Markisa Firaya, sebagian orang akan mengira dia adalah cewek imut yang hobi pakai jepit rambut warna-warni di sekujur rambutnya. Tapi jangan salah, kalau sudah bertemu orangnya langsung karena tampangnya bisa menghancurkan ekspektasi dalam sekejap. Kisa dan jiwa tomboynya bagai cilor makroni dan saus tomat delmonte, hambar kalau dipisahkan.
Cewek itu tampak clingak-clinguk di kantin. Dia sedang mencari Kasa tapi tidak kunjung ketemu. Kisa mulai kewalahan sambil berkacak pinggang. Dia berniat kembali ke kelas setelah dirasa tidak ada batang hidung Kasa di tempat itu.
Di tengah perjalanan tepatnya di lorong yang sepi, dia tidak sengaja memergoki sekelompok cowok yang kayaknya lagi menindas dua orang cowok. Satu duduk bersimpuh di lantai dengan tak berdayanya dan satunya lagi sedang mencoba membela diri. Tiga orang cowok yang menindas tampak mulai mengepalkan tangannya dan siap meninjukannya ke wajah si cowok yang ditindas, tapi perhatian mereka beralih pada Kisa yang berseru di ujung sana sambil berkacak pinggang.
"Hoy!"
Kelima cowok itu menoleh. Si ketua geng mengernyit, tampak keheranan melihat Kisa.
"Wah, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan nih kayaknya." Ucapnya. "Lo cewek jangan ikut campur deh, sekali tinju aja lo bisa jadi rengginang entar."
Terdengar tawa ejekan dari ketiga cowok itu. Kisa menyunggingkan senyum. "Gue bukan cewek lemah, Ucup!"
Si ketua geng yang merasa tersindir tampak mengernyit. "Lo ngomong ke gua?"
Kisa mengangguk sambil melipat kedua lengannya di depan d**a.
"NAMA GUA BUKAN UCUP!!!!!!!!!!!" Protesnya pada Kisa yang kini cengengesan.
"Gue gak peduli. Mau nama lo Ucup, Ucip, Ucep sekali pun gue gak peduli. Soalnya gue gak niat buat nanya nama asli lo siapa dan gue ogah tahu nama lo!"
Orang yang disebut-sebut Kisa sebagai Ucup emosinya mulai menyulut. "Jaga ucapan lo ya!"
Kisa tersenyum miring. "Lo yang harus jaga sikap lo. Lo ngapain pada di sini emang? Gue kira kalian lagi pada ngumpul arisan tapi ternyata lagi ngebully."
"Ngumpul arisan mata lo!" Ucup sewot lagi. "Mending lo sana pergi deh. Ini urusan cowok."
"Emang kenapa kalo gue cewek gak boleh ikut campur? Asal lo tahu ya gue ini tadinya juga mau lahir sebagai cowok cuman gak jadi aja."
"Berasa sinting gue ngomong sama lo." Ucup melirik salah satu rekannya seolah memerintahkan untuk mengusir Kisa.
Kisa jadi was-was tapi dia mencoba untuk tidak merasa takut sama sekali. Cowok itu mulai mendekati Kisa dan lihat apa yang terjadi, cowok itu meringis tatkala Kisa menendang 'aset berharga' si cowok sampai dia luar biasa kesakitan.
Ucup dibikin ngeri, seketika dia menelan ludah kasar. Ucup melirik salah satu temannya di sampingnya seolah menyuruhnya buat menghajar cewek itu sekalian.
"Tapi, gue takut dia nendang burung gue juga, Bos. Bisa hancur masa depan gue nanti." Bisiknya bikin Ucup kesal.
"Lo cowok apaan masa takut sama cewek doang sih?!"
Akhirnya, dengan sedikit kekhawatiran rekan Ucup menghampiri Kisa tapi cewek itu malah berteriak.
"Pak, tolong dia mau malak duit saya!!!"
Tak lama, pak guru yang kebetulan lagi lewat muncul di sana karena panggilan Kisa. Si cowok yang jadi rekan Ucup jadi panik, begitu pun dengan Ucup sendiri.
"Kalian ini bikin gara-gara terus Rio, Hendri, Niko!" Pak guru menjewer Rio dan Hendri bikin dua cowok itu langsung mengaduh kesakitan. Niko tidak dijewer soalnya tangan pak guru cuma dua, yakali ngejewer pake jempol kaki bisa pincang dia. "Ikut ke ruangan saya, kalian akan saya kasih hukuman!"
Kisa terkekeh melihat ketiga cowok itu yang rupanya memiliki nama Rio, Hendri dan Niko bukan Ucup, Ucip ataupun Ucep. Kisa beralih pada dua cowok yang masih di sana. Salah satunya, sebut saja namanya Rangga, sedang membantu si cowok yang masih terduduk di lantai, tampak lemah karena kelihatannya agak babak belur habis ditinju Rio cs.
"Lo gak apa-apa?" tanya Rangga pada cowok itu. Dia menggeleng sambil membenarkan kaca mata beningnya. "Bagus deh, mending sana lo balik kelas."
"Makasih, ya." Ucapnya kemudian pergi dari sana.
Hanya tersisa Kisa dan cowok yang diketahui bernama Rangga, Kisa tahu namanya lewat nametag yang tertera di seragam cowok itu.
"Makasih ya, kalo gak ada lo pasti bakal agak susah buat ngatasin anak-anak nakal itu." Kata Rangga.
Kisa terkekeh. "Gak usah berlebihan. Gue bantu dikit doang kok."
Rangga tersenyum. "Nama gue Rangga."
Kisa dengan ragu menjabat uluran tangan cowok itu. "Kisa."
"Kayaknya kita baru ketemu."
"Gue rasa juga gitu." Kisa menyunggingkan senyum. "Rio ngapain aja tadi?"
"Oh, gue tadi juga kebetulan lewat dan gak sengaja liat ada anak yang lagi dibully sama mereka. Ya gue tolongin, eh tapi gue malah ikuti-ikutan dijotos." Rangga menjelaskan.
Kisa manggut-manggut, ia tampak melihat pada pipi cowok itu yang agak lebam habis kena pukul. "Itu... sakit?"
"Ah.. enggak kok. Dikit doang sakitnya, dioles salep juga sembuh."
Kisa jadi lupa kalau dia lagi mencari Kasa. Cewek itu menepuk jidat. "Sori, gue buru-buru nih mau nyari temen gue. Duluan ya!"
Cewek itu akhirnya cabut dari tempat itu setelah sebelumnya sok berlagak dadah-dadah pada Rangga. Rangga hanya bisa senyum-senyum melihat kelakuan orang yang baru dikenalnya itu.
***
"Woi, jalan tuh liat-liat dong! Jadi kotor kan sepatu gue!"
Dara yang sedang membaca buku di salah satu bangku merasa terusik ketika kejadian di seberang sana mengganggunya. Ada seorang cewek yang lagi marah-marah karena sepatunya tak sengaja terinjak. Tampaknya itu adalah Sheryl, siswi yang satu angkatan dengan Dara.
"Lo tahu sepatu gue ini mahal!" Sheryl terus mencerca seorang adik kelas yang tidak sengaja mengotori sepatunya tersebut. "Harga diri lo aja gak setara sama harga sepatu gue, asal lo tahu!"
Dara memutar kedua bola matanya kemudian melepas headphone yang sedari tadi menyumbat telinganya lantas cewek berambut sebahu itu beranjak menghampiri tempat di mana perkara itu terjadi.
"Bisa gak lo gak usah berisik?"
Kehadiran Dara menyita semua perhatian. Sheryl mengernyit.
"Kenapa? Lo mau berlagak kayak pahlawan kesiangan?"
Dara tersenyum miring. "Kelakuan lo childish. Gak usah lebay, sepatu lo gak serusak itu keliatannya."
"Ini bukan urusan lo!" Sheryl sekarang melipat kedua lengannya di depan d**a. Menatap tajam ke arah Dara. "Ngapain lo repot-repot? Mau jadi super hero?"
"Sekarang emang bukan urusan gue." Dara membuka tutup botol minumnya lalu berjalan mendekati Sheryl. Hal yang dilakukan Dara membuat setiap orang di sana tercengang ketika dia menumpahkan air jus dari botol minumnya dengan sengaja pada sepatu Sheryl. "Sekarang ini urusan gue."
Sheryl jelas kaget luar biasa, dalam sekejap kemarahannya langsung menyulut ke ubun-ubun ketika sepatunya ditumpahkan air jus oleh Dara. Sumpah, dia ingin menjambak rambut seorang Addara Ghassani sekarang juga.
"Ups, sorry." Ucap Dara dibarengi ekspresi tak berdosanya lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Sheryl yang masih bersungut-sungut di tempatnya.
Sheryl menatap sinis kepergian Dara lalu tanpa disadari tangannya sudah mengepal sampai urat-uratnya terlihat begitu jelas.
***
Hari ini menandakan hari kedua Akriel dan Dara menjalani hukuman itu. Dan tentunya masih butuh waktu berpuluh-puluh hari lagi untuk terbebas. Akriel beberapa kali mengeluh sampai Dara pengin banget lemparin gagang sapu ke kepalanya sampai benjol pun gak apa-apa. Mereka jadi semakin dekat, dan tanpa Dara sadari, dia makin senang saat bersama Akriel. Rasanya dia telah menemukan orang yang benar-benar bisa menerima kekurangannya. Sejauh ini, hanya Akriel yang sanggup berteman dengannya tanpa sedikit pun memandang kurang lebih dalam dirinya.
Dara sudah kenyang mendengar semua gosip dan gunjingan orang-orang terhadapnya sejak dua tahun terakhir. Sejak kedua orang tuanya bercerai, hidupnya mulai runyam, ditambah kabar tak mengenakkan tentang dirinya yang tersebar satu sekolah saat itu. Dia bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup ketika dia merasa benar-benar lelah saat itu dan tak sanggup untuk sekadar bernapas di hari esok. Di saat dia hampir terjun dari atas rooftop sebuah gedung, di situlah keraguannya mengusiknya. Dia tidak bisa meninggalkan ibunya sendiri di dunia yang rasanya semakin kejam setiap harinya. Semakin lama, dia jadi tahu kalau mendengar perkataan orang itu sama dengan mencari penyakit sendiri. Maka dari itu, Dara memutuskan menuli dan besikap masa bodoh dengan apa yang dikatakan orang-orang terhadapnya.
Kehadiran Akriel dalam hidupnya seolah memberinya warna baru walau terkadang cowok itu suka minta dijitak ketika bikin Dara kesal. Apalagi ketika dia terus mengoceh saat disuruh mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitaran taman.
"Kalo kerja tuh mingkem mulutnya!"
"Saya selalu melakukan pekerjaan seperti ini saat di kampung halaman saya. Tapi, di sini terlalu berlebihan, saya jadi lelah. Apalagi, sekarang saya melakukannya dengan terpaksa."
Dara memutar kedua bola mata. "Kalo ngomong tuh santai dikit bisa gak sih? Jangan kaku-kaku amat kayak kanebo kering aja."
"Saya tidak terbiasa. Saya mulai lelah menjadi manusia."
"Kalo gitu kenapa lo gak jadi tiang jemuran aja sekalian?"
Akriel semrawut seketika.
"Udahlah, gue juga capek." Dara membuang sapu yang dipegangnya sembarang. "Gue mau ke kelas."
"Tapi, pekerjaan kita belum selesai."
Dara menyipit. "Tadi lo bilang capek, disuruh berhenti kerja malah ngeyel. Mau lo apa sih sebenernya?"
Cowok itu malah menyeringai. Dara berjalan lebih dulu menuju kelas, sementara Akriel agak menjaga jarak berjalan di belakang cewek itu. Sengaja, Dara pernah bilang beberapa hari lalu katanya kalau lagi ada banyak orang jangan skinship nanti digunjingin yang aneh-aneh.
Dara mulai masuk ke dalam kelas, namun naas ketika dia mendorong pintu ada ember berisi air yang sengaja diletakkan di sana sebagai jebakan sampai air itu membasahi sekujur tubuhnya. Dara mematung ketika dia menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan ada yang tak segan menertawakannya. Akriel yang baru sampai di sana juga dibuat tercengang melihat keadaan Dara yang kini basah kuyup.
Sheryl dan kedua temannya tiba-tiba muncul dari arah belakang tampak puas dengan jebakannya yang berhasil menimpa Dara.
Dara menatap sinis pada Sheryl. "Jadi, ini ulah lo?"
Sheryl melipat kedua lengannya di depan d**a lantas tersenyum miring. "Menurut lo? Gimana rasanya?"
Dara memalingkan wajahnya, tampak muak melihat cewek itu
Sheryl mendekatkan wajahnya ke telinga Dara lantas membisikkan sesuatu. "Jangan macam-macam sama gue atau gue kasih tahu keadaan ibu lo sekarang."
Dara menggerutu, amarahnya nyaris meledak sekarang. Cewek itu ingin membalas tapi dia urungkan karena ia sadar kalau melakukannya ia akan semakin berada dalam masalah. Cewek itu akhirnya memutuskan untuk cabut dari tempat itu dan melenggang pergi. Sampai lah dia di toilet, dan tanpa ia sadari rupanya Akriel membuntutinya.
Biar Dara beri tahu, Sheryl termasuk orang yang Dara benci di sekolah ini, begitupun dengan Sheryl yang amat membenci Dara. Bukan tanpa alasan, mereka bisa dibilang sudah bermusuhan semenjak dua tahun belakangan karena sebuah insiden besar yang menimpa keduanya dan tidak diketahui banyak orang.
Cewek itu menatap ke arah kaca wastafel, memandang dirinya sendiri yang terasa begitu menyedihkan. Dia sampai tak menyadari air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
Akriel tampak clingak-clinguk mencari toilet mana yang dipakai Dara. Setelah beberapa menit, akhirnya dia menemukannya. Dari jarak sekitar satu meteran, Akriel bisa melihat Dara di balik toilet karena pintunya yang seperempat terbuka. Akriel mengintip diam-diam, cowok itu tercengang karena rupanya Dara mulai membuka rompi sampai baju atasannya perlahan. Sampai di mana cewek itu mungkin sedetik lagi hampir memperlihatkan punggungnya.
Sungguh Akriel berharap Dara tidak memilki tanda sayap malaikat itu di punggungnya. Akriel juga tak pernah menginginkan kalau orang yang dia cari selama ini adalah Dara.