33. Lampu Merah Bikin Marah

1742 Kata
"Terus kita harus gimana?" Fany mulai panik. Kasa masih geming. Dia mencoba berpikir bagaimana cara untuk menemukan Akriel. "Gue tau siapa yang nyulik Akriel." Kata Kasa dengan datarnya. "Akriel diculik?" Fany melotot. "Maksudnya?" Kasa mengangguk. "Renita. Dia yang udah nyulik Akriel." Fany hampir membekap mulutnya sendiri. Renita sudah bertindak dan itu tandanya mereka tidak bisa hanya diam saja. "Dari mana lo tau?" "Itu gak penting sekarang. Kita harus nyari Akriel secepatnya sebelum kita telat." "Tapi, ke mana?" Kasa menguatak-ngatik smart watchnya. Beruntung, Kasa telah mengaktifkan fitur google maps di smart watch Akriel semalam. Setidaknya Kasa punya petunjuk untuk mencari di mana laki-laki itu berada. "Ikut gue, kita gak punya banyak waktu lagi." Fany mengangguk dan akhirnya dua cewek itu bergegas menuju tempat yang dimaksud Kasa. *** Kisa dan Saka kompak tercengang mendapat kabar dari Kasa kalau Akriel menghilang. Lebih kagetnya lagi, Kasa berniat mau mencari Akriel. Jam pelajaran pertama telah dimulai dan Kasa belum juga masuk ke kelas. "Berarti beneran dong Kasa lagi nyari Akriel." Pelan Kisa pada Saka di sela-sela pembelajaran di kelasnya. Saka dan Kisa berinisiat buat izin ke kamar mandi. Bukan mau ke kamar mandi beneran, melainkan dua anak itu mau mencari Kasa. Dan setelah merayu sang ibu guru dengan ribuan gombalan, akhirnya Saka dan Kisa berhasil keluar dari kelas. Kisa masih mencoba menghubungi Kasa. "Anak anjing, gak diangkat telepon gue." Mereka kini tengah bergegas menuju ruang kepala sekolah untuk melaporkan kejadian ini. Saka tercekat ketika sampai di ruangan kepala sekolah, ada banyak guru di luar sana. Saka baru teringat kalau sekarang sidang kasus Dara dan Sheryl akan segera dilaksanakan. Saka dan Kisa mencoba menerobos tempat itu. "Kalian ngapain di sini?" Seorang ibu guru baru saja memergoki Saka dan Kisa yang hendak mau masuk ke ruangan kepala sekolah. "Kami mau ketemu Pak Botak— eh Pak Bondan Taksadana maksudnya, Bu." Kata Kisa sedikit keceplosan. "Pak Kepala Sekolah lagi sibuk sekarang. Mending kalian cepet balik ke kelas. Di sini semua orang lagi pada sibuk." "Tolong, Bu. Kami cuma mau ngomong sebentar sama Pak Bondan." Saka memohon. "Gak bisa." "Bisalah, Bu." "Gak bisa, anak-anak." Ibu guru itu sampai geleng-geleng kepala. "Kalian kembali ke kelas sekarang juga." Saka dan Kisa kompak cemberut. Karena tidak bisa melawan, akhirnya dua anak itu berniat kembali ke kelas. Namun, tanpa mereka duga Pak Bondan dari belakang tiba-tiba berseru pada mereka. Saka dan Kisa menoleh dan langsung lega ketika Pak Bondan akhirnya keluar dari ruangannya. "Pak, ini gawat!" Kisa genting. "Ada apa ini?" "Akriel hilang, Pak. Dan Kasa lagi nyari dia." Pak Bondan melotot kaget. "Gimana bisa? Kalian udah coba hubungi Kasa?" "Dari tadi Kasa gak mau angkat telepon dari saya, Pak. Maka dari itu saya khawatir." "Coba kamu telepon sekali lagi." Pak Bondan pun tak kalah khawatir dan panik. Kisa mencoba menelepon Kasa lagi dan setelah sekian lama akhirnya cewek itu mengangkatnya. "Kasa, lo di mana?!" Kata Kisa dengan lantang. 'Gue gak tau ini di mana. Tapi gue sama Fany sekarang. Gue share lock kalo lo mau tau.' Kata Kasa di balik telepon. "Kenapa lo bisa sama Fany?" 'Gue gak bisa jelasin sekarang, Kisa. Gue lagi buru-buru sekarang.' "H-halo?" Kisa sebal karena Kasa memutuskan sambungan secara sepihak. "Jadi, dia di mana?" Kasa menunjukkan handphonenya pada Pak Bondan dan memperlihatkan lokasi di mana Kasa berada. "Oke, kita ke sana sekarang." Kata Pak Bondan sambil bergegas setelah mengambil kunci mobilnya dari saku, sementara Kisa dan Saka kompak melotot. "Kita?!!!" Kompak dua anak itu dengan terkaget-kaget. *** Setelah melanglang setiap sudut tempat, Kasa dan Fany hampir putus asa. Mereka sudah kelelahan dan hampir tak sanggup melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat di mana Akriel berada. Mereka sudah berjalan agak jauh dan tak kunjung menemukan Akriel sampai sekarang. "Apa tempatnya masih jauh?" Fany bertanya. "Kayaknya suh udah mulai deket." Jawa Kasa. "Kita istirahat aja dulu." Akhirnya, dua cewek itu duduk di bawah pohon. Kasa terus memastikan google maps di smart watchnya. Menurut lokasi, mereka sudah agak dekat dengan keberadaan Akriel. Kasa berharap Akriel akan baik-baik saja. Sementara Fany masih beristirahat, Kasa lanjut mencari lokasi keberadaan Akriel. Lokasinya semakin mendekat ketika Kasa berjalan ke arah Timur. Kasa yakin Akriel sudah semakin dekat dengannya. Kasa terus berjalan dan dia sempat tercekat ketika menemukan sebuah bangunan tua dan kumuh di ujung sana. Yang lebih membuat Kasa tercengang lagi, lokasi yang berada di smart watchnya tepat berada di bangunan tua itu. Akriel pasti ada di sana. "Fany!" Panggil Kasa pada cewek yang masih bersandaran di balik pohon. Tak lama Fany pun menghampiri Kasa yang berseru di balik sana. Fany ikut tercekat tatkala sampai di tempat Kasa dan mendapati bangunan menyeramkan mirip gudang bekas yang sudah tidak terpakai lagi. "Akriel ada di sana." Kata Kasa. "Kita masuk ke sana?" Tanya Fany dan Kasa pun mengangguk. Akhirnya, mereka bergegas untuk masuk ke gudang itu. Mereka nyaris memekik ketakutan ketika melihat isi ruangan yang gelap dan menyeramkan bak rumah hantu. Entah bangunan apa itu, mereka terus fokus mencari Akriel. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang mendapati kehadiran orang lain di sana. Yang jelas tidak ada tanda-tanda keberadaan Akriel sama sekali. Kasa mencoba menghubungi Akriel lagi dan dari balik tumpukan kardus terdengar suara getaran. Dengan sedikit ketakutan, Kasa mencoba memberanikan diri untuk memeriksanya dan rupanya itu adalah smart watch Akriel. Kasa kian panik ketika tidak mendapati Akriel di sana. Hanya ada smart watchnya bukan orangnya. Fany menghampiri Kasa yang sudah luar biasa panik. "Ada apa?" Tanya Fany. "Ini smart watch Akriel." Kata Kasa dengan nada suara yang sedikit bergetar melihat smart watch yang terdapat bintik-bintik darah tersebut. Fany pun ikut memekik melihat benda itu. Lalu ketakutan mereka tak hanya sampai di sana, mereka melihat ke lantai dan ada banyak darah yang berceceran di sana. Mereka pun tak bisa untuk tidak beroverthinking. Kasa luar biasa panik dan ketakutan. Ia hanya bisa berharap kalau Akriel akan baik-baik saja. Tidak akan ada sesuatu yang terjadi pada Akriel sedikit pun. Sial, Kasa nyaris menangis. "Lalu di mana Akriel?" Tanya Fany. Kasa tremor dan mengabaikan pertanyaan Fany barusan. Dia terus menatap khawatir pada smart watch Akriel di tangannya. Kasa baru teringat kalau dia juga sempat mengaktifkan fitur perekam suara sejak semalam. Buru-buru Kasa membuka hasil rekaman tersebut. Ia berharap ada sebuah jawaban atau petunjuk siapa yang telah melakukan hal ini pada Akriel. Belum sempat Kasa maupun Fany mendengarkannya, ada beberapa orang yang datang secara tiba-tiba dari arah pintu sampai membuat Kasa dan Fany kompak tercekat. Kasa maupun Kasa sama-sama melotot ketakutan dengan kedatangan seseorang dari balik pintu. *** Sidang itu pun akhirnya dimulai. Kali ini bukan Pak Bondan sebagai hakimnya, melainkan seorang hakim sungguhan untuk menentukan siapa yang bersalah dalam kasus ini. Dara sudah pasrah sejak tadi. Akriel tidak hadir di sidang itu dan semua orang tengah menunggu kehadirannya. Memang, harusnya sejak awal Dara tidak usah percaya pada siapa pun. Baik semua orang termasuk Akriel, orang yang sempat dia percaya sama-sama telah menipunya. Dara tidak tahu ke mana Akriel dan janjinya untuk menjadi saksi dan menyelamatkan Dara di persidangan itu hanya bohong belaka. Akriel bahkan tidak menepati janjinya. Mungkin itu salah Dara sendiri yang terlalu berharap juga. "Apa saksi dari Saudari Dara belum juga datang?" Kata sang hakim membuat Dara menengadah. Dara pasrah. Apa pun yang akan terjadi selanjutnya Dara hanya bisa pasrah. Akriel tak kunjung datang tanpa alasan yang Dara ketahui. Atau mungkinkah terjadi sesuatu pada Akriel sampai dia belum datang juga? Entahlah, Dara bahkan tidak tahu harus lewat apa untuk menghubungi laki-laki itu. "Kalau dalam lima menit saksi belum juga datang, maka sudah dipastikan kalau Sheryl yang akan memenangkan sidang ini." Lanjut sang hakim Dara menghela napas saat mendengarnya. Berbeda dengan Renita serta Sheryl yang malah tersenyum puas di sampingnya. Mungkin sampai di sini hidup Dara. Dia tidak akan bisa bersekolah lagi di mana pun. Sekarang, Dara hanya perlu belajar mengikhlaskan apa yang harusnya ia dapatkan dalam ketidakadilan dunia ini. *** Kasa pikir orang yang baru saja menggebrak pintu adalah anak buah Renita, namun Kasa merasa lega ketika mereka bukan seperti yang dipikirkan Kasa melainkan itu adalah Pak Bondan, Saka dan juga Kisa. Kasa merasa terselamatkan karena kehadiran Pak Bondan yang tepat waktu datang ke sana. Kasa sudah menceritakan semuanya mulai dari Akriel yang tak kunjung ketemu sampai rekaman suara yang terekam di smart watch Akriel. Pak Bondan maupun semua orang yang ada di sana sama-sama dibuat kaget ketika mendengarkan rekaman itu dengan saksama. Ternyata benar, Akriel diculik oleh Renita. Pak Bondan benar-benar tidak menyangka mengetahui hal itu. Jadilah mereka bergegas kembali ke sekolah untuk segera membatalkan sidang yang sekarang tengah berlangsung tersebut. Pak Bondan ngebut di jalanan. Untung jalanan tidak macet dan tidak ada polisi yang lagi berpatroli. Kalau ada, mereka bisa kena tilang karena bawa mobil ugal-ugalan di jalan raya. Namun, tiba-tiba Pak Bondan menurunkan kecepatan mobilnya bikin Kasa, Saka, Kisa dan juga Fany kian sebal. Mobil akhirnya berhenti di tengah jalan. "Kenapa berhenti, Pak?" Kisa greget sendiri. Pak Bondan berdecak. "Kamu gak liat itu lampu merah?" Saka, Kasa, Kisa dan juga Fany kompak menepuk jidat. "Ini darurat, Pak. Jangan pikirin ditilang atau nggak. Kita harus segera ke sekolah!!!!!" Kata Kasa lantang. Pak Bondan tampak melirik-lirik kaca spion sampai rear view mirror mobilnya. Jaga-jaga barangkali tiba-tiba ada polisi di belakang dan menilangnya karena melanggar peraturan lalu lintas. "Ya Allah, Pak. JALAAANNNNN!!!!!!!!" Pak Bondan langsung tancap gas menerobos lampu merah dan sontak membuat keempat anak itu tepuk tangan salut. Baru kali ini Pak Bondan melanggar peraturan lalu lintas. Biasanya dia orang yang taat berkendara. Tapi berhubung ini lagi keadaan darurat, jadilah terpaksa dia melanggar dan itu cukup satu kali dalam hidupnya. Keberuntungan berpihak pada mereka, tidak ada polisi yang mengejar meskipun mereka habis menerobos lampu merah. Mereka akhirnya sampai di sekolah dan langsung masuk tanpa permisi ke ruangan sidang. BRAKKK Suara pintu yang baru saja dibuka paksa berhasil membuat perhatian semua orang yang ada di sana kala itu tersita karena kehadiran sang kepala sekolah, Bondan Taksadana, beserta keempat anak muridnya Saka, Kasa, Kisa dan juga Fany. Kehadirannya membuat sang hakim kebingungan. Dara juga tak kalah keheranan melihat orang-orang di belakang sana. Namun, dia tetap tak mendapati Akriel bersama mereka. "Ada apa ini?" Tanya hakim dengan ekspresi kebingungan. Pak Bondan maju ke depan. "Hentikan sidang ini. Akriel yang merupakan saksi dari Dara telah diculik sehingga dia tidak bisa hadir di persidangan ini." Ucapan Pak Bondan berhasil membuat semua orang terutama hakim keheranan. Renita di ujung sana tampak menggerutu. Lagi-lagi, ada saja orang-orang yang terus merusak semua rencananya. Mereka semua seolah telah memantik amarah Renita. Renita kini tengah ditatap dengan tajam oleh Bondan Taksadana. Renita mengernyit. "Renita yang telah menculik Akriel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN