Setelah turun dari mobil, Liura langsung masuk begitu saja ke dalam aula tanpa memedulikan Rangga. Rangga yang merasa ada hal janggal dari Liura berusaha mengejar gadis itu. Namun, niatnya terpaksa dibatalkan ketika handphone di sakunya bergetar menampilkan panggilan telepon dari mamanya. Segera cowok itu mengangkatnya.
Baru saja menempelkan handphonenya ke telinga, suara mamanya sudah terdengar begitu lantang sampai Rangga harus sedikit menjauhkan handphone itu dari telinganya. 'Dua jam lagi akan ada orang yang akan menjemputmu ke Korea. Papamu ingin berbicara denganmu secepatnya.'
Sambungan diputuskan begitu saja oleh mamanya bahkan beliau tidak memberi Rangga kesempatan untuk menjawab sedetik pun. Rangga mengernyit dan bertanya-tanya kenapa mamanya secara tiba-tiba menyuruhnya untuk kembali ke Korea. Atau mungkinkah ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan papanya? Entahlah Rangga pun tidak tahu.
"Rangga!"
Rangga yang merasa terpanggil segera menoleh dan ternyata itu adalah ibunya Liura.
"Kenapa kamu di sini? Ayo masuk." Ucap wanita itu.
"Nggak, Tante. Tadi habis ngangkat telepon." Jawab Rangga.
Wanita itu tersenyum. "Jadi, kapan kamu akan kembali bersekolah di Middlesex School lagi? Kata Liura kamu pindah ke sekolah biasa dan meninggalkan Middlesex School. Kamu tidak benar-benar meninggalkan sekolah lama kamu, kan?"
Rangga sempat tercekat ketika ibunya Liura bertanya hal itu. Memang tadinya dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Liura, yaitu Middlesex School yang berada di Amerika. Tapi dengan tiba-tiba Rangga malah pindah ke sekolah yang relatif rendahan yaitu di sekolah yang sama dengan Kisa. Rangga sebenarnya tidak berniat meninggalkan Middlesex School, dia akan kembali bersekolah di sana suatu hari dan keberadaannya di Jakarta sambil bersekolah di sekolah rendahan hanyalah sekadar suka-suka.
"Aku bakal kembali ke Middlesex School kalau aku pengen."
"Kapan?"
Rangga malah tersenyum. "Ketika waktunya tiba, Tante."
Sungguh, Rangga tidak ingin membahas hal ini. Bahkan orang tuanya sekalipun tidak mengetahui alasan kenapa Rangga bisa mau bersekolah di sekolah b****k dan rendahan itu. Rangga tidak memberi tahu siapa-siapa termasuk Liura yang katanya calon tunangannya. Hanya Rangga yang tahu alasan tersebut.
Maka sebisa mungkin, Rangga harus bisa mengalihkan pembicaraan yang topiknya tidak ia sukai.
"Ngomong-ngomong di mana Liura?" Tanya Rangga.
"Dia di dalam. Kalian habis dari mana tadi? Kalian gak ngasih tau siapa-siapa sebelumnya."
Rangga menggeleng. "Bukan apa-apa, Tante. Kalo gitu Rangga mau nyari Liura dulu. Permisi."
Setelah Rangga pamit, tanpa menunggu lama akhirnya dia menemukan Liura di kerumunan pesta. Liura menyadari kehadiran Rangga yang tengah menuju ke arahnya.
"Bisa kita ngobrol di teras?" Kata Rangga membuat Liura mengernyit heran. Namun, mau tidak mau gadis itu akhirnya mengikuti langkah Rangga menuju tempat yang dimaksudnya.
Sampailah mereka di teras hotel yang menghadap kolam renang. Entah apa yang dimaksud Rangga sampai membawa Liura kemari.
"Mau bilang sesuatu?" Kata Liura datar.
Rangga menghela napas. "Kenapa kamu bilang soal pertunangan kita di depan umum? Usia kita bahkan belum legal dan kenapa kamu bilang kita akan segera bertunangan?"
Biar Rangga beri tahu, dia sangat membenci dengan hidupnya yang serba dikendalikan. Termasuk pertunangannya dengan Liura adalah sesuatu yang berkebalikan dengan keinginannya. Rangga melakukannya dengan terpaksa demi membahagiakan kedua orang tua Liura maupun kedua orang tuanya. Terkadang Rangga iri dengan anak-anak seusianya di luar sana yang masih bisa menikmati masa remajanya dengan bebas, bukan seperti Rangga yang dikendalikan oleh kehendak orang tua apalagi perjodohannya dengan Liura di usia yang terlalu muda dan labil membuatnya merasa terkekang.
Liura tersenyum miring mendengar perkataan Rangga. "Bukannya itu keinginan ayah kamu? Ayah kamu yang udah nyuruh kita buat melangsungkan pertunangan agar lebih cepat. Apa kamu gak tau?"
Rangga mengernyit. Agak terkejut. Rasanya emosinya perlahan mulai tersulut ke ujung nadinya. Semua karena ayahnya. "Ayah?"
"Kamu gak tau?" Liura mengulang pertanyaannya lagi sambil melipat kedua lengannya di depan d**a. "Kenapa? Kamu mau menolaknya?"
Rangga mengepalkan lengannya tanda amarahnya sudah menjadi-jadi. Kesal, marah, dan kecewa. Begitulah perasaannya terhadap ayahnya saat ini. Bagaimana caranya Rangga menghindar? Kalau ia menolak, tentu itu akan mendatangkan masalah besar baginya nanti. Sebenci apa pun ia pada ayahnya, sejauh ini Rangga tidak akan tega untuk membentak apalagi menentang permintaan ayahnya. Rangga selalu patuh pada ayahnya.
Rangga menghela napas mencoba menstabilkan emosinya. Cowok itu melirik Liura kemudian. "Apa kamu mau pertunangan itu terjadi?"
Entah kenapa, lidah Liura mendadak kelu untuk menjawab. Dia pun ragu. Ada sesuatu yang mengakibatkan bimbang pada hatinya secara tiba-tiba. Dia mencintai Rangga. Sungguh. Tapi, Liura tidak pernah tahu apakah Rangga mencintainya juga atau tidak. Atau bisa jadi selama ini orang yang dicintai Rangga bukanlah Liura. Hal itulah yang membuat Liura tidak yakin jiga dia mengiakan pertanyaan Rangga barusan.
***
Setelah melakukan berbagai cara akhirnya Kisa kembali sadarkan diri berkat minyak ajaib yang dibeli Akriel.
Awalnya Kasa menghubungi Saka buat minta dibeliin minyak yang memiliki bau menyengat tersebut tapi entah gimana caranya Saka malah balik menyuruh Akriel. Beruntung Akriel mau-mau aja disuruh buat beli minyak ajaib ke toko kelontong.
Kisa pingsan gara-gara gak sengaja minum amer alias anggur merah atau bahasa bulenya sih namanya wine. Memang sih Kisa jarang minum hal semacam itu, di sisi lain usianya yang belum legal serta lambungnya terkadang tidak bersahabat dengan minuman beralkohol. Pernah beberapa tahun lalu pas Kisa sakit gigi dia disuruh kumur-kumur pakai alkohol, tapi dengan begonya alkohol itu malah dia telan. Jadilah dia berujung dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu karena terkena masalah lambung.
Kisa setengah linglung serta pandangannya pun masih agak buram. Dia juga kedapatan sedikit mabuk gara-gara minun amer tadi.
"Rangga mau menikah."
Kasa, Saka dan Akriel yang berada di sana waktu itu terus saling pandang ketika Kisa tak henti-hentinya melontarkan kata-kata yang bikin geleng-geleng kepala. Maklum dia kan lagi mabuk.
"Orang Kristen kalo dirukyah pake doa apa sih?" Kasa tiba-tiba bertanya random. Sepertinya Kisa bukan cuma mabuk amer tapi sekaligus ketempelan kuntilanak juga soalnya cewek itu gak berhenti haha hihi dari tadi. Persis kayak kuntilanak di film-film horor jadul dulu. Makanya Kasa berniat mau merukyah Kisa.
"Bacain Ayat Kursi coba." Saka menjawab asal.
"Salah server dong."
"Ya emang beda?"
"Gak tau deh."
Akriel yang ada di sana cuma bisa diam dan melongo. Dia lagi-lagi dibuat tak habis pikir dengan kelakuan tiga bocah itu. Kenapa juga Akriel harus terlibat dengan kasus amer Kisa sampai dia dihadapkan dengan pemandangan memperdebatkan doa rukyah buat orang Kristen.
"Terus sekarang gimana?" Kasa bertanya lagi.
"Paling besok juga sembuh." Jawab Saka. "Udahlah biarin aja."
"Ck. Yaudah lu berdua cepetan sana pergi. Ntar ketauan masuk asrama cewek lu bisa mampus." Usir Kasa pada Saka dan Akriel.
"Dih, lu sendiri yang ngundang gue kemari." Kata Saka agak jengkel kemudian segera pergi dari kamar Kasa diikuti oleh Akriel yang mengekorinya di belakang.
Akhirnya, dua cowok itu kembali ke kamar mereka sendiri. Di perjalanan, Akriel tiba-tiba bertanya membuat Saka menyernyit.
"Kamu tahu siapa Karan?"
Begitulah hasil pertanyaan Akriel yang membuat Saka geming sesaat. Dia tidak tahu secara jelas siapa Karan. Dia hanya sekadar tahu namanya saja bukan orangnya. Dari desas-desus yang mengatakan kalau kematian Karan 8 bulan lalu memang banyak hal yang menjanggalkan. Dan Saka benar-benar tidak peduli tentang itu. Kenapa Akriel bertanya hal itu padanya? Bikin pusing saja.
"Ngapain lo nanya gue? Mana gue tau."
"Kamu bersekolah di sini lebih dulu dari saya." Akriel agak ngotot. "Kamu pasti tahu hal kecil sekalipun tentang dia."
"Kalo gue gak tau ya mau gimana? Lagian ngapain sih ngomongin orang yang udah mati?"
"Kematian Karan dipalsukan. Dia tidak mati karena kecelakaan seperti tertabrak kereta atau semacamnya, tapi dia dibunuh secara sengaja."
Mendadak Saka merinding mendengar perkataan Akriel barusan. Bulu kuduknya kompak berdiri dalam waktu yang bersamaan.
"Kata siapa?" Saka mengernyit.
"Saya tahu."
Saka menelan ludahnya kasar. "Gak usah urusin orang yang udah mati. Dia mati karena takdirnya emang harus mati. Lagian kenapa lo tiba-tiba nanya gituan? Sekali lagi, gak usah sok jadi detektif. Lo orang baru di sini dan lo gak tahu apa-apa." Kata Saka kemudian cowok itu berjalan pergi menuju kamarnya lebih dulu sementara Akriel masih mematung di tempatnya.
***
Keesokan harinya, kondisi Kisa masih belum membaik dan terpaksa dia harus istirahat dan izin untuk tidak masuk sekolah. Hari ini kebetulan adalah jadwal piket Saka, sehingga pagi-pagi sekali cowok itu sudah ngibrit datang ke sekolah buat piket kelas karena kalau tidak bisa-bisa dia dipaksa bayar denda.
Jadilah Akriel dan Kasa sarapan cuma berdua di kantin. Menu makanan mereka pun tak jauh dari nasi goreng telur dengan air putih.
"Akriel."
Akriel menoleh pada Kasa yang baru saja memanggil namanya.
"Lu semalam nanya soal Karan ke Saka?"
Sontak, Akriel dengan refleks mengernyitkan kening. "Kenapa?"
"Justru gua yang nanya, kenapa lu tiba-tiba nanya soal Karan?"
"Karena saya ingin mengetahui sesuatu dari dia."
Kasa mencoba menahan emosinya. Dia agak marah dan tidak suka dengan kelakuan Akriel yang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain terutama Dara. Apalagi sekarang cowok itu bisa-bisanya sok mencari tahu soal Karan. Apa dia lupa tugas utamanya datang ke Bumi cuma buat mencari seorang gadis bertanda sayap malaikat di punggungnya. Ah, sepertinya misi itu sudah terlupakan.
"Karan itu laki-laki, kan? Dia orang yang dekat dengan Dara di masa lalu. Orang-orang percaya kalau dia meninggal karena insiden kecelakaan kereta."
"Cukup!" Kasa membentak Akriel sambil menggebrak meja membuat cowok itu langsung kicep. Bukan cuma Akriel yang terkejut, tapi orang-orang yang ada di kantin waktu itu juga ikut tersita perhatiannya.
"Cukup." Kali ini nada suara Kasa agak memelan. Tampak bergetar di akhir seperti sedang menahan tangis.
"Kenapa?"
Kasa menundukkan kepala. "Cukup bertindak berlebihan. Cukup bahas soal Karan."
"Kenapa kamu menghentikan saya? Kematian Karan adalah ketidakadilan. Kematiannya dipalsukan. Dia tidak mati karena kecelakaan kereta melainkan dia sengaja dibunuh—"
"CUKUP!!!" Nada suara Kasa lebih tinggi dari sebelumnya. Mungkin nada suaranya yang tadi adalah nada tertinggi yang pernah dia lontarkan. Mata gadis itu mulai memerah karena menahan air mata. Amarahnya memuncak. Paginya sudah dibuat berantakan karena pembahasan tentang Karan membuatnya terganggu. Dan entah apa yang membuat Kasa bisa semarah itu pada Akriel yang terus membahas Karan dan kematiannya. Sampai air mata Kasa berdesakan keluar dari ujung matanya dan jatuh berkejaran di pipi begitu saja.
"Kamu tidak berhak semarah itu." Kata Akriel pelan.
Kasa masih menyembunyikan tangisnya di balik kedua telapak tangan. Akriel sendiri kebingungan kenapa cewek itu tiba-tiba menangis.
'Justru gue berhak.' Kata Kasa dalam hati.
"Kenapa kamu menangis?" Akriel mencoba bertanya namun Kasa tetap menyembunyikan wajahnya dengan tangan dan masih menangis. Orang lain jelas tengah memperhatikan mereka. Akriel dan Kasa jadi pusat perhatian semua orang. Hal berikutnya, Kasa tak pernah mengira kalau Akriel tiba-tiba memeluknya dari samping lalu meminjamkan bahunya untuk menjadi tempat sandaran bagi Kasa. Akriel membiarkan Kasa menangis di bahunya.
Melihat Kasa seperti itu, Akriel kembali teringat pada adiknya. Dia egois, dia telah melupakan misinya dan malah melakukan hal yang sama sekali tidak penting baginya seperti ikut campur urusan Dara ataupun Karan. Bagaimana keadaan di Flat serta kondisi ayah serta adik-adiknya pun Akriel tidak tahu. Dia tidak tahu harus melakukan cara apa lagi untuk mencari gadis bertanda sayap malaikat yang dia cari selama ini. Dia telah lupa tujuan utamanya.