Side Story : The Last Of Him

1746 Kata
Sheryl sebetulnya tidak menyukai Dimas. Alasannya karena dia adalah ayah kandung Dara, musuhnya. Sheryl dan Dara adalah saudara tiri dan Sheryl benci mengakui satu fakta itu. Itu kenapa Sheryl selalu jadi pemimpin terdepan di sekolah untuk merundung Dara. Sebenci itu dia dengan Dara. Sheryl sebisa mungkin menyembunyikan fakta dari semua orang kalau ternyata dia dan Dara adalah saudara tiri. Akan semalu apa dia kalau satu sekolah tahu hal itu, Sheryl tidak bisa menerimanya. Juga sebuah fakta kalau ibunya, Renita, telah berkali-kali merebut kekasih orang. Mulai dari Herman dan sekarang Dimas. Sheryl benar-benar tidak menyangka ibunya seburuk itu. Tapi, bagaimanapun Renita tetap adalah ibunya. Sheryl baru saja mengetahui fakta kalau ternyata Renita dan ibunya Dara, yaitu Tsania, adalah musuh bubuyutan di masa lalu. Sejak tahu hal itu, Sheryl benar-benar tidak menyangka. Jadi, apa kata pepatah itu benar kalau 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya'. Renita dan Tsania tidak pernah akur. Begitu juga dengan Sheryl dan Dara. Tapi Sheryl tidak ingin ibunya disebut perebut suami orang karena telah berkali-kali merebut kekasih Tsania, begitu pun dengan Sheryl sendiri yang mencoba mengambil Karan dari Dara. Sheryl tidak berniat menjadi pelakor seperti ibunya. Tapi Sheryl mencintai Karan. Dan kalau Sheryl tetap bersikeras untuk mendapatkan Karan, apakah Sheryl bisa disebut terlalu serakah? Dia selalu merebut apa pun yang Dara punya. Persis seperti Renita yang selalu mengambil hal kecil yang Tsania punya. Tidak, Sheryl tidak ingin disamakan dengan ibunya. Tapi, mereka terlalu sama. Sheryl Bianca Soetomo selalu menyebut Addara Ghassani anak dari perusak keluarga orang, meskipun faktanya Sheryl-lah yang sebenarnya anak dari perusak keluarga orang lain. Dia adalah anak dari Renita. Tapi, semua orang di sekolahnya percaya dengan apa yang Sheryl katakan. Semua orang mengucilkan Dara atas perantara Sheryl. Sheryl selalu merenungkan perbuatannya, ternyata dia sebelas dua belas dengan ibunya. Sifat turunan dari Renita yang menurun pada Sheryl tak sampai di situ saja. Sheryl menyadari kalau ternyata nilai ujian akhir semester 4-nya lebih rendah dibanding Dara. Maka dari itu, Dara mendapat posisi pertama dan hal itu membuat Sheryl merasa kalah dari Dara. Atas bantuan ibunya yang selalu menyocok para guru untuk memberikan nilai tambahan pada Sheryl, akhirnya dia bisa mengalahkan Dara. Sejak saat itu, Sheryl selalu lebih unggul daripada Dara berkat uang Renita. Sheryl selalu tidak ingin kalah dari Dara. Dia selalu merasa terbebani dalam hal apa pun kalau Dara ada di atas Sheryl. Sheryl harus jadi yang terbaik. Tidak ada yang boleh mengalahkannya apalagi Dara. Sheryl menangis diam-diam di kamarnya. Ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lengannya. Sheryl tidak ingin menjadi orang jahat. Lalu kemudian, Renita masuk ke kamar Sheryl dan mendapati anaknya tengah menangis. Melihat hal itu, Renita panik melihat anak kesayangannya seperti itu. "Sheryl, kamu kenapa?" Tanya Renita dengan panik. Sheryl menengadah ke arah Renita dengan wajah menangisnya. "Aku gak mau liat Karan sama Dara bareng terus. Pisahin mereka sekarang juga." Renita tercekat saat mendengarnya. Keningnya agak mengernyit dan wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi marah. "Mereka udah nyakitin kamu?" Sheryl mengangguk masih sambil menangis. "Mama akan pisahin mereka secepatnya. Kamu gak usah khawatir." Ucap Renita dengan nada meyakinkan. *** Karan Sabintang, cowok berusia 17 tahun itu punya ketertarikan yang tinggi dalam bidang seni. Dia baru saja menyelesaikan lukisan wajah adiknya yang sudah dia kerjakan seminggu belakangan, Kasalira Sabina. Sengaja, dia rela begadang hanya untuk menyelesaikan lukisan itu tepat di hari ulang tahun sang adik. Dan dalam beberapa jam lagi menuju tengah malam, Karan harus sudah siap mengirim ucapan selamat ulang tahun padanya. Mereka berbeda kota. Karan ada di Jakarta sedangkan adiknya di Bandung. Meskipun tidak bisa memberikan kado secara langsung pada adiknya, Karan membuatkannya lukisan wajah Kasa dengan sangat istimewa. Rencananya dia akan mengirimkan lulisan itu keesokan harinya dan berharap Kasa akan menyukainya. Hampir pukul tengah malam, tapi Karan lupa kalau ada tugas sekolah yang sempat dia tunda karena terlalu sibuk membuat lukisan yang mengharuskannya pergi ke perpustakaan sekolah untuk mengambil buku. Jadilah cowok itu berniat pergi ke sana. Karan percaya kalau malam-malam begini, pasti mereka yang dari dunia lain sedang berkeliaran. Tapi, Karan tidak sepenakut itu. Selagi dia gak melihat mereka dengan mata kepalanya sendiri, Karan masih bisa cukup berani. Beda lagi kalau dia dengan jelas melihat kuntilanak ngejubleg gitu aja di depannya atau ada pocong yang lagi mejeng tengah malem baru Karan bakal lari ngibrit karena ketakutan. Tapi, sampai sekarang pun dia belum menemukan hal-hal aneh seperti itu. Jadi, sekarang masih baik-baik saja. Sampailah dia di sekolah. Di sana sepi, tidak ada siapa-siapa baik manusia, setan, atau kuyang sekalipun. Karan berjalan saja menuju perpustakaan sekolah. Namun, saat melewati lab komputer, ada sesuatu yang menariknya dari arah samping dan langsung melipat tangannya begitu saja ke belakang, cowok itu sampai kesusahan siapa yang melakukan itu padanya. Tidak mungkin itu pocong, karena setahunya pocong itu tangannya pasti diikat pakai tali. Tidak mungkin juga itu kuntilanak, soalnya dia juga gak melihat orang itu kedapatan pakai daster kayak kuntilanak. Setelah berusaha membebaskan diri, Karan bisa melihat ada tiga orang di sana. Dua laki-laki dan satunya perempuan. Karan masih kesusahan melepaskan tangannya yang dipegangi dua laki-laki itu, sementara si perempuan yang kini ada di hadapan Karan tengah menatapnya dengan tajam. Karan tidak mengerti apa tujuan mereka melakukan itu padanya. "Siapa kamu?!" Tegas Karan. Lalu si perempuan itu pun membuka topengnya dan betapa kagetnya ia ketika mengetahui siapa perempuan itu. Itu adalah Renita Adinatya, ibu dari Sheryl Bianca. Karan mengernyitkan kening ketika melihatnya. "Kenapa kalian memegangi tangan saya?! Lepaskan!" Karan mulai memberontak. Lantas Renita malah tersenyum miring. Wanita itu mencengkeram rahang Karan. "Siapa kamu berani menyakiti anak saya?" "Apa maksud kamu?" "Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu telah membuat anak saya, Sheryl, menangis." Renita menatap tajam ke arah Karan. "Apa yang kamu bicarakan? Saya tidak melakukana apa-apa pada Sheryl." "Memang, tapi keberadaan kamu dengan Dara membuat anak saya terganggu. Maka dari itu, saya harus menyingkirkan kamu." Karan memberontak. Dia menatap tajam ke arah Renita. "Wanita gila! Kamu tidak akan bisa melakukan itu pada saya!" Renita tersenyum miring, agak meremehkan. Lalu, dengan sekuat tenaganya dia menampar Karan sampai cowok itu terjerembab. Setelah Renita, kedua anak buahnya ikut memukuli Karan sampai babak belur. Terlihat Karan yang tengah menahan rasa sakitnya mati-matian. Mereka meninju rahangnya, menendang perutnya, mencekik lehernya berkali-kali tanpa ampun. Karan sudah lemah di atas lantai sekarang. Renita mulai berjalan mendekatinya. "Itu balasan untuk kamu karena sudah membuat anak saya menangis." Pelan Renita lalu wanita itu mencengkeram kerah baju Karan sampai cowok itu terangkat. Karan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia merasa seluruh organ tubuhnya telah hancur semua. Lalu Renita menyeret cowok itu ke arah pagar. "Kamu pantas mendapatkannya!!!" Teriak Renita dengan emosionalnya lalu mendorong Karan keluar pagar begitu saja. Renita menyaksikan dengan puasnya ketika anak laki-laki bernama Karan Sabintang itu jatuh dari lantai dua. Renita tersenyum sangat puas bagai seorang psikopat. Dari bawah sana, Karan seolah mati rasa. Seluruh tulangnya bak dipatahkan hingga remuk, bahkan organ tubuhnya rasanya telah hancur tanpa sisa. Dia begitu kesakitan sampai mati rasa. Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Lalu ia melihat handphonenya yang ikut jatuh bersamanya tak jauh dari sana. Karan mencoba merogoh benda itu dengan susah payah. Dia harus mengirimkan pesan ucapan selamat ulang tahun pada adiknya. Bagaimanpun yang terjadi, itu adalah kesempatan terakhirnya untuk mengabari Kasa. Akhirnya, Karan berhasil mengambil handphonenya dan dengan segera mencari kontak Kasa dan segera mengirimkannya pesan ucapan selamat ulang tahun dengan kata-kata yang sudah dia rangkai jauh-jauh hari. Karan menghela napasnya yang semakin berat. Dia tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali. Lalu kemudian, pandangannya semakin kabur dan menggelap. Karan mulai tak sadarkan diri. Renita dan kedua anak buahnya menyadari kalau Karan sudah tak bergerak sama sekali. Mereka mendekat ke tempat di mana Karan tergeletak di atas aspal "Bawa dia ke dalam mobil. Salah satu dari kalian harus ada yang tetap di sini. Bersihkan semua darah tanpa sisa dan singkirkan semua barang bukti." Perintah Renita dan dengan segera dipatuhi kedua anak buahnya tersebut. Renita berjalan masuk ke dalam mobilnya. Di belakang sudah ada Karan yang berlumuran darah dan kini tak sadarkan diri. Renita mulai menjalankan mobilnya dan tak lama kemudian, dia berhenti tepat di depan rel kereta api. "Bawa dia ke luar." Perintah Karan pada anak buah di sampingnya. "Baik." Sang anak buah itu pun membawa jasad Karan keluar dari mobil. "Letakkan dia di dekat rel kereta itu." Perintah Renita kemudian. Namun, dari arah belakang, Renita seperti merasakan ada seseorang di belakangnya. Setelah diteliti, Renita tak mendapati apa pun. Atau mungkin dia kurang jeli saja saat melihatnya. Renita tidak bisa diam saja di sana, dia harus segera pergi sebelum ada orang yang melihat. Wanita itu akhirnya masuk ke dalam mobil. Dia berharap tidak ada orang yang melihat tindakannya kali ini. *** Kasa melihat ponselnya baru saja berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Dan setelah dia cek, ternyata itu dari kakaknya. Entah kenapa, setelah membacanya cewek itu malah langsung cemberut. Bagaimana tidak, sekarang masih pukul 23.50 WIB. Dan ulang tahun Kasa ada di jam 00.00 WIB. Jadi, Karan mengucapkan selamat ulang tahun 10 menit lebih awal dari seharusnya dan Kasa tidak menyukai itu. Harusnya Karan mengucapkannya setepat waktu mungkin. Jadi, Kasa mencoba menelepon kakaknya dan mau protes karena telah mengucapkan selamat ulang tahun terlalu awal. Namun, ponselnya malah tidak aktif. Padahal baru saja kakaknya mengirim pesan dan setelah ditelepon, handphonenya malah tidak diaktifkan. Kasa mengernyit. Ia mencoba mengiriminya pesan dengan sangat banyak. Mungkin saja Karan terlalu ngantuk saat itu atau handphonenya yang kehabisan baterai setelah mengiriminya ucapan selamat. Jadi, di keesokan paginya, Karan bisa langsung membaca pesan protes dari Kasa karena telah mengucapkan ucapan ulang tahun yang tidak tepat waktu. Namun, entah kenapa perasaan Kasa tidak enak malam itu. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Akhirnya, cewek itu mencoba menelepon kakaknya lagi dan hasilnya tetap sama, teleponnya tidak tersambung karena handphone Karan yang dinon-aktifkan. Entah bagaimana, Kasa gelisah dan khawatir tanpa alasan. Dia berharap kakaknya baik-baik saja di sana. Tapi, firasat Kasa mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan yang diharapkannya. Kasa menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri dari perasaan cemas dan khawatir. Tepat pukul tengah malam, Kasa akhirnya berumur 16 tahun. Hari yang dia tunggu-tunggu-tunggunya sejak lama. Dan yang pertama kali mengucapkannya adalah kakaknya sendiri, Karan Sabintang. Meskipun tidak tepat waktu, setidaknya Karan sudah berusaha mengiriminya pesan. "Selamat ulang tahun." Pelan Kasa pada dirinya sendiri. Lalu dari arah pintu, muncul ibunya sambil membawakan kue ulang tahun. Kasa sumringah saat melihatnya. "Selamat ulang tahun, Kasa!" Ucap ibunya sambil menciumi pipi anak perempuannya tersebut. Kasa menghampiri kue ulang tahunnya dan sebelum meniup lilinnya, seperti biasa dia selalu membuat harapan seperti orang lain kebanyakan ketika mereka berulang tahun. Dan doa Kasa yang pertama dia ucapkan adalah bersemoga agar kakaknya baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN