Selepas bertemu dengan Rangga di lapangan tadi dengan penuh dramatis apalagi sampai jadi tontonan warga se-RT, Kisa langsung berbalik dan pergi meninggalkannya di sana. Kisa berjalan memunggungi Rangga dan semakin menjauh dan tampaknya Rangga pun tidak berkutik sama sekali setelah Kisa dengan tegas dan lantangnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan pertemanan mereka. Kisa tidak ingin menemui orang bernama Lee Joo-young atau Rangga atau sejenisnya sekalian.
Sesampainya di halaman rumah, Kisa langsung bergegas masuk menuju kamarnya. Bahkan cewek itu tidak menggubris terhadap kehadiran ayahnya yang kala itu ada di teras. Kisa tidak ingin ayahnya tahu kalau Kisa tengah menahan mati-matian untuk tidak menangis.
Kisa menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua bantal. Cewek itu berteriak dengan frustasi, kesal, marah, sedih, kecewa, benci. Namun, suara teriakannya tak terdengar karena teredam bantal.
Kisa lalu menatap langit-langit kamarnya. Dia mulai bergelut dengan pikirannya meskipun bukan saatnya buat beroverthinking. Dia memikirkan ucapan Rangga saat di lapangan tadi. Bagaimana Kisa harus percaya kalau Rangga diam-diam menyukainya sejak bertahun-tahun lalu. Kisa sendiri tidak ingat waktu kapan dia pernah ketemu Rangga pas insiden permen lolipop yang diceritakannya beberapa waktu lalu. Jadi, kedatangan Rangga ke sekolah b****k Kisa hanya sekadar untuk menemuinya? Sebetulnya, apa yang dimaksud 'mata-mata' menurut Pak Bondan? Mungkinkah mata-mata itu merujuk pada Rangga yang membuntuti Kisa karena Rangga menyukainya? Sial, pemikiran Kisa jadi tak karuan lagi.
Kisa bingung harus percaya atau tidak. Tapi, apa dia egois telah memutus hubungan pertemanannya dengan Rangga secara kasar dan tidak sopan? Mungkin, iya. Apalagi ketika Rangga bilang keputusan Kisa sangat menentukan nasib hidup Rangga sendiri. Tapi, setidaknya dengan perginya Rangga dalam hidup Kisa secara langsung membawa mereka ke dalam kehidupan masing-masing. Pada akhirnya, hidup mereka kembali normal dan baik-baik saja seolah tidak terjadi apa-apa, menurut Kisa dan tidak bagi Rangga.
Kisa mengacak-acak rambutnya semakin frustasi. Dia bingung harus menghubungi Rangga atau tidak dan meminta maaf dengan semua yang telah dikatannya barangkali sampai membuat cowok itu sakit hati. Tapi, Kisa teringat lagi dengan perkataan ayahnya semalam saat mengobrol di balkon.
'Sahabatan sama cowok itu terlalu berisiko. Ketika salah satunya ada yang menaruh rasa, pilihannya cuma dua. Satu, tetap bisa bersama sebagai seorang pacar. Dua, pisah dan memutus status sebagai teman atau pun pacar. Ingat, ketika kamu mencintai teman cowok kamu sendiri, kamu harus siap kehilangan dia sebagai seorang teman atau pun cinta.'
Kisa yang tadinya hendak mengambil handphone untuk menghubungi Rangga langsung menghentikan gerak tangannya sendiri dan tercekat sesaat. Kisa semakin frustasi. Tidak, dia tidak ingin Rangga mencintainya. Hal itu tidak hanya akan menyulitkan bagi Rangga saja tapi bagi Kisa juga. Kisa sangat ingin berteman lebih dekat lagi dengan cowok itu, tapi kalau Rangga sampai menyimpan rasa padanya, Kisa sangat merasa bersalah apalagi dia tahu kalau Rangga itu adalah milik Liura.
Kisa menghela napas lelah dan menjambak rambutnya frustasi. Paginya yang indah terpaksa harus hancur dan moodnya pun ikut memburuk. Kisa berdecak dan terus merutuk.
"Gimana ceritanya lo bisa suka sama gue yang modelannya bahkan sama sekali bukan kayak cewek tulen? Lo suka gue dari mananya, Anjir? Padahal gue gak pake pelet atau susuk apa-apa terus kenapa lo bisa jatuh cinta sama gue?" Heran Kisa terus-menerus sampai membuatnya hampir gila.
***
"Tuan Muda!"
Lamunan Rangga terpaksa buyar ketika seorang ajudannya berseru sampai membuat cowok itu sedikit tersentak. Rangga masih berdiri mematung menatap gang sempit yang dilalui Kisa lima belas menit lalu. Rangga masih ingat bagaimana Kisa menghilang di belokan sana. Dan mungkin itu adalah yang terakhir kali dia bisa melihat gadis itu. Rangga mungkin tidak akan pernah bisa menemuinya lagi sampai kapan pun karena Kisa sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri pertemanan meraka.
Rangga merasa sakit hati ketika Kisa tidak mempercayai soal perasaannya. Sungguh, Rangga sampai mati-matian dan mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari hanya untuk menemui Kisa. Dan sekalinya mereka bertemu, semua tak sesuai dengan ekspektasi. Kisa bahkan seperti orang yang membencinya dan mengiranya orang jahat.
"Tuan Muda, apa Anda masih mau berada di sini?" Tanya ajudannya lagi.
"Tunggu sebentar lagi. Dia pasti akan datang dan berubah pikiran. Tunggu sampai dia kembali." Ujar Rangga masih menatap jalan gang itu.
Ajudannya sampai geleng-geleng kepala. Dia tak habis pikir dengan anak bosnya yang gak jelas berdiri di tengah lapangan sampai ada lebih banyak warga yang berdatangan terutama buat menyaksikan helikopternya. Sang ajudan pun hanya bisa menurut apa kata Rangga. Dia bukan siapa-siapa untuk melawan apalagi membantah, yang ada dia bisa kena pecat dari pekerjaannya kalau berani melawan.
"Kenapa Tuan Muda tidak datangi saja tempatnya?"
"Dia melarang saya untuk menemuinya lagi. Meskipun saya datang ke rumahnya, itu sama saja akan membawa masalah."
"Lalu, kenapa Tuan Muda masih berdiri di sini? Bukankah dia tidak ingin menemui Tuan Muda lagi?"
"Saya hanya sedang menunggu dia. Barangkali dia akan kembali dan menghampiri saya di sini. Dengan begitu, saya tidak akan merasa bersalah telah menemuinya karena dia yang justru menemui saya."
"Masalahnya, apa Tuan Muda tidak malu dilihat banyak ibu-ibu? Kita sedang menjadi pusat perhatian di sini."
Sontak, Rangga melirik sekitar dan benar saja tiba-tiba ada banyak orang di sini. Rangga nyaris jantungan ketika melihat warga satu RT tengah berkerumun di sisi lapangan menyaksikan dirinya di sana. Bagaimana bisa Rangga baru menyadarinya sekarang, padahal dia sudah hampir setengah jam berdiri di lapangan itu.
"Kenapa ada banyak orang di sini?" Tanya Rangga pada ajudannya.
"Sejak pertama kita mendarat, mereka semua sudah ada di sini, Tuan Muda."
Rangga berdecak sambil berkacak pinggang. "Kalau begitu, siapkan penerbangan pesawat menuju Seoul sekarang juga."
"Tuan Muda ingin kembali ke Seoul? Apa Tuan Muda tidak ingin berjalan-jalan di Jakarta dulu?"
"Tidak sekarang. Saya harus menepati janji untuk menemui papa saya setelah saya mendapat penolakan dari Kisa." Ucap Rangga kemudian kembali masuk ke dalam helikopternya lebih dulu kemudian disusul oleh ajudannya.
***
"Kisa!"
Tok tok tok
"Gimana?"
"Ya mana aku tau. Piye tah?"
Jo merungut ketika Mariana pun tak bisa membujuk Kisa dari kamarnya. Keduanya sama-sama kebingungan dengan Kisa yang sudah setengah jam tidak keluar dari kamarnya. Gak mungkin kan kalo anak itu sampai tidur lagi orang dia baru juga bangun tidur.
"Kisa, pamali kalo jam segini tidur lagi. Ini tuh waktunya buat aktivitas bukan malah tidur." Jo terus berusaha membujuk.
Dan setelah sekian lama mereka mengetuk pintu kamar Kisa, akhirnya anak itu keluar dari kamarnya. Jo maupun Mariana langsung mengernyit ketika melihat Kisa yang kayak orang habis semaput seusai keluar dari kamar.
"Kamu kenapa sih? Kayak orang lemes gitu." Mariana mulai panik sambil memegangi pipi anaknya tersebut.
"Aduh." Kisa jadi bete karena bundanya yang terlalu berlebihan padanya. "Aku gak kenapa-napa, Bunda. Aku baik-baik aja kok.
"Terus kenapa kamu tadi dipanggil gak nyaut-nyaut?"
"Abis ngeganja," bohong Kisa.
Jo berdecak. "Tadi, kata tetangga kamu abis ketemu sama orang yang punya helikopter yang mendarat di lapangan depan. Siapa itu? Kamu temenan sama anaknya gubernur ya pake bawa-bawa helikopter segala?"
Yang terkejut malah Mariana. "Loh, siapa yang abis bawa helikopter tah?"
"Kelamaan di dapur jadi gak tau kalo abis ada helikopter yang dateng ke sini." Kata Jo, lalu pria itu melirik Kisa yang malah terdiam di tempatnya. "Kisa, kamu jawab pertanyaan Ayah cepat."
Kisa mendelik sebal. "Dia bukan siapa-siapa."
"Lah, berarti bener dia datang ke sini buat nemuin kamu?" Mariana super kepo. "Kenapa kamu gak cerita kalo punya temen yang punya helikopter? Emangnya dia anak siapa tah? Jangam bilang dia anak presiden sampe bawa-bawa helikopter segala. Sekaya apa dia tah?"
Rasanya Kisa mau mencopot kepalanya saja ketika bundanya terus membormbardirnya dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ingin ia bahas. Membahas soal Rangga justru akan membuat Kisa lebih kesal lagi. Cewek itu sudah terlalu pusing dibuatnya.
"Aku males ceritainnya. Udah ya aku mau ngerjain PR dulu." Bohong Kisa lagi lalu menutup pintu kamarnya sampai tidak memberikan celah bagi kedua orang tuanya di sana.
Jo dan Mariana tentu saja masih penasaran dengan siapa sosok si pemilik helikopter yang digadang-gadang temenan sama Kisa.
"Apa jangan-jangan dia sejenis James Bond?" Jo mencoba menerka.
"Bisa jadi lho, Pa. Tapi kenapa ya Kisa bisa temenan sama orang kayak James Bond begitu? Udah pasti dia itu orang yang banyak duitnya ya, kan? Wong berpergian aja pakenya helikopter. Tapi, aku ini penasaran banget lho sama Si James Bond ini."
"Kita tunggu aja sampe Kisa mau ceritain dia siapa." Final Jo pada akhirnya.
***
Akhirnya setelah berjam-jam penerbangan dari Jakarta ke Seoul, Rangga sudah sampai dengan selamat ke rumah papanya. Hanya saja, perasaannya tak begitu baik sesampainya ketika kembali ke Seoul. Hatinya tentu saja masih bergejolak menahan sakit dan kecewa karena Kisa. Baru pertama kali, Rangga terlihat galau begitu. Ajudan pribadinya pun sampai keheranan karena tak seperti biasanya Rangga terlihat sedih dan murung begitu.
Rangga masuk ke ruangan kerja papanya. Pria itu tengah duduk di depan komputer. Tak lama kemudian setelah menyadari kehadiran Rangga di sana, papanya menoleh sambil membuka kaca mata beningnya. Rangga masih berdiri mematung di ambang pintu. Anak laki-laki itu memandang dengan tatapan sedih dan murung kepada papanya.
Pria itu berdiri dan mulai berjalan menghampiri putranya. Seolah dia sudah tahu apa arti kedatangan Rangga ke sini.
"Aku kembali kepada Papa." Ucap Rangga dengan nada berat.
Papanya menepuk pundak Rangga pelan sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Papa mengerti. Sekarang kamu sudah mendapat jawabannya, bukan?"
Rangga menghela napas lelah dan terdiam selama beberapa detik. "Aku paham sekarang. Seharusnya aku gak harus bertindak berlebihan terhadap perasaan aku sendiri. Apalagi sampai bertaruh dengan papaku demi mendapatkan seorang gadis yang bahkan tidak menginginkan aku."
Papanya tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, dia pun senang melihat putranya yang akhirnya kembali pada pelukannya. Seolah saat itu juga Rangga telah kembali pada dirinya yang dulu. "Perasaan itu cuma sementara. Sebentar lagi kamu pasti bisa lupain dia. Papa yakin, kamu pasti akan mendapat yang lebih baik dari dia. Sekarang kamu hanya harus bersabar sampai rasa sedih kamu itu hilang dan kembali seperti semula. Papa yakin, kamu pasti bisa lupain dia."
Rangga hanya tersenyum pasi saat mendengarnya.
"Dengar Rangga, sebetulnya kamu belum mengerti apa pun soal cinta sejati. Kamu hanya sedang tersesat. Perasaan kamu pada dia itu bukanlah cinta, melainkan hanya obsesi. Kamu tidak perlu mengikuti obsesi kamu. Papa lebih paham soal ini. Meskipun kamu telah lama menyukainya atau mengaguminya selama bertahun-tahun, itu bukanlah cinta."
"Benarkah?" Rangga sambil mengeryitkan dahi.
Papanya mengangguk. "Beruntung, karena obsesi kamu itu, kamu tidak sampai meninggalkan Papa apalagi berhenti menjadi anak Papa. Papa merasa sangat lega karena kamu akhirnya lebih memilih Papa."
"Papa, maafin aku. Aku sama sekali gak bisa ngendaliin perasaan aku waktu itu. Dan setelah aku tau kalo dia punya perasaan yang gak sehaluan sama aku, aku akhirnya sadar. Dan seharusnya aku lebih memilih Papa dibanding dia."
Pria itu nyaris meneteskan air mata ketika mendengar ucapan anaknya, lalu dia membawa Rangga ke dalam dekapannya dan memeluknya penuh kasih sayang. "Terima kasih sudah kembali ke dalam kehidupan Papa. Jangan pernah berniat untuk membenci Papa atau Mama sekalipun. Kami sayang kamu, Rangga."