54. Helikopter

1750 Kata
Di hari Minggu ini, Kisa sengaja berjalan-jalan di sekitaran komplek perumahannya. Berhubung dia lagi di kampung halamannya, maka tak ada salahnya kalau cewek itu mengitari tempat itu setelah sekian lama. Rasanya tetap sama semenjak 9 bulan terakhir sebelum dia pergi ke Jakarta. Cewek itu kini berada di lapangan yang agak luas. Bukan lapangan sepak bola, melainkan lapangan biasa yang kerap dijadikan ibu-ibu kalo lagi senam. Awalnya, di sana baik-baik saja. Namun, suasana berubah ketika dengan entah bagaimana caranya ada sebuah helikopter yang hendak mendarat di tempat itu. Kisa sampai melongo. Mungkinkah helikopter itu kehabisan bahan bakar sampai harus mendarat dulu di tempat sempit kayak gini? Angin kencang akibat baling-baling helikopter itu pun menerpa semua yang ada di sekitarnya termasuk Kisa yang sampai sempoyongan. Bahkan, beberapa jemuran di depan rumah-rumah terpaksa berterbangan sampai ngacir ke halaman tetangga yang lainnya karena angin dari baling-baling helikopter yang maha dahsyat tersebut. Tak lama, beberapa warga sekitar berdatangan ke tempat itu untuk menyaksikan helikopter yang baru saja mendarat di lapangan di depan rumah mereka. Mereka sangat heboh karena sempat mengira yang ada di dalam helikopter itu adalah Syahrini. Bahkan diantara dari mereka sudah ada yang ancang-ancang menyiapkan kamera hp untuk berfoto dengan Syahrini nanti. Kisa masih bengong di tempatnya sesekali membenarkan rambut pendeknya yang kini berantakan terterpa angin. Tak lama, cewek itu nyaris tercekat ketika sang pemilik helikopter yang menghebohkan warga sekitar itu baru saja turun. Kisa merasa jantungnya nyaris turun ke perut saking kagetnya ketika menyadari orang itu adalah Rangga. Kisa melotot di tempat. Tubuhnya rasanya tidak bisa bergerak sedikit pun. Seolah Kisa merasa tubuhnya telah berubah menjadi batu selayaknya Malin Kundang, bedanya Kisa gak durhaka aja sama ibunya. Kisa benar-benar lupa cara bernapas. Dia benar-benar terkejut, heran, penasaran, dan bingung yang bercampur secara abstrak apalagi ketika Rangga mulai menghampirinya. Dia tidak salah lihat, itu betulan Rangga. "Kisa." Ucap Rangga sembari tersenyum tempat di depan Kisa. Akhirnya, setelah sekian lama, dia bisa melihat cewek itu lagi. Rangga sangat terharu. Namun, berbeda dengan Kisa yang justru masih menatapnya dengan bingung. Cewek itu masih melotot tak percaya kemudian memundurkan langkahnya untuk menjauh dari Rangga. Rangga mengernyit heran melihat Kisa yang seperti orang ketakutan ketika melihatnya. "Kisa." "Pergi!" Rangga terkejut ketika Kisa baru saja membentaknya dengan sangat lantang. Rangga pun ikut melotot tak percaya. Mereka saling bingung dan tak menyangka. Saat itu, isi pikiran Kisa tak beraturan. Dia merasa otaknya lemot sejenak ketika Rangga tiba-tiba datang ke tempatnya dengan helikopter yang membagongkan. Selama berhari-hari lamanya, Kisa tidak mendengar kabar dari Rangga bahkan keberadaannya Kisa tak tahu sedikit pun. Lalu dengan tiba-tiba, cowok itu malah datang ke kotanya dan itu membuat Kisa semakin ketakutan. Terlebih perkataan Pak Bondan waktu itu yang mengatakan kalau Rangga adalah seorang mata-mata. Kisa pun semakin tak karuan dengan isi pikirannya. "Kisa, lo kenapa?" Tanya Rangga lagi. "Pergi dari sini sekarang juga!" Bentak Kisa sekali lagi. "Lo pikir gue bodoh? Gue tau selama ini lo cuma manfaatin gue doang! Maka dari itu, jauhin gue sekarang juga." Rangga semakin mengernyit. "Manfaatin? Apa yang lo ucapin, sih?" "Harusnya gue sadar kenapa orang kayak lo bisa tau banyak tentang gue. Kita belum lama kenal dan gue gak tau banyak tentang latar belakang lo yang sebenernya. Dan bisa-bisanya lo bawa helikopter dan datang ke rumah gue. Sebenernya lo siapa yang bisa tau segala hal tentang gue?" Rangga tidak menyangka Kisa jadi seberubah itu. Jauh-jauh dia datang dari Amerika dan sesampainya dia di sini, Kisa malah seperti orang yang membencinya. "Maksud kamu apa?" Kisa menghempaskan tangan Rangga yang hendak menggenggam tangannya dengan kasar. Dia emosi. Bahkan mereka jadi tontonan warga sekitar sampai dikira ada drama live action. "Gue tau maksud lo apa. Gak usah pura-pura baik. Gue gak tau gimana caranya lo bisa tau segala hal tentang gue mulai dari alamat, sekolah, bahkan mungkin lo tau banyak tentang latar belakang gue. Tapi, kenapa harus gue? Sebenanrnya apa yang menguntungkan dari gue buat lo di samping tujuan lo yang cuma jadi mata-mata selama ini." Rangga terdiam mendengar perkataan Kisa yang tidak dimengertinya sama sekali. "Mata-mata?" "Iya, lo cuma mata-mata, kan? Dan dengan tujuan lo itu, lo berusaha manfaatin gue?" Rangga bisa melihat, Kisa tengah menahan air matanya untuk jatuh. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Lo harus denger penjelasan gue dulu. Lo cuma salah paham. Gue sama sekali bukan mata-mata." Ujar Rangga mencoba mendapatkan kepercayaan Kisa. Kisa memalingkan wajahnya tak suka. "Lebih baik lo pergi sekarang juga. Jauhi gue. Dan jangan lupa kasih tau ke Liura juga buat jangan deketin Saka, sahabat gue. Kalian berdua tuh sebelas dua belas. Gak usah sok mau berteman sama gue lagi." Kisa hendak berbalik dan meninggalkan Rangga. Namun, langkahnya terhenti ketika Rangga menahannya. "Dengerin gue dulu." "Apa lagi?!" "Gue suka sama lo." Saat itu, Kisa merasa otaknya lemot untuk mencerna kata-kata Rangga barusan. Seolah berbagai hal berhasil menubruk otaknya secara bersamaan sampai Kisa lupa cara mengartikan ucapan cowok di depannya. Dan setelah beberapa saat, Kisa pun langsung tersadar. Dia mengernyit hebat dan luar biasa bingung. Rangga masih menatapnya dengan sayu, sedangkan Kisa malah muak tak suka. "Gue suka sama lo sejak lama dari yang lo kira. Mungkin lo lupa sama keajadian pas gue ngasih lo permen lolipop bertahun-tahun lalu biar lo gak nangis. Gue suka sama lo sejak saat itu. Makanya gue terus ngelakuin background check tentang identitas lo selama bertahun-tahun lamanya. Lo tau gimana perjuangan gue mati-matian biar bisa ketemu lagi sama lo. Pas gue tiba-tiba ke Korea kemarin, Papa gue ngelarang gue buat ketemu sama lo lagi. Dia ngelarang gue suka sama lo. Dia bahkan ngelarang gue buat datang ke Indonesia lagi. Dan sejak saat itu, gue gak bisa ngehubungin lo karena handphone gue yang lama udah disita di mana nomor lo disimpen di hp itu. Tapi, gue tetap nekat buat nemuin lo karena gue pikir lo satu-satunya orang yang bener-bener gue suka. Gue cinta sama lo, Kisa." Kisa masih mematung di tempatnya tak menyangka. Pikirannya seperti kosong dan masih tak percaya dengan kejadian barusan. Rangga berbicara panjang lebar dan Kisa hanya bengong melihatnya tak mengerti. Namun, Kisa masih memikirkan kalau perkataan Rangga itu cuma bohong belaka. Siapa tahu Rangga cuma mau mengambil hatinya untuk kembali dimanfaatkan dalam misi Rangga yang entah apa itu. Kisa sama sekali tidak mempercayai Rangga yang menyukainya. "Gue diberi pilihan sama Papa gue. Gue boleh ketemu sama lo dan hidup bebas kalo lo punya perasaan yang sama ke gue. Sebaliknya, kalo lo gak menaruh rasa apa pun dan gak mengharapkan gue, gue terpaksa harus hidup kayak robot di bawah kendali Papa gue lagi." Ucapan Rangga barusan berhasil membuat Kisa menoleh. Cewek itu menatap Rangga dengan nanar. Mereka saling memandang sedih. Haruskah Kisa mempercayai Rangga saat itu? "Keputusan lo sangat berpengaruh besar bagi hidup gue. Jadi, lo mau nerima gue apa nggak?" Tanya Rangga lagi. Kisa tak langsung menjawab. Dia masih tak mampu berkata-kata. "Kisa." Seru Rangga lagi. "Apa gue harus percaya sama lo? Gue pikir ada baiknya kalo kita sama-sama kembali ke dalam kehidupan masing-masing. Lo ke kehidupan lo dengan orang yang kastanya sama. Sedangkan gue ke kehidupan gue dengan orang-orang yang bener-bener gak bikin gue terancam. Dengan itu, semua akan kembali seperti semula. Dan gak ada yang perlu dikhawatirin lagi." Rangga tersentak. "J-jadi, lo nolak gue?" "Tepat." Kisa langsung membalas. "Maaf, gue gak bisa bantu lo dengan permintaan lo yang gak bisa gue percaya itu. Sekali lagi, gue sangat minta maaf. Mungkin, ini pertemuan terakhir kita sebagai seorang teman yang pernah dekat. Selamat tinggal." Seusai itu, Kisa langsung mencabut langkahnya dari hadapan Rangga. Rangga merasa ada sesuatu yang baru saja menusuk dadanya dengan belati bersamaan dengan kepergian Kisa saat itu. Jadi, apa yang papanya katakan adalah benar. Sejauh apa pun Rangga mencoba pergi dari papanya, dia tidak akan bisa. Pada akhirnya, Rangga tetap akan pada pendirian papanya tersebut. *** Pria itu tengah menikmati secangkir kopi di teras rumah sambil membaca koran. Dia juga tak habis pikir dengan tetangganya yang pada heboh dengan kedatangan sebuah helikopter di lapangam dekat pos ronda. Tapi, Jo termasuk orang yang bodo amatan. Di saat semua orang pada kepo soal helikopter yang sempat diduga milik Syahrini, Jo tetap ogah buat sedikit pun menontonnya. Mending dia ngopi di pagi hari kayak gini. Tak lama, Kisa tiba-tiba pulang setelah jogging mengeliling komplek. Anehnya, cewek itu malah langsung pergi ke kamarmya tanpa menyapa Jo yang berada di teras rumah saat itu. Apa mungkin dia tidak melihat Jo di sana? Gak mungkin, orang badannya Jo segede truk, masa Kisa sampai gak menyadari kehadiran ayahnya kala itu. Jo pun mengernyit heran. Namun, rasa penasarannya yang hendak menghampiri Kisa di kamarnya batal ketika ada sekitar 3 warga yang menghampiri Jo di sana. "Assalamualaikum." Ucap salah seorang dari mereka. Jo pun menghampiri ketiganya. "Ada apa ini?" "Salam tuh dijawab dulu, Pak." "Shalom. Maaf saya Kristen." "Eh, iya lupa." Jo geleng-geleng kepala. "Ada apa ini datang ke rumah saya?" "Gini Pak, tadi di lapangan kan habis ada helikopter, ternyata itu tuh bukan punya Syahrini." Jo berdecak. "Ya saya gak peduli. Mau itu punya Syahrini, punya Jokowi sekalian, saya tetep gak peduli." "Harus peduli dong. Soalnya orang yang punya helikopter tadi kelihatannya abis ngobrol sama Kisa." Jo langsung mengernyitkan dahi. "Sama anak saya? Emangnya dia siapa tah?" "Mana saya tau. Ya tanya dong ke anaknya. Tapi, itu yang punya helikopter gantengnya kayak artis. Ganteng tenan pokoknya." "Lho, siapa ya? Saya juga gak tau, Bapak-bapak." Jo mulai kebingungan. "Ya udah deh, kalo gak tau. Kita cuma mau ngasih tau soal itu. Kirain yang punya helikopter pacaranya Kisa. Hebat pol kalo iya mah." "Anak saya gak punya pacar." Jo menyergah. "Terserah itu mah. Ya udah, kalo gitu kami mau pulang dulu." Jo mengiakan dan ketiga bapak-bapak itu pun langsung pergi dari halaman rumahnya. Jo masih terdiam dan memikirkan siapa pemilik helikopter yang bisa-bisanya mengobrol dengan Kisa. Apa hubungan anaknya dengan si pemilik helikopter itu? Apa benar kalau Kisa memang sebetulnya punya pacar yang merupakan si pemilik helikopter? Jo mulai berpikir yang tidak-tidak. Dia sangat penasaran dan curiga terlebih Kisa yang langsung masuk ke kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Pria itu menghampiri kamar Kisa lalu mengetuk pintunya. "Kisa? Kamu lagi ngapain di sana? Kamu tadi abis liat helikopter, ya? Boleh ceritain gak sama Ayah gimana helikopternya?" Namun, Kisa sama sekali tidak menjawab. Jo sampai berkacak pinggang dan kebingungan. Bukan Jo namanya kalo menyerah, dia tak berhenti sampai di situ saja untuk membuat Kis keluar dari kamarnya. Tok tok tok "Kisa, kamu lagi ngapain di sana?" Jo bertanya lagi. Tok tok tok "Kisa, lagi ngapain kamu?" "Ngeganja." Jawaban Kisa dari balik pintu nyaris membuat Jo hampir terjengkang dan melotot seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN