Sheryl tengah berada di rooftop bangunan sekolah. Angin yang kencang di atas sana pun sesekali menabrak rambutnya sampai berantakan. Namun, gadis itu sama sekali tak menghiraukannya. Tatapannya kosong dan tampak hampa. Entah apa yang sedang ada di pikiran gadis itu sampai berada di atap sekolah sendirian. Perlahan Sheryl mulai berjalan mendekati pagar pembatas. Langkahnya terhenti ketika sampai di pagar besi tersebut. Gadis itu melihat ke pelataran lapangan di bawah sana. Kira-kira tingginya dari atas rooftop itu sekitar 10 meter. Sheryl meneguk ludahnya kasar. Lalu, dia memejamkan matanya perlahan.
Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah menghabisi dirinya sendiri. Bagaimana kalau Sheryl betulan nekat lompat dari atas bangunan itu? Mungkinkah dia akan mati? Atau malah sebaliknya?
Terdapat beberapa luka dan lebam di dahi bahkan lengan gadis itu yang baru saja ia dapatkan dari Rachel yang memukulinya dengan gagang sapu saat di kelas. Sheryl semakin tersiksa. Dia tidak pernah mendapat ketenangan semenjak ibunya ditetapkan sebagai seorang pembunuh dan penjahat. Setiap malam Sheryl tidak pernah tidur bahkan makan pun tidak seteratur biasanya sampai badannya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Bagaimana Sheryl bisa tahan dengan ini semua? Sheryl merasa lebih baik dia akhiri saja hidupnya yang semakin runyam ini.
Sheryl hendak memanjat pagar itu, namun aksinya terhenti ketika ada seseorang yang berseru di belakang sana. Sheryl menoleh dan mendapati seorang laki-laki di sana. Sheryl tahu orang itu bernama Akriel Zaphka Mihr. Dia tidak tahu kenapa laki-laki itu sampai berseru untuk mencegahnya melompat dari atas atap itu. Pandangan mereka bertemu. Sheryl yang kebingungan dan Akriel yang mulai panik karena Sheryl mulai nekat untuk memanjat pagar pembatas di sana.
"Pergi dari sini!" Teriak Sheryl memerintahkan pada Akriel yang mengganggunya di atas rooftop.
Akriel malah semakin berjalan mendekat dan sangat pelan kalau-kalau Sheryl tiba-tiba melompat dari sana. "Kenapa kamu di sana? Jangan mendekati pagar itu. Itu sangat berbahaya."
Sheryl menatap Akriel semakin bingung. Terlebih ketika laki-laki itu tengah mencoba untuk mendekatinya. "Semakin lo mendekat, semakin gue nekat buat lompat ke bawah."
Sontak Akriel segera menghentikan langkahnya. Dia menatap Sheryl khawatir. "Kalau begitu cepat ke sini. Kamu tidak bisa terus berada di sana."
"Kenapa lo sok peduli begitu? Gak ada yang peduli sekalipun gue mati di sini."
"Siapa yang bilang? Kamu tidak tahu kalau ibu kamu akan sangat sedih ketika kamu mati dengan cara seperti itu. Jangan mengambil nyawamu sendiri."
Namun, sepertinya Sheryl tak menghiraukan perkataan Akriel sedikit pun. Gadis itu memalingkan wajahnya dan tindakan yang dilakukan selanjutnya membuat Akriel luar biasa panik ketika Sheryl tengah mencoba untuk memanjat pagar sampai akhirnya Sheryl kini berhasil berada di balik pagar itu. Akriel melotot dan tidak tahu harus melakukan apa lagi ketika Sheryl sudah semakin dekat ke ujung bangunan itu.
Akriel mendekatkan langkahnya lagi untuk mendekati Sheryl.
"Jangan deketin gue!" Triak Sheryl dengan garangnya pada Akriel. "Jangan coba deketin gue bilang!"
Akriel mematung di tempatnya. Dilihatnya Sheryl berbalik dan semakin berjalan mendekati ke ujung bangunan. Lalu, Sheryl melangkahkan kakinya sampai dia nyaris terjatuh dari atas bangunan. Namun, Akriel dengan cepat berhasil menahannya. Akriel menahan tangan Sheryl dan segera menariknya menjauh dan membawanya untuk kembali menghindar dari sana. Sheryl memberontak namun Akriel terus menahan gadis itu sebisa mungkin.
Lagi-lagi, Akriel berhasil menyelamatkan seseorang dari percobaan bunuh diri selain Kisa beberapa hari lalu.
Akriel bisa melihat Sheryl yang kini menangis histeris di depannya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut sementara tangannya kompak menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Kenapa gue gak bisa mati?" Ucap Sheryl di sela-sela tangisannya. "Gue pengen mati. Gue gak kuat sama ini semua."
Akriel menatap nanar ke arah gadis yang tengah kacau itu. Dia hanya bisa diam dan tertegun melihat Sheryl yang masih histeris. "Belum waktunya kamu untuk mati. Kamu tidak berhak mati dengan cara yang seperti itu meskipun ibumu telah membunuh orang dengan sadis, kamu tetap tidak berhak mati dengan cara yang sama."
***
Tranggg!!!
Perhatian semua sontak orang tertuju pada Renita yang baru saja memecahkan piring. Wanita itu tengah mencuci piring namun tanpa sengaja dia menjatuhkannya karena tangannya yang licin.
"Woi, bisa kerja yang bener kagak sih?!" Salah satu tahanan lain yang tengah mencuci piring, sebut saja Retno, baru saja berseru pada Renita. "Lo gak tau kalo satu orang mecahin piring kita semua yang bakal kena hukuman!"
Renita berdecak kesal lantas membanting spons pencuci piringnya ke wastafel dan berniat pergi begitu saja tanpa merasa bersalah. Sontak tindaknnya membuat tahanan lain marah karena Renita yang tidak bertanggung jawab sama sekali dengan tindakannya.
"Woi, kalo punya etika tuh bersihin dulu tuh pecahan belingnya! Lo buta apa?!"
Renita berbalik dan menatap Retno yang terus mengoceh di sana. "Saya gak mungkin melakukan itu. Harusnya saya tidak usah mencuci piring di sini. Pekerjaan ini bahkan tidak pantas untuk orang terhormat seperti saya."
Retno tersenyum miring seolah meremehkan Renita. "Gak ada seorang pembunuh yang terhormat sama sekali. Lo belum sadar juga kayaknya."
Renita mendelik marah. "Saya bukan seorang pembunuh!"
Renita meninggikan nada suaranya dan mengangkat tangannya hendak menampar wajah Retno namun aksinya berhasil terhenti ketika seorang polisi berseru di belakang sana sampai semua orang yang ada di sana menoleh. Akhirnya, keributan yang hampir terjadi pun berhasil tertahan.
"Renita, ada seseorang yang ingin menemui kamu." Ucap polisi itu dan dengan segera Renita mengikuti langkahnya setelah sebelumnya mendelik ke arah Retno.
Sesampainya di tempat pertemuan, Renita langsung lemas ketika orang yang ingin menemuinya adalah papanya sendiri. Renita maupun papanya berdiri mematung di sana. Kemudian, Renita bergegas untuk menghampiri pria itu dan langsung bersujud pada kaki papanya tersebut. Renita sesekali memohon pada papanya tanpa rasa malu di depan semua orang yang ada di sana.
"Papa, tolong bantu aku sekali saja. Papa bisa bantu aku, kan? Papa tolong bebaskan aku dari sini!" Pasrah Renita masih sambil memeluk kaki papanya penuh ampun.
Pria itu berkacak pinggang tak memedulikan Renita sama sekali. Sejujurnya dia sangat malu untuk mengunjungi Renita sebagai tahanan di sana. Kalau boleh, dia bisa saja menghapus status Renita sebagai anaknya dengan mudah. Dia sangat malu telah mempunyai seorang putri seperti Renita yang sekarang merupakan seorang penjahat.
Pria itu mengibaskan kakinya hingga dekapan tangan Renita terlepas. Pria itu sama sekali tidak merasa kasihan pada putrinya sekarang. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Seperti sebuah berkas yang dibungkus dengan cover berwarna hitam dan menyodorkannya pada Renita dengan tidak hormat.
Renita kebingungan sambil mencoba membuka isi di dalamnya. "Apa ini?"
"Sekarang kamu bukan direktur utama Universitas Adibrahma lagi. Kamu tidak berhak untuk memiliki universitas itu. Posisi kamu akan digantikan oleh orang lain." Jelas papanya dan sontak Renita melotot luar biasa terkejut. Rasanya wanita itu nyaris gila ketika papanya mengatakan hal itu.
"Papa tega melalukan itu padaku?" Renita memasang wajah sedihnya. "Papa tidak kasihan padaku? Aku baru saja cerai dari suamiku dan aku hidup kesusahan di penjara. Papa tolong bantu aku sekali lagi. Sheryl tidak boleh hidup sendirian."
"Kamu sudah banyak meminta tolong. Kali ini, Papa gak akan menolong kamu lagi dan tidak ada kata ampun untuk kesalahan kamu yang besar itu. Kamu merusak reputasi perusahaan Papa dan universitas yang sudah Papa bangun selama bertahun-tahun." Papanya mulai kesal dengan putrinya sendiri. "Sekarang, Papa tidak akan membantu kamu apa pun yang terjadi. Kamu pantas mendapatkan semuanya. Dan satu lagi berhenti menyebutku sebagai papamu."
Pria itu hendak melangkah pergi dan meninggalkan Renita di sana. Namun, Renita semakin histeris dan memegangi tangan papanya mencoba menahannya. "Papa gak bisa melakukan ini padaku. Papa jangan tinggalin aku! Papa!"
Namun terlambat, pria itu berhasil pergi dan mencabut langkahnya dari sana meninggalkan Renita tanpa rasa kasihan sedikit pun. Sementara Renita di belakang sana terus meneriaki papanya dengan lemah sampai suaranya nyaris habis. Renita tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.
***
Akriel langsung menghubungi Herman dan menyuruh pria itu untuk membawa Sheryl segera. Herman benar-benar terkejut ketika mengetahui kalau Sheryl hampir melakukan percobaan bunuh diri. Herman pun tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri karena telah melupakan Sheryl dan terlalu sibuk pada pekerjaannya. Sekarang, Sheryl berada di kamarnya dengan keadaan tertidur. Gadis itu sepertinya terlalu lelah sampai pikirannya benar-benar kacau.
Herman duduk di tepi ranjang putrinya. Dia sengaja menyuruh dokter untuk menyuntikkan obat tidur pada Sheryl agar anak itu sedikit lebih tenang. Ketika melihat putrinya yang terbaring lemah di sana, batin Herman teremat. Rasanya dia ingin menangis setelah mengetahui Sheryl jadi korban bullying di sekolahnya. Hal itu diperkuat dengan adanya luka dan lebam yang memenuhi lengan dan sikunya. Bagaimana Herman sampai tidak tahu kalau anaknya dirundung hingga seperti itu bahkan sampai Sheryl nyaris bunuh diri?
"Maafin, Papa, Nak." Lirih Herman kemudian mencium punggung tangan Sheryl.
Herman kemudian pergi dari sana meninggalkan putrinya di kamar itu. Pria itu berada di rumah Renita sekaligus rumahnya ketika masih menjalin hubungan pernikahan dengan wanita itu. Herman berencana untuk mengubah rumah itu demi kenyamanan Sheryl. Sekarang, mental anak itu tidak begitu baik dan terlalu trauma dengan perbuatan mamanya sendiri. Maka dari itu, Herman berniat untuk menyingkirkan apa pun yang berbau Renita dari Sheryl.
"Pelayan!" Panggil Herman dan tak lama kemudian seorang pelayan pun menghampirinya.
"Iya, Tuan?"
"Segera singkirkan foto Renita dari rumah ini! Buang semuanya dan jauhkan dari Sheryl sekarang juga!" Suruh Herman dengan tegas.
Pelayan itu pun langsung mencopoti bingkai foto Renita yang terpampang di dinding bahkan di atas lemari. Semuanya dia masukkan ke dalam keranjang besar untuk segera dibuang tanpa sisa. Sekarang, Herman akan mengambil alih rumah ini lagi. Dia tidak akan m*****i rumahnya dengan hal yang berbau Renita sedikit pun.
"Jangan lupa untuk membuang semua pakaian, sepatu dan barang-barang Renita dari rumah ini. Singkirkan semua tentang Renita sejauh mungkin. Dan segera lakukan apa yang saya perintahkan!" Ucap Herman dan dibalas oleh anggukkan sang pelayan tersebut sebagai tanda mengiakan.
Herman lalu berjalan ke luar rumah. Dia berada di teras lalu mengambil handphonenya dari sana untuk menghubungi seseorang. Pria itu tengah menghubungi Bondan Taksadana. Tak lama, sambungan telepon itu pun mendapat jawaban.
'Ada apa, Pak Herman? Apa ada hal penting?' Tanya Bondan lebih dulu.
"Saya hanya ingin mengatakan kalau baru-baru ini anak saya, Sheryl, telah dirundung oleh beberapa siswi di sekolahnya. Saya baru tahu dari Akriel kalau Sheryl telah dibully akhir-akhir ini. Dan saya ingin menuntut lebih lanjut kepada anak yang telah merundung Sheryl sampai putri saya tega hampir melakukan percobaan bunuh diri"
'Sheryl nyaris bunuh diri?' Bondan terkejut. 'Bagaimana bisa?'
"Sepertinya dia depresi tentang masalah Renita dan dengan dirundungnya dia di sekolah semakin membuat Sheryl tambah depresi. Saya ingin orang yang telah merundung anak saya untuk diberi sanksi dan hukuman segera. Saya meminta keadilan."
'Kalau begitu, saya akan menyelidiki kejadian ini. Ngomong-ngomong, siapa yang telah merundung Sheryl?'
"Saya tidak tahu. Akriel yang memberi tahu saya dia tidak mengenal anak-anak itu. Tolong Anda selidiki sendiri."
'Baik, Pak Herman. Terima kasih atas informasinya. Kami akan segera menyelidikinya segera.'
Seusai itu, Herman menutup teleponnya sepihak. Dia telah mati-matian menahan amarahnya pada anak-anak yang telah merundung Sheryl di sekolah. Yang jelas dia sangat marah.