34. Berbalik Kubu

1753 Kata
"Apa maksud Anda bahwa saksi telah diculik?" Sang hakim masih kebingungan. "Akriel hilang sejak tadi pagi. Dan dia belum juga kembali saat ini. Saya punya bukti kalau Akriel telah diculik." Kata Pak Bondan dan tanpa basi-basi, pria itu dengan segera menyetel rekaman suara dari smart watch yang dipegangnya dan memperdengarkan rekaman itu pada semua orang. Renita : Kamu sudah cukup macam-macam pada saya. Sekarang lihat apa yang kamu dapatkan. Akriel : Kenapa kamu membawa saya ke sini? Renita : Kamu pikir siapa kamu berani-beraninya menghalangi jalan saya? Siapa pun orang yang telah menghalangi jalan saya, saya tak segan untuk membunuhnya. Berhenti ikut campur atau kamu akan mati di tangan saya! Akriel : Jadi, kamu mau melakukan hal yang sama kepada saya? Sama seperti kamu melakukannya dulu kepada Karan? Dasar pembunuh. Renita : Benar. Saya memang seorang pembunuh. Saya bisa menyingkirkan kamu dari dunia ini hanya dengan menjentikkan jari. Maka dari itu, jangam berurusan dengan saya. Akriel : Dasar wanita gila. Hanya itu yang bisa kamu lakukan? Kamu menyingkirkan semua orang yang mengetahui kebenaran agar kamu tetap aman? Pecundang! Pak Bondan melirik Renita. Rupanya wanita itu tengah menatapnya balik dengan sangat nyalang. "Di mana Anda menyembunyikan Akriel?" Tanya Pak Bondan datar pada Renita. Renita gelagapan. Wanita itu tampak menggerutu. Kini semua perhatian tengah tertuju padanya. Termasuk hakim sendiri yang masih dibuat tak habis pikir dengan masalah ini. Sheryl di ujung sana juga tampak ketakutan. Apalagi Dara yang mulai khawatir dengan keadaan Akriel. Gadis itu tak bisa berhenti beroverthinking. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Akriel? "Apa itu cukup kuat untuk membuktikan kalau yang berbicara di rekaman itu adalah saya?" Renita masih mencoba menyangkal. "Cukup." Kata sang hakim menengahi sambil menatap Renita. "Kepada Renita, Anda akan diintrogasi di kantor polisi atas tersangka penculikan dan percobaan penghapusan bukti." Renita yang mendengarnya luar biasa terkejut. Sementara Dimas yang ada di sampingnya hanya diam saja. Sheryl pun nyaris menangis ketika ibunya mulai dibawa oleh beberapa polisi dan dimasukkan ke dalam mobil yang dijaga ketat. "Lepaskan saya! Saya tidak bersalah! Lepaskan!" Teriak Renita sambil meronta-ronta ketika tangannya diborgol. Suasana pun semakin ricuh karena keributan di ruangan itu. Di tengah itu, sang hakim menghampiri Kasa, Kisa dan Saka serta Pak Bondan di ujung sana. Kelimanya sama-sama menoleh pada sang hakim. "Kalian juga akan diintrogasi nanti. Kalian tenang saja, Akriel pasti akan segera ditemukan." Kata sang hakim dan mendengarnya mereka mengangguk saja. Dara lemas. Rasanya dia tidak kuat untuk berdiri saja. Dia sungguh berharap Akriel akan baik-baik saja. Dia tidak pernah menyangka bahwa kejadian ini akan terulang kembali. Lalu tiba-tiba Dimas menghampirinya membuat Dara mendelik tak suka. Pria itu berjongkok di depan Dara sambil memegangi tangan gadis itu. Dara kebingungan melihat ayahnya tiba-tiba bersikap begitu. Dara ingin menyingkir tapi ayahnya masih menahan tangannya. "Lepasin tangan aku. Aku mau pergi." "Dengar Dara!" Kata Dimas agak lantang sampai membuat Dara tercekat di tempatnya. "Ayah minta maaf. Kali ini Ayah ada di pihak kamu." Dara tersenyum agak meremehkan. "Baru sekarang Ayah sadar? Ke mana saja Ayah selama ini? Aku bahkan gak sudi lagi untuk menyebut orang di depanku sebagai ayahku." Dara mengibaskan tangannya dan genggaman tangan Dimas saat itu juga lepas. Dara meninggalkan ayahnya. Dimas masih tertegun di sana. Dia memang sudah terlanjur muak dengan pria itu sekalipun dia tetap ayahnya. Sementara di sudut lain, Sheryl tengah menangis ketika ibunya benar-benar sudah dibawa pergi ke kantor polisi. Sheryl begitu histeris dan bingung harus berbuat apa. Dia mencoba menelepon ayahnya, Herman, namun pria itu tak menjawab teleponnya. Lalu tanpa disengaja, pandangannya menangkap keberadaan Dimas dan Dara. Entah kenapa Sheryl sangat membenci suasana kala itu. Sheryl membenci semua orang. *** "Di mana Anda menyembunyikan Akriel?" Polisi terus mengintrogasi Renita namun wanita itu tanpa henti terus mengelak dan mengatakan kalau dia tidak melakukan apa-apa pada Akriel. "Saya sudah bilang puluhan kali dan jawaban saya tetap sama. Saya tidak melakukannya. Apa ada bukti kalau wanita yang berbicara di rekaman itu adalah saya? Sejak pagi saya berada di rumah dan pukul 8 saya langsung ke sekolah untuk menghadiri persidangan." Kata Renita dan dengan sempurnanya mampu membuat polisi-polisi itu setengah mempercayainya. "Jadi, apa kalian tidak ingin memberi saya waktu istirahat?" "Saya beri Anda jeda 15 menit lalu kita lanjutkan introgasinya nanti." Kata polisi dan beberapa detektif itu lalu pergi meninggalkan ruangan introgasi tersebut. Setelah dirasa tidak ada orang lain lagi, Renita langsung mengambil handphonenya dari dalam tasnya. Ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan tak terbaca dari anak buahnya. Renita memilih untuk tak meneleponnya dan lebih memilih untuk mengirimkan pesan. From Renita Apa semuanya beres? From Roger Akriel tidak ada di gudang Dia melarikan diri Renita refleks membukatkan bola matanya ketika membaca pesan dari anak buahnya tersebut. Bagaimana mereka bisa tidak tahu kalau Akriel melarikan diri? Renita ingin marah sekarang juga. Kalau sampai Akriel kembali, tamatlah riwayat Renita sekarang. From Renita Cari dia sampai ketemu Saya tidak mau tahu pokoknya Akriel harus ketemu sekarang juga dan sembunyikan dia di tempat lain From Roger Kami sedang mencoba mencarinya Rasanya Renita ingin membanting handphonenya sekarang juga. Dia luar biasa marah. Dia ingin membanting semua barang-barang yang ada di sana. Namun, dia harus tetap berlagak tenang di kantor polisi ini. Dia hanya harus menahannya sampai introgasi ini selesai. Renita lalu mencoba menelepon seseorang lagi, Dimas. Butuh waktu lama untuk Renita mendapat jawaban telepon dari Dimas. "Dari mana aja kamu? Cepat datang ke kantor polisi. Sewa pengacara secepatnya." Renita langsung membombardir suaminya. 'Maaf. Kali ini gak bisa. Aku ada urusan penting.' "Apa? H-halo?! Halo?! Dimas?!" Sialan, Dimas memutuskan telepon sepihak membuat Renita muak. Bisa-bisanya dia menolak perintah Renita. Renita benar-benar ingin marah sekarang juga. *** Hanya Kasa, Fany dan Pak Bondan yang dibolehkan menemani polisi menyelidiki titik terakhir hilangnya Akriel yaitu di sebuah gudang tua tak berpenghuni di ujung jalan itu. "Jadi, di sini saya menemukan smart watch Akriel." Jelas Kasa. Sebagian polisi itu lalu masuk untuk memeriksa. Sebagian lagi di luar bersama Kasa dan Fany. Akriel benar-benar hilang. Kasa tidak menyangka bahwa hal ini menimpa Akriel. Entah bagaimana nasib cowok itu sekarang. Yang jelas, Kasa ikut sedih dan khawatir karena hilangnya Akriel. Lalu dari semak-semak, Kasa sedikit menyipit melihat sesuatu aneh terjadi di sana. Dia melihat ada beberapa orang yang tengah mengendap-endap di sudut sana. Dengan berani, Kasa melaporkannya kepada polisi di sekitarnya untuk memeriksa hal itu. Dan rupanya, polisi berhasil menangkap basah dua orang yang tidak diketahui siapa identitasnya. "Siapa kalian?" Kata polisi sambil menodongkan pistolnya sebagai ancaman. Dua orang itu sontak angkat tangan. "Kami bukan siapa-siapa." "Lalu sedang apa kalian berada di sini? Atau jangan-jangan kalian orang yang telah melakukan penculikan?" "Tidak!" Sergah keduanya. "Bukan kami yang melakukannya." "Cepat katakan dengan jujur atau pistol timah ini akan menembak kaki kalian!" Ancam polisi itu. "Kenapa kalian ada di sini?" "Kami di sini juga sedang mencari anak bernama Akriel. Dia telah melarikan diri dan kami pun tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Kami di sini hanya sebagai suruhan." Perkataan pria itu sontak membuat Kasa membulatkan mata. Dia nyaris membekap mulutnya sendiri. Cewek itu terkejut begitu juga dengan beberapa polisi yang mulai mengerumuni dua pria itu. Mereka semua tengah menodongkan pistol dan senjata ke arah dua orang asing yang tengah dikepung itu. "Jadi, kalian yang menculik Akriel?" "Kami hanya disuruh." "Cepat beri tahu siapa yang telah menyuruh kalian untuk melakukan itu!" "Dimas Haribuana." *** Dokter baru saja keluar dari sebuah ruangan, Herman pun langsung menghampirinya dengan rasa super penasaran bagaimana keadaan seorang anak laki-laki yang dibawanya ke rumah sakit ini beberapa waktu lalu. "Bagaimana keadaannya, Dok?" "Dia baik-baik saja. Meskipun ada banyak luka di tubuh dan organ vitalnya, tapi dia akan sembuh secepatnya karena sudah mendapat perawatan." Jelas dokter itu membuat Herman merasa lega. "Boleh saya memeriksanya?" "Silakan." Herman pun masuk ke dalam ruangan itu dan melihat seorang anak laki-laki tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Dari tagname yang tertera di seragamnya, anak laki-laki itu bernama Akriel Zaphka Mihr. Herman menemukan anak laki-laki itu pingsan dengan wajah babak belur dan ada banyak darah di tubuh dan seragamnya bekas pukulan. Tadi pagi, Herman tak sengaja mengikuti mobil Renita yang mengarah ke suatu tempat. Diam-diam, Herman pun membuntutinya. Dia menuju sebuah lokasi di mana terdapat gudang tua di sana. Herman sempat kebingungan apa yang habis dilakukan mantan istrinya tersebut di tempat tersembunyi seperti itu. Dan setelah Renita serta anak buahnya meninggalkan tempat itu lebih dulu, Herman nekat untuk masuk ke ruangan itu dan mendapati seorang anak laki-laki tengah tak sadarkan diri dengan mengenaskan. Maka buru-buru Herman membawanya ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Renita. Dari seragamnya, Herman tahu kalau anak laki-laki itu satu sekolah dengan anaknya, Sheryl. Herman juga sedikit ingat kalau anak laki-laki itu adalah orang yang sama dengan orang yang menbatalkan sidang pertama beberapa hari lalu. Mungkin karena itulah Renita melakukan hal itu pada bocah malang ini. Herman memperhatikan anak laki-laki itu mulai membuka matanya perlahan. Dia sudah sadar. Herman semakin lega. Herman tersenyum melihat anak laki-laki itu yang masih menatapnya sayu. "Kamu sudah sadar, Nak?" Tanya Herman ramah. Akriel masih pusing. Kepalanya masih berputar bagai gasing dan tidak mau berhenti. Belum lagi berbagai perban yang menutupi beberapa luka di tubuhnya. Akriel juga tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini. Dan pria di sampingnya yang tengah tersenyum random membuat Akriel tambah kebingungan. Terakhir Akriel berada di sebuah tempat dan dia sedang disekap di sana. Dia ingat ketika dia berkali-kali dihajar oleh beberapa orang sampai dia kehilangan kesadaran. Dan entah bagaimana ceritanya dia bisa berada di sebuah ruangan rumah sakit seperti ini. Mungkinkah ada kekuatan teleportasi di Bumi? Akriel kebingungan. "Kamu tidak perlu takut. Kamu aman di sini." Pria itu berbicara lagi pada Akriel. "Anda yang telah menyelamatkan saya?" Tanya Akriel dengan nada sedikit waspada. Herman mengangguk mengiakan. "Saya ayahnya Sheryl." Akriel lantas beringsut. Dia waspada. Orang di depannya yang merupakan ayahnya Sheryl tersebut pasti akan sama berbuat jahat padanya seperti apa yang dilakukan ibunya Sheryl. Begitu pikir Akriel. "Kamu gak usah takut. Saya hanya membantu kamu pergi dari gudang itu dan membawa kamu ke sini. Kamu aman bersama saya." Jelas Herman mencoba meyakinkan Akriel. "Bagaimana saya bisa mempercayai Anda kalau Anda tidak akan menghajar saya juga?" Ucap Akriel datar. "Kamu gak usah percaya. Saya udah buktiin kalo saya gak lagi ngehajar kamu, kan?" Kata Herman santai. "Gak usah ngomong kaku begitu. Saya bukan orang jahat kok." "Tapi Anda ayahnya Sheryl." "Iya, tapi saya gak jahat dan saya gak akan ngehajar kamu. Saya justru membantu menyelamatkan kamu dari Renita." Akriel terdiam. Cowok itu tampak meneliti Herman. Haruskah dia mempercayainya? Tapi kelihatannya Herman tidak akan berbuat jahat meskipun dia adalah ayahnya Sheryl. Baiklah, mungkin Akriel harus mempercayainya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN