Bisakah seorang iblis berubah menjadi malaikat?
Tsania Larasati, perempuan itu baru saja keluar dari ruangan dosennya setelah membantunya mengoreksi beberapa tugas. Secepat mungkin dia ingin segera pulang, dia ingin segera beristirahat dan tidur di rumah, harusnya. Tapi, dia lupa kalau dia harus mengambil kue ulang tahun yang dia pesan sejak kemarin di toko kue. Menjadi asisten dosen benar-benar menguras sebagian waktunya. Dia sengaja ingin membuat surprise ulang tahun untuk Herman. Meskipun laki-laki itu akan mengusirnya nanti ketika Tsania nekat memberinya kue ulang tahun. Karena hal itu terlalu cheesy menurut Herman. Tapi bukan Tsania namanya kalau gak ngotot. Semenolak apa pun Herman, Tsania akan tetap menang dan ujung-ujungnya Herman akan menurut.
Namun, masih di pelataran kampusnya, Tsania tak sengaja berpapasan dengan Renita Adinatya, anak dari pemilik kampus itu. Dia terkenal dengan sifatnya yang sok berkuasa dan selalu ingin mendapatkan apa pun yang dia mau tanpa memedulikan baik atau buruk. Renita sangat membenci Tsania dan semua orang pun tahu itu. Tsania mendelik melihat Renita di depannya. Sungguh, dia tidak ingin bertengkar untuk kali ini. Tsania harus buru-buru. Tapi tampaknya Renita masih menyimpan dendam pada Tsania tentang hasil ulangan mereka di kelas di mana Tsania mendapat nilai ulangan tertinggi saat itu. Renita pasti semakin membenci Tsania karena itu.
"Minggir." Ucap Tsania dengan datar sambil menatap Renita.
Renita lantas tersenyum miring sembari mendelik. "Berapa kali aku bilang buat keluar dari kampus ini?"
Tsania memalingkan wajahnya. "Apa kamu takut? Apa kamu juga malu karena selalu kalah dari segi prestasi dengan orang dari keluarga biasa kayak aku? Kenapa kamu takut? Kamu kan anak dari pemilik universitas ini."
Renita menatap Tsania datar namun menusuk. Tsania seolah memantik amarah Renita saat itu juga. Namun, Tsania sama sekali tidak takut sedikit pun dengan Renita.
"Renita, sekaya apa pun kamu, seberapa kuat pun kekuasaan ayah kamu, kamu tetep kalah dari aku yang merupakan anak dari keluarga menengah dan ekonomi pas-pas-an." Lanjut Tsania lalu pergi dari hadapan Renita sambil tersenyum miring.
Renita menatap tajam ke arah Tsania yang kini berjalan menjauhinya. Dalam deru napasnya, Renita seolah memendam dendam yang sangat besar pada Tsania. Bagaimanapun Renita akan membuat Tsania menderita suatu hari nanti.
***
Hampir pukul 7 malam, Tsania akhirnya berhasil membawa pulang kue pesanannya. Perempuan itu langsung bergegas menuju ke rumah Herman. Dia benar-benar tidak sabar melihat ekspresi Herman ketika melihatnya sambil membawa kue. Herman pasti akan mendelik malas karena sungguh demi apa pun Herman tidak menyukai hal romantis seperti itu. Herman menganggap itu adalah hal paling cringe di dunia.
Namun, tepat di depan rumah Herman, Tsania melihat sebuah mobil terparkir di sana. Tsania agak mengernyit dan bertanya-tanya siapa pemilik mobil itu. Mungkinkah Herman punya seorang tamu? Tsania juga penasaran, perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu, jantung Tsania nyaris berhenti berdetak saat itu juga saking terkejutnya. Dia mendapati Herman dan Renita ada di sana yang tengah berciuman. Saat itu juga, Tsania merasa darah berhenti mengalir melalui nadinya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kekasihnya tengah b******u dengan perempuan lain. Dan tanpa disadari, kue ulang tahun yang dipegangnya sedari tadi, jatuh begitu saja ke lantai sampai hancur tak tersisa.
Tsania tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terlalu terkejut dengan orang yang dia percaya selama ini, Herman, rupanya mengkhianatinya dari belakang. Otaknya serasa kehabisan oksigen dan jantungnya rasanya tidak berfungsi kala itu. Dia masih tercekat di tempatnya. Herman serta Renita belum menyadari kehadiran Tsania di sana. Mereka masih sibuk menautkan bibir satu sama lain. Dan tanpa diduga, Tsania meneteskan air matamya begitu saja. Air mata tersakit yang pernah jatuh dari pelupuk matanya selama hidupnya. Air matanya yang benar-benar berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tsania selalu mengharapkan orang-orang baik ada di dekatnya. Meskipun dia adalah seorang iblis tadinya, lalu ketika bersama Tsania dia akan menjadi malaikat. Tapi justru yang dia temui adalah seorang malaikat yang berubah menjadi iblis.
***
Tsania depresi ketika Herman tiba-tiba memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan laki-laki itu lebih memilih Renita dibanding dirinya. Herman telah mengkhianati Tsania dan perempuan itu hampir gila karenanya. Dia selalu menganggap Herman sebagai malaikatnya tapi laki-laki itu malah berusaha menjadi iblis. Tsania sampai tidak keluar dari kamarnya selama berhari-hari. Bahkan dia belum makan sesuap nasi pun sejak Herman memutuskan hubungan mereka beberapa hari lalu. Tsania sendiri tidak tahu kapan terakhir kali dia minum dan tidurnya tidak pernah nyenyak sejak saat itu. Ibunya sampai khawatir dengan kondisi Tsania sekarang.
Tsania menatap kosong pada foto bingkai di atas meja yang menampilkan potret Tsania dan Herman ketika masih menjadi sepasang kekasih. Semua karena Renita. Perempuan itu tidak bisa melihat Tsania bahagia sedikit pun. Renita selalu menghancurkan kebahagiaannya. Renita telah menghancurkan hidupnya.
Tsania mengambil bingkai foto itu dan membantingnya dengan keras sampai benda itu pecah dan hancur. Dengan sangat emosi, Tsania merobek-robek foto itu sampai sehancur-hancurnya. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Dia membenci semua orang termasuk dirinya sendiri. Tsania membenci Renita pun dengan Herman. Kenapa Tsania bisa mencintai seorang b******n? Kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Tsania membenci dirinya yang terlalu bodoh.
Di tengah itu, datanglah Dimas Haribuana yang merupakan teman sekampusnya sekaligus teman Herman. Laki-laki itu merasa iba melihat Tsania yang begitu hancur hatinya karena Herman. Dimas akhirnya memeluk perempuan itu sambil mengusap-usap punggungnya mencoba menenangkannya agar berhenti menangis. Hanya dengan cara itulah, setidaknya Tsania tidak akan merasa sendirian. Tsania masih punya Dimas. Dimas yang dengan rela menyandarkan pundaknya ketika Tsania dalam keadaan susah.
Herman berdosa karena telah menyakiti Tsania. Maka sebisa mungkin, sekarang adalah waktunya Dimas untuk melindungi Tsania. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berada di samping Tsania. Dia akan membuat Tsania bahagia dan melupakan Herman.
"Masih ada aku di sini. Kamu masih punya aku." Ucap Dimas masih sambil memeluk Tsania yang masih menangis.
***
3 tahun kemudian...
Butuh waktu lama bagi Tsania untuk berpaling dari Herman yang nyatanya kini telah berumah tangga dengan Renita. Hal itu cukup menyadarkan Tsania kalau Herman bukan laki-laki yang pantas untuk dia perjuangkan. Herman sendiri berani meninggalkan Tsania, bukankah itu cukup untuk membuktikan kalau Herman tidak benar-benar mencintai Tsania, bukan? Ke mana saja Tsania dan baru menyadari kalau Dimaslah yang seolah tengah menawarkan kebahagiaan untuknya? Awalnya Tsania enggan untuk menjalin sebuah hubungan baru apalagi menikah. Tapi, dia egois kalau terlalu takut pada traumanya. Itu akan menyiksa dirinya sendiri.
Kini, Tsania punya Dimas. Laki-laki yang jelas lebih baik dari Herman menurutnya. Dimas pasti akan membuat Tsania jauh lebih baik dan membawanya keluar dari keterpurukan masa lalu. Tsania mempercayai Dimas sepenuhnya.
"Gak usah pikirin masa lalu. Kita jalani masa depan." Begitu ucap seorang Dimas Haribuana pada istrinya, Tsania Larasati. Tsania tersenyum saat mendengarnya.
Tsania adalah cinta pertama Dimas. Melihatnya tersakiti karena kejadian di masa lalu, Dimas ikut membenci Herman. Dimas pun tidak akan memaafkan Herman bahkan sampai di akhir napasnya. Dan kini, dia telah memiliki Tsania. Dia berjanji akan melindungi wanita itu sekuat yang dia bisa. Dimas tidak akan membiarkan siapa pun berani menyakiti orang yang sangat dicintainya. Dimas akan terus menjaga Tsania sampai di ujung nyawanya.
Mungkin...
"Aku malaikat yang gak akan pernah berubah jadi iblis." Lanjut Dimas.
"Lebih baik kamu iblis lalu berubah jadi malaikat, daripada malaikat yang berubah jadi iblis." Balas Renita.
Dimas sedikit terkekeh. "Aku gak akan pernah jadi iblis. Satu menit pun aku gak mau jadi iblis. Aku gak mau nyakitin kamu."
Tsania terus tersenyum saat mendengar Dimas berbicara. Seolah laki-laki itu tengah memberinya kepercayaan kalau dia tidak akan pernah mengkhianatinya. Harusakah Tsania percaya? Sepertinya tidak ada salahnya Tsania melakukannya.
***
17 tahun kemudian...
Bertahun-tahun menjalani hidup sebagai sepasang suami istri, Dimas dan Tsania mencapai puncak dalam hidup mereka. Apa lagi yang kurang dalam hidup mereka? Mereka telah berjaya. Dimas kini menjadi seorang produser film lokal terkenal. Tsania pun menjadi seorang designer ternama terbukti dengan toko butiknya yang kini sudah tersebar di beberapa kota. Serta kehadiran putri mereka yang kini telah beranjak remaja, Addara Ghassani, seolah menyempurnakan kehidupan Dimas maupun Tsania.
Tsania baru saja masuk ke toko butiknya. Lalu pandangannya seolah menangkap sosok tak asing. Ternyata benar, itu adalah Renita Adinatya. Tsania penasaran apa yang sedang dilakukan wanita itu di butiknya.
Tak lama, Renita menghampiri Tsania yang masih terdiam di ambang pintu. Mereka saling tatap dengan rasa benci satu sama lain. Seolah sifat permusuhan mereka tak pernah padam bahkan setelah belasan tahun berlalu. Mereka masih saling bermusuhan dan memendam rasa benci satu sama lain.
"Ada urusan apa yang membawamu ke tempat ini?" Tanya Tsania dengan datar.
Renita tersenyum miring. "Jadi, begitukah perlakuan seorang penjual pada pelanggan? Kenapa kamu tidak menghormati pelanggan sama sekali?"
"Aku gak butuh seorang pelanggan dari orang seperti Renita Adinatya." Kata Tsania santai namun berbeda dengan Renita yang seolah merasa direndahkan. "Aku punya banyak pelanggan yang lebih baik. Jadi, untuk apa aku harus mengharapkan uang dari kamu? Aku punya banyak uang sekarang. Aku pikir, kedudukan kita pun setara. Bedanya aku menghasilkan uang dengan pekerjaanku sendiri, sedangkan kamu mendapatkan uang karena pekerjaan ayahmu."
Renita mulai tersulut. Kebenciannya pada Tsania mulai menggebu-gebu lagi. Itu karena Tsania yang telah memantik amarah Renita lebih dulu.
"Selama berpuluh-puluh tahun, kamu hanya hidup dengan uang ayah kamu. Kamu tidak bisa menghasilkan uang. Apakah itu tidak berguna namanya?" Kata Tsania dan semakin membuat Renita kesal.
"Jadi, kamu sedang menghinaku?" Renita melirik sinis.
Tsania lantas menyunggingkan senyum. "Tidak. Aku hanya mengatakan kenyataan. Benar, kan?"
Tsania berjalan melalui Renita begitu saja yang masih ada di sana. Wanita itu tampaknya tak mendengar perkataan Renita yang kala itu berkata, "Akan aku membalas perbuatanmu, Tsania!"
***
Tsania ingin menemui suaminya, Dimas, di kantornya sembari membawa buket bunga sebagai ucapan selamat atas keberhasilannya dengan film terbarunya.
Tsania hendak masuk ke ruangan Dimas, namun baru saja membuka selot pintu, dia tak hanya melihat sosok Dimas di sana, tetapi juga dengan Renita. Tsania tercekat di ambang pintu. Dimas maupun Renita sama-sama menyadari kehadiran Tsania di sana. Dimas tampak terkejut apalagi Tsania. Tak lama, Renita langsung menautkan bibirnya pada bibir Dimas tepat di hadapan Tsania. Mereka b******u dengan mesra di depan mata kepala Tsania sendiri.
Tsania merasa déja vu.
Lidah Tsania kelu dan tidak bisa mengucapkan apa-apa. Tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa menggerakkan bahkan jari-jarinya saja. Buket bunga yang dia pegang sedari tadi, jatuh begitu saja ke lantai. Rasanya hatinya bak disayat berulang kali dengan pisau tajam. Tsania tidak sanggup menghadapi pengkhianatan untuk yang kedua kalinya.
Momen yang sama seperti di masa lalu kembali terulang lagi. Pertama Herman lalu kemudian Dimas. Mereka sama-sama mengkhianati Tsania. Ternyata, semua ucapan Herman maupun Dimas yang pernah berjanji setia pada Tsania di masa lalu hanya bohong belaka. Mereka tetap goyah dengan janji-janji mereka sendiri. Sejak saat itu, Tsania tidak pernah percaya lagi dengan seorang laki-laki. Semua yang pada awalnya adalah seorang malaikat kelak akan menjadi seorang iblis. Mereka akan tetap menjadi iblis. Tsania benar-benar mengutuk mereka semua.
"Aku tidak akan memaafkan kalian." Pelan Tsania lalu wanita itu pergi dari ruangan itu dengan perasaan sangat berat hati.