"Uhuk uhuk!"
Renita terus memegangi dadanya yang terasa berat. Semalam dia tidak bisa tidur karena batuk yang terus mengganggunya akhir-akhir ini. Wanita itu bahkan tidak berhenti batuk. Bahkan dia sempat dihabrik oleh penghuni yang satu sel dengannya karena terlalu berisik. Renita juga merasa tidak enak badan belakangan ini. Sepertinya wanita itu sakit.
Renita benar-benar kesusahan selama di penjara. Dia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Bagaimana tidak karena dia hanya tidur di atas tikar yang tipis dan bantal yang keras. Berbeda jauh sekali dengan tempat tidur di rumahnya yang serba nyaman. Juga, dia tidak bisa makan dengan teratur. Makanan di penjara rasanya tidak ada yang sesuai dengan lidahnya. Renita benar-benar tersika berada di sana.
Pagi itu, Renita masih berada di sel tahanannya sendirian. Sementara yang lainnya tengah mengantre untuk mendapatkan makanan. Renita melamun di sana sambil memeluk kedua lutunya.
Tiba-tiba, seorang polisi menghampirinya. Polisi itu lalu menghadap ke arah Renita yang masih termenung di ujung sana.
"Anak kamu ingin mengunjungi kamu sekarang. Dia sedang menunggu." Ucap polisi itu membuat Renita menoleh.
"Sheryl mengunjungi saya?" Renita lantas menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan. Dia seperti orang gila. "Sheryl tidak boleh melihat saya dalam kondisi seperti ini! Sheryl tidak boleh melihatnya!"
Melihat Renita yang tiba-tiab tak terkendali, polisi itu mencoba menenangkannya. Wanita itu terus berteriak dan memukuli kepalanya sendiri.
"Tenanglah!" Bentak polisi itu dengan lantang sampai Renita berhasil terdiam seketika. "Kenapa kamu tidak ingin menemui anakmu sendiri?"
Renita gelagapan. Ekspresinya tidak bisa dijelaskan. Dia terlihat seperti sedang menangis, tertawa, marah dan sedih secara bersamaan. Polisi itu pun sampai kebingungan dengan kondisi Renita.
"Sheryl tidak boleh menemui saya. Saya tidak ingin menemui siapa pun." Namun, Renita semakin histeris dan tak terkendali.
"Tenanglah Renita! Berhenti menyakiti diri kamu sendiri. Kalau begitu saya akan berbicara dengan Sheryl."
Polisi itu lantas meninggalkan Renita di sel tahanannya. Dia benar-benar kebingungan dengan sikap Renita. Sebenarnya wanita itu betulan gila atau cuma bersandiwara? Polisi itu sampai geleng-geleng kepala.
Sheryl masih menunggu di ruang tunggu. Polisi itu menghampiri gadis itu.
"Apa saya boleh menemui ibu saya sekarang?" Tanya Sheryl.
"Ibu kamu menolak untuk bertemu. Dia tampaknya sangat stres. Dia tidak seperti baik-baik saja. Makanya dia tidak ingin menemui siapa pun termasuk kamu."
Sheryl mengernyit. "Apa terjadi sesuatu pada dia? Tolong biarkan saya menemui ibu saya."
"Maaf Sheryl, Renita sudah menolak puluhan kali. Kamu bisa mengunjunginya lain waktu saja."
"Nggak, saya harus menemuinya sekarang juga apa pun yang terjadi. Kenapa kalian mencoba menghalangi saya?" Sheryl tetap kukuh dan memaksa.
Cewek itu menerobos masuk ke kantor polisi dan mencoba mencari ibunya di sana. Namun, dia berhasil ditahan oleh beberapa polisi di sana. Sheryl terus memberontak sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari genggaman polisi tersebut.
"Lepaskan saya! Saya harus pergi! Biarkan saya masuk!" Teriak Sheryl sambil menangis dengan tidak berdayanya. Sekarang, hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa menangis dengan lemah dan tak berdaya. Sheryl merasa hancur.
"Tenang Sheryl!" Polisi itu mencoba menenangkannya dengan memeluknya. "Kamu hanya harus sabar."
"Mama!" Teriak Sheryl lagi dalam dekapan polisi itu. Saat itu juga, Sheryl seolah mati rasa. Dia tidak bisa merasakan apa-apa dan perlahan tubuhnya lemas seketika. Sheryl tak sadarkan diri.
***
Brak
Suara gebrakan meja berhasil merampas perhatian semua orang di ruang kelas itu. Termasuk seorang gadis yang tengah tertidur di bangkunya terpaksa harus bangun karena suara keras dari pukulan meja tersebut. Sheryl membenarkan pandangannya yang masih buram karena habis tertidur. Cewek itu melihat ke sekeliling, rupanya dia tengah dikelilingi oleh 5 orang cewek. Mereka semua kompak melayangkan tatapan intimidasi pada Sheryl. Seolah mereka sudah siap untuk membully Sheryl lagi dan lagi. Tiga diantara mereka tak lain dan tak bukan adalah Rachel, Valosha dan Windy. Serta dua orang lainnya adalah Reina dan Dita. Kelimanya menatap Sheryl yang baru saja terbangun dari tidurnya di dalam kelas.
Sheryl masih gelagapan. Dia benar-benar mengantuk. Semalam dia tidak tidur dan terus memikirkan ibunya yang di penjara. Dan di sekolah, memang bukan tempat yang tepat untuk tidur di sana.
"Bisa-bisanya ada yang tidur di dalem kelas. Apa lo gak punya rumah buat tempat lo tidur sampe harus tidur di dalam kelas gini?" Nyinyir Rachel pada Sheryl.
Sheryl mendelik saja. Dia sama sekali tak menatap kelima pentolan itu.
"Kayaknya sebentar lagi semua orang bakalan tau semua rahasia tentang lo." Ucapan Rachel selanjutnya membuat Sheryl tercekat. Dia menoleh ke arah cewek itu dengan luar biasa penasaran. Apa yang Rachel tahu dari Sheryl? Sheryl jadi panik.
"Kenapa? Lo takut kalo gue bongkar rahasia lo yang selama ini lo tutupin dari semua orang?" Windy tiba-tiba menyahut.
"Apa yang akan kalian lakuin lagi? Masih belum cukup ngerundung gue?" Ucap Sheryl dengan nada datar.
Rachel tersenyum miring sambil berkacak pinggang.
"Apa lo semua mau tau rahasia Sheryl?!" Rachel berkata dengan nada yang keras kepada semua orang di dalam kelas sampai mereka semua menoleh terutama pada Sheryl.
Sheryl tentu semakin panik dengan apa yang akan Rachel beberkan pada semua orang.
"Apa yang bakal lo ucapin?!" Sheryl lantas berdiri menghadap Rachel dengan lantangnya. Dia sama sekali tak kelihatan takut meskipun tengah dirundung seperti itu.
Rachel tersenyum miring. "Kayaknya gue harus secepatnya bilang ke semua orang tentang rahasia terbesar lo itu."
"Cukup!" Sheryl datar mencoba menghentikan Rachel.
Namun, hal itu tak cukup untuk menghentikan Rachel. Cewek itu semakin dilarang malah semakin jadi. "Gue bakal ngasih tau ke semua orang kalo lo sama Dara itu adalah saudara tiri."
Sontak semua orang yang ada di kelas kala itu kompak terkejut dengan apa yang Rachel ucapkan barusan. Terutama Sheryl. Cewek itu seolah mati rasa kala Rachel dengan tidak berdosanya berani membeberkan kalau Dara dan Sheryl adalah saudara tiri.
"Selama ini lo ngebully Dara karena dia adalah saudara tiri lo? Woy, harusnya lo mikir, b**o! Lo playing victim namanya. Harusnya lo yang dicap sebagai anak pelakor!" Ejek Rachel pada Sheryl yang kini mematung tak berkutik sedikit pun.
"Apa ini ngebuat lo seneng?" Sheryl menatap Rachel sedih. "Membeberkan semua tentang kehidupan gue dan ngerundung gue apa itu ngebuat kalian seneng?!"
"Jelas!" Valosha tiba-tiba menyahut tak kalah garangnya. "Selama ini Dara tuh gak salah. Dan bisa-bisanya lo ngehasut semua orang biar dia dibenci. Lo sadar gak sih apa yang udah lo lakuin? Sekarang, rasain apa yang udah lo dapetin. Lo balik dirundung dan dijauhin semua orang!"
Sheryl kini menangis. Dia berteriak seperti orang stres. Semua orang menatapnya dengan aneh. Sheryl benar-benar ingin pergi dari dunia ini, namun dia tidak bisa. Sheryl lelah. Dia sangat lelah. Apa yang dia dapatkan memang belum sebanding dengan apa yang Dara rasakan dulu. Seperti ini saja, Sheryl sudah sangat tidak kuat, bagaimana dengan Dara? Jelas cewek itu lebih menderita dari Sheryl.
Tiba-tiba saja, dari arah pintu datanglah seseorang yang membuat perhatian semua orang tersita ke arahnya. Dara dengam langkah yang tegas masuk ke ruang kelas itu dan menghampiri Sheryl yang kini bersimpuh di lantai sambil dikelilingi Rachel dan kawan-kawan. Dara langsung menarik lengan Sheryl dan membawanya pergi dari sana. Sheryl tak bisa berkata-kata ketika Dara kini membawanya menjauh dari Rachel CS.
Sampai akhirnya, kedua cewek itu berada di pelataran sekolah yang sepi. Hanya ada mereka berdua saat itu. Sheryl menghempaskan genggaman tangan Dara kala itu. Sheryl menatap Dara. Dara pun balik menatap Sheryl
"Kenapa lo tetap baik sama gue?" Sheryl langsung bertanya.
Dara mengalihkan pandangannya. "Gue bukan lagi berbuat baik sama lo. Gue bahkan gak ada niatan buat nolong lo."
"Terus apa?!" Sheryl membentak. "Kenapa lo nyoba ngehindarin gue dari Rachel?"
Dara berdecak sambil mendelik. "Gue pikir lo masih inget kalo kita itu saudara tiri."
***
Rangga baru saja kembali dari sekolahnya. Dia pulang ke apartemennya yang di Amerika. Namun, dia sadar ada sesuatu yang aneh di tempat itu. Baru saja Rangga membuka pintu apartemennya, dia sudah dikejutkan dengan sosok papanya yang tengah berdiri memunggunginya. Pria itu berdiri menatap ke luar jendela. Rangga tercekat di tempatnya. Cowok itu berniat untuk putar balik dan lebih memilih untuk pergi dari tempat itu daripada harus berada di tempat yang satu atap dengan papanya. Namun, tampaknya pria itu menyadari kehadiran Rangga yang baru masuk ke sana. Pria itu pun berbalik dan benar saja Rangga sudah ada di sana. Cowok itu tengah menatapnya dengan wajah tidak suka. Dia sudah bisa menebak putranya itu pasti akan membencinya suatu hari nanti. Dan terbukti Rangga kini membencinya.
Rangga menghela napas lelah. Cowok itu berbalik arah dan berjalan ke luar unit apartemennya. Papanya pun segera menghentikan langkah putranya dengan mengejarnya balik.
"Rangga! Berhenti!" Seru papanya dan berhasil menghentikan langkah putranya tersebut.
"Jangan ganggu waktuku. Aku lelah bersekolah seharian, aku mau istirahat. Tolong pergi dari kamarku." Ucap Rangga dengan datar tanpa menoleh sedikit pun pada papanya.
Papanya mendekat dan berjalan menghadap Rangga. Namun, Rangga malah membuang mukanya di hadapan papanya. Dia begitu muak dengan papanya yang sekarang. Bahkan, dia tidak sudi harus berada di satu oksigen yang sama dengan pria itu. Biarkan Rangga berdosa sekarang.
"Papa ingin bicara sama kamu."
"Kalo ingin bicara, cepat katakan! Jangan membuang-buabg waktuku." Rangga dengan cepat menyela perkataan papanya disertai nadanya yang begitu lantang.
"Papa gak bisa bicara di tempat yang banyak orang seperti ini."
Rangga mendelik, lalu cowok itu berbalik dan berjalan memunggungi papanya tanpa mengatakan apa pun. Rangga masuk ke dalam apartemennya lebih dulu. Dan dalam beberapa saat, papanya menyusul masuk ke ruangan itu.
"Papa ingin bilang, apa di hati kamu tidak ada tempat untuk Liura?"
Sudah Rangga duga, papanya pasti akan membicarakan hal yang tidak penting sama sekali. Rasanya, Rangga ingin mengusir papanya dari sana sekarang juga meskipun hal itu akan mendatangkan masalah besar padanya.
"Aku udah bilang kan kalo Papa mau membicarakan hal yang gak penting, lebih baik Papa pergi sekarang juga."
"Ini hal yang sangat penting."
"Penting? Aku udah bilang berapa kali kalo aku gak suka Liura. Orang yang aku sukai adalah Kisa."
"Apa kamu benar-benar menyukai gadis itu? Pikirkan sekali lagi, Rangga. Apa orang yang kamu sukai hanya dia?"
Rangga menatap papanya dengan tenang. "Memang apa salahnya? Aku melakukan apa yang sesuai dengan jalan hatiku sendiri. Bertahun-tahun lamanya aku mencari dia dan setelah aku menemukannya dengan susah payah, Papa malah mau memisahkan kami." Ucap Rangga dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Bagaimana kalau Papa melarang kamu untuk bersamanya?"
"Kalau Papa tetap bersikeras untuk melarangku, aku rela memutus status sebagai putra Papa. Aku bisa hidup sendiri tanpa bantuan uang dari Papa lagi." Ucap Rangga dengan penuh keyakinan.
Papanya sampai dibuat tak bisa berkata-kata lagi dengan keputusan Rangga. Pria itu tidak tahu kenapa Rangga bisa senekat itu dengan papanya sendiri. Bahkan, Rangga tidak takut meskipun harus kehilangan statusnya sebagai putra Lee Soo-man dan pewaris semua hartanya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh?" Tanya papanya lagi pada Rangga.
"Kenapa aku harus bercanda?" Ucap Rangga tanpa rasa takut sama sekali.