Kenapa Saka yang tadinya playboy akut bisa-bisanya tobat dan pensiun dini?
Memang sih di masa lalu Saka itu adalah laki-laki yang punya segudang mantan yang jumlahnya sudah tidak bisa dihitung pakai jari lagi. Saka sendiri sampai lupa siapa saja dan berapa cewek yang pernah dia pacari dulu. Dan semenjak masuk asrama dia berubah total dan jadi pensiunan dini dari status playboynya tersebut. Kok bisa? Mungkin Saka habis kena hidayah kali ya.
Kenapa Saka bisa playboy? Jangan ditanya, ada pepatah mengatakan; buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sifat playboy Saka adalah warisan dari ayahnya sendiri. Katanya sih ayah Saka dulunya memang buaya darat penakluk hati para wanita pada jamannya. Tapi semenjak bertemu sang pawang yang mana adalah ibu Saka sendiri, beliau buru-buru tobat dan menghilangkan status playboynya tersebut. Tapi siapa sangka, hal itu malah menurun pada anaknya. Tapi tidak kok, Saka sendiri katanya juga sudah tobat.
Melihat si Dewi Aphrodite alias Liura Kiehl kemarin entah kenapa membuat perasaan Saka tak seperti biasanya. Rasanya seperti ada yang berbeda, seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Tapi, Saka tak berharap lebih, dia sadar kalau dia dan si Dewi Aphrodite hanyalah khayalan belaka. Disaat dia turun dari Tesla bak putri raja, Saka turun dari motor NMax saja sudah merasa jadi orang paling keren di kampungnya. Dari sana sudah kelihatan seberapa berbedanya dunia mereka. Jadi, Saka sadar diri dan perlu berpikir dua kali kalau mau mendekati putri raja sekelas cewek yang ditemuinya tadi.
"Kenapa lo gak tanya namanya siapa?"
"Gila lu! Orang dia dijaga ketat sama apa tuh namanya satpam ya?"
Pletak!!!
Kisa baru saja mementung kepala Saka pakai sendok. "Norak lu! Itu namanya bodyguards bukan satpam."
Saka mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya yang untungnya saja tidak benjol. "Ya itu maksud gue. Tapi nih ya, dia tuh sekelas Miss Grand Internasional gitu. Wajahnya bule campur Cina-cina gitu."
"Tapi cantik?"
"Banget! Kalo boleh gue bilang, dia cewek tercantik yang pernah gue temui seumur hidup. Gue yakin, sekelas Anselma Putri pasti bakal insinyur juga kalo liat si Dewi Aphrodite."
Kasa dan Kisa spontan mendelik.
"Iyain deh terserah. Eh, lu ada liat Akriel gak sih? Udah seharian gue gak ngeliat dia. Tumbenan banget." Kasa tiba-tiba bertanya.
"Tadi gue ketemu sama dia." Kisa berdecak. "Ngeselin banget tuh orang sekarang. Udah gue ingetin kan jangan deket-deket sama Kak Dara. Masih aja ngeyel."
Kasa mengernyitkan kening. "Dara? Bukannya dia lagi kena masalah lagi ya?"
"Emang." Saka menyahut. "Akriel berlagak mau jadi pahlawan buat nolongin Kak Dara. Padahal dia sendiri dongo."
"Ini gak boleh dibiarin. Akriel atau siapa pun gak boleh ada yang ikut campur sama urusan Dara. Gue jadi keinget sama kejadian di masa lalu itu. Lo berdua inget, kan?" Kasa memandang Saka dan Kisa bergantian.
"Iya gua juga tau." Saka berdecak. "Tapi gua ngerasa, Akriel tuh suka sama Dara. Makanya dia bertindak berlebihan begitu."
"Gak mungkin dia nekat suka sama manusia. Lo inget perkataan dia yang katanya dia gak bisa mencintai manusia, kan?"
Kisa mengernyit melirik Kasa. "Lo masih percaya?"
"Dulu gue juga gak percaya. Tapi sekarang gue sebaliknya. Apa yang dikatakan Akriel itu benar." Ucap Kasa tegas bikin Saka dan Kisa bungkam dan dibuat tak menyangka. "Apa pun yang terjadi gue gak bakalan biarin Akriel atau siapa pun ikut campur sama masalah Dara."
"Lo sepeduli itu?" Tanya Kisa.
"Iya, karena gue gak bisa biarin dia mati gitu aja."
***
Kisa tidak tahu rupanya Liura datang ke sekolahnya. Soalnya Rangga yang memberi tahunya hal itu. Katanya sih cewek bule itu habis dari bandara baru pulang dari Amerika langsung mampir ke sekolah Rangga, untuk menemui Rangga pastinya yakali mau menemui Pak Bondan. Yang bikin Kisa sedikit kaget adalah ketika Rangga tiba-tiba menghubunginya dan menyampaikan kalau Liura ingin menemuinya. Untuk apa Liura ingin menemuinya? Kisa sempat berpikir sesaat, apa mungkin Liura mau menagih sandal Chanel miliknya yang sekarang ada di pihak Kisa? Waduh, bahaya dong. Soalnya Kisa sudah terlanjur jatuh cinta sama sandal itu.
Tadinya mereka mau nongkrong di kantin buat sesi temu kangen. Tapi karena Kisa sadar tempat itu tidak cocok buat seorang Liura. Bisa-bisa cewek itu habis jadi korban cuci mata para buaya darat kantin yang bikin risih. Jadilah mereka mencari cafe terdekat yang sekiranya enak buat ngobrol.
"How's life?" Tanya Liura.
"Gue baik kok. Thanks to asking." Jawab Kisa.
Untung Kisa lumayan ngerti sama bahasa Inggris gaul. Yah, meskipun cuma sedikit tapi setidaknya dia gak kelihatan bagong amat buat menjawab pertanyaan Liura.
"Lo tiba-tiba banget datang ke Jakarta. Gak ngasih tau dulu lagi." Kisa berlagak SKSD alias sok kenal sok dekat pada Liura.
"Justru gue sengaja biar kesannya surprise." Kata cewek bule itu diiringi senyumnya yang secerah masa depan. Kisa yang cewek saja benar-benar dibikin terpukau dengan kecantikan Liura. Kalau Kisa cowok, sudah dia gebet dari dulu yang namanya Liura Kiehl. "Oh iya, gue bawa sesuaty buat lo."
Kisa cengo ketika Liura memberinya paper bag super besar yang entah isinya apa. "Beneran buat gue?"
"Ya emang siapa lagi? Silakan dibuka."
Kisa membuka paper bag yang ukurannya lumayan gede itu. Kayaknya sih barang mahal soalnya kelihatan dari tulisan paper bagnya saja bertuliskan Saint Laurent. Dan benar saja ketika dibuka isinya sebuah dress merah muda yang kelihatan mewah serta sepasang sepatu heels yang amat elegan. "Apa ini?" Kisa memang tahu itu baju dan sepatu, tapi dia tetap bertanya.
"Itu dress buat lo. I want you look elegant in my birthday party tomorrow."
Kisa cengo sesaat lalu kemudian, "Tunggu, apa? Birthday party?"
Liura mengangguk sampai kepalanya nyaris copot. "Yes!"
"Maksudnya?"
"Liura ngundang lo ke acara ulang tahunnya besok malam." Rangga yang dari tadi cuma menyimak tiba-tiba bersuara.
"Kenapa ngundang gue?"
"It's because we are friend, right?" Kata Liura benar-benar bikin Kisa kegeeran. Apa? Teman? Apa tidak salah?
Bukan Kisa sombong karena mau menolak tawaran itu, tapi berpenampilan selayaknya gadis tulen dengan dress dan sepatu heels yang tingginya setara pohon pinang buat lomba 17 Agustusan cukup buat dia tersiksa. Cukup hanya di pesta ulang tahun Rangga dia memakai sepatu heels begitu, tidak untuk yang kedua kalinya. Belum lagi memakai dress yang memaksanya memamerkan lekukan tubuh, kalau badannya semolek Ariana Grande sih Kisa juga oke-oke aja, tapi kan kenyataannya bentuk tubuhnya selempeng dan serata papan triplek. Apa yang mau dia banggakan?
"Tapi, gue gak bisa."
"Gue gak menerima penolakan. Lo harus datang ke pesta ulang tahun gue pake gaun itu. Kemarin aja pas ulang tahun Rangga lo dateng, kenapa ke ulang tahun gue lo gak bisa?"
"Bukan itu masalahnya..."
"Please, Kisa. Apa lo gak nganggap gue temen?"
Kalau di pesta ulang tahun Liura boleh nawar, Kisa pengin pakai hoodie atau setelan denim dengan sepatu sneakers yang kece abis. Kisa pun tidak akan keberatan. Tahu sendiri kan Kisa itu anak tomboy.
"Kenapa gue gak boleh menolak?"
"Because I don't like it. Kamu harus datang, Kisa. I waiting for you."
Kalau sudah begini Kisa jadi tidak tega. Memang siapa dia berani menolak orang kaya sekelas Liura Kiehl yang tak segan memohon-mohon. Wah, Kisa keterlaluan juga rupanya.
"Oke, gue bakal dateng."
"Really?"
Kisa mengangguk meskipun dengan perasaan setengah hati, tapi Liura tampak girang dan sumringah ketika Kisa menyetujuinya.
"This is the card invitation." Liura menyodorkan surat undangan itu pada Kisa. Segera cewek itu mengambilnya. Dari desain surat undangannya saja dibuat sangat elegan dan mewah. Kisa merasa keren banget karena bisa bergaul dengan kalangan anam sultan sekelas Rangga dan Liura. Entah mimpi apa dia, tapi itu beneran nyata.
"Makasih ya. Gue janji gue bakal dateng kok." Ucap Kisa kemudian dengan nada lirih.
***
Dara semakin teremat batinnya ketika melihat kondisi sang ibu. Wanita itu terbaring lemah di atas ranjang bangsal dengan bermacam-macam selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Kata suster, ibunya jadi sering berteriak dan tak terkendali sehingga terpaksa harus disuntik tidur.
Ibunya menderita gangguan jiwa semenjak bercerai dari suaminya. Dan kondisinya semakin memburuk hari demi hari sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa. Meskipun begitu, Dara tidak pernah malu dengan kondisi ibunya. Ia sungguh berharap ibunya bisa sembuh dan kembali seperti semula. Karena hanya beliau yang Dara punya sekarang. Dara tidak punya siapa-siapa lagi.
Memang sejak kedua orang tuanya bercerai, hidup Dara kian rumit. Dara sempat berkali-kali nekat melakukan percobaan bunuh diri namun gagal. Apa yang menggagalkannya adalah ibunya sendiri. Dia selalu teringat akan kondisi ibunya yang semakin parah, Dara pun jadi tidak tega untuk meninggalkan dunia yang semakin kejam ini. Belum lagi janjinya untuk masuk ke perguruan tinggi. Iya, itu adalah janji lamanya pada sang ibu di masa lalu.
"Aku janji aku bakal lulus dari SMA itu." Ucap gadis itu lirih sambil menggenggam tangan sang ibu. "Apa pun yang terjadi." Kini ada setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Tanpa disangka, ibunya mulai membuka mata secara perlahan. Dara jadi waspada. "Ibu?" Namun ibunya tak menjawab, masih diam.
"Ibu mau minum?"
Tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu, Dara langsung mengambil gelas berisi air di atas nakas lalu memberikannya pada sang ibu yang kini dalam posisi setengah duduk. Namun, apa yang terjadi, ibunya malah menoker gelas di tangan Dara sampai gelas itu pecah berkeping-keping dan berserakan di lantai.
PRANG!!!
Dara kini kaget dan panik. Para suster pun mulai berdatangan masuk ke ruangan itu. Dara bisa melihat ibunya kini berteriak histeris.
"Suamiku, suamiku!"
Dara memejamkan mata usai melihat konsisi ibunya di balik kaca jendela. Batinnya kembali sakit dan semakin teremat. Kalau boleh dia meminta, dia ingin memohon supaya ibunya bisa kembali sembuh. Dara ingin ibunya bisa menyaksikan dia masuk ke perguruan tinggi dengan bangganya sesuai janji yang pernah dia ucapkan dulu. Salahkah kalau Dara meminta begitu?
Air mata gadis itu semakin tak terbendung. Dara tak bisa menahan tangisnya lagi. Rupanya dia tak sekuat itu. Dia lelah. Dia sungguh lelah. Satu per satu orang-orang di sekitarnya pergi. Dara tidak bisa sendirian. Pertama adalah ayahnya, kedua Karan, dan dia tidak berharap ibunya akan pergi meninggalkannya juga. Dia tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang.
Dara benar-benar ingin menolak hal itu.
Tak berselang lama kemudian, sang dokter keluar dari ruangan itu lalu menghampiri Dara. Dari ekpresinya saja, Dara sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan dokter itu adalah sesuatu yang tidak diharapkannya. "Dara, kami para dokter dan perawat selalu memperhatikan grafik semua pasien setiap harinya. Kami selalu berusaha agar grafik pasien mengalami peningkatan ke kondisi yang lebih baik. Tapi, ibu kamu sejak dia dirwat di sini kondisi fisik dan mentalnya tidak pernah membaik, justru kondisinya semakin memburuk. Kami jadi khawatir."
Ekpektasi Dara benar saja. Ucapan dokter itu membuat seluruh tulangnya bak meleleh sampai gadis itu tidak kuat berdiri raasanya. Apakah semustahil itu agar ibunya bisa sembuh? Jadi, apakah sudah saatnya dia menerima kenyataan?
"Bahkan, kami memprediksi usia ibu kamu tidak akan lama lagi." Lanjut dokter itu kemudian dan saat itu juga baru pertama kali tubuh Dara menolak untuk bernapas.