Akriel masih setengah linglung. Dia tidak bisa mengingat secara keseluruhan insiden yang baru saja dia alami. Kini, ada banyak luka pukulan di rahang dan d**a laki-laki itu. Akriel lupa kenapa. Dan sekarang, seorang pria bernama Herman Soetomo baru saja membawanya ke rumah sakit.
"Kamu diam saja di sini. Renita tidak akan mengetahui keberadaan kamu kalau kamu menurut apa kata saya." Kata pria bernama Herman itu beberapa waktu lalu sebelum pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Akriel.
Akriel tidak bisa menghubungi Kasa atau siapa pun. Dia baru tersadar smart watch yang diberikan Kasa telah hilang dari pergelangan tangannya. Untuk saat ini, Akriel hanya perlu diam di tempat itu dan menuruti perkataan pria bernama Herman agar dia tidak dalam bahaya lagi. Setidaknya dia sedikit percaya dengan Herman Soetomo.
Akriel mencoba beranjak dari ranjang bangsalnya dengan sedikit susah payah karena ada banyak luka lebam di beberapa bagian tubuhnya yang membuatnya kesakitan ketika tubuhnya digerakkan sedikit saja. Lalu dalam pantulan cermin, Akriel tercekat ketika melihat sosok adiknya ada di sana, Eremiel. Akriel sempat mengucek kedua matanya dan ternyata itu benar Eremiel yang ada di dalam cermin.
"Eremiel?" Akriel mengernyit.
"Lakukan apa saja yang kamu mau di Bumi." Kata Eremiel dari dalam cermin tersebut. "Tapi, tidakkah kamu melupakan misi utamamu dan malah membuang-buang waktu dengan urusan manusia-manusia ini?"
Akriel tertegun di sana. Dipikir-pikir, Akriel memang sudah menghabiskan banyak waktunya di Bumi dan apa yang dia dapat, tidak ada. Dia malah terlibat dengan urusan manusia yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Akriel lupa kalau tujuannya datang ke Bumi untuk mencari seorang gadis bertanda sepasang sayap malaikat di punggungnya. Dan selama hampir satu bulan di Bumi, Akriel belum juga menemukan gadis itu. Akriel bisa frustasi lama-lama.
"Aku akan menuntaskan misiku sesegera mungkin." Kata Akriel.
"Tidak perlu. Silakan mau seberapa lama pun kamu berada di Bumi. Lagipula kamu sudah tidak menganggap keberadaan kami lagi, kan?" Kata Eremiel membuat Akriel tersentak. "Jika kamu terus membuang-buang waktu, kami semua bisa terbunuh di sini karena perang yang tak kunjung selesai ini."
"Tunggu aku sebentar lagi. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali mencari gadis itu." Kata Akriel datar namun membuat Eremiel mendelik.
"Omong kosong apa lagi itu? Bolehkah aku dan yang lainnya membencimu sekarant? Kamu hanya diam saja sekarang dan bagaimana kamu akan segera menemukan gadis itu?" Eremiel tak habis pikir.
Akriel tertegun. Mungkin Akriel bisa dibilang, dia tidak bertanggung jawab penuh dengan misinya. Waktunya di Bumi pun tak banyak lagi dan memang benar Akriel lebih banyak diam daripada mencari gadis yang memiliki tanda sayap malaikat di punggungnya.
"Itu bukan misi yang mudah, Eremiel. Tapi aku berjanji kalau aku akan membawa gadis itu secepatnya dan menyelesaikan perang itu dengan tanganku sendiri." Kata Akriel mencoba meyakinkan Eremiel.
"Terserah." Namun, itulah respon dari Eremiel dan sepersekian detik bayangan Eremiel dari cermin itu semakin memudar dan akhirnya menghilang.
***
Bolehkah Dara membenci ayah kandungnya sendiri?
Mungkin Dara bisa saja memaafkan pria itu, tapi kebenciannya tak akan pernah sirna barang sedikit pun. Sekalipun Dimas Haribuana adalah ayah kandungnya, jika Dara sudah membenci maka segala hal apa pun tak akan mampu menghadangnya. Bagaimana tidak, Dara sudah terlanjur muak. Ketika Dara dan ibunya dalam keadaan kesusahan, Dimas bisa-bisanya menikah dengan wanita lain yang mana itu adalah ibunya Sheryl, Renita. Dan sejak saat itu, Dimas menghilang dan tidak pernah menghubungi Dara maupun ibunya, Tsania. Dan sekarang, Dimas malah memohon-mohon di hadapan Dara untuk mengizinkannya menjenguk ibunya yang sudah beberapa bulan terakhir mendekam di rumah sakit jiwa.
"Tapi, ini kesempatan terakhir." Ucap Dara dengan datar.
Dimas hanya tersenyum lemah, lalu pria itu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan di mana mantan istrinya, Tsania Larasati, tengah terbaring dengan tidak berdayanya di sana. Tak lupa ada banyak jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Dia sedang tertidur.
Batin Dimas kian teremat melihat kondisi wanita itu yang terlihat kurus dan lemah. Bahkan tangannya yang putih bak mayat kalau diistilahkan hanya tinggal kulit dan tulang saja. Bisa-bisanya Dimas meninggalkan wanita seperti Tsania Larasati demi Renita Adinatya. Dimas bodoh. Dimas merasa kalau dirinya adalah manusia paling berdosa di alam semesta ini. Mungkin neraka terdalam pun tidak akan ada yang setara dengan dosa-dosa Dimas pada Tsania.
Dimas menggenggam tangan kurus Tsania dengan penuh sakit hati. Kini, pria itu pun tak bisa mengendalikan tangisnya yang semakin deras. Ia mecoba mengingat-ingat kembali bagaimana mereka di masa lalu ketika karir Dimas masih berada di titik terbawah. Tsania selalu ada di sampingnya tanpa lelah. Wanita itulah yang selalu menemani dan mendukung kegagalan-kegagalan Dimas dalam berkarir. Tsania adalah wanita terbaik yang pernah Dimas temui.
Tapi, setelah karirnya kian memuncak, Dimas malah berpaling darinya. Dimas malah berlabuh ke hati wanita lain dan meninggalkan Tsania begitu saja. Memang benar, neraka mana pun tidak akan ada yang setara dengan manusia seberdosa Dimas.
"Tsania." Lirih Dimas masih sambil menangis.
Pertama kali setelah sekian lama Dimas akhirnya menangis seperti itu lagi. Hanya di depan Tsania, Dimas bisa menangis sehisteris itu. Dan karena tangisannya membuat Tsania terbangun dari tidurnya.
Masihkah Tsania mengingat Dimas?
Wanita itu terlihat menatap seorang pria di depannya dengan lesu. Rasanya Dimas pun tak pantas berada di samping Tsania kala itu. Dimas terlalu kotor dan keberadaannya di sana hanya akan menganggu Tsania saja.
"Tsania." Dimas lirih lagi dengan suara yang semakin memelan. "Ini aku Dimas."
Dara yang melihatnya di balik jendela sebisa mungkin untuk tidak ikut menangis. Dara memang membenci Dimas sejak insiden itu, tapi melihat ayahnya yang menangis di dekat ibunya membuat Dara ikut simpati. Dara ikut tak bisa membendung air matanya.
Tsania masih terdiam. Lalu bibirnya perlahan mulai bergerak tanda dia ingin mengatakan sesuatu meskipun dengan sangat kesusahan. "Di... mas." Lirih Tsania dengan sangat pelan.
Sepersekian detik kemudian, hati Dimas serasa dibawa oleh roller coaster. Tsania menyebut namanya dan itu membuat Dimas terharu, namun setelahnya wanita itu menutup mata lalu tak sadarkan diri. Kalau bisa, jantung Dimas seolah melompat dari tempatnya ketika tangan Tsania yang digenggamnya dari tadi menjadi lemas. Dimas panik. Pria itu bingung mencari bantuan karena Tsania yang kini tak sadarkan diri.
Dara yang berada di luar ikut tercekat dan segera masuk ke dalam ruangan di mana ibunya benar-benar tak sadarkan diri di sana sekarang.
"Tolong! Dokter!" Dimas berteriak sekuat tenaga dan tak lama kemudian beberapa dokter dan perawat masuk ke ruangan itu.
Dara sudah tremor begitu juga dengan Dimas. Mereka hanya bisa berdoa supaya Tsania baik-baik saja kala itu. Dara sudah menangis dari tadi. Dia tidak bisa untuk berpikir positif. Dimas memeluk putrinya tersebut. Dia pun sama ketakutannya.
Setelah beberapa saat, sang dokter akhirnya ke luar ruangan. "Nyonya Tsania Larasati telah mengembuskan napas terakhirnya hari ini."
Saat itu juga, Dara jatuh meluruh ke lantai. Kakinya seolah mati rasa dan tak kuat untuk berdiri lagi setelah sang dokter mengatakan kalau ibunya telah meninggal dunia. Ibu yang sudah melahirkan Dara telah berpulang dan Dara tidak akan bisa menemuinya esok hari atau sampai kapan pun. Gadis itu menangis sejadi-jadinya sambil mendekap mayat ibunya tersebut. Dara tidak sanggup, apa yang dia takutkan kenapa bisa terjadi secepat ini. Dara ingin mengutuk Tuhan sekarang juga. Dara ingin menolak. Harusnya Tuhan tidak mengambil ibunya secepat itu, Dara tidak bisa hidup sendirian.
Dimas merasa batinnya hancur berkeping-keping. Dia terlambat, bahkan dia belum sempat meminta maaf pada wanita yang sempat menjadi istrinya tersebut. Dimas b******n. Kenapa dia baru datang di saat Tsania bahkan sudah tidak bisa dia ajak bicara lagi? Dimas benar-benar tidak tahu diri. Dimas menangis diam-diam sambil menyembunyikan wajahnya. Dia tidak sanggup melihat Tsania kala itu. Ia berharap ia bisa mengulang waktu, maka dia bisa dengan leluasa membahagiakan Tsania dan tidak akan pernah menyakitinya. Namun, tetap saja semua itu sudah terlambat.
***
Dara pernah berpegang pada sebuah pernyataan, 'kematian itu adalah cara terbaik untuk berpisah'. Mungkin pernyataan itu memang benar, Dara berpisah dengan ibu tercintanya lewat kematian. Tapi, bisakah hal itu tidak terjadi secepat ini? Kalau boleh Dara menawar, Dara tidak siap kehilangan ibunya sekarang.
Di pemakaman yang dihadiri oleh beberapa orang itu, Dara terus melamun sambil menatap kosong nisan ibunya sendiri. Dara bahkan belum sempat makan. Dia bahkan tidak ingin makan. Dirinya hambar. Masalah datang bertubi-tubi padanya. Pertama Karan, lalu ibunya dan sekarang Akriel yang bahkan Dara tidak tahu kabar laki-laki itu yang katanya masih dalam pencarian.
Sementara Dimas masih terbenam dalam penyesalannya. Hari ini adalah hari terakhir dia bertemu Tsania. Dia tidak akan bisa bertemu dengan wanita itu lagi esok, lusa atau selamanya. Kenapa Dimas baru bisa menyesal sekarang? Dua tahun berlalu ke mana saja dia sampai Tsania mendekam di rumah sakit jiwa saja Dimas tidak tahu? Bahkan Dimas tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Kala itu hanya ada Dara dan Dimas yang masih berada di pemakaman. Mereka dibalut duka yang sama-sama dalam. Mereka saling berutang janji pada Tsania. Belum janji itu tuntas, Tsania malah pergi lebih dulu.
Flashback 18 tahun lalu
"Pekerjaanmu baik-baik aja kan, Mas?"
Terdengar suara lemah lembut yang memenuhi telinga Dimas malam itu. Itu istrinya yang tengah hamil 9 bulan tengah berada di ambang pintu kemudian berjalan menghampirinya. Dimas sangat stres karena pekerjaannya kala itu.
"Sinopsis filmku lagi-lagi ditolak." Kata Dimas frustasi.
Tsania lantas menggenggam tangan suaminya tersebut seraya tersenyum. Rasanya hanya dengan melihat wanita itu tersenyum membuat Dimas merasa tenang sedikit. Meskipun urusan pekerjaannya yang selalu membuatnya hampir mati, Tsania selalu ada. Belum lagi anak yang masih dalam kandungan itu seolah menjadi motivasi Dimas untuk bekerja keras walaupun dia belum mendapat hasil manis dari pekerjaannya.
"Gak apa-apa. Mungkin belum waktunya." Kata Tsania pada suaminya.
Dimas tersenyum mendengarnya. Memang hanya Tsania wanita yang selalu mendukungnya saat dia merasa lemah.
"Aku janji gak akan pernah ninggalin kamu." Lanjut Tsania dan di masa depan, justru Dimaslah yang meninggalkan Tsania.
Dimas menghela napas kasar, pria itu memandangi Dara di sampingnya yang masih menatap kosong pada kuburan ibunya. Wajahnya pun pucat. Langit pun sudah kedapatan mendung tanda hujan akan segera turun sebentar lagi.
"Dara." Panggil Dimas tapi Dara tetap geming. "Ayo kita pulang."
"Pulang? Siapa Anda mengajak pulang? Aku udah bilang kan kalo aku udah gak menganggap Anda sebagai ayahku sendiri?" Perkataan Dara berhasil menohok Dimas dengan dalam.
Dimas tersentak. Sungguh demi apa pun, apakah ini adalah hukuman untuk Dimas? Mungkin iya dan haruskah Dimas menerimanya. Dimas menyayangi Tsania maupun anak kandungnya sendiri, Dara. Tapi, apa jadinya kalau gadis itu bahkan sudah terlanjur muak dengan ayahnya sendiri sampai tega tidak menganggap Dimas sebagai ayahnya. Memang itu salah Dimas sendiri.
Di tengah kegundahan mereka, tiba-tiba datang sebuah mobil polisi yang menyita perhatian Dimas maupun Dara. Ada beberapa polisi yang turun dari mobil itu dan kini berjalan menemui Dimas. Dimas sedikit kebingungan.
"Selamat sore." Sapa polisi itu dan dibalas anggukkan oleh Dimas. "Kami dari tim kepolosian menangkap Dimas Haribuana atas tuduhan penculikan Akriel Zaphka Mihr."
Dara yang mendengarnya langsung melotot ke arah Dimas. "Apa Anda yang melakukan itu?! Di mana Anda menyebunyikan Akriel?! Di mana dia sekarang?!"
Dimas kebingungan terlebih tangannya yang tiba-tiba diborgol. "Ada apa ini? Saya sama sekali tidak menculik Akriel." Namun telat, Dimas akhirnya dibawa oleh polisi itu dan dipaksa untuk masuk ke dalam mobil.