Sejak kecil, Kisa selalu takut pada ayahnya. Ayahnya yang seorang tentara itu selalu tidak pernah menganggap Kisa sebagai putrinya. Sejak awal, Kisa merasa kalau kehadirannya tidak pernah diinginkan oleh siapa pun termasuk ayahnya. Itu karena dia seorang anak perempuan. Berbanding terbalik dengan keinginan ayahnya yang sangat menginginkan anak laki-laki agar bisa mengikuti jejaknya sebagai seorang tentara. Maka dari itu, sebisa mungkin Kisa berpenampilan seperti seorang anak laki-laki agar dia dicintai ayahnya sendiri. Tapi, hal itu saja tidak cukup. Dia tidak pernah mendapatkan hati ayahnya. Kisa sedih jika mengingat bagaimana dia mendengar percakapan ibu dan ayahnya dulu. Di mana ayahnya tidak menyukai Kisa karena dia adalah anak perempuan. Itu membuat Kisa sakit hati. Dia ingin menghindari ayahnya sebisa mungkin.
Pagi-pagi buta, Kisa sengaja berjalan di jalan raya sendirian. Menikmati udara pagi yang khas dan masih sejuk-sejuknya. Dia ingin menenangkan dirinya dari dunia yang semakin rumit setiap harinya. Kisa berhenti di tengah jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang membentang sampai ke lautan. Tidak banyak kendaraan yang lewat saat itu. Hanya ada satu atau dua mobil yang sepertinya baru mau pulang ke rumahnya setelah semalaman lembur kerja.
Kisa terkadang cemburu pada orang lain yang bisa sedekat itu dengan ayahnya. Kisa pun ingin dicintai oleh ayahnya sebagai Markisa Firaya dan sebagai anak perempuan sebagaimana itu adalah dirinya yang sesungguhnya. Dia tidak bisa bertingkah atau berpenampilan selayaknya seorang laki-laki agar mendapat kasih sayang dari ayahnya. Itu menyiksa Kisa.
Dia adalah anak tunggal dan anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Terkadang, Kisa pun merasa kecewa telah lahir ke dunia sebagai seorang anak perempuan sampai tidak disukai ayahnya. Kisa sudah merasakan sejak dia kecil, dia benar-benar tidak pernah merasakan bagaimana mengobrol dengan seorang ayah. Jangankan mengobrol, Kisa dianggap ada pun sepertinya tidak.
Kisa menatap sungai yang lebar dan dalam itu dari atas jembatan. Tatapannya kosong. Kisa sangat kacau semenjak mendengar suara ayahnya dari balik telepon waktu lalu. Kisa ingin menangis. Dia rindu keluarganya apalagi ibunya. Tapi, dia tidak bisa pulang ke rumah karena ayahnya pasti akan mengucilkannya. Kisa sempat berpikir beberapa hari lalu untuk menyerah. Menyerah dalam artian berhenti untuk hidup. Memang Kisa terlalu pecundang telah berpikir untuk menyerah, tapi dia terlalu tidak kuat dengan semuanya. Dia tidak pernah nyaman di mana pun. Dia selalu merasa sendiri dan tidak ada orang yang benar-benar tulus padanya.
Kisa kini menangis. Pertama kali setelah sekian lamanya akhirnya cewek itu mengeluarkan semua air mata kepedihannya sekarang. Dia selalu memendam rasa sakitnya sendirian. Dia tidak pernah menceritakan masalahmya pada siapa pun. Maka dari itu, Kisa merasa dirinya di dunia ini hanya sendirian dan tidak punya siapa-siapa.
Kisa masih menatap sungai itu. Lalu kemudian kakinya mencoba untuk memanjat pagar jembatan. Kisa meneguk ludah. Isi pikirannya tidak beraturan. Rasanya hanya ada kata menyerah yang kini seliweran di dalam pikirannya. Kisa hendak melompat dari atas jembatan, namun...
Grep
Sebuah tangan berhasil menarik Kisa dari sana sampai cewek itu tersungkur ke jalanan. Kisa terselamatkan dan sedikit mengaduh karena sikunya yang tergores terkena aspal.
Kisa menatap seseorang yang baru saja mencegahnya. Cewek itu terkejut ketika mengetahui siapa orang itu. Bahkan, lidah Kisa mendadak kelu untuk menyebutkan namanya. "Akriel?!"
"Sedang apa kamu di sini?!" Akriel tampak marah ketika mengetahui Kisa habis memanjat pagar jembatan dan hampir melompat ke bawah. Beruntung dia datang tepat waktu ke tempat itu dan mencegah Kisa secepatnya. Telat sedikit saja entah apa yang akan terjadi pada Kisa nantinya.
Kisa malah terdiam di tempatnya. Dia tidak berani menatap Akriel apalagi menjawab pertanyaannya. Dia juga tidak mengerti kenapa Akriel bisa ada di sana dan datang dengan mobil bersama seorang pria.
"Jawab pertanyaan saya!" Akriel menegaskan lagi.
"Ini gak ada urusannya sama lo," pelan Kisa.
Kisa terdiam lagi. Wajahnya menunduk dan Akriel bisa melihat cewek itu tengah menangis sekarang. Air matanya mulai berjatuhan membasahi pipinya. Lalu, Akriel menghampiri cewek itu dan memeluknya begitu saja. Dia pernah melihat Kasa yang menangis dan sekarang dia melihat Kisa yang sedang menangis juga. Dari sana, Akriel menyadari kalau mereka tak sekuat kelihatannya. Hati mereka bisa rapuh kapan saja. Saat mereka sedang dalam keadaan begitu, Akriel tak segan untuk meminjamkan pundaknya sebagai sandaran ketika mereka menangis.
***
Akriel datang bersama Herman. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit dan rencananya Herman akan membawa Akriel kembali ke asramanya. Herman sudah mengabari Pak Bondan kalau Akriel baik-baik saja. Tapi, di perjalanan mereka dihentikan dengan sebuah pemandangan di mana ada seorang anak perempuan yang hendak meloncat dari atas jembatan. Akriel buru-buru menolongnya dan tanpa ia duga sebelumnya, rupanya itu adalah Kisa. Akriel tidak pernah menyangka akan menjumpai Kisa dalam keadaan serapuh itu.
Akriel memutuskan untuk menenangkan Kisa dengan menemaninya sambil berjalan-jalan pagi di sisi jalan raya sambil sesekali melihat matahari yang akan segera terbit. Hari masih sepagi itu dan lampu-lampu rumah masih ada yang menyala karena matahari belum terbit sepenuhnya.
Kisa masih enggan menceritakan masalahnya dan Akriel sama sekali tidak memaksanya untuk menceritakannya.
"Kasa juga pernah menangis di hadapan saya. Dia dua kali menangis," kata Akriel.
Kisa yang mendengarnya agak menoleh. Bagaimana bisa Akriel melihat Kasa yang lagi menangis. Kisa saja selama berteman dengan Kasa tidak pernah melihat sekalipun cewek itu lagi menangis. "Kenapa dia nangis?"
"Saya tidak akan menceritakannya kenapa Kasa menangis di hadapan saya. Kamu sendiri tidak menceritakan kenapa kamu menangis dan hampir melompat dari atas jembatan."
Kisa memutar kedua bola matanya. Dia ragu untuk menceritakannya. Karena selama hidupnya, dia belum pernah menceritakan masalahnya tentang ayahnya kepada siapa pun.
"Lo bisa jaga rahasia gak?" Tanya Kisa. Dia harus berpikir seratus kali untuk sekadar curhat pada orang lain dan menjamin rahasianya tidak akan bocor ke tangan siapa pun. Tapi dilihat-lihat, sepertinya Akriel cukup bisa menjaga privasinya.
"Buktinya saya tidak memberi tahu kamu kenapa Kasa yang menangis saat itu. Jadi, saya sudah cukup menjaga rahasia Kasa, bukan?" Jawab Akriel dan Kisa pun agak yakin untuk curhat pada laki-laki itu.
"Menurut lo apa yang harus gue lakuin biar bisa disayang sama ayah gue?" Kisa akhirnya bertanya.
Akriel agak berpikir-pikir saat menjawabnya. "Seorang ayah akan menyayangi anaknya bahkan sejak anaknya dilahirkan. Tanpa anaknya melakukan apa pun, seorang ayah pasti akan menyayangi anaknya."
Kisa berdecak. "Lo gak tau aja bapak gue kayak gimana. Dia beda kayak bapak-bapak pada umumnya."
"Berbeda kenapa?" Akriel mengernyit.
"Dia gak pernah ngasih sayang sama gue bahkan sejak gue lahir. Alasannya karena gue anak perempuan." Kisa berdecak. "Maka dari itu gue berlagak kayak seorang cowok biar bisa disayang sama ayah gue tapi ternyata sama aja, gue gak pernah sekalipun dianggap ada sama dia. Gue kayak orang asing kalo di rumah. Gue capek. Gue punya ayah tapi serasa gue ini anak yatim. Gue mau nyerah rasanya."
"Jadi, karena itu kamu mencoba melompat dari atas jembatan?"
Kisa merasa tersentak. Jawabannya memang iya, tapi lidah Kisa mendadak kesulitan untuk mengiakannya.
"Kamu tidak pernah bertanya pada ayah kamu apakah dia benar tidak menyayangi kamu. Kenapa kamu bisa dengan mudah menyimpulkan kalau dia tidak menyayangi kamu?" Akriel geram sendiri dan hal itu membuat Kisa terdiam.
Aneh rasanya melihat Kisa yang tiba-tiba diam karena perkataan Akriel. Biasanya cewek itu suka tanpa malu ngomong nyerocos pada Akriel.
"Ayah kamu menyayangi kamu. Karena kamu adalah darah dagingnya. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kamu secara terang-terangan. Kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri. Tidak perlu menyamar menjadi siapa pun. Cukup menjadi Kisa apa adanya."
Perkataan Akriel benar-benar membuat Kisa lebih diam lagi. Cewek itu tidak menyangka kalau Akriel jago menasihati juga dan kata-katanya benar-benar sekelas motivator profesional. Kisa betulan dibuat ternganga dengan nasihat Akriel.
"Lo gak tau gimana ayah gue. Dia terobsesi sama anak laki-laki. Dia gak pernah suka gue karena gue itu anak perempuan." Kisa menampakkan ekspresi sedih.
"Kamu bukan tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kamu, kamu hanya tidak menyadarinya saja kalau sebetulnya ayah kamu secara diam-diam menyayangi kamu. Dia mencintai kamu sebagai anaknya. Anak laki-laki ataupun perempuan itu sama saja. Tidak ada yang membedakan diantara keduanya untuk sama-sama mendapat cinta dari kedua orang tuanya." Kata Akriel dan saat itu pula, Kisa benar-benar terpesona dengan kemampuan tersembunyi Akriel yang bisa memotivasi orang lain termasuk Kisa.
***
Herman mencoba mengunjungi Fany di asramanya. Meskipun agak kesulitan karena cewek itu sempat beberapa kali menolak ajakan Herman untuk menanyakannya soal kesaksiannya terhadap kematian Karan beberapa bulan lalu apalagi karena Herman di sana diketahui adalah ayah kandung Sheryl membuat Fany sulit mempercayainya. Namun pada akhirnya Fany setuju untuk menerima ajakan Herman. Mereka menempati salah satu meja di sebuah cafe. Kata Akriel, Fany mengetahui kejadian yang sebenarnya soal kematian Karan Sabintang.
"Sebetulnya saya tidak ingin terlibat dengan masalah apa pun. Saya tidak ingin ikut campur meskipun saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana Karan meninggal karena dibunuh Renita." Kata Fany.
"Kalau kamu tetap diam, sama saja kamu pun melakukan kejahatan karena menyembunyikan hal yang sebenarnya soal kematian Karan." Kata Herman agak geram. "Selain kamu siapa lagi? Apa kamu akan tetap membiarkan semua orang percaya kalau kematian Karan itu karena kecelakaan? Apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah padanya? Tidak ada lagi orang yang bisa memperkuat bukti saya selain kamu. Hanya kamu yang mengetahui penyebab kematian Karan secara detail."
Fany diam saja. Tapi, sungguh demi apa pun dia sangat takut kalau harus mengatakan hal itu pada polisi bahwa Renitalah yang telah membunuh Karan. Dia takut suatu hari nanti, Renita akan balas membunuhnya karena telah membuatnya dipenjara.
"Saya akan membayar kamu dengan harta yang saya punya kalau kamu mau mengungkapkan hal itu pada polisi." Tawar Herman.
"Ini bukan soal uang. Tapi, apa Anda tidak tahu kalau saya sangat takut untuk melakukan hal itu? Saya tidak berani melakukannya."
Herman menghela napas. Bagaimanapun dia harus bisa membujuk anak di depannya ini untuk mau mengikuti apa perkataannya.
"Kamu tidak perlu takut dengan Renita. Setelah kamu mengatakan hal itu, Renita akan dipenjara dan dia pun tidak akan bisa mengganggu kamu." Kata Herman masih mencoba meyakinkan Fany. "Tolong bantu saya untuk menjebloskan Renita ke penjara. Hanya kamu satu-satunya harapan saya, Fany. Saya bahkan berani memohon dan bersujud di kaki kamu agar kamu mau mengungkapkan apa yang kamu lihat terhadap kematian Karan."
Fany agak berpikir-pikir sesaat. Haruskah dia mengikuti egonya untuk tetap menutup mulut atau justru sebaliknya? Sepertinya dia tidak bisa untuk diam saja sekarang. Benar kata Herman, kalau dia masih menutup mulut, dia sama saja melakukan kejahatan. Fany tidak ingin menjadi seorang penjahat. Dan setakut apa pun dia pada Renita, harusnya dia berani untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia ketahui demi Karan.
"Fany, tolong bantu saya." Herman terus memohon pada cewek di depannya dengan sangat pasrah.
Fany menghela napas. "Baik. Saya memutuskan untuk mengungkapkan kebeneran soal kematian Karan secepatnya. Itu saya lakukan karena Karan adalah teman saya juga."