56. Takdir

1218 Kata
'Bisakah kami mati saja?' 'Kami ingin berhenti dalam permainan gila ini.' 'Tolong, bantu kami di sini.' 'Akriel, matilah kau!!!' "Huh?!" Akriel terbangun dari tidurnya. Keringat dingin memenuhi pelipisnya. Dadanya terasa sesak dan napasnya tak beraturan. Dia merasa kehabisan oksigen sampai dia kesulitan untuk bernapas. Laki-laki itu baru saja bermimpi. Mimpi yang membuatnya selalu membuatnya merasa ketakutan setiap saat. Mimpi yang selalu datang dari adik-adiknya. Akriel tahu, setiap mereka datang ke dalam mimpinya, itu bukan cuma sekadar mimpi tapi sekaligus peringatan. Sudah hampir dua bulan Akriel berada di Bumi. Dan waktunya untuk tinggal di sini tak punya banyak waktu lagi. Waktunya semakin menipis. Dan hingga sekarang, Akriel tak kunjung menemukan perempuan bertanda sayap malaikat di punggungnya. Akriel sangat frustasi. Bagaimana kalau dia gagal menjalankan misinya. Negeri dan kehidupan adik serta yang lainnya pasti akan hancur karena kelalaian Akriel sendiri. Laki-laki itu menghela napas frustasi. Lalu, entah bagaimana tangannya tengah menggenggam sehelai bulu berwarna putih yang bersinar-sinar. Akriel membaca huruf yang tertera di sana. 'Masalah manusia di sana sudah selesai, kan? Tapi, kamu masih tidak berusaha sama sekali untuk mencari perempuan bertanda sayap itu hingga sekarang. Sebenarnya apa yang sedang kamu tungggu? Kalau begitu, terpaksa kami pun harus turun langsung ke Bumi kalau memang misi itu terlalu sulit untuk dijalani sendirian.' Akriel memejamkan matanya seusai membaca pesan di atas bulu itu. Dia tahu itu adalah pesan yang dikirim oleh salah satu adiknya. Pesan yang terus mendesak Akriel untuk segera menuntaskan misinya. Kalau boleh jujur, Akriel terlalu keberatan dengan misinya tersebut. Rasanya dia ingin menyerah dan kembali saja sekalipun itu dengan tangan kosong. Akriel beranjak dari tempat tidurnya. Laki-laki itu keluar dari kamarnya. Dia tahu sekarang pukul 2 dini hari dan kini dia tengah berjalan menuju balkon. Tidak ada siapa-siapa di sana. Di balkon itu hanya ada Akriel seorang serta angin yang sesekali seliweran menerpa rambutnya hingga berantakan. Akriel terus menghela napas untuk merelaksasikan pikirannya. Benar, jadi manusia itu sangat membuatnya stres karena masalah tak kunjung berhenti dan selalu datang. Tetapi, semenjak berada di Bumi, Akriel menganggap ini adalah peralihan dari kekacauan negerinya. Setidaknya dia bisa aman dan terhindar dari perang yang masih berlangsung tersebut. Iya, Akriel mungkin egois karena hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memedulikan kondisi keempat adik serta ayahnya yang masih berjuang di Flat. Akriel sama sekali tidak memikirkan bagaimana keadaan mereka di sana. Jelas mereka tengah berjuang untuk hidup dalam kesulitan. Sementara di Bumi, Akriel merasa tak sanggup untuk menjalankan misi yang telah diberikan ayahnya hingga pada akhirnya dia akan gagal kalau terus-terusan begini. Hanya saja Akriel terlalu bingung memikirkan cara untuk menemukan gadis yang dimaksudnya. Ada ratusan juta gadis perempuan di Bumi dan Akriel seorang diri harus menemukan salah satu dari mereka yang memiliki tanda sepasang sayap malaikat di punggungnya. Akriel nyaris gila. Laki-laki itu mengemuskan napas kasar disertai tangannya yang mengepal sampai urat tangannya terlihat jelas. Dia lelah berada di sini, tapi dia akan lebih lelah kalau kembali ke negerinya. Akriel memandang langit yang gelap itu dalam-dalam. Kemudian, dirinya berucap pelan, "Kalau boleh saya meminta, izinkan saya memilih takdir yang saya inginkan. Izinkan saya terlahir kembali dan hidup menjadi seseorang yang memiliki kehidupan normal seperti kebanyakan orang pada umumnya." *** Akriel, Saka dan Kasa berangkat ke sekolah bersama. Ini adalah pertama kalinya mereka ke sekolah tanpa Kisa. Iya, cewek itu diketahui masih berada di Yogyakarta. Ketiganya tengah berjalan di lorong kelas menuju kelas masing-masing. "Lo masih betah jadi manusia?" Kasa tiba-tiba bertanya yang sudah jelas ditujukan untuk Akriel. Laki-laki itu menoleh bingung. "Tolong jangan tanyakan soal itu. Saya sedang pusing untuk membicarakannya." "Idih." Saka tiba-tiba memasang lirikan geli pada Akriel. "Pusing kenapa lu? Tumbenan bisa puyeng begitu. Gue pikir cuma manusia aja yang bisa punya beban pikiran, ternyata malaikat juga." "Sekarang saya manusia, makanya saya juga bisa pusing." Akriel segera menyela. Dia agak sensitif dan kesal pada semua orang. Hal itu karena pasal semalam saat dia diteror oleh adik-adiknya melalui pesan tersirat sampai membuat Akriel kebingungan mencari cara untuk menyelesaikan misinya. Kasa di sampingnya berdecak. "Lagian nih ya, gue masih bingung, kalo misalnya itu si cewek udah ketemu, terus lo mau apain dia sih? Lo belum ceritain ke gue atau pun Saka sama Kisa setelah lo berhasil nemuin si cewek yang punya tanda sayap itu." Seketika Akriel merasa tersentak. Dia merasa tegang dan bingung harus menjawab apa untuk melengkapi pertanyaan yang diajukan Kasa. Tidak mungkin dia harus menjawab yang sebenanrnya kalau dia diharuskan membunuh perempuan yang memiliki tanda sayap malaikat itu. Bisa-bisa, Kasa, Saka, Kisa atau pun yang lainnya akan menjauhinya karena mengira dia adalah seorang pembunuh yang sedang mengincar nyawa seseorang. "Itu bukan urusan kalian. Lebih baik kalian tidak usah tau kelanjutannya seperti apa." Ucap Akriel. "Lah, kenapa gitu?" Kasa kepo. Akriel malah terdiam saja. Dia tidak bisa menjawab jujur sedangkan di sana Saka dan Kasa tengah menanti jawabannya dengan penuh penasaran. Akriel harus bisa mengalihkan perhatian mereka. "S-saya harus segera pergi ke kelas." Alibi Akriel lalu kemudian bergegas secepat mungkin menuju kelasnya dan yang paling penting dia telah berhasil menghindar dari introgasi Kasa dan juga Saka. Akriel hendak berbelok saat di tikungan, namun dia justru tak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa minuman dan akhirnya minuman itu berhasil m*****i tangannya. Akriel sempat tercekat dan merasa bersalah karena telah menabrak orang itu. "Maaf, saya tidak sengaja. Saya benar-benar tidak melihat kamu di sini." Ucap Akriel berkali-kali meminta maaf. Si cewek itu berdecak kesal dan agak bete karena minumannya tinggal setengah karena sebagainnya tumpah mengenai tangan Akriel. "Jalan tuh pake mata dong makanya." Ujarnya sembari mendelik lalu cabut dari sana meninggalkan Akriel dengan kesal. Akriel geleng-geleng kepala melihat cewek itu yang kini pergi begitu saja. Sekarang, Akriel garus membersihkan tangannya. Namun, baru saja dia berbalik rupanya ada orang di belakangnya sampai membuat Akriel nyaris terjengkang. Akriel terkejut sampai termundur beberapa langkah ketika melihat Sheryl yang kini ada di depannya. Akriel mengernyit keheranan. Sheryl tak bicara apa pun. Dia juga tak menggubris Akriel yang barang kali menghalangi jalannya. Namun, cewek itu mengambil sesuatu dari sakunya dan mengambil dua lembar tisu basah dari sana. Akriel kebingungan tatakala Sheryl menyodorkan tisu itu kepadanya. Dan bukannya mengambil, Akriel malah terdiam keheranan dengan apa yang Sheryl lakukan waktu itu. Sheryl pun tak mengucapkan sepatah kata pun padanya. "Maksud kamu apa?" Akriel mencoba bertanya. Terlihat Sheryl berdecak. "Tangan lo kotor. Bersihin pake tisu ini." Ucap Sheryl dengan nada datar. Akhirnya, Akriel mengambil dua lembar tisu dari tangan Sheryl. "Terima kasih." Sheryl tak berucap lagi. Cewek itu langsung pergi menuju ruang kelasnya di ujung sana. Sementara, Akriel masih tercekat di tempatnya. Dia tidak menyangka rupanya Sheryl cukup baik orangnya. Atau mungkinkah cewek itu hanya sedang membalas budi karena Akriel yang telah menyelamatkannya dari rooftop sekolah waktu itu? Mungkin saja, karena kalau tidak ada Akriel saat itu, Sheryl mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. "Woy!" Akriel yang lagi melongo tiba-tiba dikejutkan oleh Dara yang baru saja menggebraknya. Beruntung jantungnya gak sampai ambrol saking kagetnya. "Lo ngapain masih di sini? Bentar lagi bel bunyi. Buruan masuk!" Dara langsung menarik tangan Akriel dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Sheryl sengaja memelankan langkahnya agar dia masih bisa menyaksikan Akriel dari belakang. Namun, semuanya berubah ketika suara Dara terdengar menyahut pada Akriel. Sheryl berbalik dan benar saja dia tepat tengah menyaksikan momen Dara yang tengah menarik masuk Akriel ke dalam kelas. Tanpa disadari, Sheryl tengah meremas bungkus tisu yang dia genggam sedari tadi sampai tak beraturan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN