51. Cinta Monyet

1212 Kata
Makanan dengan berbagai jenis kini berjejer di atas meja makan. Sungguh, Kisa sangat merindukan masakan bundanya setelah sekian lama tidak mencium aroma makanan itu lagi. Mungkin saking lamanya, Kisa hampir lupa rasa masakan itu karena selama bersekolah di Jakarta, Kisa sama sekali tidak pernah lagi memakan makanan bundanya. Tapi, setelah kedatangannya ke Yogyakarta, penantiannya seolah terbayar sudah. Bukan cuma soal makanan, Kisa pun kini mendapatkan ayahnya lagi. Rasanya Kisa ingin menangis terharu sekarang karena mendapat double attack. Mereka bertiga tengah menikmati makanan itu ramai-ramai. Seafood buatan rumahan dan beberapa makanan favorit Kisa seolah menjadi surga baginya kala itu. Betapa gadis itu sangat merindukan masakan bundanya. Seolah Kisa merasa jadi orang paling bahagia hanya dengan bisa kembali mencicipi masakan rumahan bundanya lagi setelah sekian lama. "Kisa, bisa kamu ceritain gimana pengalaman kamu selama sekolah di Jakarta?" Ayahnya tiba-tiba bertanya. "Seru sih, tapi tetap aja gak seseru kayak di rumah." Jawab Kisa menjawab pertanyaan ayahnya. "Kamu kalo di sana suka makan apa?" Giliran bundanya yang bertanya. "Paling nasi goreng di kantin atau gak mie ayam jablay." "Mie ayam j****y?" Ayahnya mengernyit setelah mendengar nama makanan aneh yang disebutkan Kisa. "Maksudnya mie ayam yang ayamnya j****y?" Sial, Kisa hampir tersedak karena hampir tertawa. "Bukan, Ayah. Itu karena penjualnya namanya Bang j****y. Jadi deh disebut mie ayam jablay." "Hadeh ada-ada aja nama makanan jaman sekarang." Ayahnya geleng-geleng kepala. "Oh, iya. Kamu di Jakarta gak pernah pacaran, kan?" Sontak, Kisa pun tersedak setelah mendengar ucapan ayahnya yang membuat tenggorokannya kering seketika sampai terbatuk-batuk. "Siapa yang pacaran? Aku gak pacaran sama siapa-siapa kok." Kisa langsung cemberut bete. "Nah, bagus. Kamu gak usah pacaran dulu. Kamu masih kecil. Jangan cinta-cintaan. Fokus belajar aja dulu, ya." "Benar itu." Mariana tiba-tiba ikut menyahuti perkataan Jo. "Kamu gak usah suka-sukaan sama cowok. Belum waktunya buat kamu mengenal cinta sekarang. Buang-buang waktu aja soalnya itu kan cuma cinta monyet." Mendengar perkataan kedua orang tuanya, Kisa ngangguk-ngagguk saja sambil sesekali tersenyum mengiakan. Namun, entah kenapa secara bersamaan muncul sosok Rangga yang baru saja tersibak di benaknya. "Kisa? Kenapa melamun?" Kisa langsung tersentak ketika ayahnya baru saja menggebraknya dengan pelan. Cewek itu menggeleng lagi tanpa mengundang penasaran sang ayah sedikit pun. "Aku gak ngelamun." Ayahnya ber-oh kecil. "Ayah mau nanya sama kamu." Kisa pun menoleh penasaran. "Nanya apa?" "Kamu emang masih betah tinggal di sekolah itu? Jakarta ke Yogyakarta itu jauh, lho. Apa kamu gak mau pindah sekolah ke sekolah yang lebih deket aja biar Ayah sama Bunda gak terlalu khawatir? Mumpung kamu masih kelas satu SMA, jadi kamu masih punya banyak kesempatan buat pindah ke sekolah baru yang ada di Yogyakarta." Mendengarnya, Kisa langsung membisu. Dia sangat ingin tinggal di Yogyakarta terlebih karena ayahnya yang sudah sepenuhnya peduli padanya. Tapi, di sisi lain dia masih punya janji pada Saka, Kasa dan Akriel di Jakarta. Kisa sudah berjanji tidak akan meninggalkan mereka bertiga di sana. Kisa sangat berat untuk menentukan pilihannya sekarang. "Tapi, kalau kamu mau tetap di Jakarta, Ayah gak bisa maksa. Sesuka kamu aja." Lanjut ayahnya kemudian. Kisa mencoba mengalihkan perhatian. "Kalo soal itu nanti aku pikirin lagi, Ayah." *** Rangga termasuk anak yang introvert saat di rumah maupun sekolah. Di Middlesex School, dia tidak bergaul dengan siapa pun. Cowok itu lebih suka menyendiri dengan menyibukkan diri bersama dunianya. Siapa pun tahu kalau Rangga itu anak yang dingin dan tidak banyak bicara. Maka dari itu, setiap orang yang ingin berbicara dengan dia perlu berpikir dua kali untuk melakukannya. Rangga baru saja menutup lemari loker dan hendak kembali ke kursinya. Tiba-tiba saja handphonenya bergetar dan menampilkan papanya yang menelepon. Rangga mematung di tempatnya dan ragu untuk menjawab telepon dari pria itu. Rangga menghela napas sebal lalu akhirnya dia menggeser ikon berwarna hijau dan kemudian telepon pun langsung tersambung. "Iya, ada apa?" Tanya Rangga dengan nada setengah bete. "Papa ada di pelataran sekolah kamu. Papa menunggu kehadiran kamu di sini sekarang juga." Ucap papanya dengan tiba-tiba dan tanpa memberi Rangga kesempatan sedikit pun untuk menjawab sambungan telepon itu telah dimatikan sepihak. Rangga berdecak dan mencoba berpikir apa yang sedang papanya lakukan sampai datang ke sekolahnya. Namun, pada akhirnya Rangga berjalan menuju pelataran sekolah di mana papanya tengah menunggunya di sana. Tak sampai lima menit, akhirnya Rangga menemukan mobil papanya di pelataran sekolah yang maha luas tersebut. Rangga langsung menghampiri mobil merah yang tengah terparkir di bawah pohon akasia di ujung sana. Cowok itu langsung masuk ke dalam mobil. Kini, Rangga dan papanya ada di dalam mobil berdua. "Kenapa Papa datang ke sini?" Rangga langsung bertanya. "Papa mau bicara sesuatu sama kamu." "Apa lagi?" "Papa akan beri kamu satu kesempatan lagi. Kamu akan tetap memilih Liura atau gadis Jakarta itu." Rangga lantas memalingkan wajahnya. Dia betulan kesal dengan papanya. Semakin hari, Rangga selalu membiarkan dirinya untuk terbenam dalam dosa dengan membenci ayahnya sendiri. Lagipula, dia sudah lelah untuk terus memberi tahu pada papanya tersebut kalau orang yang dia cintai adalah Kisa. Harus berapa juta kali Rangga mengatakan itu supaya ayahnya sadar? "Kalau aku terus memilih Kisa, Papa nggak akan pernah berhenti buat menanyakan hal yang sama. Kalau aku memilih Liura, baru Papa akan berhenti untuk bertanya. Tapi, aku tetap pada pendirianku kalau aku memilih Kisa." Papanya sudah jelas kecewa dengan Rangga. Putra satu-satunya dan merupakan pewaris keluarganya kini telah membantah apa yang dia perintahkan. Sia-sia selama 16 tahun dia bekerja keras untuk bisa membesarkan anaknya dan setelah Rangga besar, justru anak itu tak mau menurut. Rasanya hidup dan perjuangan pria itu selama berpuluh-puluh tahun telah sirna sudah. "Apa Papa belum mengerti juga? Aku tahu, aku masih anak kecil di mata Papa maupun Mama. Kalian berpikir kalau aku masih butuh bimbingan dari kalian. Kalian tidak akan pernah mengizinkan keputusan yang aku buat karena aku belum sedewasa yang kalian pikirkan." Ucap Rangga dengan sedikit emosional. "Tapi, aku mohon untuk kali ini, aku harap kalian membebaskan aku sesuai yang aku mau. Aku ingin hidup bebas tanpa merasa dikekang sedikit pun. Aku ingin hidup seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Menikmati masa muda karena hal itu cuma sekali dalam hidup aku. Apa Papa gak kasian sama aku?" Papanya geming seketika. Benar, dia merasa kosong sekarang. Sesukses apa pun dirinya sekarang, hal itu hanya sia-sia di mata Rangga. Padahal di masa lalu, papanya mati-matian bekerja untuk membangun sebuah namanya sendiri agar bisa seperti sekarang. Sebisa mungkin pria itu membuat Rangga hidup bak seorang pangeran atau pun raja selama hidupnya. Namun, Rangga justru menolak hidup dengan cara seperti itu. Rangga malah ingin hidup seperti orang biasa tanpa kemewahan sedikit pun. "Bagaimana Papa mau mengizinkan kamu untuk melakukan apa yang kamu putuskan sekarang? Kamu hanya sedang buta karena cinta. Ketahuilah Rangga, perasaan kamu dengan gadis itu cuma sementara belaka. Kamu tidak akan bisa bertahan lama dengan dia. Perasaan kamu cuma sekelebat saja. Kamu belum tahu apa itu cinta sejati." "Apa yang Papa pikirkan juga tentang aku dan Liura? Apa perasaanku padanya tak jauh berbeda seperti aku pada Kisa? Tolong, Papa, biarkan aku mengikuti jalanku sendiri. Kali ini aku ingin hidup dengan keputusanku karena aku yakin itu adalah hal yang paling benar." Namun, pria itu tetap diam dan tak berkutik sama sekali. Padahal, Rangga di sebelahnya tengah mengharapkan jawaban penuh darinya. Pria itu menghela napas dan di dalam hatinya dia berbisik, 'Kalau Papa membiarkan kamu pergi, Papa tidak ingin kehilangan kamu sebagai putra Papa satu-satunya, Rangga. Bagaimana Papa bisa merelakan kamu dengan keputusan kekanak-kanakanmu itu?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN