10. Guardian Angel

1823 Kata
Pelajaran pertama baru saja usai. Suasana kembali recok setelah sang guru angkat kaki dari kelas. Anak muridnya ada yang langsung sisiran dan bersolek ria menata rambutnya, ada yang main kejar-kejaran atau lempar-lemparan kertas yang dilipat jadi pesawat terbang. Pokoknya tak jauh beda dengan suasana di PAUD. "Kasa." Kisa awalnya ragu untuk menyapa teman yang duduk di sampingnya. Tapi berhubung yang disapa langsung menoleh, jadilah dia melanjutkan biacaranya. "Lo masih marah, Sa?" Kisa terlihat agak sedih, tapi ekspresinya membuat Kasa lantas terkekeh. Kisa mengernyit melihat Kasa tiba-tiba tertawa. "Siapa bilang?" Kisa kebingungan. "Lo lah." "Gak kok." "Lho, bukannya—" "Nggak, Kisa." Kasa buru-buru memotong. "Kemarin itu gue cuman pengen sendiri aja. Gak tahu kenapa, gue belajar banyak hal dalam 24 jam terakhir." "Maksud lo?" "Ada deh." Terlihat cewek itu malu-malu melukiskan senyum. "Seseorang yang bikin gue berpikir buat ngubah diri gue jadi lebih baik lagi." Kisa penasaran sekarang. "Siapa sih?" "Kepo amat lo." Kasa memalingkan wajahnya dari hadapan Kisa. Kisa pengen menebak-nebak, tapi yang terlintas di pikirannya tak lain dan tak bukan adalah Badrol. Dia pengin nyebut nama Badrol, tapi takutnya Kasa ngambek lagi kayak kemarin-kemarin. Jadi, dia urungkan kembali niatnya tersebut. "Tapi, lo beneran gak marah, kan?" Kisa sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Kasa seolah lagi mengancam cewek itu. Kasa tergelak. "Marah karena apa sih? Gaje banget lo. Gue gak marah, Kisa." Kisa jadi lega sekarang. Cewek itu bisa bernapas bebas lagi setelah mengetahui kalau Kasa gak marah. "Lo udah tau tentang Akriel?" Kasa spontan memutar kedua bola matanya. "Tuh anak kena masalah, kan?" Kisa mengangguk sampai kepalanya nyaris copot. "Dia dipoin 3 bulan!" Kasa malah tersenyum miring. "Gak pa-pa, biar dia mampus sekalian." "Kok lo gitu sih?" "Abis gue kesel sama dia. Masa katanya guardian angel gue pensiun." Kisa melotot kaget. "Maksudnya?" "Gak tahu juga sih, gue juga ngerasa gila kalo harus dengerin kata-kata dia. Katanya gue sekarang gak ada yang jagain karena guardian angel gue pundung terus pensiun dini." "Pundung gara-gara apa?" "Karena gue terlalu galak katanya." Kasa pengin banget jejelin sepatu ke mulut Kisa yang kini menertawakannya. Buru-buru dia menyikut perutnya sampai cewek itu meringis. "Gak ada yang lucu." Kisa nyengir. "Bener sih kata Akriel, lo tuh nyeremin. Boro-boro guardian angel, sekelas setan aja bisa-bisa ngibrit kalo ngeliat lo." Kasa sudah ancang-ancang mengepalkan tangannya siap meninjukannya ke wajah Kisa. "Hahaha. Eh tapi guardian angel gue masih juga gak ya?" "Ck. Guardian angel lo juga udah minggat soalnya ngeri liat tampang lo yang kayak preman kampung." Kisa spontan manyun. Saka tiba-tiba muncul di balik pintu sambil berlari menghampiri dua cewek itu. "Gue tebak guardian angel Saka juga pasti udah minggat." Kata Kisa pada Saka yang baru saja sampai di sana. Saka cengo. "Guardian angel apaan maksud lu?" "Malaikat pelindung." "Lo gimana bisa tahu soal guardian angel?" "Akriel." "Dih, percaya kok sama orang sinting." Saka mendelik. "Jangan salah. Nih, kata Akriel guardian angelnya Kasa udah pensiun." Kata Kisa sambil melirik Kasa. "Guardian angel lo pasti pensiun juga deh, Sak. Soalnya malaikat pelindung lo males jagain lo karena kerjaan lo nontonin vlog Lucinta Luna mulu." Saka pengin ngamuk. Bisa-bisanya Kisa memfitnahnya suka nontonin vlog Lucinta Luna, padahal kan Saka juga suka nonton vlognya Nikita Mirzani atau gak Anselma Putri. "Sembarangan lo kalo ngomong. Mana ada guardian angel gua minggat. Gua harus ketemu Akriel sekarang juga." "Mau ngapain?" "Nanya guardian angel gua masih ada atau udah pensiun." Saka sudah mulai beranjak dan berniat keluar kelas, Kisa terlonjak. "Wah, gue ikut!" Kasa melotot. "Lo mau ikut ke mana, Kis?" "Nemuin Akriel, nanya guardian angel gue ganteng apa nggak." Kasa jadi pengin minum oskadon satu pack. *** Akriel sudah mendengar banyak gosipan dari orang-orang di sekitarnya tentang Dara. Terutama dari trio semprul alias Saka, Kasa dan Kisa, mereka bilang Dara itu Limbad versi cewek. Katanya, sulit berkomunikasi dengan seorang Addara Ghassani, bukan cuma karena cewek itu irit ngomong, dia ngomong 'iya' saja hukumnya wajib disyukuri. Cewek itu sepertinya punya prinsip, 'gue ngomong kalo pengen ngomong aja,' begitu. Dari sekian banyaknya gosipan tentang Dara yang ia dengar, Akriel hanya bisa manggut-manggut dengan polosnya. Pasalnya bagaimana ia bisa percaya kalau Dara adalah Limbad versi cewek, bentukan Limbad saja dia tidak tahu wujudnya seperti apa dan bagaimana. Dara memang orang yang jarang sekali kelihatan bersosialisasi atau bergaul dengan teman sebayanya. Sehari-hari dia menghabiskan waktu sendirian. Suatu keajaiban ketika Akriel menjadi satu-satunya orang yang sanggup menjadi lawan bicara Dara. Pasalnya Dara menyahut saja ketika mengobrol dengan Akriel. Teman-teman sekelasnya bahkan sempat shock dan nyaris jantungan berjamaah ketika melihat Dara yang ketahuan lagi asyik mengobrol dengan Akriel, teman sebangkunya. Apalagi ketika Dara dan Akriel kedapatan kena hukuman dalam jangka waktu super lama yaitu sekitar tiga bulan, teman-teman di kelasnya setengah menyangka ketika menyadari Dara si gadis pendiam yang super misterius bisa terlibat ke dalam masalah Akriel yang kini dikenal akan kesablengannya. Pagi menjelang siang ini, Dara dan Akriel sudah mulai menjalani hukuman yang sudah disepakati beberapa waktu lalu. Mereka kini di taman sekolah yang masih agak berantakan setelah insiden robohnya rak pot bunga akibat ulah mereka berdua. Mereka menyapu, menyusun pot, mencabuti rumput liar sampai lama-lama melelahkan rasanya. "Tangan kamu bisa kotor kalau menyentuh itu." Dara mengernyit tatkala Akriel mengambil alih pot dari tangannya yang hendak ia pindahkan ke atas rak. "Gue gak selebay itu kali. Lo pikir gue bakal jijik kalo mindahin pot gini doang? Gue bukan cewek kayak gitu." Cewek itu merebut lagi pot dari tangan Akriel dan segera meletakkannya di atas rak. Akriel jadi teringat pada adiknya, Castiel, pasalnya perempuan itu tidak suka kalau sesuatu mengotori dirinya barang sedikit pun. Pernah saat mereka masih kecil, Castiel sampai menangis berhari-hari akibat Bariel tidak sengaja mencipratkan lumpur ke tangan Castiel. Castiel itu angkuh, berkarisma, menjunjung tinggi harga dirinya sendiri dan tidak suka mengerjakan sesuatu yang membuatnya kesusahan. Sangat berbeda dengan Akriel yang lebih suka 'merakyat' dan berteman dengan siapa saja tanpa membedakan kasta. "Biasanya perempuan tidak suka kalau mengerjakan sesuatu yang mengotori tangannya." Dara mengernyit. "Perempuan jenis apa tuh yang lo maksud?" "Perempuan tidak suka mengerjakan pekerjaan yang kotor." "Gak semua perempuan kayak gitu kali." Dara mengedikkan bahu. "Cuman cewek lebay dan manja yang gitu. Ngangkat pot aja gak bisa gimana nanti pas udah jadi istri nyuci baju, nyuci piring, ngepel, nyapu." Akriel mengernyit. "Lebay?" "Itu artinya berlebihan." Akriel manggut-manggut. "Adik saya seperti itu." "Oh." Dara berlagak paham. "Sori, gue gak bakal nanya kayak apa dan gimana sosok adek lo. Gue bukan tipe orang yang suka basa-basi, kalopun gue nanya tentang adek lo itu gak ada faedahnya buat gue." Akriel terkekeh. "Kalau begitu saya tidak akan menceritakan tentang dia kepada kamu." "Nice." "Saya sudah dengar banyak tentang kamu." "Contohnya?" "Tentang kamu yang sulit diajak bicara. Katanya kamu pendiam, tidak suka bergaul, penyendiri, dan misterius. Tapi, saya tidak percaya, buktinya saya mudah-mudah saja bicara dengan kamu." Cewek itu menyeringai. Tanpa membalas perkataan Akriel, dia kembali pada aktivitasnya menata pot pada rak-rak yang berjejer di sana. Dan tanpa sengaja dia mengambil pot yang agak retak sehingga tangannya sedikit berdarah karena terkena serpihannya. Akriel yang menyadarinya dengan sigap menyeka darah yang mengalir itu. Dara dibuat terkejut apalagi ketika cowok itu mengisap jarinya mencoba menghentikan pendarahan. "Sori, gue bisa pake perban." Dara langsung menjauhkan jarinya dari tangan Akriel. Dia masih terlalu kaget dan tiba-tiba bicaranya pun gelagapan. "Tidak ada perban di sini." "G-gue mau ambil di UKS." Dara agak terbata-bata. Akriel mengangguk sambil menyaksikan punggung cewek itu yang semakin menjauh lalu menghilang di belokan sana. Terlihat wajah Dara yang semerah apel beberapa waktu lalu, Akriel bisa melihatnya dengan jelas. Pendengaran Akriel tiba-tiba terusik ketika terdengar teriakan-teriakan yang begitu familier baginya. Tak lain dan tak bukan adalah Saka dan Kisa yang berlari sambil terengah-engah dari ujung sana sambil meneriaki namanya. Sedangkan Kasa paling telat datang ke sana. "Ariel!" Saka kesusahan bicara karena napasnya masih sekarat. "Mermed!" Kisa ikut-ikutan sekarat masih sambil terengah-engah. Kasa dengan normalnya berjalan tanpa merasa capek sedikit pun. Cewek itu langsung melipat kedua lengannya di depan d**a seusai tiba di taman tempat Akriel berada. "Nama saya Akriel." Akriel mengoreksi. "Halah, udah bodo amat." Saka berkacak pinggang. "Gak ada waktu buat ngomong bener sekarang." Akriel mengernyit. "Ada apa?" "Capek juga ya, lari dari sana berasa abis maraton di lapangan GBK." Kata Kisa membuat semuanya mendelik padanya. "Kalian ada apa datang ke sini?" Akriel bertanya lagi. "Jadi gini, Ariel—" "Nama saya Akriel." Yang punya nama buru-buru meralat perkataan Saka. "Saya tidak suka nama saya diselewangkan." Saka memutar kedua bola mata. "Yaelah ribet amat nih makhluk. Yaudah, Akriel gue mau nanya, gue masih punya guardian angel gak?" "Gue juga." Kisa menyahut. "Guardian angel gue kayak gimana tampangnya? Kira-kira mirip Lévi gak?" Kasa bersikap bodo amat karena sudah tahu kalau malaikatnya sudah pensiun. Jadi, ngapain dia bertanya lagi. Akriel mengernyit dan bingung dengan tiga manusia itu. "Maksud kalian apa?" "Itu lho malaikat pelindung. Coba deskripsiin guardian angel gue kayak gimana?" Ekspresi Kisa penuh harap. Akriel mau mengatakan fakta tapi dia agak tidak tega karena takut membuat mereka sedih. "Woy, cepetan jawab!" "Halah, dibilangin gak percaya." Kasa menyambar. "Guardian angel lu berdua pasti minggat juga karena capek liat kelakuan lu berdua yang udah gede tapi masih kayak bocah PAUD." Spontan Saka dan Kisa mendelik pada Kasa. "Lu tuh guardian angelnya yang udah pensiun. Gue yakin malaikat pelindung lo pasti depresi soalnya tertekan udah jagain manusia random kayak lu." Saka langsung tergelak. "Malaikat pelindung gue udah ketuaan makanya pensiun. Ntar gue dapet malaikat pelindung yang lebih oke lu berdua bakal kicep." "Aduh, udah-udah!" Kisa mencoba menengahi. "Mending kita tanya ke ahlinya." Ketiganya melirik tajam ke arah Akriel seolah menuntut penjelasan. Akriel sempat tercekat. "Deskripsiin guardian angel kami!" Akriel menghela napas lelah. "Kalian tidak punya malaikat pelindung." "WHAT??!!!!!!" Ketiganya kompak terkejut sampai menyita perhatian orang-orang yang lagi lewat di sana. Ekspresi Kisa paling shock. "Jangan bilang malaikat pelindung gue pensiun juga kaya punya Kasa!" Kasa tertawa puas. "Mampus!" "Jadi, guardian angel itu ada atau nggak?" Saka frustasi. "Ada." Akriel menjawab. "Tapi kebetulan malaikat pelindung kalian kompak lagi cuti." "HAH???!!!!" "Malaikat pelindung bisa cuti juga? What the hey!!" Saka sudah mengepalkan tangannya dengan emosi. Akriel malah manggut-manggut dengan ringannya. "Ngadi-ngadi, yakali guardian angel keburu cuti. Makan gaji buta itu namanya." Kasa emosi berat. "Gue udah semangat-semangat buat kepoin guardian angel gue barangkali beneran mirip Lévi." Kisa jadi kecewa dan akhirnya manyun. Akriel tak habis pikir dengan kelakuan tiga manusia ini. Rasanya dia pengin cepat-cepat pulang ke negerinya. "Jadi, cuman kita anak yang malaikat pelindungnya kabur?" Saka bertanya. Akriel berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke kepala. "Sejauh ini sepertinya hanya kalian yang malaikat pelindungnya kosong. Soalnya saya lihat anak-anak yang lain masih punya." Kisa menghela napas berat. "Sudah gue kira bakal begini." "Lagipula kenapa? Kalau saya beri tahu pun, kalian tidak akan bisa menyadari ataupun melihat keberadaan guardian angel." "Udah lah lupain soal guardian angel." Kasa memotong. "Oh iya, tadi lo lagi ngapain sama Kak Dara? Gue liat kayaknya lo abis cium tangan dia." Akriel dibuat tercengang. Melihat ekspresi Kasa yang seperti menuntut itu membuatnya terdorong untuk was-was. Akriel tiba-tiba gelagapan dan seketika panik. "TIDAK!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN