Side Story : Liura's Things

1107 Kata
Nama gue Liura Mairee Axilla Kiehl atau lebih pendeknya adalah Liura Kiehl. Well, gue lahir dari seorang ayah yang memiliki keturunan Amerika sedangkan ibu gue asli Indonesia. Maka dari itu, gue blasteran Amerika-Indonesia. Sejak kecil, gue tinggal di Amerika. Dan selama 16 tahun, gue cuma berkunjung gak sampe sepuluh kali ke Indonesia cuma buat menjenguk kakek dan nenek dari pihak ibu gue. Karena gue ngerasa gue pun gak punya siapa-siapa buat gue kunjungi secara khusus di Indonesia selain kerabat dari ibu gue. Tapi, karena Rangga yang tanpa gue ketahui alasan kenapa dia tiba-tiba suka bolak-balik pergi dari Amerika ke Indonesia, maka dari itu gue ikut berkunjung bersamanya. Gue gak pernah tahu ketika Rangga bukan cuma berkunjung ke negara itu, melainkan dia juga dengan sengajanya bersekolah di sana. Gue sempet kebingungan dan gak habis pikir ketika Rangga benar-benar menetap di sekolah yang bahkan gak punya akreditas A sama sekali. Sekolah yang sangat underrated menurut gue. Awalnya gue gak menyadari alasan di balik keputusan Rangga mau bersekolah di sana. Dan ternyata tanpa gue sadari, alasan Rangga yang paling utama adalah karena gadis bernama Markisa Firaya alias Kisa. Gue sempet kaget dan hati gue nyaris robek ketika tahu kalau ada gadis lain yang lebih menarik perhatian Rangga dibanding gue. Dan itu adalah Kisa, orang yang gue anggap temen selama di Indonesia. Di Amerika, gue termasuk orang yang gak mudah bergaul sama beberapa orang, Rangga pun sama kayak gue. Kami gak punya sahabat atau temen deket sama sekali. Itu karena kedua orang tua kami sama-sama membatasi pergaulan dan menjaga siapa saja orang yang boleh berkomunikasi dengan gue maupun Rangga. Bagi gue, Kisa adalah temen pertama gue. Dia pun sekaligus teman bagi Rangga. Gue berusaha dekat sama dia karena dia teman Rangga. Tapi, ternyata apa yang telah gue lakuin selama ini sia-sia. Kisa adalah orang yang disukai Rangga selama ini. Dan hubungan gue sama Rangga cuma halu belaka. Buktinya Rangga gak pernah menyukai gue balik. Dan gak akan pernah sampai kapan pun. Ucapan Rangga yang paling menusuk d**a gue waktu dia bilang kalau cinta itu datang dari hati dan orang yang dia cintai dari hati adalah Kisa. Sejak saat itu, gue sadar kalau gue gak akan pernah dicintai oleh hati Rangga. Meskipun sejujurnya gue yang mencintai Rangga dari hati sementara dia malah mencintai orang lain. Menurut Rangga, hubungan gue sama dia cuma sekadar paksaan dari orang tua masing-masing. Dan kenyataannya memang benar begitu. Tapi, dia gak pernah sadar kalau gue bener-bener tulus mencintainya bahkan sejak pertama kali kami bertemu. Lalu apa yang gue bisa lakuin kalau Rangga gak akan pernah mencintai gue? Seluruh harta dari ayah gue pun gak akan mampu buat bikin Rangga jatuh hati sama gue dan bukannya sama Kisa. Bolehkah gue disebut egois karena hal itu? Mungkin jawabannya iya. Itu karena gue terlalu terobsesi buat dapetin Rangga. Dan kalau boleh jujur, gue sangat ingin mendapatkan Rangga apa pun yang terjadi. Gue ingin kisah cinta gue sempurna. Gue ingin Rangga balik mencintai gue dan hidup kami berakhir bahagia seperti kisah romansa pada umumnya. Tapi nyatanya, dia gak akan pernah balik mencintai gue sampai kapan pun. Dan semua harapan gue waktu itu cuma bakal nyakitin diri gue sendiri nantinya. *** Gue baru tahu kalau ayahnya Rangga kini berada di Amerika juga. Jadi, secara pribadi gue mencoba buat menemuinya secara khusus. Gue cuma mau mengobrol tentang sesuatu sama dia. Kami mengobrol di sebuah cafe. Gue sama ayahnya Rangga lumayan akrab dan setiap kami bertemu tidak ada rasa canggung sedikit pun. "Apa yang mau kamu bicarakan, Liura?" Gue tersenyum sedikit ketika beliau melayangkan pertanyaan ke gue. "Liura cuma mau ngomong sesuatu. Tapi, mungkin perkataan Liura nantinya bakal bikin Om ngerasa gak nyaman," ucap gue. "Gak nyaman bagaimana? Katakan aja. Om bakal denger dan merespon apa pun yang ingin kamu bicarakan." "Meskipun itu tentang Rangga? Om akan tetap menjawab pertanyaan Liura, kan?" Tampaknya ucapan gue tidak sepenuhnya benar. Seusai gue melontarkan perkataan itu, beliau tertegun sejenak dan malah membisu selama sesaat. Gue sampai terkejut ketika pria di depan gue tak berkutik sedikit pun. "Om?" Gue mencoba memastikan kalau ayahnya Rangga baik-baik saja kala itu. Dan jantung gue seketika lega ketika pria itu kembali normal seperti semula. "Iya, katakan saja, Liura." "Sekarang, Liura tahu kalau orang yang dicintai Rangga selama ini bukan Liura melainkan orang lain." Gue bisa ngelihat wajah pria itu semakin terteguan dari sebelumnya. Dan entah kenapa gue juga bisa melihat kesedihan dan kehawatiran secara bersamaan di wajahnya. "Kamu tahu itu dari mana?" "Liura tahu sejak lama. Sejak Rangga tiba-tiba berubah dan semakin aneh ketika ada di dekat Liura. Dan Liura juga sempat berpikir kalau Rangga mungkin tidak menyukai Liura lagi. Dan ternyata benar, Rangga menyukai orang lain selain Liura." "Kamu percaya sama anak itu?" Pria itu baru saja menyela perkataan gue. Gue sampai tercekat. "Kamu percaya dengan kesimpulan yang kamu buat kalau Rangga tidak menyukai kamu? Kamu tidak boleh begitu, Liura." "Kesimpulan atau pun bukan, faktanya Rangga memang tidak mencintai Liura, Om!" Entah kenapa, gue malah meninggikan nada suara gue waktu itu. Gue sendiri benar-benar gak nyadar. Gue terbawa emosi. Gue gak bisa dibohongi lagi dengan mitos tentang Rangga yang kukuh harus menjadi pendamping hidup gue kelak dengan kenyataan yang tak sehaluan. Gue gak bisa hidup dalam kebohongan apalagi memaksa seseorang untuk mencintai gue. "Liura." Pria itu lirih tampak tak menyangka dengan apa yang baru saja gue katakan. "Maafin, Liura." Ucap gue dengan nada yang lemah. "Kalau Rangga gak bisa menyukai Liura atau bahkan mencintai, Liura gak bisa memaksa dia. Liura gak mau hidup dalam kebohongan dengan ekspektasi yang terlalu tinggi tentang Rangga. Lagipula, Mama selalu bilang kalau perempuan itu gak seharusnya mengejar, justru perempuan itu yang dikejar oleh laki-laki yang mencintainya. Lebih baik, Liura gak akan pernah bahagia kalau Rangga dipaksa memilih Liura dibanding orang yang dia sukai menurut jalan hatinya sendiri." Suasana kala itu tiba-tiba menjadi canggung dan dingin. Kami sama-sama terdiam dan saling tak berkutik. Akhirnya, gue bisa menyampaikan apa yang selama ini gue sampaikan meskipun itu akan membuat beberapa orang yang berharap baik akan menjadi sakit hati. Sama halnya dengan pria di depan gue, dia selalu berharap dan berekspektasi kalau suatu hari nanti gue dan Rangga bisa hidup sama-sama. Tapi, bagaimana jadinya kalau keadaan saja kayak gini? Gak ada yang harus diharapin lagi. "Liura harap Om bisa ngerti. Keputusan Liura untuk memutus hubungan dengan Rangga adalah yang terbaik dan demi kebaikan kami berdua juga. Cinta itu memang pada dasarnya gak bisa dipaksain. Maka dari itu, Liura minta sama Om atau pun kedua orang tua Liura buat jangan memaksa Liura maupun Rangga lagi untuk saling mencintai apalagi menjalin sebuah hubungan, karena kami tidak pernah mempunyai perasaan yang sama sedikit pun," lanjut gue lagi dengan perasaan yang sangat bergejolak sakitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN