhan tak mengizinkan mereka untuk bertemu untuk yang terakhir. Kasa kecewa. Dia benar-benar kecewa. *** "Renita hilang di ruangannya!!!" Ekspresi seorang kepala kepolisian tersebut, sebut saja Megan, luar biasa panik setelah mengabari pada anggota polisi yang lainnya yang berada di rumah sakit kala itu kalau Renita telah hilang dari ruangannya. Mereka semua ikut terkejut setelah mengetahui kalau Renita telah berhasil melarikan diri. Dengan segera mereka semua berpencar dan mencari ke setiap sudut tempat dan pelataran rumah sakit untuk mencari keberadaan Renita. "Cari Renita Adinatya di sekitaran rumah sakit. Keberadaannya pasti belum jauh dari sini." Kata Megan yang berbicara pada walkie talkie-nya mengabari pada anggota kepolisian yang lain soal hilangnya Renita dari rumah sakit. Gawat kalau Renita sampai melarikan diri. Mereka harus cepat-cepat menemukan wanita itu . Tak lama seusai Megan menyelesaikan bicaranya lewat walkie talkie, ada seorang anggota kepolisian wanita yang datang menghampirinya. "Bu Ketua, Renita telah berhasil ditemukan. Dia dalam keadaan pingsan di dalam kamar mandi." Kata anggota kepolisian tersebut dan membuat Megan mengernyit heran. Dengan segera, mereka menghampiri kamar mandi di mana Renita berada. Dan benar saja, Renita ada di sana dengan kondisi tidak sadarkan diri. Megan menghampiri Renita untuk memastikan keadaannya. Wanita itu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Renita. "Denyut nadinya melemah. Bawa dia ke ruangannya dan suruh dokter untuk segera menanganinya." Kata Megan memerintahkan dan dengan segera dipatuhi oleh anggota kepolisiannya. Megan benar-benar dibuat kebingungan. Bagaimana mereka bisa tidak menyadari kalau Renita sebenarnya ada di kamar mandi dengan keadaan pingsan? Mereka sampai dibuat panik dan ketar-ketir karena hilangnya Renita beberapa waktu lalu. Tapi, rupanya dia tidak benar-benar hilang atau melarikan diri. Hal itu sedikit melegakan bagi Megan. Tak lama berselang dari kejadian itu, seorang anggota kepolisian menghampirinya lagi. "Ibu Ketua, kami telah mendapat laporan dari warga sekitar bahwa telah ditemukan sebuah mayat di Sungai Akasia. Sekarang, Tim Sar tengah berusaha mengambil jenazahnya di sungai itu." "Sebuah mayat?!" Megan luar biasa terkejut setelah mendengar pernyataan dari anggota kepolisian tersebut. "Benar, Bu. Setelah itu jenzahnya akan segera diautopsi oleh tim kedokteran," lanjutnya. "Kalau begitu, saya harus pergi ke tempat kejadian perkara. Tolong tetap awasi Renita di ruangannya dan jangan sampai dia melarikan diri." Kata Megan dan dengan segera wanita itu bergegas ke luar rumah sakit dan segera menuju mobilnya. Wanita itu segera tancap gas untuk pergi menyusuri Sungai Akasia di mana kabarnya telah ditemukan sebuah mayat. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, Megan akhirnya sampai di lokasi kejadian. Di sana terdapat banyak orang yang tengah menyaksikan Tim Sar dalam pengambilan jenzah itu. Dan ketika Megan sampai di sana, Tim Sar telah berhasil mengeksekusi mayat tersebut. Megan menghampiri sebuah kantung jenazah. Saat melihat wajah mayat tersebut, Megan merasa batinnya ikut teremat. Dia merasa iba pada jenazah seorang gadis remaja yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan memar serta kulitnya nyaris sepenuhnya berwarna ungu kebiruan. "Gadis yang malang." Pelan Megan seraya mengusap pipi anak gadis itu. Kemudian, datanglah salah satu Tim Sar menghampiri Megan yang masih termenung di depan mayat anak gadis tersebut. Laki-laki itu ikut berjongkok di samping Megan. "Dia akan segera dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi." Kata laki-laki itu namun Megan sama sekali tak menggubris. Wanita itu masih menatap sayu pada mayat anak gadis di dalam kantung jenazah. "Dia anak yang malang." Pelan Megan lagi. "Siapa namanya?" "Kami belum tahu siapa dia? Kami akan segera mencari identitasnya dan menelepon anggota keluarganya." Jelas laki-laki itu. Megan masih tertegun di sana. Bahkan saat Tim Sar hendak memindahkan jenzah tersebut ke dalam mobil ambulan, Megan tak ingin menyingkir dari sana sedikit pun. "Dia mengingatkanku pada anakku yang meninggal 18 lalu saat masih bayi. Mungkin kalau dia masih hidup, dia sudah seumuran dengan anak gadis ini." Ucap Megan dan laki-laki itu ikut sedih mendengarnya. *** Akriel telah kembali dan kedatangannya membuat semua orang lega seketika. Terutama Pak Bondan, seusai mengetahui kalau Akriel baik-baik saja, rasanya seluruh bebannya ikut sirna. Pria itu benar-benar bersyukur kalau Akriel masih bisa pulang dalam keadaan selamat. Akriel baru saja kembali dari kantor polisi setelah melaporkan apa yang dia alami beberapa hari lalu. Mulai dari dia yang disekap Renita di sebuah gudang sampai Herman yang membantunya keluar dari sana dan menyembunyikannya di rumah sakit. Akhirnya, Renita kini terancam dipenjara. Baru sampai ke lokasi asramanya, kening laki-laki itu mengernyit ketika ada banyak orang di sana. Terutama di sekitar asrama perempuan. Akriel penasaran dengan apa yang terjadi sampai ada banyak orang di sana. Akriel menghampiri kerumunan itu dan di sana ada Kisa dan Saka juga. "Ini... ada apa sebenarnya?" Tanya Akriel pada Saka maupun Kisa. Kedua anak itu tak langsung menjawab pertanyaan Akriel. Mereka bahkan diam saja dan tak menggubris pertanyaan Akriel sedikit pun. Akriel semakin keheranan karena tak kunjung mendapat jawaban. Laki-laki itu terus memperhatikan orang-orang yang sedang menggeledah salah satu kamar. Akriel tidak tahu itu kamar siapa karena terdapat garis pembatas yang tidak memperbolehkan siapa pun untuk melewatinya. Akrel benar-benar penasaran dengan apa yang orang-orang itu lakukan sampai menggeledah kamar tersebut. Tak lama, Bondan Taksadana pun menghampiri tempat itu bersama yang lainnya. Pria itu langsung menemui beberapa polisi yang tengah menggeledah kamar Fany tersebut. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Bondan. "Kami menemukan sebuah surat di atas meja, sepertinya surat ini ditulis olehnya." Kata polisi tersebut sambil memegang secarik kertas. Bondan akhirnya mengambil surat itu dan langsung membacanya. Untuk siapa pun yang membaca surat ini, saya menulisnya sebagai tanda terima kasih karena sudah menemukan tulisan saya. Saya ingin menyampaikan bahwa saya sedang dalam masa-masa sulit akhir-akhir ini. Saya merasa stres dan kehilangan kendali. Saya benar-benar terlalu lelah dan selalu memikirkan tentang bunuh diri belakangan ini. Saya ingin meminta maaf jikalau kepergian saya akan menyusahkan kalian nantinya. Dan saya meminta maaf bahwa saya telah menyerah sampai di sini. Saya tidak bisa melanjutkan hidup saya lagi. Tertanda, Stefany Ghinnara Bondan Taksadana yang membacanya merasa tersentak. Dia benar-benar tidak percaya kalau Fany telah meninggal dunia dan penyebabnya masih simpang siur. Dari surat yang digenggamnya, pria itu setengah percaya kalau Fany meninggal karena bunuh diri. Setahunya, Fany bukanlah anak yang mudah menyerah seperti itu. Bondan masih tidak menyangka. "Dari surat itu, korban bernama Fany dicurigai telah menghabisi nyawanya sendiri alias bunuh diri dengan melompat ke sungai hingga hanyut." Jelas polisi tersebut. Akriel yang mendengarnya nyaris melotot. Jadi, mereka sedang menggeledah kamar Fany? Lalu, dia tidak salah dengar kan kalau Fany bunuh diri? Fany meninggal dunia? Akriel merasa otaknya berhenti bekerja saat itu. Akruel menerobos garis pembatas itu dan menghampiri Pak Bondan serta seorang polisi tersebut. "Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang meninggal? Siapa yang bunuh diri?" Akriel langaung membombardir Pak Bondan serta polisi itu. Pak Bondan tampak kelu untuk menjawabnya. Pria itu malah diam saja. Akriel tampaknya semakin kesal karena seseorang tak kunjung memberinya jawaban. "Jadi begini, Nak," kata polisi itu, "Fany ditemukan meninggal dunia di Sungai Akasia tadi pagi yang diduga bunuh diri dan diperkuat dengan adanya surat itu." Akriel yang baru saja mendengarnya merasa kehabisan napas. Jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika polisi itu mengatakan Fany telah meninggal dunia. "Tidak mungkin. Fany bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin bunuh diri. Tolong katakan pada saya kalau dia tidak meninggal." Akriel nyaris gemetar. Rasanya dia tidak mempercayai kalau Fany telah meninggal dunia. Itu tidak mungkin. "Tenang, Nak." Pak Bondan di sampingnya mencoba menenangkannya. "Tenang dulu. Kita semua tengah mencari jawaban yang sebenarnya." "Saya tidak bisa tenang!" Akriel semakin gemetar. "Di mana Fany sekarang? Saya harus menemui dia. Dia masih hidup, kan?" "Tenang Nak Akriel!" Pak Bondan membentak dan Akriel berhasil tercekat. "Fany telah meninggal dunia. Dan kita semua sedang berusaha mencari penyebab kematiannya. Semua akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Kita harus tenang." Akriel menghela napasnya dengan berat. Dia benar-benar masih tidak menyangka kalau Fany telah meninggal dunia. Kedatangannya setelah sekian hari dalam persembunyian, dia malah disambut dengan berita kematian seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN