Pria itu berjalan dengan gontai menuju unit apartemennya. Dia begitu pasrah dan pikirannya terasa kacau saat itu juga. Semua karena putranya, Rangga, yang membuatnya begitu stres dan membingungkan.
Usai menutup pintu, dia berjalan menuju lemari pakaiannya dan hendak mengambil beberapa file dari sana. Pria itu mengambil beberapa lembar kertas dari laci lemari. Lalu ia mengambil benda yang dibungkus dengan map berwarna coklat yang isinya adalah beberapa fotocopy akta kelahiran, ijazah dan berkas-berkas lainnya yang berkaitan tentang putranya. Pria itu menatap nanar pada kertas-kertas itu. Dilihatnya satu per satu foto masa kecil Rangga saat dia masih bayi dan saat balita. Pria itu merasa seolah ditarik kembali ke masa lalu di mana dia baru pertama kali mendengar suara tangisan putranya yang baru lahir. Rasanya kala itu dia telah menjadi orang paling bahagia di dunia ketika menyaksikan kelahiran putranya untuk pertama kali.
Pria itu memangku bayinya dengan penuh rasa bangga. Perasaannya tak bisa dideskripsikan saat itu juga. Haru, bahagia dan senang seolah tercampur abstrak dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. "Lee Joo-young, aku mewariskan margaku untuk nama putraku."
Namun, semua kembali kepada kenyataan. Putra yang dia banggakan selama bertahun-tahun, putra yang selalu dia berikan apa pun secara materi, bahkan putra yang dia jadikan harapan satu-satunya kini tak sehaluan dengan ekspektasinya lagi. Rangga tidak seperti dulu lagi. Anak laki-laki itu justru telah berani menentang apa ucapan papanya sendiri. Itu membuat Lee Soo-man sakit hati.
Dia selalu rela memberi apa saja yang Rangga butuhkan. Dia melakukan yang terbaik untuk putranya tersebut mulai dari menyekolahkannya di sekolah termahal dan elit atau memberikan fasilitas selengkap mungkin untuk Rangga. Pria itu selalu mengharapkan kehidupan anaknya tidak akan seburuk kehidupannya di masa lalu. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada Rangga maupun istrinya. Maka dari itu, dia selalu berusaha untuk bekerja keras menghasilkan banyak uang agar keluarganya hidup dalam kemakmuran. Namun, sepertinya memang benar kata pepatah kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak bisa menjamin segalanya.
Lalu, memori masa lalu itu muncul lagi. Di mana Rangga yang hendak masuk ke sekolah dasar dan diantar oleh kedua orang tuanya.
"Rangga, kamu jangan terlalu cuek sama temen-temen kamu. Nanti kalo kamu dingin terus sama mereka, kamu gak akan punya temen." Istrinya tengah berbicara pada Rangga kecil sambil mencoba menasehatinya.
"Aku gak peduli. Aku gak bisa ngobrol sama semua orang. Aku mau pulang ke rumah." Ucap Rangga dan malah masuk ke dalam mobil bukannya belajar di dalam kelas.
Istrinya hendak mengejar namun suaminya dengan sigap menghentikannya. "Rangga belum terbiasa berada di lingkungan luar. Dia selalu berada di rumah dan jarang bersosialisasi dengan banyak orang. Suatu hari, dia akan mengerti. Kita hanya perlu menunggunya saja."
Istrinya tertegun mendengar ucapan suaminya. Dia memegangi dadanya menahan gelisah dan khawatir terhadap putranya. "Dia terlalu introvert."
Iya, begitulah sepenggal kisah masa lalu yang menyimpan banyak kenangan untuk diingat kembali bersama istri dan putra tunggalnya.
Pria itu menghela napas lelah. Dia kembali mengembalikan berkas-berkas itu ke laci lemarinya dan segera menutup lemari itu. Dia lalu duduk di atas sofa dan segera merogoh handphone dari sakunya. Dia lalu menelepon seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah putranya, Rangga. Tak lama, panggilan itu pun langsung tersambung.
"Rangga, besok Papa akan kembali lagi ke Korea. Dan mungkin kamu sangat menunggu-nunggu jawaban dan keputusan dari Papa tentang permintaan kamu. Kamu pun sepertinya tidak punya banyak waktu lagi untuk menemui Papa dan mengobrol. " Ucap pria itu pada teleponnya. "Papa mengizinkan kamu untuk menemui Kisa. Tapi, tentunya Papa memberi kamu syarat untuk melakukannya."
"Apa itu?" Tanya Rangga di balik telepon.
"Kamu hanya cukup bicara dengan gadis itu tentang perasaan kamu pada dia. Kalau dia punya rasa yang sama seperti yang kamu rasakan, maka Papa mengizinkan kamu untuk berpacaran dengan dia. Tapi, sebaliknya kalau dia menolak kamu, maka kamu harus kembali pada Papa dan lupakan dia segera."
***
Kisa tengah termenung sendirian di balkon rumahnya. Suasana malam itu gelap dan langit hanya ditaburi beberapa bintang-bintang yang tak begitu bercahaya seolah menambah kelamnya malam itu. Pikirannya sejak tadi tengah bergelut dengan hal-hal random yang terus terlintas di kepalanya terutama tentang Rangga. Entah kenapa Kisa sekarang merasa pusing karena tiba-tiba teringat dengan cowok itu lagi. Kisa pun tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh hatinya. Mungkinkah dia merindukan laki-laki itu.
Cewek itu menggeleng dan mencoba membuang pikiran berlebihannya. Tanpa disadari, ayahnya baru saja duduk di kursi di sampingnya membuat cewek itu sedikit terkejut seketika.
"Ayah?"
"Kamu lagi mikirin apa?" Tanya ayahnya.
Kisa lantas menggeleng. "Aku sendiri gak tau apa yang lagi aku pikirin. Rasanya random dan gak jelas. Aku gak tau apa yang lagi aku rasain."
Ayahnya mengernyitkan dahi. "Kok bisa gitu?"
Kisa mengedikkan bahu. "Aku kan juga gak tau."
Ayahnya terkekeh mendengarnya. "Kamu liat gak langit sekarang itu warnanya apa?"
Kisa refleks melihat ke arah langit, meskipun tanpa melihatnya pun Kisa sudah tahu kalau langit kala itu berwarna gelap. "Hitam atau biru tua? Atau gelap?"
"Iya, gelap. Itu hidup Ayah kalo tanpa kamu."
"Iiihhh, Ayah!" Kisa langsung mencubiti tangan ayahnya geli. "Kalo mau gombal tuh ke Bunda aja sana jangan ke aku."
Papanya masih sibuk menertawakan. Tapi, sungguh keduanya sangat menikmati malam itu. Seorang ayah dan putrinya untuk pertama kali bisa bercanda ria dan saling melempar tawa satu sama lain. Benar-benar baru pertama kali bagi mereka.
"Ayah." Seru Kisa secara tiba-tiba sampai ayahnya yang berada di sampingnya menoleh.
"Kenapa?"
"Menurut Ayah, rindu seseorang itu terjadi karena apa?"
Ayahnya mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke dahi tengah memikirkan jawabannya. "Sama kayak cemburu, rindu juga tanda cinta."
Mendengarnya, Kisa langsung membulatkan kedua bola matanya membuat ayahnya bertanya-tanya ketika melihat putrinya berekspresi seperti itu.
"Kenapa kamu nanya gitu? Kamu lagi kangen seseorang?"
Kisa menggeleng dengan tegas. Perasaannya makin tak karuan. Dia menyimpulkan kalau dia tengah merindukan Rangga kala itu, namun cewek itu terus menyangkalnya dan tidak ingin menyadari hal itu. Dia tidak mungkin sampai merindukan apalagi mencintai Rangga.
"Gimana ceritanya kamu tiba-tiba nanyain soal rindu? Jangan-jangan kamu lagi kangen sama seseorang beneran lagi. Siapa? Temen kamu? Atau mungkin pacar?"
"Ayah!!!" Kisa membentak bete. Cewek itu langsung cemberut. "Aku gak kangen siapa-siapa. Aku kan cuma nanya. Lagian aku gak punya orang spesial buat dikangenin."
Ayahnya terkekeh lagi. Lalu pria itu membawa putrinya ke dalam dekapannya. "Kamu mau tau gak cerita Ayah pas masih muda? Dulu sebelum kenal Bunda kamu, Ayah pernah pacaran sama anak pejabat yang kaya raya banget."
Kisa langsung beringas menatap ayahnya tak percaya. Matanya tampak melotot kaget dan begitu penasaran dengan kisah ayahnya tersebut. "Serius?! Gimana ceritanya, Yah?"
"Tapi, kamu jangan bilang-bilang Bunda, ya?"
Kisa mengangguk sampai kepalanya nyaris copot dari lehernya. "Janji!"
"Pas masih jaman SMA tepatnya pas kelas 12, Ayah punya temen sekelas. Dia itu cantik, kaya, baik lagi. Ayah pernah suka sama dia. Terus, Ayah coba buat nyatain perasaan Ayah ke dia."
"Diterima?" Kisa tiba-tiba menyela saking penasarannya.
"Iya. Terus kami pacaran selama 1 minggu, abis itu putus karena keburu ketahuan sama orang tuanya."
"Terus?"
"Kami terpaksa pisah karena orang tua dia ngelarang pacaran sama Ayah. Alasannya karena kasta keluarga Ayah sama keluarga dia berbeda. Dia punya segalanya mulai dari mobil, rumah, pesawat, dan segala yang mewah-mewah. Sedangkan Ayah cuma orang biasa.
"Terus sekarang dia gimana?"
"Dia bahagia sama keluarganya sendiri dan Ayah juga bahagia sama keluarga Ayah sendiri." Ucap pria itu sembari menciumi dahi putrinya.
Kisa tertegun mendengar kisah ayahnya barusan. Entah kebetulan atau bagaimana, Kisa dan ayahnya punya kisah yang sama tentang mencintai seseorang yang berbeda dengan kasta mereka.