"TIDAK!"
"Napa kaget?" Kasa menyipit. "Lo abis ngapain tadi?"
Akriel menghela napas lelah. Mencoba membenarkan kondisinya yang habis kaget. "Saya hanya membersihkan darah di jarinya. Dia terluka. Itu saja."
"Tapi..." Kisa terpicu curiga. "Gimana caranya lo bisa jadi sedeket itu sama Kak Dara? Gue gak pernah nyangka, sejauh ini cuman lo satu-satunya orang yang bisa ngobrol seakrab itu sama dia."
Akriel sebetulnya malas jika harus mendengarkan perkataan mereka lagi, tak jauh-jauh dari mengatai Dara aneh atau semacamnya. Cowok itu mengedikkan bahu. "Saya juga tidak tahu. Kalian harus pergi, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya."
Ketiga bocah itu jadi menyipit melirik Akriel.
"Kenapa kalian masih di sini?" Tanya Akriel ketika Saka, Kasa dan Kis atak kunjung pergi dari sana.
"Yaelah, ngusir ceritanya?" Saka semrawut.
"Bukan, saya hanya terganggu. Saya jadi tidak fokus mengerjakan pekerjaan saya."
"Heleh."
"Oh iya, kita belum dapet informasi apa pun soal gadis bertanda sayap malaikat itu."
Akriel tiba-tiba tercekat di tempat lantas menghentikan aktivitasnya ketika mendengar ucapan dari Kisa. Laki-laki itu cepat menoleh dengan ekspresi luar biasa penasaran.
"Saya pikir saya tidak akan bisa menemukannya sampai kapan pun." Mimik wajah Akriel tampak sedih. "Maaf sudah menyusahkan kalian."
Saka, Kasa dan Kisa tercekat melirik Akriel.
"Jadi, lo putus asa?" Kasa melontarkan pertanyaan.
Akriel termenung sesaat. "Karena saya rasa tidak ada jalan keluar untuk menemukan gadis itu, saya jadi berprasangka buruk."
"Kalo lo putus asa, lo mau balik lagi ke negeri lo?"
Sejujurnya, Akriel ingin menyelesaikan misi ini. Demi membuat ayahnya agar tidak kecewa, dia tidak peduli seberapa kesusahannya ia hidup di Bumi. Belum lagi sosok gadis itu yang tak kunjung ia temukan.
"Saya tidak tahu."
"Terus kalo si gadis itu udah ketemu, mau lo apain? Bunuh?"
Akriel lagi-lagi tercekat. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kasa. "Kalian tidak usah tahu. Itu bukan urusan kalian."
Ketiga bocah itu melirik Akriel dengan sejuta kepenasaran. Mereka tak bisa untuk tak terpicu apa yang akan dilakukan Akriel pada gadis itu nantinya. Kasa berharap, siapa pun gadis yang memiliki tanda sayap malaikat itu, Akriel tidak akan sampai membunuhnya.
***
Apa yang lebih horor dibanding kejebak di rumah angker atau tidak sengaja papasan dengan pocong merah di malam Jum'at Kliwon?
Tentu saja jawabannya adalah ketika hasil ulangan matematika dibagikan.
Kasa tak henti-hentinya merapalkan jurus mantra bersemoga nilai ulangannya mendapat seratus, meskipun rasanya terlalu mustahil. Kisa tak kalah deg-degan, sekujur badannya nyaris tremor, saking tremornya dia jadi ngerasa lagi duduk di atas mesin traktor yang dihidupkan. Saka beda lagi, cowok itu kelihatan santai saja seolah luar biasa percaya diri dengan nilai ulangannya nanti. Toh, nilainya tidak akan jauh-jauh dari kepala tiga atau empat, sudah biasa.
Teman-temannya yang lain pun sama ketakutannya ketika kertas hasil ulangan mereka dibagikan satu per satu. Ada yang histeris karena mendapat nilai di atas KKM. Ada juga yang luar biasa kecewa karena kedapatan nilai yang bahkan lebih kecil dari harga sebutir permen Caca.
Bagaimana dengan Saka, Kasa dan Kisa?
Setelah kompak melihat hasil nilai masing-masing, mereka juga kompak semaput. Mereka bertiga remidi karena mendapat nilai berangka bebek.
"Bagi yang remidi, silakan mengerjakan ulang soal. Dan yang tidak remidi, boleh keluar kelas." Ujar si bapak guru.
Kisa menyandarkan punggungnya pada kursi, melirik malas pada teman-temannya yang lain yang dibolehkan jajan lebih dulu. Cewek itu mengernyit ketika Saka ikut-ikutan keluar kelas.
"Saka!"
Cowok itu menoleh.
"Lo mau ke mana?"
"Gue males remidi."
"Terus lo mau ke mana?"
"Kabur lah."
"Saka!"
Saka terjengit ketika mendengar seruan horor sehoror rumah angker terjerat di telinganya. Cowok itu menoleh lalu mendapati tengah ditatap oleh pak guru yang menatapnya dengan tajam setajam silet.
"Eh, Pak Guru?"
"Kamu mau ke mana? Kamu kan remidi, cepat duduk!"
Saka nyengir. "Saya boleh ijin ke toilet gak, Pak?"
"Gak, nanti kamu kabur kayak kemarin-kemarin. Kamu pikir saya gak tahu?"
Saka dengan berat hati akhirnya kembali ke mejanya di ujung sana.
"Mampus!" Kisa mengejek membuat Saka kian mendengkus.
Setelah soal kembali dibagikan, di situlah penderitaan kedua mereka dimulai. Kisa bisa saja asal mencentang jawaban maka dengan itu dia bisa cepat-cepat keluar kelas, tapi remidinya nanti gak bakal kelar-kelar. Saka apalagi, kalau kemarin dia mencari jawaban jalur menghitung kancing baju, hari ini dia mencari jawaban jalur cap cip cup. Kasa beda lagi, dia luar biasa gondok ketika melihat soal-soal yang dirasa lebih sulit dari kemarin. Apalagi ketika Badrol di sampingnya yang tak henti-hentinya mengemis jawaban pada Kasa bikin cewek itu gagal fokus meskipun hanya sekadar mengarang jawaban.
"Lu bisa diem gak sih? Gue sikut lu lama-lama." Kasa mulai merasa terusik ketika Badrol makin tak karuan memanggili namanya yang bikin teman-temannya sesekali menoleh ke arahnya.
"Gua minta jawaban satu aja, plis." Badrol sok-sok-an berlagak ala-ala minta dikasihani dengan ekspresi melasnya, berharap Kasa luluh.
"Itu kenapa yang di belakang?!"
Keduanya terperanjat nyaris serangan jantung mungkin sedikit lagi mereka akan dilarikan ke UGD ketika seruan pak guru berhasil menyodok telinga mereka tak karuan. Kasa luar biasa dag dig dug takut kalau tiba-tiba dia bakal dijadikan prekedel oleh pak guru.
"Dia Pak yang berisik." Kasa menunjuk Badrol.
Badrol kian melotot.
"Kalian berdua berisik!" seru guru itu lebih lantang lagi. "Kalian kerjakan sana di bangku depan!"
Kasa melotot, Badrol lebih melotot lagi. Bola mata mereka sampai mau lepas dan siap digelindingkan ke lantai.
"Lho?!"
"Kok gitu sih, Pak? Kan Badrol yang mulai." Cewek itu mencoba protes meskipun tidak ada gunanya membantah, mereka akan tetap digiring disuruh duduk di meja paling depan.
"Jangan ngeyel kamu! Cepat ke depan!"
Badrol duduk lebih dulu, Kasa pun dengan terpaksa ikut duduk. Kalau lihat soal ulangan sudah bikin Kasa gondok sekali, duduk di samping Badrol bikin Kasa gondok seribu kali. Rasanya emosi cewek itu mau meledak menyaingi ledakan bom nuklir.
"Gara-gara lo sih."
Kasa nyaris menggebuk Badrol yang bisa-bisanya malah menyalahkannya.
"Heh denger ya, Kadal Gurun! Bukannya nyadar diri ini tuh gara-gara lo!"
Badrol meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Ssstt... jangan berisik nanti kita bisa diusir dari kelas."
Oke, sekarang Kasa jadi gondok semilyar kali.
***
Seusai acara remidial matematika yang bikin Kisa nyaris mau minum bodrex satu lusin akibat stres tujuh keliling, pak guru akhirnya cabut dari kelas.
Saka berhasil menjawab seluruh soal jalur cap cip cup, sedangkan Kisa pakai jalur dadu yang dilemparkan sembarang. Kasa asal menyilang saja, boro-boro mau mengerjakan soal satu per satu, dia sudah keburu gondok hanya dengan duduk di samping Badrol saja.
Mereka masa bodoh dengan hasil remidial itu nantinya, soalnya kalau terus-terusan jadi bahan pikiran mereka bisa-bisa botak kayak Daddy Corbuzier. Ada hal yang lebih penting dibanding memikirkan hasil ulangan yang mustahil mencapai nilai seratus.
"Lo mau ikut?" Kasa bertanya pada Kisa yang masih tak karuan duduk di bangkunya, cewek itu bermain game untuk mengatasi stresnya.
"Gak. Lo duluan aja."
Kasa akhirnya pergi sendiri ke kantin, Saka seperti biasa lagi main sepk bola bareng teman-teman cowoknya. Usai mengambil sekaleng minuman dingin dari vending machine, cewek itu pergi berjalan-jalan random mengelilingi sekolah. Di sepanjang lorong dia tidak melihat satu pun kelas yang sepi, semuanya recok. Biasa, kalau jam istirahat sekolah akan terasa seperti Pasar Senen.
Saat menuruni tangga, cewek itu sengaja melirik-lirik ke lapangan di mana sedang terjadi pertandingan sepak bola asal-asalan.
"Kas!"
Kasa yang sedang menenggak minumannya dibikin tersedak ketika ada orang yang sepertinya habis berseru padanya. Dia paling tidak suka kalau namanya dipanggil setengah-setengah seperti itu, karena barangkali ada orang awam yang mengira namanya adalah kasur atau kasut, lebih parah kasbon. Cewek itu melirik siapa yang baru saja memanggilnya, bikin dia langsung malas ketika dia tahu kalau itu adalah Badrol.
"Jangan panggil nama gue setengah-setengah."
"Yakali gue panggil nama lengkap lo, kepanjangan yang ada. Masa gue harus panggil, Kasalira Sabina, lo lagi ngapain di sini?"
Kasa melirik sinis. "Cih."
Kasa bisa menebak cowok itu kalau tidak habis main voli pasti sepak bola. Soalnya kelihatan keringatnya mengucur deras bak air terjun membanjiri ujung rambut sampai ke pelipisnya. Tapi, dilihat-lihat Badrol ganteng juga.
Kasa melotot ketika Badrol tiba-tiba merampas kaleng minumannya dan tanpa pikir panjang cowok itu langsung menenggaknya.
"Gue gak suka stroberi sih, tapi berhubung gue capek sama haus banget jadi terpaksa gue minum." Cowok itu mengembalikan kaleng minuman dinginnya yang isinya tinggal seperempat pada si pemilik.
Kasa bengong, tak habis pikir dengan kelakuan Badrol yang bikin Kasa nyaris darah tinggi.
"Lo tuh emang dasarnya gak ada sopan-sopannya ya?"
"Kelamaan kalo pake sopan santun. Masa gue harus ijin dulu minta minum. Kasalira, minta minumnya dong."
Kasa tiba-tiba bergidik geli. "Dih."
Badrol menyibakkan rambutnya yang basah karena keringat ke belakang. Kasa dibikin cengo, sumpah demi apa pun dia tidak mau bohong kalau Badrol jadi lebih ganteng dengan keadaan rambut seperti itu. Entah karena Kasa yang baru sadar atau karena mata cewek itu kebetulan lagi ketutupan biji rambutan sampai-sampai dia berani menyimpulkan kalau Badrol seganteng itu.
Hal itu cukup ia pendam sendiri, kalau Kasa jujur bisa-bisa Badrol mencercanya dengan bilang, 'ke mana aja lo baru nyadar sekarang?!'
Kasa buru-buru menggeleng, lalu berniat kembali ke kelas. Dia mulai berjalan membelakangi Badrol yang masih berdiri di sana.
"Mau ke mana lo?"
Cewek itu setengah berbalik. "Peduli amat lo?"
"Resleting lo kebuka."
Kasa melotot kaget. Buru-buru dia berbalik menghadap Badrol mencoba menyembunyikan resleting di belakang roknya. Tapi setelah diperiksa, resletingnya baik-baik saja.
"Boong." Badrol menyeringai sambil tertawa puas.
Kasa sebetulnya pengin banget lemparin sepatunya sampai mendarat di wajah Badrol. Tapi ketika cowok itu tertawa dengan manisnya, Kasa lagi-lagi dibikin tertegun. Ia terpana dengan seringai manis Badrol.
Sekarang batin Kasa rasanya amburadul, tidak karuan, recok, rusuh persis kayak suasana anak SMA yang lagi tawuran.
"Jangan bikin jiwa psikopat gue muncul deh, gue jadi pengen ngebunuh lo."
Badrol mengangkat sebelah alis. "Buset! Lo psikopat asli apa boongan?"
"Gue bukan psikopat. Tapi, demi lo mati sekalian, gue rela jadi psikopat sehari."
Cowok itu terkekeh. Jantung Kasa malah makin amburadul rasanya mau meledak sampai hancur berkeping-keping.
"Emang lo tega ngebunuh gue?"
"Karena lo orang yang ngeselin parah dalam hidup gue, gue gak segan buat ngebacok lo pake celurit sekalian."
"Heleh sok-sok-an, tar gue mati gue gentayangin lo biar tau rasa."
Kasa hanya mendengkus.
"Jangan bunuh gue." Kasa menoleh ketika Badrol bicara begitu. "Kalo misalnya gue jodoh lo, terus gue mati otomatis lo gak ada jodoh. Mampus!"
Kasa bergidik geli. "Gue? Jodoh sama lo? Ogah!"
"Cih, sok jual mahal. Jodoh kan gak ada yang tau."
"Kalo ngira-ngira tuh yang waras dikit kek." Kasa mendelik.
"Udah ah gue mau cabut, capek gue ngomong sama lo." Cowok itu mulai menaiki tangga. "Oh iya, lo mau gak duduk bareng gue lagi? Itung-itung pemanasan duduk di pelaminan."
Kasa sudah siap mengepalkan tinjunya dan siap dilampiaskan ke wajah Badrol tapi cowok itu sudah keburu lari ngibrit. Sekarang Kasa hampir gila, ia berkali-berkali menggelengkan kepalanya supaya ia sadar.
'Kasa, lu kenapa sih?' gumamnya pada diri sendiri.