8. Mie Ayam j****y

1746 Kata
Akriel menyimpulkan kalau Kasa benar-benar sedang bermusuhan dengan Saka dan Kisa. Lagi-lagi, Kasa tidak ikut bergabung hanya untuk sekadar sarapan sejak kemarin-kemarin. Ngomong-ngomong, selain batagor dan siomay, Akriel juga mulai suka makanan lain yang namanya mie ayam j****y. Bukan mie atau ayamnya yang j****y tapi karena pedagangnya namanya Bang j****y, jadilah mie itu dinamai mie ayam j****y. Tentu saja Kasa masih marah bin kesal dengan dua temannya, pasal kemarin yang dia diceng-cengin dengan Bardol. Jadilah Kasa pundung bahkan sudah tidak mengobrol dengan mereka sejak kemarin. Kemarahan tertinggi Kasa itu memang bisa dilihat ketika dia tiba-tiba diam. Padahal biasanya kalau dia ngomong tuh suka nyerocos tanpa spasi alias rap sekelas Cardi B aja bisa lewat. Aneh rasanya melihat Kasa tiba-tiba diam dan kalem. Hari ini adalah jadwal olahraga kelas mereka. Biasanya kalau anak-anak cowok lagi tanding sepak bola seperti sekarang, tugas anak cewek tidak jauh-jauh dari berteriak dan bersorak di pinggir lapangan alias jadi ajang caper karena bisa teriak-teriak imut gitu lho. Terlihat Saka berlarian di dalam lapangan berusaha mengambil alih bola dari lawan. Kasa melipat kedua lengannya di depan d**a sambil bersender ke tembok. Dia tidak ikut bersorak seperti teman-teman ceweknya yang lain, bad mood. Saat santai-santainya menyaksikan pertandingan, tanpa sengaja cewek itu masuk dalam pandangan Badrol. Kebetulan tatapan mereka bertemu beberapa saat setelah akhirnya mereka saling membuang muka lagi. Kasa bisa melihat keringat mengucur dan membanjiri ujung rambut sampai pelipis cowok itu. Kasa mulai merasa bosan, jadi dia berjalan ke luar lapangan berniat mau membeli minum. Namun, siapa menyangka kalau bola yang ditendang Badrol malah nyasar hingga menyenter kepala Kasa. Cewek itu sampai sempoyongan sambil memegangi kepalanya yang pusing. Badrol sempat memekik takut kalau tiba-tiba cewek itu malah melemparkan sepatunya ke kepalanya sampai benjol. Tapi ternyata Kasa tidak seperti itu. Cewek itu malah mengabaikannya lalu berjalan ke luar lapangan dengan wajah datar. Padahal biasanya kalau ada yang menyenggol Kasa sedikit saja, sudah jelas cewek itu akan nyerocos dan marah besar. Badrol sedikit aneh ketika Kasa tidak marah sama sekali bahkan habis disenter bola. Cowok itu mengikutinya dan mendapati Kasa baru selesai mengambil sebotol minuman dari vending machine. Pandangan mereka tak sengaja bertemu tapi buru-buru cewek itu mendelik. "Lo gak apa-apa?" Badrol bertanya. Kasa tak menjawab lalu berbalik dan lanjut berjalan. "Lo kenapa sih?" Kasa kaget ketika Badrol tiba-tiba memegang tangannya dan menahannya berjalan, buru-buru cewek itu mengibaskan tangan Bardol. Bahaya kalau sampai Saka dan Kisa melihat, bisa malu dia sampai ke tulang-tulang. "Gak usah sok peduli lo!" "Ck. Buat apa gue kalo mau peduli harus sok-sok-an dulu? Masih mending gue perhatian." Kasa berdecak. "Jijik tau gak?! Gak usah perhatiin gue!" Badrol tersenyum miring. "Gue tahu lo lagi ada masalah. Gak kek biasanya lo begini." "Lagi ngeriset lo ceritanya?" "Biar gue tebak, lo pasti lagi marahan sama dua temen lo itu. Gue liat udah dua hari ini lo gak gabung sama mereka." Kasa mendelik. "Gue gak tau sih masalahnya kenapa. Tapi kayaknya emang gitu." "Biar gue kasih tahu, ini semua gara-gara lo! Andai lo gak chat gue di Twitter waktu itu, mungkin gue gak bakal malu sampe ke ubun-ubun." Badrol mengernyit. "Gara-gara gue lo bilang?! Lo malu karena pernah gue chat?" Nada bicara cowok itu entah kenapa agak meninggi. "Heh denger ya cewek maung, lo itu gengsi doang yang gede. Apa menurut lo chattan sama gue tuh sama dengan aib?" Kasa menyipit. Badrol melanjutkan. "Lo bisanya ngerendahin dan mandang orang dengan jijik doang. Sesampah itu kah gue di mata lo?" Kasa mulai tersentak lalu menatap Badrol dengan agak bete. "Padahal Saka sama Kisa kayaknya mereka baik-baik aja. Hubungan kalian renggang karena lo yang mulai, iya kan? Lo tau kenapa? Itu karena lo yang egois sendiri." Badrol lagi-lagi menyergah sampai akhirnya cowok itu melenggang pergi dari sana lebih dulu. Kasa masih mematung menyaksikan punggung Badrol yang dilihatnya semakin menjauh. Kasa terdiam sejenak memikirkan beberapa perkataan Badrol yang agak menusuk tapi rasanya ada benarnya juga. Dia egois dan gengsi. Cewek itu menghela napas, lalu pergi meninggalkan tempat itu. *** Sepanjang pelajaran berlangsung, Akriel merasa kepalanya mau pecah. Sudah pusing ditambah ngantuk pula. Menjadi manusia sesulit itu baginya. Belum lagi tulisannya yang semakin hari bukannya semakin membaik, malah semakin tak terkondisikan. Kalau dibanding beberapa hari lalu tulisannya mirip ceker ayam, sekarang tulisannya mirip kucing garong lagi terkena stroke. Bayangkan kucing garong stroke disuruh menulis bakal seperti apa hasil tulisannya. Kalau sampai teman sekelasnya melihat tulisannya begitu, bisa-bisa dia bakal disoraki dan disuruh balik ke TK lagi. Hanya ada satu orang yang tahu tulisan Akriel seperti apa, cuma Dara. Beruntung karena cewek itu tampaknya tidak peduli sedikit pun dengan Akriel. Memangnya buat apa? Toh dia gak bakal dapat duit dengan membeberkan tulisan Akriel yang mirip ceker ayam atau kucing garong stroke, yang ada cuma buang-buang waktu dia saja. Sekarang di kelas mereka ada sebuah tugas praktek mengamati tanaman. Berhubung tugas itu harus dikerjakan oleh dua orang, jadilah Akriel mengerjakannya bersama Dara. Bisa dibilang, Akriel cuma numpang nama sih. Soalnya dari tadi yang mengerjakan adalah Dara hampir keseluruhan. Akriel hanya diam saja sambil memperhatikan cewek itu yang sesekali mencatat di bukunya setelah melihat-lihat bunga dan mengukurnya mulai dari panjang dan lebar daun, tinggi batang serta ukuran bunga pakai penggaris dan peralatan seadanya. "Lo gak ada kerjaan lain apa selain bengong?" Kata Dara yang masih sibuk dengan aktivitasnya. Akriel sudah mengantuk berat ditambah dia sangat lapar sekarang dan pengin makan mie ayam j****y. "Apa kamu tidak bisa cepat sedikit saja? Saya mau makan." Dara menyipit lalu berkacak pinggang menghadap Akriel yang lagi duduk-duduk santai di kursi yang terbuat dari keramik di taman. Dara heran, di jaman sekarang kenapa masih banyak orang-orang yang gak punya urat malu, alias tidak ada malunya sama sekali seperti Akriel, sudah mah tugas hanya menumpang nama dan hanya mengandalkan Dara, eh dia malah seenak jidat menyuruh cewek itu supaya cepat mengerjakan tugasnya. "Urat malu lo udah putus apa? Gue capek-capek nulis sama ngukur-ngukur sampe pinggang gue encok, dan lo gak ngebantuin gue sama sekali malah seenak jidatnya merintahin ini itu. Masih mending gue baik hati mau numpangin nama lo di tugas gue ini." Akriel menghela napas lelah. Dara dan Kasa, bagi Akriel mereka dua jenis manusia yang sebelas dua belas yang bisa membuatnya depresi seketika oleh kata-katanya. Tapi, omongan Kasa tetap yang paling pedas alias nomor satu. "Saya sangat lelah. Apa kita tidak bisa istirahat sebentar saja?" "Dari tadi lo tuh udah istirahat." "Saya mau makan." "Makan apa?" "Mie ayam jablay." Dara tidak menyangka, laki-laki itu ternyata doyan makan makanan nyeleneh seperti itu. "Gak enak. Gue lebih suka makan kerupuk jablay." "Apa itu sejenis saudara mie ayam j****y?" "Apanya?" "Kerupuk jablay." Dara cengo sejenak. "Bukan, itu cuman makanan sampingan doang. Buat nemenin makan makanan utama." Akriel manggut-manggut. "Tapi namanya sama-sama ada jablaynya. Mereka harusnya saudara." Dara pengin ngomong, 'lo tahu j****y gak sih? Itu bukan buat nama makanan sebenernya tahu!!!' tapi ia urungkan. "Lo tau gak siapa nenek moyang dari mie ayam j****y sama kerupuk j****y?" Akriel menggeleng. "Tidak." "Masa lo gak tahu?" "Serius, tidak." "Jalangkote." "Hah?" Akriel langsung mengernyit. "Itu apa lagi?" "Makanan. Lo belum tau?" Akriel lagi-lagi menggeleng. Entahlah, rasanya Dara jadi ikutan HELLO STU P I D sudah bicara begitu. Mungkin karena efek Akriel yang katanya tinggal di London, jadi Dara pikir dia belum tahu banyak tentang nama-nama makanan di Indonesia. "Saya boleh bantu?" "Bantu apa?" "Mengukur daun seperti yang kamu lakukan." "Gak usah!" "Tadi kamu bilang saya harus melakukan kegiatan lain kan selain melamun?" "Sejak kapan? Udah kadaluwarsa tuh." Akriel mencoba merebut penggaris dari tangan Dara, tapi cewek itu enggan memberikannya dan malah mendorong Akriel sampai mundur beberapa langkah yang akhirnya laki-laki itu menabrak rak setinggi 150 cm yang berisi tanaman dan bunga sampai roboh dan beberapa potnya bahkan pecah berkeping-keping. Sontak keduanya melotot dan memekik, nyaris lupa bernapas saking kaget dan takutnya apalagi ketika mereka jadi pusat perhatian semua orang karena rak tanaman itu sudah gak karuan di atas tanah. *** Buntut kejadian tadi mengakibatkan Dara dan Akriel akhirnya berujung di ruang BK. Keduanya saling menunduk ketika disanksi oleh guru BK tersebut. "Saya memang yang mendorong Akriel sampai dia menabrak rak itu. Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya, Pak." Kata Dara. "Sengaja atau tidak sengaja sama saja kalian telah merusak fasilitas sekolah yang pasti itu tindakan yang merugikan." Guru itu tampak pening. "Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya." Dara kian menunduk. Akriel hanya sanggup membisu. Sumpah demi apa pun, dia pengin makan sekarang. Sejak pagi dia belum sempat sarapan soalnya dia bangun kesiangan dan hampir terlambat masuk kelas. Ditambah sekarang dia ditahan di ruang BK membuat acara makannya kian terpending. Tapi, dia sedikit kasihan melihat Dara yang banyak disalahkan atas kejadian ini. Padahal Akriel lah yang mengakibatkan tragedi rusaknya rak tanaman tersebut. "Minta maaf tidak akan cukup untuk memperbaiki kesalahan kamu." Dara tersentak begitu juga dengan Akriel. "Kalian akan saya kenakan sanksi." Dara dan Akriel kompak terkejut. "Sanksi?" "Berhubung tukang kebun sekolah kita lagi pulang kampung, jadi kalian akan menggantikannya." "Maksudnya? Bapak mau kita jadi tukang kebun sekolah?" Dara terlihat marah berat sampai kedua alisnya nyaris menyatu. "Bukan begitu, lebih tepatnya kalian saya berikan poin hukuman. Kalian akan membersihkan taman sekolah selama 3 bulan di sela-sela waktu istirahat." "Kok bisa gitu, Pak?!" Dara melotot sampai kedua bola matanya nyaris ambrol. "Tidak ada protes. Itu hukuman untuk kalian." "Tapi, Pak! Tiga bulan itu apa gak kebanyakan? Bisa bangkotan saya kalo tiga bulan jadi tukang kebun. Saya kan di sini mau sekolah bukan jadi tukang bersihin taman." "Itu ganjaran atas perbuatan kalian, mengerti? Kalau kalian tidak mau dihukum, memangnya kalian sanggup membayar sejumlah kerugian yang totalnya belasan juta?" Dara mengaku dia tidak akan sanggup membayarnya. Memangnya siapa dia? Anak pejabat? Bukan, Dara cuma orang biasa yang ekonomi keluarganya masih bisa dibilang pas-pasan. Dia tidak punya duit sampai belasan juta buat ganti rugi sama sekolah. Akriel bisa melihat Dara tampak frustasi berat sekarang. Akriel tahu, Dara pasti sangat tertekan karena hukuman itu, begitu pun dengan dirinya. "Saya ingin kalian tanda tangani surat ini sebagai tanda persetujuan kalian selama 3 bulan mengabdi menjalani hukuman ini." Guru itu menyodorkan selembar surat pada Dara dan Akriel. "Tapi, kalo saya gak setuju gimana, Pak?" "Kamu tanda tangan atau nggak pun kalian akan tetap menjalani hukuman itu, surat ini hanya sebagai formalitas saja." "Tapi, Pak—" "Kenapa? Kamu masih mau protes?" Akhirnya, Akriel menanda tangani surat itu terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh Dara yang tampaknya masih agak tidak rela harus mengabdikan sebagian waktunya sesuai hukuman yang telah disepakati. "Berarti kalian sudah setuju dengan kesepakatan ini. Hukuman kalian akan mulai dijalani besok." Dara dan Akriel mengangguk pasrah dengan setengah hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN