9. Merajuk

1742 Kata
Kisa awalnya tidak sadar ketika Kasa tiba-tiba diam selama beberapa hari. Saat di kamar pun cewek itu lebih suka menyendiri sambil mendengarkan musik melalui earphone. Diajak bicara juga tidak menyahut sama sekali. Kisa sempat menelusuri titik kesalahannya beberapa waktu lalu kenapa Kasa bisa begitu. Ternyata bukan hanya Kisa, Saka juga kena imbasnya. Mereka jadi ingat perkataan lawas yang berbunyi, 'puncak kemarahan seseorang ketika dia tiba-tiba diam.' "Salah kita apa ya?" Kisa mencoba menerawang. Saka tetap asyik mengaduk-aduk es tehnya. "Gara-gara kemarin kita gak sengaja ngegep chat dia kali." "Lho, gara-gara chat doang?" Kisa mengernyit sampai kedua alisnya nyaris menyatu. "Gua gak bilang iya, cuman ngira-ngira doang." "Gue jadi gak enak. Kesannya kita tuh jadi kayak musuhan kalo diem-dieman gini." "Lah, salah dia sendiri kali." Kisa manyun. "Masalah Akriel aja udah cukup bikin puyeng, ditambah lagi sama Kasa." Kisa tiba-tiba butuh balsem lang buat merelaksasi kepalanya. Saka menghela napas berat. "Akriel napa lagi sih tuh orang? Bisa-bisanya dapet poin hukuman sampe sebegitu banyaknya." Ngomong-ngomong, mereka sudah tahu pasal Akriel yang dihukum jadi sukarelawan membersihkan taman sekolah sampai 3 bulan. Entahlah, mereka juga tidak tahu bagaimana kronologinya Akriel bisa kena masalah seperti itu. Yang membuat mereka terkejut adalah ketika mengetahui Dara juga ikut terlibat ke dalam masalahnya. Saka dan Kisa sempat memastikan di tubuh Akriel tidak ada luka bacok atau semacamnya setelah berurusan dengan Dara. Setahu mereka, Dara itu orang yang tipe 'senggol dikit, bacok.' Tapi ternyata tidak, Akriel baik-baik saja kok. Baru saja digosipkan, Akriel terlihat sedang berjalan menuju tempat Saka dan Kisa. Di sepanjang pelataran kantin, Akriel kerap menjadi pusat perhatian semua orang karena sosok tegap dan jangkungnya bak seorang pangeran. Biar Kisa beri tahu, Akriel itu cukup ganteng bahkan kegantengannya bisa dibilang saingan sama para pangeran Inggris. Saka yang cowok saja dibuat terkagum dan ternganga dengan rupa Akriel yang nyaris tidak ada tandingannya, sekelas aktor Hollywood saja mungkin bisa ciut bila disandingkan dengan Akriel. Ditambah proporsi badannya yang nyaris saingan dengan Burj Khalifa itu kerap membuat orang-orang berpikiran kalau Akriel itu nyaris sempurna. Seperti yang diketahui, yang namanya sempurna itu hanya milik Tuhan. Memang, sebagian orang bisa saja berpendapat kalau Akriel itu makhluk yang 90% sempurna, tapi mereka salah, SANGAT SALAH. Bagi Saka, mereka tidak tahu saja kalau Akriel sebenarnya tidak punya otak, soalnya kadang dia itu suka b**o dan sableng. Jadi, kalau ada orang yang bilang Akriel itu makhluk paling sempurna, Saka akan jadi yang paling depan menentang kalimat itu. Dengan begitu, Saka jadi benar-benar percaya kalau kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. "Kalian tahu Kasa di mana?" Saka nyaris menyemburkan es teh manisnya tatkala Akriel yang tiba-tiba datang sambil menggebrak meja. "Buset! Kalo ngomong tuh pake salam dulu dong!" "Kalo gue tahu, gue juga ikhlas ngasih tahu dia di mana. Tapi berhubung gue lagi gak tahu, jadi gue gak bisa ngasih tahu." Kisa menimpal. "Ribet amat lu." Saka berdecak pada Kisa. "Bilang aja 'kagak tahu' gak usah pake acara ngomong panjang lebar segala." Kisa manyun lalu beralih pada Akriel. "Emang kenapa lo nanyain Kasa?" Akriel tampak berpikir sejenak. "Tidak, saya hanya bertanya." Beberapa detik kemudian dia terkekeh. "Ye, kempleng." Saka lama-lama gemes sendiri melihat Akriel, pengin rasanya dia masukkin Akriel ke kandang macan. "Saya tahu kalian sedang bertengkar dengan Kasa." "Gak usah sotoy, kalo kami berantem mah udah main jambak-jambakkan kali." "Tidak perlu menyangkal, maksud saya bertengkar dalam artian saling diam dan memutus komunikasi." Saka dan Kisa kiceup. Kisa beranjak sambil menggebrak meja, Akriel nyaris serangan jantung. "Kami tuh gak berantem. Kalo lo gak tahu masalahnya diem aja deh. Gue juga gak tahu masalahnya apaan kenapa bisa tiba-tiba begini." Lalu cewek itu melenggang pergi dari sana hanya menyisakan Saka dan Akriel di kantin. *** Akriel punya kebiasaan baru, bukan tentang makan mie ayam j****y atau kerupuk j****y pastinya, dia jadi suka berkunjung ke taman. Ketika dia kesulitan untuk tidur, tempat yang akan dijadikannya pelampiasan adalah taman itu. Dara adalah orang yang tidak pernah absen untuk mengunjungi taman saban hari sekalipun. Tapi malam ini cewek itu tampak tak terlihat keberadaannya. Malah, Kasa lah yang ada di sana. Fajar mulai menyingsing. Matahari masih malu-malu naik ke permukaan, membuat cahayanya samar-samar masih terendam awan malam. Bulan pun mulai pundung dan ingin kembali ke peradabannya. Teduh dan tentram. Dua kata yang mampu mendeskripsikan suasana tempat itu sekarang. "Gue egois gak menurut lo?" Kasa tiba-tiba melontarkan tanya membuat Akriel di sampingnya menoleh. "Saya tidak tahu. Jujur, saya hanya tahu kamu bukan mengenal siapa kamu. Saya belum tahu banyak tentang kamu." Kasa lantas tersenyum hambar. "Gue egois. Karena keegoisan gue itu, orang-orang yang deket sama gue jadi menjauh." Akriel menoleh. "Saya jadi ingat pada adik saya." Kasa mengernyit. "Castiel, saya seperti melihat dia dalam diri kamu, entah kenapa." Akriel mulai berujar. "Saat pertama kali saya bertemu kamu pun, saya pikir saya salah karena pernah mengira kamu sebagai Castiel kedua, tapi setelah lebih jauh kalian punya kemiripan yang hampir sama persis." "Apa?" "Sifat." "Kenapa gitu?" "Terkadang saya pikir Castiel itu egois, tapi saya yakin dia juga punya sisi lembut dan penyayang." Ada senyum yang tertarik di kedua sudut bibir laki-laki itu. "Saya yakin kamu pun seperti itu." "Gue egois karena sifat gengsi gue. Apa Castiel juga gitu?" Akriel terkekeh. "Tentu saja, sudah saya bilang kalian itu mirip-mirip. Dia tidak suka kalau disuruh berbaur dengan orang-orang biasa. Dia sangat menjunjung tinggi martabatnya dan enggan sekadar untuk merendahkan dirinya barang semenit. Terkadang dia suka memarahi saya karena suka mencuri makanan dari dapur dan memakannya bersama warga sekitar tanpa memedulikan posisi saya sebagai seorang pangeran." Kasa tentram saja mendengarkan dongeng dari Akriel. "Dia pasti orang yang angkuh." Laki-laki itu memasang senyum hambar. "Tidak juga, apalagi ketika dia memasangkan mahkota ke kepala saya malam itu, saya merasa dia sangat menyayangi saya sebagai kakaknya. Atau disaat dia meneriakkan nama saya sampai suaranya nyaris habis waktu saya turun dalam perang dan hampir mati atau untuk menjalankan misi ini, saya merasa dia lah orang yang paling kehilangan atas saya." Baik, sekarang Akriel merindukan adik-adiknya. Hari di mana semuanya masih baik-baik saja. Hari di mana mereka berlima hidup dalam ketentraman. Ia rindu hari-hari itu. "Lo pasti kangen ya sama adek-adek lo." "Setiap hari saya merindukan mereka." "Gue tahu kok rasanya kayak gimana. Tinggal sendiri dan berada jauh dari keluarga. Gue juga gitu." Kasa melukiskan senyuman di bibirnya. "Gue sekolah di sini atas kemauan gue. Karena gue benci sama keluarga gue sendiri. Gue pengen menghindar dari mereka. Makanya sebisa mungkin gue pengen tinggal sendiri dan jadi orang asing bahkan buat keluarga yang udah ngebesarin gue." Ada setetes air mata yang menetes melalui pipi cewek itu. "Bokap gue seorang pemabuk dan penjudi. Tiada hari tanpa pertengkaran antara bokap sama nyokap gue. Itu yang bikin gue pusing dan marah setiap ngeliatnya. Gue capek liat kelakuan mereka. Gue sekolah di sini awalnya juga gak diizinin nyokap, tapi gue tetep maksa dan akhirnya paman gue yang ngebantuin gue." Akriel diam mendengarkan kisah dari anak itu. "Setelah gue sekolah di sini, gue seneng karena gue gak pernah terbebani dengan pertengkaran kedua orang tua gue lagi. Gue selalu bersyukur kenal Saka sama Kisa, gue selalu nganggap mereka itu udah kayak saudara gue. Apa-apa kita jalanin bareng. Suka maupun duka." Air mata Kasa mulai berkejaran saling keluar. "Mungkin kebanyakan orang-orang nganggap gue cewek yang beban hidupnya cuman sebatas galau karena cinta atau semacamnya. Tapi, gue lebih dari itu. Gue punya beban yang mungkin gedenya bisa saingan sama Kapal Feri." Kasa tersenyum miring. "Orang-orang gak tahu selama ini gue gak baik-baik aja. Itu karena gue terlalu sempurna nyembunyiin masalah hidup gue di balik topeng sampe gak ada satu orang pun yang bisa ngelihat celah dalam permasalahan gue. Dan dua bulan lalu, gue dapet kabar kalo ayah gue meninggal dan gue gak sempet pulang ke rumah." Kasa sudah semakin sekarat menangis. Air matanya tak terbendung lagi, saling berdesakan untuk membanjiri seluruh pipinya. Melihatnya seperti itu, Akriel membawa Kasa yang masih menangis sekarat ke dalam pelukannya, membiarkannya bersandar pada d**a bidangnya. Terasa air mata cewek itu mulai merembes ke dalam bajunya. Akriel jadi tahu kalau Kasa tak sekuat itu, dia juga terkadang bisa lemah dan butuh seseorang untuk sekadar mencurahkan keluh kesahnya dan sedikit sandaran. *** Mata gadis itu tampak sembab sekarang. Akibat menangis, bahkan hidungnya tiba-tiba flu sekarang. Entah kapan terakhir kali Kasa menangis seemosional tadi, yang jelas sekarang bebannya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Tak segan-segan bahkan di depan Akriel, orang yang masih terasa asing baginya, ia mencurahkan keluh kesahnya yang amat berat untuk sekadar dipikul sendirian. "Lo jadi orang pertama yang liat gue nangis." "Kalau kamu ingin itu jadi rahasia, saya bisa menutup mulut." Kasa geming melihat fajar di ufuk timur yang lama-lama semakin menunjukkan sinarnya. "Seumur hidup gue, gue gak pernah sekali pun ceritain masalah yang gue alamin ke orang lain. Selama 16 tahun, gue selalu tampil seolah gue baik-baik aja. Dan sekarang gue sadar, hal itu sama aja kayak nyiksa diri gue sendiri. Gue baru ngerasain ternyata setelah menangis itu beban yang selama ini gue pikul perlahan hilang." "Terkadang menangis bukan berarti kamu lemah seutuhnya, menangis itu hanya tanda kalau kamu sedang lelah." Ucap Akriel. "Tidak ada salahnya menangis. Saya juga pernah menangis ketika saya di posisi yang benar-benar lelah." "Kapan?" "Bukan sesuatu yang harus diceritakan." Akriel lantas tersenyum. "Kamu sudah merasa lebih baik, kan?" Kasa mengangguk. "Ehmm.. Gue jadi inget, lo guardian angel, kan?" "Sekarang saya manusia." "Sebelum jadi manusia." "Memangnya kenapa?" "Soalnya setahu gue, guardian angel itu tugasnya ngelindungin manusia-manusia tertentu." "Tahu dari mana?" Kening Akriel mengkerut. "Film, novel, dongeng." "Tidak hanya manusia. Sapi sama kerbau juga ada guardian angelnya." Kasa nyaris terjengkang ke belakang. "Serius?" "Memang begitu." "Kalo gue ada guardian angelnya gak?" Akriel bisu sejenak tampak berpikir-pikir. "Gimana?" "Sebentar. Sepertinya guardian angel kamu sedang pensiun." "Whatt?!! Pensiun?!! Dikata PNS kali ya bisa pensiun segala." Kasa merajuk. Akriel terkekeh. "Jadi gue gak punya guardian angel gitu?" "Ada, sebentar lagi kamu akan dapat guardian angel yang baru." "Kapan?" "Belum pasti, soalnya yang mau mencalonkan diri jadi guardian angel kamu masih kosong." "Kok bisa gitu?" "Soalnya kamu terlalu kasar kalau ngomong, mereka jadi ketakutan. Coba sesekali bicara lebih lembut dan turunkan volume suara kamu." Kasa mendengkus. Dia jadi bingung harus percaya pada laki-laki itu atau tidak. Tapi, tidak ada salahnya kalau dia mencoba jadi lembut sedikit saja, kan? "Oh iya, lo jadi guardian angelnya siapa?" "Bukan siapa-siapa. Saya tidak bertugas menjaga manusia atau sapi dan kerbau, saya hanya ditugaskan menjaga sebuah negeri bernama Flat." Kasa manggut-manggut seolah paham apa yang Akriel jelaskan padanya. Percaya atau tidak, setidaknya gadis itu jadi terhibur sedikit. Dia jadi ingin mengenal Akriel lebih jauh lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN