13. Nawang Wulan

1802 Kata
'Gadis itu memiliki tanda sepasang sayap malaikat di punggungnya. Jika kau menemukannya, langsung bunuh saja dia.' Akriel tercekat di tempatnya. Rasanya pasokan udara di sekitarnya makin menipis sampai membuat laki-laki itu sesak napas. Dia hampir sedikit lagi melihat sesuatu apa yang ada di balik punggung Dara, naas ada seseorang yang menariknya secara paksa yang membuat Akriel kehilangan kesempatan untuk mengetahui apakah Dara memiliki tanda sayap itu atau tidak. *** "Handball!" Saka mengernyit ketika Junet bersuara. Dia pengin protes karena telah menuduh Saka melakukan handball. "Mana ada!" "Woi, Saka! Lo handball." Heri ikut-ikutan. "Sembarangan lo pada nuduh. Gue gak handball!" Saka mencoba membela diri. "Udah jelas-jelas gue liat lo handball. Gak usah ngelak." Saka jadi makin tersudutkan ketika Rahmat menyahut juga. Saka tidak punya pilihan lain selain mengaku. "Iya deh, gue ngaku handball. Tapi, gue udahan mainnya." "Ye, pundungan" "Bodo!" Saka akhirnya cabut dari lapangan setelah memutuskan berhenti di tengah permainan sepak bola ala-ala. Saka haus jadi dia berniat pengin beli minum. Saat melewati toilet, dia agak menyipit ketika sesuatu menganggu penglihatannya. Dia sampai tercekat ketika menyadari hal itu. Itu Akriel yang lagi ngintip diam-diam di toilet cewek. "Mermed?!!" Serunya tapi Akriel tak menggubris. Saka langsung masuk menghampiri Akriel dan tanpa pikir panjang cowok itu langsung menjinjingnya bagai anak kucing. Dia membawanya keluar dari toilet cewek. Terlihat ekspresi Akriel luar biasa terkejutnya. "Lo lagi ngapain ngintip di toilet cewek?!" "Saya tidak mengintip." "Ember, jelas-jelas lo tadi ngintip." Akriel mendelik. Iya, dia memang mengintip Dara tadi tapi bukan semata karena alasan m***m, Akriel cuman pengin tahu barangkali Dara lah orang yang memiliki tanda sayap malaikat itu. Tapi, sepenglihatan Akriel beberapa waktu lalu dia tak melihat apapun dari punggung Dara secara keseluruhan. Itu karena Saka yang menariknya sampai laki-laki itu terjengkang. "Lo lagi ngapain sih di sini?" "Saya—" Belum sempat menjawab, Saka buru-buru menyumbat bibir Akriel dengan telunjuknya nyaris membuat laki-laki itu terjengkang. Saka menyipit memfokuskan pandangannya ke suatu tempat yang dirasa janggal. Dia melihat di lorong kelas di seberang sana, dia benar-benar tidak salah lihat kalau itu adalah Kisa. Yang membuatnya nyaris salto adalah kehadiran seorang anak cowok yang menjadi lawan bicara Kisa di sana. "Kisa?!" *** Malamnya, Kasa mondar-mandir gak jelas di kamar asrama. Kisa yang melihatnya jadi pengin lemparin gagang cobek ke cewek itu. Tapi berhubung tidak ada gagang cobek, Kisa mengurungkan niatnya. Habis Kisa dibikin pusing sendiri melihat Kasa yang mondar-mandir, mungkin kalau dihitung cewek itu sudah bisa sampai ke Depok. "Aku iso mbuwang lesung marang kowe yen isih ora gelem lungguh." Kisa melirik datar. (Gue bisa lemparin ke lo gagang cobek kalo masih gak mau duduk) "Sejak kapan lo bisa bahasa Jawa?" "Sejak gue tinggal di Pulau Jawa." Kasa akhirnya berhenti dari aktivitasnya mondar-mandir, cewek itu langsung terjun ke kasurnya. "Lo kenapa sih?" Kisa bertanya. "Kayak lagi mikirin hutang aja" "Gue gak punya hutang." "Eitss. Anda berbohong. Lo masih punya hutang gorengan ke gue, kan?" "Cih, itu mah elu kali yang punya hutang ke gue." Kisa berpikir sesaat kemudian nyengir. "Hehe, sori gue lupa sih. Kapan-kapan deh tar gue ganti duit lo." "Kapan-kapan terus keburu kiamat ntar." "Sshhhttt. Lo jangan ngomong gitu dong. Kalo kiamat beneran gimana ntar?" "Kayaknya emang bakalan kiamat deh." Kisa tercengang. "Heh, lo cenayang apa?" Kasa frustasi akibat kejadian tadi siang yang bikin dia setengah gila. "Kis, gue mau nanya." "Kalo gue larang lo masih tetep nekat nanya. Nanya apaan?" "Kalo cewek sama cowok minum dari satu botol yang sama itu namanya ciuman gak?" Kisa yang lagi minum mogu-mogu langsung nyembur tak karuan. Dia luar biasa tercengang pasca mendengar pertanyaan absurd dari Kasa. "Hah? Lo serius nanya gitu?" Kasa berdecak. "Anak TK aja tahu mana yang namanya ciuman mana yang cuman minum dari botol. Sableng lo lama-lama. Eh tapi, lo kok tiba-tiba nanya gitu?" Kasa jadi gelagapan. Tidak mungkin dong dia cerita kalau dia habis ciuman eh—maksudnya minum dari botol yang sama dengan Badrol tadi siang. Bisa-bisa dia diceng-cengin lagi. Biar Kasa beri tahu, dia paling anti dengan hal seperti itu. "Woi, malah bengong." Kisa menggebrak cewek itu. "Kepo lo." Perhatian keduanya terampas oleh handphone Kasa yang menjerit di atas meja. Setelah dilihat ternyata itu Saka yang menelepon. Kasa mengangkatnya dan telinganya langsung b***k tatkala menempelkan benda itu ke telinganya. Bagaimana tidak karena Saka dengan lantangnya bersuara setara pakai toa masjid. "BURUAN KE SINI!!!!!!!!!!!!!!" *** Akhirnya Kasa dan Kisa bergegas menemui Saka. Mereka juga tidak tahu kenapa Saka ngegas dan maksa mereka untuk menemuinya. Sepertinya ada sesuatu yang genting. Setelah ngos-ngosan karena agak capek, mereka menemukan Saka. Cowok itu lagi berdua sama Akriel di balkon asrama yang sepi. "Ada apaan sih?" Kasa bertanya. "Gak ada apa-apa." Dua cewek itu langsung mengernyit. "Terus kenapa lo nyuruh kita ke sini?" Saka nyengir. "Liat deh ke bawah. Itu di lapangan ada yang lagi diruqyah berjamaah, pada kesurupan mereka." "Terus apa gunanya?" Kisa mulai kesal. "Jadi, lo nyuruh kita ke sini cuman ngajakin nonton orang diruqyah?!" Kasa hampir meledak berkeping-keping karena emosi. Saka terkekeh tanpa merasa berdosa. "Hiburan dikit emangnya kenapa sih? Gue gabut." "Jangan sampe gue cekek leher lo, Saka!" Kasa dan Kisa sudah ancang-ancang mau menganiaya Saka. Rasanya pengin banget lemparin cowok itu dari balkon perpustakaan. "Ampun! Ampun! Iya deh gue minta maaf." Akriel sedari tadi diam saja di pojokan menonton tiga bocah itu yang saling gelut. Saka membenarkan kerah bajunya yang sempat kusut akibat Kasa dan Kisa yang hampir mau menggantungnya hidup-hidup di pohon jahe. "Ganggu waktu doang tahu gak?!" Saka melirik sinis. "Sebebernya ada yang mau gue omongin sih." "Apaan? Jangan pake lama!" "Santai, Kasa! Kayak mau pesen indomie aja gak pake lama. Gue kemarin liat Kisa lagi ngobrol sama cowok. Berhubung gue kepo jadi gue mau tahu siapa dia." Saka langsung melirik Kisa. Kisa sudah melotot ketika tiga manusia di sana meliriknya super penasaran. "Apaan pada ngeliatin gue?" "Kita butuh konfirmasi, Sister." "Cih. Berasa jadi artis disuruh konfirmasi segala." Kisa langsung membuang muka. "Bukan begitu." Kata Saka. "Barangkali dia cowok yang gak baik, lo gak boleh deket-deket sama cowok semodelan Badrol yang suka nyuri pulpen di kelas." Kasa refleks melotot seusai Saka menyebut nama Badrol. Kenapa dia jadi merasa tersindir, ya? Kisa menghela napas malas. "Dia Rangga. Yang jelas dia cowok baik, gak suka nyopet pulpen apalagi jamet." Saka manggut-manggut. "Lagian kenapa sih lo kepoan amat? Gue juga bisa jaga diri kali dan bedain mana cowok baik sama enggaknya." Kisa mendelik sambil melipat tangannya di depan d**a. "Saya juga melihat Kasa dengan seorang anak laki-laki tadi siang." Ketiga bocah itu sontak menoleh pada Akriel yang tiba-tiab bersuara. Kasa luar biasa melotot, rasanya dia pengin mati di tempat. "Hah? Anak laki-laki siapa?" Saka mengernyit. "Jangan didengerin!" Kasa mencoba melindungi dirinya sendiri sambil melirik tajam ke arah Akriel. "Apa pentingnya sih percaya sama omongan dia?" "Kenapa memangnya? Saya tadi memang melihat kamu lagi berdua di tangga dengan seseorang. Tapi saya tidak kenal anak laki-laki itu siapa." Kasa jadi pengin ngehajar Akriel pakai sarung tinju sampai cowok itu bonyok. Jangan sampai Saka dan Kisa tahu kalau dia dan Badrol memang lagi berduaan tadi siang. "Gak pa-pa sih normal." Kisa bersuara seolah membela Kasa. "Emang salah kalo kita para cewek deket sama cowok? Justru yang dipermasalahin tuh kalo gue cewek suka sama cewek baru lo boleh protes." Sekarang, Kisa adalah panutan Kasa. "Tau tuh, lo pada gak bisa yang namanya menormalisasi apa?" Kasa mendelik. "Udah ah, cabut." Setelah dibikin kesal tujuh turunan, Kisa angkat kaki dari sana diikuti Kasa meninggalkan Saka dan Akriel di sana. *** Kisa adalah tipe cewek yang anti soal cinta. Dia belum pernah berpacaran sekali pun. Berbeda dengan Saka dan Kasa yang dulunya suka nimbun mantan. Katanya sih Saka dulu pernah jadi playboy cap badak pas masih di SMP tapi tobat saat masuk asrama. Mantan Saka sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi, bagaimana tidak karena cowok itu kalau macarin cewek udah kayak siklus menstruasi. Pacarannya setiap bulan abis itu putus lanjut nyari yang baru. Tapi sekarang Saka tobat kok. Malah sekarang dia gak punya pacar sama sekali. Setahu Kisa, Kasa cuma punya mantan beberapa biji saja, soalnya cewek itu pernah cerita dulu makanya Kisa tahu. Mantan Kasa yang paling dia ingat itu namanya Dery, cowok yang disebut-sebut Kasa mirip oppa-oppa Korea yang suka seliweran di tv-tv. Katanya sih Dery juga jadi mantan Kasa yang paling lama dimove on-in. Mereka pacaran sejak SMP selama hampir setahun. Tapi, terpaksa putus ketika Kasa bersekolah di asrama dengan alasan tidak bisa LDR. Meskipun siang ini tak sepanas di Padang Mahsyar, tapi cukup mampu membuat benda di bawahnya hampir meleleh. Akibat kalah main batu gunting kertas bersama Saka dan Kasa, terpaksa Kisa lah yang harus jadi korbannya. Dia disuruh membeli minuman dingin di kantin sana. Usai memasukkan uang dan memencet-mencet tombolnya, dua minuman dingin dan sebotol s**u coklat langsung keluar dari vending machine itu. Ngomong-ngomong, s**u botol itu buat Kisa sendiri soalnya cewek itu gak bisa minum minuman bersoda. Cewek itu berniat kembali ke kelas setelah menyelesaikan tugasnya. Dia agak ringkih membawa tiga botol minuman itu di tangannya. "Kisa!" "Rangga?" Kisa langsung sumringah ketika tidak sengaja berpapasan dengan Rangga, cowok yang baru ditemuinya kemarin. "Lagi ngapain di sini?" "Ngangon bebek. Gak liat gue lagi bawa minuman nih? Udah tau pake nanya." Rangga terkekeh. "Itu namanya basa-basi." "Yaelah, ngomong sama gue mah gak usah pake basa-basi segala. Tinggal sat-set-sat-set." Rangga terkekeh lagi. "Napa sih lo ketawa mulu? Berasa jadi Sule gue diketawain." "Gak sih. Lo lucu aja. Baru kali ini gue ketemu sama orang kayak lo." "Iya dong. Gue kan makhluk langka gitu lho." Kisa menyeringai. "Oh iya, gue belum tau nama lengkap lo siapa." "Lo mau tau?" "Kenapa nggak?" "Nama gue Lee Joo-young." Kisa mengernyit. "Bukannya Rangga?" "Itu nama Indonesia gue. Kalo nama Korea gue Lee Joo-young." "Tunggu... lo blasteran?" Rangga mengangguk. "Bapak gue orang Korea." Kisa refleks geleng-geleng kepala tak menyangka. Mulutnya sambil menganga. "Pantes mata lo sipit kayak orang Korea. Eh, btw Bapak lo saudaraan gak sama Lee Min-ho?" "Nggak lah!" "Kok gitu sih? Kan sama-sama Lee." "Ya, gak gitu juga konsepnya." "Oh, oke deh. Oh, iya, lo pernah ke Korea dong?" "Sejak SD gue sekolah di sana. Gue baru pindah ke sini beberapa minggu lalu." "Kenapa pindah? Padahal lebih betah di Korea tuh kayaknya." "Emang sih. Gue juga gak mau pindah, tapi karena orang tua gue harus kerjanya di sini, gue terpaksa pindah." "Oh, gitu ya." Kisa dibikin terkagum-kagum dengan Rangga. Dia tidak menyangka kalau ternyata cowok itu punya darah Korea. Meskipun sayang, dia bukan saudaranya Lee Min-ho. "Rangga!" Rangga dan Kisa kompak menoleh ketika terdengar seruan dari ujung sana. Cewek itu tampak meneriaki nama Rangga. Kisa tidak mengenalnya, tapi kalau dia boleh jujur, dia mengakui kalau cewek yang kini menghampiri Rangga itu luar biasa cantiknya. Sekelas Nikita Willy saja bisa lewat. "Buset! Siapa tuh? Nawang Wulan nyasar ke Bumi apa gimana?" Tanya Kisa dengan exitednya ketika melihat cewek yang cantiknya digadang-gadang saingan sama Nawang Wulan. "Dia Liura." Ucap Rangga. "Pacar gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN